Cara Sederhana Orangtua Membangun Kepercayaan Anak

SEPUCUKJAMBI.ID – Kepercayaan anak terhadap orangtua merupakan fondasi penting dalam tumbuh kembang emosional dan psikologis anak.

Kepercayaan ini tidak terbentuk secara langsung, melainkan dibangun dari kebiasaan sederhana dalam keseharian, salah satunya melalui perkataan yang diucapkan dan ditepati oleh orangtua.

Bagi anak, ucapan orangtua bukan sekadar kata-kata, tetapi pegangan yang menentukan rasa aman dan keyakinan mereka.

Anak tidak hanya mendengar apa yang dikatakan orangtua, tetapi juga mengamati kesesuaian antara ucapan dan tindakan.

Ketika orangtua sering mengucapkan janji tanpa realisasi, anak dapat menangkap pesan bahwa perkataan tersebut tidak selalu dapat dipercaya.

Kebiasaan ini, jika berlangsung terus-menerus, berpotensi membuat anak ragu, bahkan menurunkan rasa percaya mereka terhadap orangtua.

Karena itu, penting bagi orangtua untuk lebih berhati-hati dalam berbicara.

Jika belum yakin dapat menepati janji, sebaiknya tidak mengucapkannya. Sebaliknya, ketika suatu perkataan sudah terlanjur disampaikan, orangtua perlu berusaha menepatinya.

Konsistensi ini membantu anak memahami bahwa setiap ucapan memiliki makna dan konsekuensi.

Menepati perkataan juga berlaku dalam pemberian konsekuensi kepada anak.

Ketika orangtua menyampaikan aturan atau akibat dari suatu perilaku, keputusan tersebut perlu dijalankan secara konsisten.

Hal ini bukan bentuk ancaman, melainkan wujud komitmen dan kejelasan sikap.

Dengan begitu, anak belajar memahami batasan, sekaligus menyadari bahwa orangtua dapat dipercaya.

Sebaliknya, dalam situasi ketika anak diminta untuk menunggu atau bersabar, orangtua juga perlu memastikan perkataannya ditepati.

Misalnya, saat menunda suatu kegiatan karena kondisi tertentu, janji untuk melanjutkannya di waktu yang telah disepakati harus direalisasikan. Pengalaman ini membuat anak lebih mudah menerima penundaan karena merasa tidak dibohongi.

Kepercayaan yang terbangun dari konsistensi ucapan dan tindakan akan membuat anak merasa lebih aman.

Anak menjadi lebih tenang saat menghadapi situasi yang tidak langsung sesuai dengan keinginannya, karena yakin orangtua akan bersikap jujur dan bertanggung jawab.

Selain menepati perkataan, membangun kepercayaan anak juga dapat dilakukan dengan memberi ruang untuk bereksplorasi.

Selama aktivitas yang dilakukan masih aman, anak perlu diberi kesempatan mencoba dan mengenal lingkungannya. Setelah itu, orangtua dapat mengajak anak berdiskusi tentang apa yang mereka rasakan, sukai, atau khawatirkan.

Melalui proses ini, anak belajar mengenali dirinya sendiri dan merasa dihargai.

Ketika anak diberi kepercayaan, mereka cenderung lebih tenang, tidak mudah memaksa, dan lebih sabar.

Pada akhirnya, kepercayaan anak terhadap orangtua tumbuh dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Menepati perkataan, bersikap jujur, dan memberi ruang bagi anak untuk berkembang menjadi kunci penting dalam membangun hubungan yang sehat dan penuh rasa aman antara orangtua dan anak.(*)




7 Tips Digital Parenting Agar Anak Bijak Menggunakan Internet

SEPUCUKJAMBI.ID – Teknologi digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam bekerja, berkomunikasi, dan kegiatan lainnya, sehingga sulit untuk dihindari.

Pengguna teknologi digital tidak hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Oleh karena itu, orangtua perlu menerapkan digital parenting agar anak dapat menggunakan internet dengan lebih bijak dan bertanggung jawab.

Tujuan penerapan digital parenting adalah untuk membantu orangtua menjadi panutan dalam penggunaan teknologi, mengajarkan etika serta pengelolaan teknologi digital, dan mengawasi sekaligus mendampingi anak saat menggunakan internet.

Terdapat tujuh langkah yang dapat dilakukan orangtua untuk menerapkan digital parenting, yaitu:

1. Ciptakan Bonding

Langkah pertama adalah membangun ikatan yang kuat antara orangtua dan anak.

Orangtua dianjurkan untuk sering mengobrol secara terbuka dan santai tentang dunia digital.

Dengan suasana yang nyaman, anak lebih mudah mendiskusikan pengalaman, pertanyaan, dan tantangan yang mereka temui di internet.

2. Edukasi Diri Sendiri

Orangtua perlu aktif mempelajari teknologi digital, termasuk gadget, aplikasi, permainan online, dan berbagai ruang digital lainnya.

Mengikuti informasi terbaru dan mencoba aplikasi atau situs web sendiri dapat membantu orangtua lebih memahami dunia maya anak.

Selain itu, orangtua bisa mencari tips digital parenting tambahan untuk meningkatkan pengetahuan mereka.

3. Gunakan Parental Control

Fitur parental control memungkinkan orangtua mengatur akses anak ke platform digital, termasuk durasi penggunaan dan jenis konten yang bisa diakses.

Misalnya, layanan seperti Family Link dan YouTube Kids memungkinkan orangtua menetapkan batas harian penggunaan aplikasi tertentu, sehingga anak dapat belajar mengelola waktu mereka secara sehat.

4.Tetapkan Aturan yang Disepakati Bersama

Diskusikan aturan penggunaan gadget dengan anak, termasuk kapan dan di mana perangkat boleh digunakan.

Kesepakatan bersama lebih efektif daripada sekadar memerintah, dan jika aturan dilanggar, hak anak menggunakan gadget dapat dibatasi sesuai kesepakatan.

5. Awasi Aktivitas Anak di Dunia Digital

Orangtua perlu mengikuti aktivitas anak secara wajar, tanpa menguntit atau terlalu mengontrol akun mereka.

Dengan memahami konten dan akun yang disukai anak, orangtua bisa memberikan pemahaman bahwa tidak semua yang terlihat di dunia maya mencerminkan kenyataan.

6. Gunakan Platform Digital Bersama Anak

Orangtua dapat ikut menggunakan aplikasi, situs, atau permainan digital bersama anak.

Cara ini tidak hanya mendekatkan hubungan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk belajar bersama dan mengajarkan etika digital secara langsung.

7. Jadi Panutan yang Baik

Orangtua harus menjadi contoh bagi anak dalam penggunaan teknologi. Kurangi kebiasaan digital yang kurang produktif, ketahui batas waktu penggunaan internet, dan tunjukkan sikap positif di dunia maya.

Anak belajar banyak dari perilaku orangtua, sehingga peran panutan sangat penting.

Digital parenting bukan sekadar mengawasi anak, tetapi juga membimbing dan menjadi panutan dalam penggunaan teknologi.(*)