Update Penerbangan Jambi: Susi Air ke Kerinci Dibatalkan, Dua Pesawat dari Jakarta Masih Berputar di Udara

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Kabut asap kembali mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi, Senin 5 Oktober 2026.

Dampaknya mulai terasa pada penerbangan sore. Dua pesawat dari Jakarta belum dapat mendarat sesuai jadwal karena jarak pandang di sekitar bandara kembali memburuk.

Super Air Jet IU 840 dan Citilink QG 966 masih berada di udara saat kondisi jarak pandang berubah-ubah.

Branch Communication Bandara Sultan Thaha Jambi, Ikhsan Pulungan, mengatakan Super Air Jet IU 840 dari Jakarta semula memiliki estimasi kedatangan pukul 16.15 WIB.

Namun, pesawat tersebut masih berputar di wilayah udara Jambi.

“Super Air Jet IU 840 dari Jakarta estimasi kedatangan pukul 16.15 WIB, masih berputar-putar di atas wilayah Jambi,” ujar Ikhsan.

Tak lama berselang, kondisi serupa juga terjadi pada Citilink QG 966 dari Jakarta.

Pesawat tersebut memiliki estimasi kedatangan pukul 16.45 WIB, tetapi masih berada di sekitar wilayah Sumatera Selatan.

“Citilink QG 966 dari Jakarta estimasi pukul 16.45 WIB, masih di atas wilayah Sumsel,” katanya.

Perubahan jarak pandang menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan penerbangan di Bandara Sultan Thaha.

Data pemantauan menunjukkan kondisi sempat membaik pada siang hingga sore awal.

Jarak pandang tercatat 1.100 meter pada pukul 10.00 WIB, kemudian meningkat menjadi 1.900 meter pada pukul 11.00 WIB.

Pada pukul 12.00 WIB, jarak pandang berada di angka 1.800 meter. Angka tersebut kemudian turun menjadi 1.600 meter pada pukul 13.00 WIB dan sedikit membaik menjadi 1.700 meter pada pukul 14.00 WIB.

Kondisi sempat mencapai 2.200 meter pada pukul 15.00 WIB.

Namun, perbaikan itu tidak bertahan lama.

Setengah jam kemudian, jarak pandang kembali merosot menjadi 1.100 meter. Pada pukul 16.00 WIB, angka tersebut kembali turun hingga 1.000 meter.

Fluktuasi inilah yang membuat kondisi operasional penerbangan harus terus menyesuaikan perkembangan di lapangan.

Gangguan akibat kondisi udara juga berdampak pada penerbangan Susi Air dengan rute menuju dan dari Kerinci.

Pihak bandara memastikan penerbangan tersebut dibatalkan atau cancelled.

Sementara penerbangan lainnya masih bergantung pada perkembangan jarak pandang dan kondisi operasional bandara.

Situasi tersebut menunjukkan dampak kabut asap tidak hanya menyentuh penerbangan yang hendak mendarat di Jambi, tetapi juga dapat memengaruhi konektivitas udara menuju wilayah lain di Provinsi Jambi.

Ikhsan mengatakan pihak Bandara Sultan Thaha terus memantau perubahan jarak pandang dan berkoordinasi dengan maskapai serta pihak terkait.

Menurutnya, perubahan kondisi dapat berlangsung cepat sehingga status penerbangan juga dapat berubah mengikuti situasi operasional.

Karena itu, penumpang diminta tidak hanya mengandalkan jadwal awal yang tercantum dalam tiket.

Mereka perlu mengecek informasi terbaru dari maskapai masing-masing sebelum berangkat menuju bandara.

“Kondisi jarak pandang yang fluktuatif terus kami pantau karena dapat memengaruhi operasional penerbangan, khususnya proses kedatangan dan keberangkatan pesawat,” kata Ikhsan.

Sebelumnya, kabut asap juga telah mengganggu sejumlah penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi. Beberapa penerbangan mengalami penundaan hingga pengalihan ke bandara lain.

Dengan kondisi terbaru pada Senin sore, kelancaran penerbangan di Bandara Sultan Thaha masih sangat bergantung pada perubahan jarak pandang.

“Untuk update penerbangan akan terus kami sampaikan sesuai perkembangan kondisi di lapangan,” ujar Ikhsan.(*)




Update Penerbangan Bandara Sultan Thaha: Akibat Kabut Asap, Sejumlah Penerbangan Ditunda dan Citilink Diverted ke Palembang

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Kabut asap masih memengaruhi aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi, Senin 5 Oktober 2026.

Kondisi jarak pandang di kawasan bandara memang membaik dibanding pagi hari, namun masih berfluktuasi.

Branch Communication Bandara Sultan Thaha Jambi, Ikhsan Pulungan, mengatakan berdasarkan pemantauan terbaru, jarak pandang pada siang hari berada di atas 1.000 meter.

“Update jarak pandang di Bandara Sultan Thaha, pukul 10.00 WIB tercatat 1.100 meter, pukul 11.00 WIB 1.900 meter, pukul 12.00 WIB 1.800 meter, dan pukul 13.00 WIB 1.600 meter,” ujar Ikhsan.

Meski jarak pandang berangsur membaik, sejumlah penerbangan masih terdampak kondisi kabut asap.

Menurut Ikhsan, beberapa maskapai memilih menjadwalkan ulang keberangkatan ke sore hari dengan harapan kondisi cuaca dan jarak pandang membaik.

