Wacana 6 Hari Sekolah Tuai Protes, PGRI Jateng Sebut Langkah Mundur

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Rencana penerapan sekolah enam hari per minggu untuk SMA/SMK di Jawa Tengah memicu gelombang penolakan dari guru, siswa, hingga sebagian orang tua.

Banyak pihak menilai kebijakan ini berpotensi menambah beban fisik dan mental tanpa memberikan peningkatan signifikan terhadap kualitas pendidikan.

Ketua PGRI Jawa Tengah, Muhdi, menyebut wacana enam hari sekolah sebagai langkah mundur.

Ia menegaskan bahwa dua hari libur sangat penting bagi siswa untuk bersosialisasi, mengembangkan hobi, serta mempelajari soft skill yang tidak sepenuhnya dapat difasilitasi sekolah.

“Anak itu butuh waktu untuk keluarga, hobi, dan soft skill. Tidak semua hal bisa diselesaikan di sekolah,” ujarnya.

Ia juga menilai aturan tersebut tidak adil bagi guru.

“Yang fungsional disuruh masuk, sementara struktural bisa libur. Ini tidak adil.”

Penolakan juga datang dari siswa. Albani Telanai, pelajar SMAN 11 Semarang, mengatakan bahwa tambahan hari sekolah hanya akan mengurangi waktu istirahat.

“Lima hari atau enam hari sama-sama capek. Kalau hari ditambah, istirahat kami berkurang,” ujarnya.

Siswa juga menilai pemerintah seharusnya fokus pada peningkatan kualitas guru dan kesejahteraan tenaga pendidik, bukan sekadar menambah durasi sekolah.

Meski banyak kritik, sebagian orang tua mendukung wacana enam hari sekolah.

Heri, salah satu wali murid, mengatakan bahwa jam pulang bisa lebih cepat sehingga anak belajar saat kondisi masih segar.

Namun ia juga mengakui perubahan kebijakan yang terus berubah membuat anak kebingungan.

Dukungan terhadap penolakan datang dari organisasi masyarakat. Ketua PW Muhammadiyah Jawa Tengah, Tafsir, menegaskan bahwa banyak guru Muhammadiyah menginginkan jadwal lima hari sekolah tetap dipertahankan karena dianggap paling ideal.

Di ranah publik, petisi online berjudul “Menolak Usulan Kebijakan 6 Hari Sekolah SMA/SMK di Jawa Tengah” telah mengumpulkan puluhan ribu tanda tangan.

Petisi itu menyoroti pentingnya dua hari libur untuk pemulihan fisik dan mental siswa.

Pemerintah Jawa Tengah masih mengkaji rencana ini. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengatakan bahwa durasi belajar per minggu adalah yang paling penting, sementara teknis lima atau enam hari diserahkan kepada pemerintah daerah.

Hingga kini, wacana penambahan hari sekolah masih menjadi perdebatan hangat.

Guru, siswa, dan orang tua menekankan perlunya keseimbangan antara belajar, istirahat, dan pengembangan potensi non-akademik sebelum kebijakan final ditetapkan.(*)