6 Mitos DBD yang Masih Dipercaya, Nomor 4 Paling Berbahaya

SEPUCUKJAMBI.ID – Demam Berdarah Dengue atau DBD masih menjadi salah satu penyakit yang menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.

Penyakit akibat virus dengue ini dapat berkembang cepat dan berisiko serius jika tidak ditangani dengan tepat.

Sayangnya, di tengah meningkatnya kewaspadaan, masih banyak informasi keliru yang beredar.

Kesalahpahaman ini bisa membuat orang menunda pemeriksaan medis atau salah dalam mengambil tindakan.

Berikut beberapa mitos tentang DBD yang perlu diluruskan.

1. DBD Hanya Terjadi Saat Musim Hujan

Banyak yang mengira DBD hanya muncul ketika musim hujan. Memang, curah hujan tinggi meningkatkan jumlah genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Namun, nyamuk pembawa virus dengue bisa berkembang kapan saja selama ada air tergenang, bahkan di musim kemarau.

Artinya, risiko DBD ada sepanjang tahun jika lingkungan tidak dikelola dengan baik.

2. DBD Hanya Menyerang Anak-Anak

Anggapan ini membuat sebagian orang dewasa merasa lebih aman. Faktanya, DBD bisa menyerang semua kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lansia.

Orang dewasa pun berisiko mengalami gejala berat jika terlambat mendapatkan perawatan. Karena itu, siapa pun yang mengalami demam tinggi mendadak perlu waspada.

3. Jambu Biji Bisa Menyembuhkan DBD

Jambu biji sering dianggap sebagai “obat alami” untuk DBD karena dipercaya dapat meningkatkan trombosit.

Memang, buah ini kaya vitamin C dan baik untuk menjaga daya tahan tubuh.

Namun, jambu biji bukan pengobatan untuk virus dengue. Pasien DBD tetap memerlukan pemantauan medis, pemeriksaan laboratorium, dan penanganan sesuai kondisi klinisnya.

4. Turunnya Demam Berarti Sudah Sembuh

Ini adalah salah satu kesalahpahaman paling berbahaya. Pada DBD, fase kritis sering terjadi justru ketika demam mulai turun.

Di fase ini, risiko kebocoran plasma darah, perdarahan, hingga syok dapat meningkat.

Oleh karena itu, pasien tetap harus dalam pengawasan tenaga medis meskipun suhu tubuh sudah menurun.

5. DBD Menular Lewat Kontak Langsung

Sebagian masyarakat takut berinteraksi dengan penderita karena mengira penyakit ini menular lewat sentuhan, batuk, atau bersin.

Faktanya, DBD tidak menular secara langsung antar manusia. Penularan hanya terjadi melalui gigitan nyamuk yang membawa virus dengue.

6. Rumah Bersih Pasti Bebas DBD

Lingkungan yang terlihat bersih belum tentu aman dari DBD.

Nyamuk penyebab DBD justru berkembang di air bersih yang tergenang, seperti bak mandi, talang air, vas bunga, atau wadah terbuka.

Langkah pencegahan seperti menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat penampungan air tetap harus dilakukan secara rutin.

Waspadai Gejala Awal DBD

Gejala awal DBD biasanya meliputi:

  • Demam tinggi mendadak

  • Nyeri kepala dan nyeri di belakang mata

  • Nyeri otot dan sendi

  • Mual atau muntah

  • Bintik merah atau tanda perdarahan

Jika mengalami gejala tersebut, jangan menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan. Penanganan dini dapat mencegah komplikasi yang lebih serius.

Pencegahan tetap menjadi langkah utama untuk menekan risiko DBD. Edukasi yang benar dan kewaspadaan bersama dapat membantu melindungi keluarga dari ancaman penyakit ini.(*)




Kenali Gejala DBD dan Cara Pencegahan Efektif untuk Keluarga

SEPUCUKJAMBI.ID – Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, terutama saat musim hujan.

Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mudah berkembang biak di genangan air bersih seperti bak mandi, ember, pot bunga, atau talang air tersumbat.

Gejala awal DBD biasanya muncul 4–10 hari setelah digigit nyamuk, berupa demam tinggi mendadak, sakit kepala hebat, nyeri di belakang mata, pegal-pegal pada otot dan sendi, serta rasa lemas.

Beberapa pasien juga mengalami mual, muntah, dan ruam kemerahan di kulit.

Pada fase kritis, DBD dapat menyebabkan perdarahan dan syok, ditandai mimisan, gusi berdarah, muntah bercampur darah, feses hitam, atau penurunan tekanan darah drastis.

Karena belum ada obat spesifik untuk virus dengue, penanganan fokus pada perawatan suportif, termasuk banyak minum cairan, istirahat cukup, dan pemantauan kondisi tubuh.

Obat penurun panas seperti parasetamol diperbolehkan, tetapi aspirin dan ibuprofen sebaiknya dihindari.

Pencegahan DBD tetap menjadi kunci. Gerakan 3M Plus menguras, menutup, mendaur ulang perlu dilakukan rutin.

Masyarakat juga dianjurkan menggunakan lotion antinyamuk, memasang kawat kasa pada ventilasi, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Fogging dapat dilakukan sebagai tambahan, bukan pengganti pencegahan utama.

Kesadaran bersama sangat penting. Dengan mengenali gejala dini, segera mencari pertolongan medis, dan menjaga lingkungan bebas dari sarang nyamuk, risiko DBD bisa diminimalkan.

Meski kecil seperti nyamuk, dampak DBD terhadap kesehatan masyarakat bisa sangat besar.(*)




Dinkes Batang Hari Catat 112 Kasus DBD Ditemukan Sepanjang 2025!

MUARABULIAN, SEPUCUKJAMBI.ID – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi, masih menjadi perhatian.

Sepanjang Januari hingga Desember 2025, Dinas Kesehatan Batang Hari mencatat sebanyak 112 kasus DBD terjadi di wilayah tersebut.

Data Dinas Kesehatan menunjukkan, lonjakan kasus tertinggi terjadi pada Januari 2025 dengan 34 kasus.

Sementara itu, Oktober menjadi bulan dengan kasus terendah, hanya tercatat satu kasus.

Penanggung Jawab Program DBD Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) Dinas Kesehatan Batang Hari, Novita Sari, menyebutkan bahwa tren kasus DBD di akhir tahun relatif stabil meski curah hujan masih cukup tinggi.

“Pada Desember 2025 hanya ditemukan tiga kasus. Secara umum kondisi cukup terkendali walaupun masih musim hujan,” ujar Novita di Muara Bulian.

Berdasarkan rekap bulanan, kasus DBD tercatat Februari 18 kasus, Maret 11, April tujuh, Mei tujuh, Juni enam, Juli dua, Agustus sembilan, September sembilan, November lima, dan Desember tiga kasus.

Wilayah yang dinilai paling rawan DBD antara lain Muara Bulian, wilayah kerja Puskesmas Jembatan Emas, serta Muara Tembesi.

Faktor luas wilayah, kepadatan penduduk, dan banyaknya genangan air menjadi penyebab utama tingginya potensi penularan.

Selain itu, kelompok usia produktif 15 hingga 49 tahun tercatat sebagai yang paling banyak terdampak penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

Dinas Kesehatan Batang Hari mengimbau masyarakat untuk terus menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Terutama dengan menjalankan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, mendaur ulang barang bekas, serta menghindari genangan air di sekitar rumah.

“Masyarakat diharapkan lebih waspada dan rutin menjaga kebersihan lingkungan agar penyebaran DBD dapat ditekan,” tutup Novita.(*)