“Penerbangan yang terdampak masih sama, karena beberapa maskapai menjadwalkan ulang keberangkatan ke sore dengan harapan cuaca di sore nanti lebih baik,” katanya.

Selain penundaan penerbangan, terdapat penerbangan yang harus dialihkan atau diverted ke bandara lain.

Ikhsan menyampaikan, penerbangan Citilink QG 960 dari Jakarta (CGK) tidak mendarat di Bandara Sultan Thaha, melainkan dialihkan ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang (PLM).

“Citilink QG 960 dari Jakarta (CGK) diverted ke Palembang (PLM),” ujar Ikhsan.

Sebelumnya, kondisi kabut asap mulai mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha sejak pagi.

Jarak pandang sempat berada di level rendah dan berfluktuasi cukup cepat. Pada pukul 06.00 WIB, jarak pandang tercatat 750 meter.

Kondisi kemudian membaik menjadi 900 meter pada pukul 06.30 WIB dan mencapai 1.100 meter pada pukul 07.00 WIB.

Namun, jarak pandang kembali turun menjadi 800 meter pada pukul 07.30 WIB dan mencapai titik terendah 600 meter pada pukul 08.00 WIB.

Setelah itu, jarak pandang kembali berubah-ubah.

Pada pukul 08.30 WIB tercatat 1.000 meter, kemudian 900 meter pada pukul 09.00 WIB dan 800 meter pada pukul 09.30 WIB.

Memasuki siang hari, kondisi berangsur membaik dengan jarak pandang mencapai 1.900 meter pada pukul 11.00 WIB, sebelum kembali turun menjadi 1.800 meter pada pukul 12.00 WIB dan 1.600 meter pada pukul 13.00 WIB.

Sebelumnya, sedikitnya delapan penerbangan tercatat terdampak kondisi kabut asap, terdiri dari empat penerbangan kedatangan dan empat penerbangan keberangkatan.

Penerbangan kedatangan yang terdampak antara lain Susi Air SI 7219 dari Dabo Singkep (SIQ), Citilink QG 960 dari Jakarta (CGK), Batik Air ID 6804 dari Jakarta (CGK), serta Garuda Indonesia GA 126 dari Jakarta (CGK).

Sementara penerbangan keberangkatan yang terdampak yakni Susi Air SI 7223 tujuan Kerinci (KRC), Citilink QG 961 tujuan Jakarta (CGK), Batik Air ID 6805 tujuan Jakarta (CGK), dan Garuda Indonesia GA 127 tujuan Jakarta (CGK).

Di tengah kondisi tersebut, dua penerbangan tetap berangkat pada pagi hari, yakni Batik Air ID 6807 tujuan Jakarta yang berangkat pukul 06.01 WIB dan Batik Air ID 6879 tujuan Kualanamu-Medan yang berangkat pukul 08.00 WIB.

Kedua penerbangan tersebut menggunakan pesawat ex-RON (Remain Over Night) atau pesawat yang bermalam di Bandara Sultan Thaha.

Pihak Bandara Sultan Thaha terus berkoordinasi dengan maskapai dan instansi terkait untuk memantau perkembangan kondisi jarak pandang serta dampaknya terhadap operasional penerbangan.

Penumpang juga diminta memantau status penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum menuju bandara, mengingat kondisi jarak pandang dapat berubah sewaktu-waktu.

Untuk informasi kebandarudaraan, pengguna jasa dapat menghubungi Contact Center Injourney Airports di nomor 172.

Kondisi kabut asap ini menjadi perhatian karena perubahan jarak pandang dapat memengaruhi proses kedatangan maupun keberangkatan pesawat di Bandara Sultan Thaha Jambi.

Pemerintah dan seluruh pihak terkait diharapkan terus melakukan penanganan terhadap kebakaran hutan dan lahan yang menjadi salah satu faktor memburuknya kondisi udara di wilayah Jambi.(*)




Tegas! Ketua DPRD Kota Jambi Minta Pemkot Tak Salah Langkah Hadapi Kabut Asap

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Ketua DPRD Kota Jambi, Kemas Faried Alfarelly mendorong pemerintah daerah segera merumuskan kebijakan bersama untuk menghadapi kondisi kabut asap yang mulai mengganggu aktivitas masyarakat.

Kemas meminta Pemkot Jambi tidak hanya mempertimbangkan aspek kesehatan, tetapi juga menghitung dampak kebijakan terhadap pendidikan dan perekonomian daerah.

Menurutnya, opsi seperti Work From Home (WFH) bagi pekerja maupun pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi pelajar dapat menjadi pertimbangan jika kondisi udara semakin buruk.

Namun, penerapannya harus mengikuti perkembangan kondisi di lapangan.

“Kami mendorong pemerintah bersama-sama mengeluarkan kebijakan yang mempertimbangkan segala bidang. Bisa diliburkan secara WFH atau kebijakan lainnya. Untuk anak-anak, PJJ juga penting, tetapi harus disesuaikan dengan kondisinya,” kata Kemas.

Kemas Minta Pemkot Tak Hanya Melihat Sisi Kesehatan

Kemas menilai kabut asap memang menyangkut keselamatan dan kesehatan masyarakat. Karena itu, pemerintah harus memiliki langkah antisipasi yang jelas ketika kualitas udara memburuk.

Namun, ia mengingatkan bahwa setiap kebijakan juga membawa konsekuensi terhadap aktivitas ekonomi.

