Air Sungai Batanghari Berpotensi Surut, Tirta Mayang Siapkan Mitigasi Gangguan Distribusi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Perumda Tirta Mayang Kota Jambi meminta pelanggan mulai mengantisipasi kemungkinan perubahan pasokan air selama musim kemarau.

Warga diminta menyiapkan persediaan air secukupnya dan mengurangi penggunaan air yang tidak diperlukan.

Imbauan tersebut dikeluarkan karena kondisi Sungai Batanghari sebagai salah satu sumber air baku dapat berubah selama kemarau.

Penurunan tinggi muka air sungai dan meningkatnya kekeruhan berpotensi mengganggu proses pengolahan hingga distribusi air kepada pelanggan.

Direktur Utama Perumda Tirta Mayang, Arianto mengatakan penurunan muka air sungai terutama berpotensi terjadi pada siang hingga sore hari.

“Kondisi air baku di musim kemarau dapat mengalami penurunan tinggi muka air sungai, khususnya pada siang hingga sore hari. Di sisi lain, kekeruhan air baku juga dapat meningkat,” ujar Arianto.

Kondisi tersebut membuat sistem pengolahan dan distribusi harus beroperasi dengan kewaspadaan lebih tinggi.

Jika situasi di lapangan masuk kategori darurat, distribusi air kepada pelanggan berpotensi dikurangi bahkan dihentikan sementara.

Karena itu, Tirta Mayang meminta pelanggan tidak menunggu sampai terjadi gangguan untuk menyiapkan kebutuhan air sehari-hari.

Perumda Tirta Mayang menyatakan pemantauan terhadap sumber air baku dan sistem pengolahan terus dilakukan selama musim kemarau.

Direktur Teknik Perumda Tirta Mayang, Eri Suganda mengatakan, sejumlah langkah mitigasi telah disiapkan untuk menjaga sistem tetap beroperasi di tengah perubahan kondisi air baku.

“Kami selalu melakukan pemantauan terhadap kondisi sungai dan sistem pengolahan air agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan semaksimal mungkin,” kata Eri.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggunakan cooling jacket pada pompa intake.

Perangkat tersebut berfungsi membantu mencegah pompa mengalami overheat dalam kondisi operasional selama musim kemarau.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga peralatan utama agar tetap dapat beroperasi ketika kondisi sumber air mengalami perubahan.

Di tengah kondisi kemarau, kebutuhan masyarakat terhadap air bersih juga mendapat perhatian pemerintah.

Hingga Kamis 24 September 2026, Tim Satgas Kemarau Pemerintah Kota Jambi telah menyalurkan 2,2 juta liter air bersih gratis kepada masyarakat.

Bantuan tersebut diberikan untuk membantu warga yang terdampak kemarau dan mengalami kendala memperoleh pasokan air bersih.

Menurut Arianto, distribusi bantuan air bersih menjadi bagian dari upaya bersama pemerintah dan pihak terkait untuk merespons dampak kemarau yang dirasakan masyarakat.

Untuk mengantisipasi gangguan pelayanan, Tirta Mayang meminta masyarakat mengikuti informasi resmi terkait perkembangan kondisi distribusi air.

Pelanggan yang membutuhkan bantuan air bersih gratis maupun mengalami kendala pelayanan dapat menghubungi Call Center Bahagia 112.

Pengaduan juga dapat disampaikan melalui WhatsApp Pelanggan Tirta Mayang di nomor 0821-2121-9692 dan 0821-2121-9894.

Informasi mengenai perkembangan pelayanan dan kondisi distribusi air juga tersedia melalui kanal resmi Perumda Tirta Mayang, termasuk Instagram @perumdatirtamayang, Facebook Tirta Mayang, serta aplikasi SiMayang.

Tirta Mayang mengimbau pelanggan tetap menghemat penggunaan air dan menyediakan cadangan secukupnya selama musim kemarau.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi apabila kondisi air baku memburuk dan berdampak terhadap sistem distribusi.(*)




Wali Kota Jambi Maulana Soroti Krisis Air Baku, Kolam Retensi Mulai Dilirik

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Kemarau panjang mulai menguji ketahanan pasokan air bersih di Kota Jambi.

Debit Sungai Batanghari yang menurun disertai meningkatnya kekeruhan air baku membuat Perumdam Tirta Mayang memangkas produksi sekitar 20 persen.

Dampaknya mulai dirasakan pelanggan, terutama mereka yang mendapat pasokan dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Broni dan IPA Tanjung Sari). Sekitar 5.300 sambungan rumah (SR) terdampak akibat berkurangnya jam pelayanan.

Kondisi tersebut diperkirakan belum akan segera berakhir. Perumdam Tirta Mayang memperkirakan gangguan pasokan dapat berlangsung hingga September 2026, tergantung perkembangan musim kemarau dan kondisi Sungai Batanghari.