Menurut Kemas, Kota Jambi memiliki struktur ekonomi yang sangat bergantung pada aktivitas masyarakat serta penerimaan daerah dari pajak dan retribusi.

Jika aktivitas ekonomi terhenti terlalu lama, dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi juga dapat berimbas pada pendapatan daerah.

“Kita harus mempertimbangkan kesehatan, tetapi sektor ekonomi juga harus diperhatikan,” ujarnya.

Belajar dari Dampak Ekonomi Saat Covid-19

Kemas mengingatkan pemerintah agar tidak mengulang dampak ekonomi seperti yang terjadi saat pandemi Covid-19.

Pembatasan aktivitas pada masa tersebut sempat memperlambat perputaran ekonomi dan memberikan tekanan kepada masyarakat.

Karena itu, menurutnya, kebijakan menghadapi kabut asap harus mengambil jalan tengah.

“Kita tahu Kota Jambi ini berbasis pendapatan dari pajak dan retribusi. Kalau skala ekonomi terjadi seperti zaman Covid-19 lalu, tentu ada kelambatan perekonomian yang berimbas pada situasi yang tidak baik bagi masyarakat,” katanya.

Kemas menilai pemerintah harus menyiapkan format kebijakan yang fleksibel. Artinya, pembatasan tidak harus berlaku secara seragam jika kondisi setiap aktivitas dan wilayah berbeda.

DPRD Dorong Pemkot, OPD dan Forkopimda Duduk Bersama

Untuk menghindari kebijakan yang justru menimbulkan persoalan baru, Kemas mendorong Pemkot Jambi melibatkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Menurutnya, forum bersama diperlukan untuk menghitung dampak setiap opsi sebelum pemerintah mengambil keputusan.

“Kami minta format yang bisa dirumuskan bersama OPD dan Forkopimda untuk mengambil kebijakan yang arif dan bijaksana menyikapi kabut asap ini,” tegasnya.

Kemas ingin pemerintah memiliki parameter yang jelas dalam menentukan kapan WFH, PJJ, pembatasan kegiatan luar ruangan, atau kebijakan lainnya perlu diterapkan.

Dengan begitu, keputusan pemerintah tidak hanya reaktif, tetapi berdasarkan kondisi udara dan dampak nyata terhadap masyarakat.

Kemas juga menyoroti dampak kabut asap terhadap pelaku usaha.

Menurutnya, gangguan aktivitas tidak selalu terlihat dalam skala besar.

Pembatalan satu kegiatan atau transaksi saja dapat memberikan dampak terhadap pelaku usaha dan pada akhirnya memengaruhi perputaran ekonomi daerah.

“Hal kecil saja, penerbangan yang menjadi lajur perekonomian pelaku-pelaku usaha juga terganggu karena ada yang dibatalkan,” ujarnya.

Karena itu, Kemas meminta pemerintah menghitung potensi kerugian ekonomi sebelum menerapkan kebijakan pembatasan.

Ia menilai pemerintah harus menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan perlindungan masyarakat.

Meski meminta aspek ekonomi ikut menjadi pertimbangan, Kemas menegaskan perlindungan masyarakat tetap menjadi perhatian utama.

Menurutnya, pemerintah tidak boleh mengabaikan risiko kesehatan hanya karena khawatir terhadap perlambatan ekonomi.

Namun, kebijakan juga harus proporsional agar perlindungan kesehatan tidak otomatis mematikan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Kita tetap melihat nilai-nilai kemanusiaan,” tegasnya.

Dengan kondisi kabut asap yang masih berkembang, DPRD Kota Jambi mendorong pemerintah segera menyiapkan skenario bersama.

Bagi Kemas, keputusan terbaik bukan sekadar memilih antara aktivitas normal atau pembatasan, melainkan mencari format kebijakan yang mampu melindungi kesehatan warga sekaligus menjaga roda ekonomi Kota Jambi tetap bergerak.(*)




Update Bandara Sultan Thaha Jambi: Jarak Pandang Sempat 1.000 Meter, Kini 2.800 Meter

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Kabut asap mulai memengaruhi jarak pandang di Bandara Sultan Thaha Jambi pada pagi hari. Jarak pandang bahkan sempat turun hingga 1.000 meter pada pukul 07.00 WIB.

Meski mengalami penurunan cukup signifikan, kondisi tersebut belum mengganggu aktivitas penerbangan.

Hingga menjelang siang, tidak ada penerbangan yang tertunda secara khusus akibat kabut asap.

Data pengamatan Bandara Sultan Thaha menunjukkan jarak pandang pada pukul 06.00 WIB masih berada di angka 1.800 meter. Satu jam kemudian, angka tersebut turun menjadi 1.000 meter.

Kondisi berangsur membaik setelah pukul 07.00 WIB. Pada pukul 08.00 WIB, jarak pandang naik menjadi 1.700 meter dan mencapai 3.200 meter pada pukul 09.00 WIB.

Namun, kondisi kembali berubah. Pada pukul 10.00 WIB jarak pandang tercatat 2.400 meter sebelum meningkat lagi menjadi 2.800 meter pada pukul 10.30 WIB.

Penerbangan Belum Terdampak Kabut Asap

Branch Communication Bandara Sultan Thaha Jambi, Ikhsan Pulungan, memastikan kabut asap sejauh ini belum menyebabkan gangguan terhadap operasional penerbangan.

Menurut Ikhsan, keterlambatan yang terjadi bukan karena kondisi jarak pandang akibat kabut asap.

“Sejauh ini pesawat yang tertunda karena alasan operasional maskapai atau pesawat. Untuk yang terdampak oleh kabut asap tidak ada,” kata Ikhsan.

Ia menjelaskan, kondisi jarak pandang masih memungkinkan aktivitas penerbangan berlangsung. Pada pengamatan terakhir, jarak pandang mencapai 2.800 meter.

“Karena jarak pandang masih ideal, di atas 1.800 meter,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, aktivitas keberangkatan dan kedatangan pesawat di Bandara Sultan Thaha Jambi masih berjalan normal dan belum mengalami gangguan khusus akibat kabut asap.

Jarak Pandang Terus Dipantau

Perubahan jarak pandang sepanjang pagi membuat kondisi di sekitar bandara tetap menjadi perhatian.

Penurunan dari 1.800 meter menjadi 1.000 meter dalam satu jam menunjukkan kondisi atmosfer dapat berubah cukup cepat.

Pihak Bandara Sultan Thaha terus memantau perkembangan jarak pandang untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan kondisi yang dapat memengaruhi keselamatan dan kelancaran penerbangan.

Hingga pengamatan pukul 10.30 WIB, jarak pandang berada di level 2.800 meter.

Artinya, meski kabut asap sempat menekan jarak pandang hingga 1.000 meter pada pagi hari, belum ada penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi yang terdampak secara khusus akibat kondisi tersebut.(*)




Kabut Asap Makin Ganggu Penerbangan Jambi! 3 Pesawat Gagal Mendarat di Bandara Sultan Thaha

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Kabut asap kembali mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi, Jumat 2 Oktober 2026.

Hingga pukul 15.00 WIB, sejumlah penerbangan mengalami penundaan, pengalihan rute hingga kembali ke bandara asal.

Branch Communication Bandara Sultan Thaha Jambi, Ikhsan Pulungan mengatakan, dampak paling signifikan terjadi pada penerbangan dari Jakarta menuju Jambi. Citilink QG 960 yang dijadwalkan tiba pukul 13.20 WIB harus dialihkan atau diverted ke Palembang (PLM).

“Sementara itu, dua penerbangan Garuda Indonesia dari Jakarta memilih kembali ke bandara asal atau Return to Base (RTB) ke Bandara Soekarno-Hatta (CGK),” kata dia, dalam rilis yang diterima d

Garuda Indonesia GA 126 dengan estimasi tiba pukul 14.05 WIB tercatat RTB ke Jakarta. Hal serupa terjadi pada GA 128 yang dijadwalkan tiba pukul 14.10 WIB.

Kondisi berbeda terjadi pada dua pesawat yang hingga pukul 15.00 WIB masih berada di udara.

Batik Air ID 6804 dan Super Air Jet IU 840, yang sama-sama berasal dari Jakarta dan dijadwalkan tiba sekitar pukul 15.10 WIB, masih holding di atas wilayah Jambi.

Jarak Pandang Fluktuatif

Kondisi jarak pandang di Bandara Sultan Thaha berubah-ubah sepanjang hari.

Pada pukul 06.00 WIB, jarak pandang tercatat 1.000 meter.

Angka tersebut kemudian naik menjadi 1.800 meter pada pukul 07.00 WIB, sebelum kembali turun menjadi 1.300 meter pada pukul 08.00 WIB.

Jarak pandang mencapai 1.500 meter pada pukul 09.00 WIB dan turun menjadi 1.100 meter pada pukul 10.00 WIB.

Kondisi kemudian membaik pada siang hari. Jarak pandang tercatat 1.800 meter pukul 11.00 WIB dan 1.900 meter pukul 12.00 WIB.

Setelah itu, jarak pandang kembali menurun menjadi 1.600 meter pukul 13.00 WIB dan 1.500 meter pada pukul 14.00 serta 15.00 WIB.

Meski jarak pandang sempat membaik, kondisi atmosfer tetap berdampak terhadap operasional sejumlah penerbangan.

Sejumlah Penerbangan Keberangkatan Ditunda

Gangguan kabut asap juga berdampak pada penerbangan dari Bandara Sultan Thaha.

Hingga pukul 15.00 WIB, beberapa penerbangan tercatat mengalami penundaan, yakni:

  • Batik Air ID 6805 tujuan Jakarta.

  • Citilink QG 961 tujuan Jakarta.

  • Garuda Indonesia tujuan Jakarta.

Dalam data operasional yang diterima, terdapat satu entri Garuda Indonesia yang tercatat dua kali sebagai GA 126.

Karena itu, nomor penerbangan tersebut perlu dikonfirmasi kembali kepada pengelola bandara atau maskapai untuk memastikan data keberangkatan.

Bandara Koordinasi dengan Maskapai

Tim operasional Bandara Sultan Thaha terus berkoordinasi dengan maskapai dan instansi terkait untuk menangani dampak gangguan penerbangan, terutama terhadap penumpang yang mengalami penundaan.

Pengelola bandara juga melakukan pembaruan informasi secara berkala mengenai kondisi kedatangan dan keberangkatan yang terdampak kabut asap.

Calon penumpang diminta mengecek kembali status penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum berangkat ke bandara.

Untuk informasi kebandarudaraan, pengguna jasa dapat menghubungi Contact Center Injourney Airports melalui 172.