Persoalan tidak hanya terjadi pada pelanggan jaringan perpipaan. Warga yang selama ini mengandalkan sumur juga mulai menghadapi ancaman kekeringan di sejumlah wilayah.

Wali Kota Jambi Maulana mengatakan penurunan debit dan peningkatan kekeruhan Batanghari memaksa perusahaan daerah menyesuaikan proses pengolahan air.

“Memang kondisi kemarau menyebabkan debit air Batanghari turun dan kekeruhan meningkat. Akibatnya produksi harus dikurangi. Di sisi lain, masyarakat yang tidak menggunakan PDAM juga mulai mengalami sumurnya kering,” ujar Maulana.

Bukan sekadar produksi turun

Menurut Maulana, pengurangan produksi tidak dapat dilihat semata sebagai persoalan kapasitas Perumdam Tirta Mayang.

Air baku yang semakin keruh membutuhkan penyesuaian dalam proses pengolahan. Langkah tersebut dilakukan agar kualitas air yang sampai ke pelanggan tetap memenuhi standar.

Direktur Utama Perumdam Tirta Mayang Kota Jambi, Arianto sebelumnya menjelaskan, pengurangan produksi awalnya berada di kisaran 10 persen.

Namun, ketika tingkat kekeruhan air baku meningkat, penyesuaian produksi harus diperbesar hingga sekitar 20 persen.

“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan pelanggan. Langkah ini kami lakukan agar kualitas air yang diterima masyarakat tetap terjaga,” kata Arianto.

Dengan kondisi tersebut, Perumdam memilih mempertahankan kualitas air yang diproduksi meski konsekuensinya jam pelayanan kepada sebagian pelanggan harus dikurangi.

Mobil tangki dikerahkan

Pemkot Jambi kini meminta Perumdam Tirta Mayang memperkuat penanganan di lapangan.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengerahkan mobil tangki untuk mendistribusikan air bersih secara gratis ke kawasan yang mengalami gangguan pasokan maupun wilayah yang sumber airnya mulai mengering.

“Kami sudah perintahkan PDAM untuk mengantarkan kebutuhan air bersih semaksimal mungkin ke daerah-daerah yang memang terdampak kekeringan,” ujar Maulana.

Selain mobil tangki, Perumdam juga menyiapkan pompa bergerak dan pemasangan pipa intake untuk menjaga keberlangsungan pengambilan air baku.

Langkah tersebut menjadi penanganan darurat sembari pemerintah melihat perkembangan kondisi Sungai Batanghari dan musim kemarau.

Pemkot mulai pikirkan sumber air selain Batanghari

Di tengah tekanan terhadap sumber air utama, Pemkot Jambi mulai melihat persoalan ini sebagai masalah jangka panjang.

Maulana mengatakan ketergantungan terhadap Sungai Batanghari perlu dikurangi dengan menyiapkan sumber air baku alternatif.

Salah satu opsi yang mulai dipertimbangkan adalah pemanfaatan kolam retensi sebagai sumber air baku tambahan bagi Perumdam Tirta Mayang.

“Kita juga harus berpikir soal ketersediaan air baku. Bisa kita pertimbangkan nanti apakah kolam-kolam retensi ini bisa menjadi sumber air baku bagi PDAM,” katanya.

Namun, rencana tersebut belum bisa langsung diterapkan.

Pemerintah perlu mengkaji kapasitas tampungan, kontinuitas debit, kualitas air serta teknologi pengolahan yang dibutuhkan sebelum kolam retensi dapat digunakan sebagai sumber air baku.

Jika layak secara teknis, keberadaan sumber air alternatif tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap kondisi Sungai Batanghari ketika kemarau panjang kembali terjadi.

Krisis air berpotensi berulang

Bagi Pemkot Jambi, kondisi yang terjadi saat ini menjadi peringatan bahwa persoalan air baku tidak cukup ditangani dengan langkah darurat setiap musim kemarau.

Penurunan debit sungai dan perubahan kualitas air berpotensi kembali terjadi ketika kemarau berlangsung panjang.

“Ke depan ini harus dipikirkan karena masalah seperti ini memang terjadi setiap tahun,” tegas Maulana.

Karena itu, selain memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi selama kondisi darurat, pemerintah mulai diarahkan untuk membangun sistem penyediaan air yang lebih tahan terhadap perubahan musim.

Masyarakat juga diminta menggunakan air secara bijak selama kondisi pasokan belum kembali normal.

Di sisi lain, Perumdam Tirta Mayang memastikan proses pengolahan tetap mengikuti standar operasional, sementara distribusi bantuan air bersih terus diarahkan ke wilayah yang paling terdampak.

Dengan perkiraan gangguan dapat berlangsung hingga September, persoalan air bersih Kota Jambi kini bukan hanya soal berkurangnya produksi.

Krisis air baku juga menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk memastikan ketahanan pasokan air dalam menghadapi kemarau berikutnya.(*)