Manajemen Bandara Sultan Thaha menyatakan akan terus bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan selama kondisi kabut asap masih berdampak terhadap operasional penerbangan.(*)




Jarak Pandang Turun hingga 1.000 Meter, Penerbangan Bandara Sultan Thaha Kembali Terdampak Hari Ini

JAMBI — Kabut asap kembali mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi, Jumat 2 Oktober 2026.

Branch Communication Bandara Sultan Thaha Jambi, Ikhsan Pulungan mengatakan, kondisi jarak pandang yang berubah-ubah membuat sejumlah penerbangan harus mendapat perhatian khusus dari pengelola bandara dan maskapai.

“Hingga pukul 10.00 WIB, dua penerbangan tercatat terdampak kondisi cuaca, yakni penerbangan Batik Air ID 6804 dari Jakarta dan Batik Air ID 6805 tujuan Jakarta,” kata dia.

Batik Air ID 6804 dijadwalkan tiba di Bandara Sultan Thaha pada pukul 10.15 WIB. Sementara Batik Air ID 6805 dijadwalkan berangkat menuju Jakarta pada pukul 11.00 WIB.

Kondisi tersebut berbeda dengan dua penerbangan keberangkatan sebelumnya yang berhasil beroperasi pada pagi hari.

Batik Air ID 6807 tujuan Jakarta berangkat pukul 06.00 WIB ketika jarak pandang tercatat 1.000 meter.

Selanjutnya, Super Air Jet IU 377 tujuan Yogyakarta International Airport (YIA) berangkat pada pukul 09.40 WIB saat jarak pandang berada di angka 1.500 meter.

“Kedua pesawat tersebut merupakan pesawat ex-RON (Remain Over Night) atau pesawat yang menginap di Bandara Sultan Thaha,” sebutnya.

Jarak Pandang Fluktuatif

Data operasional Bandara Sultan Thaha menunjukkan jarak pandang mengalami perubahan sepanjang pagi.

Pada pukul 06.00 WIB, jarak pandang tercatat 1.000 meter. Kondisi membaik menjadi 1.800 meter pada pukul 07.00 WIB, kemudian turun menjadi 1.300 meter pada pukul 08.00 WIB.

Pada pukul 09.00 WIB, jarak pandang kembali berada di angka 1.500 meter sebelum turun menjadi 1.100 meter pada pukul 10.00 WIB.

Fluktuasi jarak pandang tersebut menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam operasional penerbangan, terutama ketika kondisi kabut asap masih menyelimuti kawasan Bandara Sultan Thaha.

Tim operasional Bandara Sultan Thaha terus berkoordinasi dengan maskapai dan instansi terkait untuk menangani dampak terhadap penumpang, termasuk penumpang yang mengalami penundaan penerbangan.

Pengelola bandara juga melakukan pemantauan dan pembaruan informasi secara berkala terhadap jadwal kedatangan maupun keberangkatan yang terdampak kondisi kabut asap.

Penumpang Diminta Cek Status Penerbangan

Manajemen Bandara Sultan Thaha mengimbau calon penumpang untuk tidak hanya mengandalkan jadwal awal penerbangan.

Penumpang diminta mengecek kembali status penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum menuju bandara.

Untuk informasi terkait layanan kebandarudaraan, pengguna jasa dapat menghubungi Contact Center Injourney Airports di 172.

Pengelola Bandara Sultan Thaha juga menyatakan akan terus berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga kelancaran pelayanan penerbangan di tengah kondisi kabut asap.

Kondisi ini sekaligus menambah perhatian terhadap persoalan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi yang berpotensi memengaruhi kualitas udara dan aktivitas transport penerbanganterganggu batikair batikairjambi superairjet asapjambi karhutlaasi udara.(*)




Kabut Asap Ganggu Penerbangan di Bandara Sultan Thaha, Hari Ini 6 Jadwal Terdampak

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Kabut asap kembali mengganggu operasional penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi, Kamis 1 Oktober 2026.

Penurunan jarak pandang membuat sejumlah penerbangan dari dan menuju Jambi mengalami dampak operasional hingga pukul 11.00 WIB.

Branch Communication Bandara Sultan Thaha Jambi, Ikhsan Pulungan, mengatakan jarak pandang pada pukul 06.00 WIB masih berada di angka 1.500 meter.

Kondisi tersebut memungkinkan Batik Air ID 6807 tujuan Jakarta berangkat pada pukul 06.00 WIB.

Pesawat Batik Air tersebut merupakan pesawat ex-RON (Remain Over Night), yakni pesawat yang sebelumnya bermalam di Bandara Sultan Thaha.

Namun, kondisi berubah setelah jarak pandang menurun.

Pesawat Super Air Jet IU 974 tujuan Batam yang dijadwalkan berangkat pukul 10.28 WIB masih tertahan ketika proses boarding karena visibility turun menjadi sekitar 1.000 meter.

“Untuk kondisi saat ini, jarak pandang masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi operasional penerbangan. Tim terus memantau kondisi dan berkoordinasi dengan maskapai serta pihak terkait,” kata Ikhsan.

Perubahan jarak pandang menjadi persoalan utama di Bandara Sultan Thaha.

Setelah berada di angka 1.500 meter pada pukul 06.00 WIB, visibility pada rentang pukul 07.00 hingga 10.00 WIB berada di kisaran 1.200 hingga 1.500 meter.

Di tengah kondisi tersebut, penerbangan Susi Air SI 7219 dari Dabo Singkep masih dapat mendarat di Bandara Sultan Thaha pada pukul 07.45 WIB.

Pesawat kemudian melanjutkan penerbangan menuju Kerinci dengan nomor penerbangan SI 7223 pada pukul 08.15 WIB.

Namun, tidak seluruh penerbangan dapat berjalan sesuai jadwal.

Hingga pukul 11.00 WIB, terdapat enam jadwal penerbangan yang terdampak kabut asap, terdiri dari tiga penerbangan kedatangan dan tiga penerbangan keberangkatan.

Untuk penerbangan kedatangan, tiga penerbangan dari Jakarta yang terdampak adalah:

  • Batik Air ID 6804 rute Jakarta-Jambi, jadwal tiba pukul 10.15 WIB.

  • Citilink QG 960 rute Jakarta-Jambi, jadwal tiba pukul 10.25 WIB.

  • Garuda Indonesia GA 126 rute Jakarta-Jambi, jadwal tiba pukul 10.25 WIB.

Sementara untuk penerbangan keberangkatan, tiga jadwal yang terdampak yakni:

  • Citilink QG 961 tujuan Jakarta, jadwal berangkat pukul 10.55 WIB.

  • Batik Air ID 6805 tujuan Jakarta, jadwal berangkat pukul 11.00 WIB.

  • Garuda Indonesia GA 127 tujuan Jakarta, jadwal berangkat pukul 11.10 WIB.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak kabut asap tidak hanya dirasakan pesawat yang hendak mendarat, tetapi juga dapat berimbas pada jadwal penerbangan lanjutan dari Bandara Sultan Thaha.

Pihak bandara terus melakukan pemantauan kondisi jarak pandang sekaligus berkoordinasi dengan maskapai dan instansi terkait.

Penanganan terhadap penumpang yang terdampak penundaan juga dilakukan sembari menunggu perkembangan kondisi operasional.

Ikhsan mengatakan, pembaruan informasi mengenai penerbangan akan terus dilakukan seiring perubahan kondisi di lapangan.

Manajemen Bandara Sultan Thaha mengimbau calon penumpang untuk tidak hanya mengandalkan jadwal awal penerbangan. Pengguna jasa diminta mengecek kembali status penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum menuju bandara.

Untuk informasi kebandarudaraan, pengguna jasa juga dapat menghubungi Contact Center Injourney Airports melalui 172.

Pihak manajemen PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Sultan Thaha menyatakan akan terus berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga pelayanan kepada pengguna jasa di tengah kondisi kabut asap.

Di sisi lain, manajemen berharap persoalan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi dapat segera ditangani sehingga kondisi udara dan operasional penerbangan kembali normal.(*)




Update Penerbangan Jambi: Visibility Naik-Turun, Penerbangan Jakarta-Jambi Masih Tertahan

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Kabut asap masih menjadi kendala bagi penerbangan yang hendak mendarat di Bandara Sultan Thaha Jambi, Rabu 30 September 2026.

Fluktuasi jarak pandang atau visibility membuat sejumlah penerbangan dari Jakarta harus menunggu kepastian kondisi di bandara tujuan.

Salah satu penerbangan yang terdampak adalah Batik Air ID6804 rute Jakarta-Jambi.

Pesawat tersebut bahkan sempat melakukan empat kali percobaan pendaratan sebelum akhirnya kembali ke Bandara Soekarno-Hatta atau return to base (RTB).

Pesawat sebelumnya telah terbang dari Jakarta menuju Jambi.

Namun, kondisi jarak pandang di sekitar Bandara Sultan Thaha tidak memungkinkan proses pendaratan dilanjutkan.

Hingga pukul 13.00 WIB, belum ada kepastian kapan penerbangan tersebut kembali diberangkatkan dari Jakarta menuju Jambi.

Keputusan operasional masih menunggu perkembangan kondisi di Bandara Sultan Thaha.

Data pemantauan menunjukkan jarak pandang di bandara mengalami perubahan sepanjang Rabu siang.

Pada pukul 11.00 WIB, visibility tercatat 1.500 meter. Angka tersebut turun menjadi 1.100 meter pada pukul 12.00 WIB, kemudian kembali meningkat menjadi 1.400 meter pada pukul 13.00 WIB.

Perubahan tersebut menunjukkan kondisi udara di sekitar bandara belum sepenuhnya stabil untuk mendukung kelancaran penerbangan yang akan mendarat.

Branch Communication Bandara Sultan Thaha Jambi, Ikhsan Pulungan, mengatakan aspek visual menjadi salah satu perhatian utama dalam proses pendaratan pesawat.

“Untuk kondisi saat ini, yang menjadi tantangan adalah visual pilot untuk pendaratan. Kondisi visibility terus kami pantau karena keselamatan penerbangan menjadi prioritas,” ujar Ikhsan.

Kondisi kabut asap sebenarnya telah terpantau sejak pagi. Pada pukul 06.00 WIB, jarak pandang di Bandara Sultan Thaha berada di kisaran 800 meter.

Visibility kemudian meningkat menjadi 1.000 meter pada pukul 07.00 WIB dan 1.500 meter pada pukul 08.00 WIB.

Meski sempat membaik, peningkatan jarak pandang tersebut belum otomatis membuat penerbangan menuju Jambi kembali normal.

Kondisi aktual di lapangan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan apakah pesawat dapat melakukan pendaratan.

Menurut Ikhsan, kondisi visual saat ini masih memungkinkan untuk proses lepas landas.

Namun, fase kedatangan menghadapi tantangan berbeda karena pilot membutuhkan jarak pandang yang memadai untuk melakukan pendaratan.

“Kalau untuk lepas landas, kondisi visualnya untuk naik atau take off masih bisa. Yang menjadi tantangan dengan kondisi saat ini adalah visual pilot untuk pendaratan,” katanya.

Selain Batik Air ID6804, penerbangan Citilink QG960 dan Garuda Indonesia GA126 dari Jakarta menuju Jambi juga masih menunggu perkembangan kondisi visibility di Bandara Sultan Thaha.

Pihak bandara terus berkoordinasi dengan maskapai sembari memantau perubahan jarak pandang.

Keputusan penerbangan yang akan datang tetap disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan, terutama aspek keselamatan saat pesawat memasuki fase pendaratan.

“Untuk penerbangan yang akan datang, keputusan operasional tetap mempertimbangkan kondisi aktual di lapangan, khususnya jarak pandang untuk pendaratan,” kata Ikhsan.

Dengan kondisi visibility yang masih berubah-ubah, calon penumpang diminta memantau informasi terbaru dari maskapai masing-masing.

Perubahan jarak pandang dapat berdampak pada jadwal keberangkatan maupun kedatangan di Bandara Sultan Thaha Jambi.

Hingga pukul 13.00 WIB, jarak pandang tercatat 1.400 meter.

Sementara itu, penerbangan dari Jakarta menuju Jambi masih menunggu perkembangan kondisi di bandara tujuan.(*)




Gagal Mendarat di Jambi, Batik Air Kembali ke Soetta Setelah 4 Kali Percobaan

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi kembali berdampak terhadap operasional penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi, Rabu 30 September 2026.

Pesawat Batik Air ID6804 rute Jakarta-Jambi harus kembali ke Bandara Soekarno-Hatta atau return to base (RTB) setelah empat kali mencoba melakukan pendaratan.

Pesawat tersebut sebelumnya telah bertolak dari Jakarta menuju Jambi.

Namun, kondisi jarak pandang di sekitar Bandara Sultan Thaha yang terdampak kabut asap membuat proses pendaratan tidak dapat dilakukan.

Berdasarkan informasi dari pihak Bandara Sultan Thaha Jambi, pesawat Batik Air ID6804 sempat melakukan beberapa kali percobaan pendaratan.

Setelah empat kali upaya, pesawat akhirnya mengambil keputusan untuk kembali ke Jakarta.

Kondisi tersebut menunjukkan dampak langsung kabut asap terhadap penerbangan, terutama pada fase kedatangan.

Jarak pandang menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum pesawat dapat melakukan pendaratan.

Branch Communication Bandara Sultan Thaha Jambi, Ikhsan Pulungan, mengatakan kondisi visibility terus dipantau karena berkaitan dengan keselamatan penerbangan.

“Untuk kondisi saat ini, yang menjadi tantangan adalah visual pilot untuk pendaratan. Kondisi visibility terus kami pantau karena keselamatan penerbangan menjadi prioritas,” ujar Ikhsan.

Visibility Sempat Turun hingga 800 Meter

Kabut asap mulai menyelimuti kawasan Bandara Sultan Thaha sejak pagi.

Data pemantauan menunjukkan jarak pandang pada pukul 06.00 WIB hanya mencapai sekitar 800 meter.

Visibility kemudian membaik menjadi 1.000 meter pada pukul 07.00 WIB dan meningkat lagi menjadi 1.500 meter pada pukul 08.00 WIB.

Namun, membaiknya jarak pandang tidak serta-merta membuat seluruh penerbangan dapat mendarat.

Kondisi aktual di lapangan tetap menjadi pertimbangan maskapai dan pilot dalam menentukan keputusan operasional.

Sebelumnya, pihak Bandara Sultan Thaha menjelaskan bahwa kondisi visual untuk proses lepas landas masih memungkinkan.

Tantangan lebih besar berada pada fase pendaratan karena pilot membutuhkan kondisi visual yang memadai.

“Kalau untuk lepas landas, kondisi visualnya untuk naik atau take off masih bisa. Yang menjadi tantangan dengan kondisi saat ini adalah visual pilot untuk pendaratan,” jelas Ikhsan.

Dua Penerbangan Jakarta-Jambi Masih Tertahan

Selain Batik Air ID6804 yang akhirnya kembali ke Jakarta, dua penerbangan lain dari Jakarta menuju Jambi juga masih menunggu perkembangan kondisi cuaca.

Citilink QG960 dijadwalkan berangkat dari Jakarta menuju Jambi pada pukul 10.25 WIB. Sementara Garuda Indonesia GA126 dijadwalkan berangkat pukul 10.35 WIB.

Kedua penerbangan tersebut mengalami penundaan karena maskapai masih menunggu perkembangan visibility di Bandara Sultan Thaha Jambi.

Pihak bandara terus berkoordinasi dengan maskapai dan memantau perubahan kondisi jarak pandang sebelum penerbangan menuju Jambi dapat melanjutkan operasionalnya.

“Untuk penerbangan yang akan datang, keputusan operasional tetap mempertimbangkan kondisi aktual di lapangan, khususnya jarak pandang untuk pendaratan,” kata Ikhsan.

Penumpang Diminta Pantau Jadwal

Kondisi kabut asap dan jarak pandang di wilayah Jambi masih dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer dan cuaca.

Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi jadwal kedatangan maupun keberangkatan pesawat.

Calon penumpang yang memiliki penerbangan dari atau menuju Bandara Sultan Thaha Jambi diminta memantau informasi terbaru dari maskapai masing-masing sebelum menuju bandara.

Hingga informasi terakhir, Batik Air ID6804 telah kembali ke Jakarta setelah empat kali percobaan pendaratan di Jambi.

Sementara Citilink QG960 dan Garuda Indonesia GA126 masih menunggu perkembangan kondisi visibility di Bandara Sultan Thaha.(*)




Kabut Asap Jambi Kian Parah! Ganggu Penerbangan, Citilink dan Garuda Tertahan dari Jakarta

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi mulai mengganggu konektivitas udara.

Dua penerbangan dari Jakarta menuju Bandara Sultan Thaha Jambi, yakni Citilink QG960 dan Garuda Indonesia GA126, mengalami penundaan keberangkatan dari Bandara Soekarno-Hatta, Rabu 30 September 2026.

Kedua pesawat masih menunggu perkembangan kondisi cuaca dan jarak pandang di Bandara Sultan Thaha sebelum diberangkatkan menuju Jambi.

Informasi dari pihak Bandara Sultan Thaha menyebutkan, Citilink QG960 yang dijadwalkan berangkat dari Jakarta pukul 10.25 WIB mengalami delay.

Kondisi serupa terjadi pada Garuda Indonesia GA126 yang memiliki jadwal keberangkatan pukul 10.35 WIB.

Penundaan tersebut berkaitan dengan kondisi minimum visibility di Jambi akibat asap.

Branch Communication Bandara Sultan Thaha Jambi, Ikhsan Pulungan, mengatakan kondisi kabut asap masih menjadi faktor yang dipantau dalam operasional penerbangan.

“Kalau untuk penerbangan dari Jakarta menuju Jambi, saat ini ada informasi delay karena masih menunggu update cuaca di Jambi akibat minimum visibility atau asap,” ujar Ikhsan, Rabu 30 September 2026.

Jarak Pandang Sempat Hanya 800 Meter

Kabut asap mulai terlihat cukup tebal di kawasan Bandara Sultan Thaha sejak pagi.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap jarak pandang atau visibility di sekitar bandara.

Pada pukul 06.00 WIB, visibility tercatat hanya sekitar 800 meter. Satu jam kemudian kondisi membaik menjadi 1.000 meter dan kembali meningkat menjadi 1.500 meter pada pukul 08.00 WIB.

Meski menunjukkan tren perbaikan, perubahan visibility tetap menjadi perhatian dalam operasional penerbangan, terutama untuk proses pendaratan.

Menurut Ikhsan, kondisi visual untuk pesawat melakukan lepas landas masih memungkinkan. Namun, jarak pandang menjadi tantangan tersendiri ketika pesawat akan melakukan pendaratan.

“Kalau untuk lepas landas, kondisi visualnya untuk naik atau take off masih bisa. Yang menjadi tantangan dengan kondisi saat ini adalah visual pilot untuk pendaratan,” jelasnya.

Batik Air Tetap Berangkat dari Jambi

Di tengah terbatasnya jarak pandang, aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha tidak sepenuhnya terhenti.

Batik Air ID6807 dengan rute Jambi-Jakarta berhasil melakukan lepas landas pada pukul 06.00 WIB.

Pesawat tersebut merupakan armada yang sebelumnya bermalam di Bandara Sultan Thaha atau dikenal sebagai remain overnight (RON).

Sementara itu, penerbangan Batik Air ID6804 dari Jakarta yang dijadwalkan tiba di Jambi juga menjadi bagian dari penerbangan yang dipantau berdasarkan perkembangan kondisi cuaca dan visibility.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa operasional penerbangan tetap berjalan dengan mempertimbangkan situasi aktual di lapangan.

Citilink dan Garuda Masih Menunggu Kondisi Jambi

Untuk Citilink QG960 dan Garuda Indonesia GA126, keputusan keberangkatan dari Jakarta masih menunggu perkembangan kondisi di Bandara Sultan Thaha.

Kondisi visibility menjadi salah satu pertimbangan penting karena pesawat yang diberangkatkan dari Jakarta pada akhirnya harus melakukan pendaratan di Jambi.

Pihak bandara terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan maskapai terkait perkembangan cuaca serta jarak pandang.

“Kami terus memantau perkembangan kondisi visibility dan berkoordinasi terkait operasional penerbangan,” kata Ikhsan.

Penumpang Diminta Cek Jadwal Sebelum ke Bandara

Kondisi kabut asap dapat berubah mengikuti dinamika cuaca dan atmosfer.

Perubahan visibility juga berpotensi memengaruhi jadwal keberangkatan maupun kedatangan pesawat.

Karena itu, penumpang yang memiliki penerbangan dari maupun menuju Jambi diminta memantau informasi terbaru dari maskapai dan pihak Bandara Sultan Thaha sebelum berangkat ke bandara.

Hingga informasi terakhir, Citilink QG960 dan Garuda Indonesia GA126 masih mengalami penundaan keberangkatan dari Bandara Soekarno-Hatta sambil menunggu perkembangan kondisi visibility di Jambi.(*)