Kabut Asap Ganggu Penerbangan, Bandara Jambi Siapkan Operasional hingga Tengah Malam

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Bandara Sultan Thaha Jambi membuka opsi penambahan jam operasional di luar jadwal normal pukul 19.00 WIB untuk mengakomodasi penerbangan yang terdampak kabut asap.

Namun, kebijakan tersebut tidak berlaku otomatis setiap hari karena bergantung pada permintaan maskapai dan kebutuhan operasional.

Stem Branch Communication Bandara Sultan Thaha Jambi, Ikhsan Pulungan, menjelaskan bahwa bandara beroperasi secara normal mulai pukul 05.00 hingga 19.00 WIB.

Pengelola dapat memperpanjang waktu operasional apabila penerbangan mengalami keterlambatan akibat kondisi cuaca dan keterbatasan jarak pandang.

“Jam operasional normal Bandara Sultan Thaha adalah pukul 05.00 sampai 19.00 WIB. Terkait kondisi cuaca saat ini, pihak bandara menambah jam operasional di atas pukul 19.00 WIB atas permintaan maskapai untuk mengakomodasi penerbangan yang terdampak cuaca dan minimnya jarak pandang akibat kabut asap,” jelas Ikhsan.

Ikhsan menegaskan bahwa penambahan jam operasional bersifat situasional.

Bandara tidak otomatis memperpanjang layanan setiap malam, melainkan menyesuaikannya dengan kebutuhan penerbangan yang mengalami keterlambatan hingga melewati jadwal operasional normal.

Skema tersebut memberi ruang bagi maskapai untuk mengakomodasi penerbangan yang tertunda.

Meski demikian, perubahan jam operasional tidak serta-merta menjamin seluruh penerbangan dapat berangkat atau tiba sesuai rencana karena kondisi cuaca dan pertimbangan keselamatan tetap menjadi faktor penentu.

Bagi penumpang, kondisi ini membuat pemantauan jadwal penerbangan menjadi penting, terutama ketika kabut asap mengurangi jarak pandang di sekitar bandara.

Penumpang sebaiknya memeriksa informasi terbaru melalui maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara untuk mengantisipasi perubahan jadwal maupun keterlambatan.

Selain menangani penerbangan yang terlambat, penambahan waktu operasional juga mempertimbangkan kebutuhan penerbangan untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Menurut Ikhsan, kegiatan OMC dapat berlangsung pada malam hari, yakni dalam rentang pukul 19.00 hingga 24.00 WIB.

Kebutuhan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pengaturan operasional di luar jadwal reguler.

Dengan demikian, jadwal normal Bandara Sultan Thaha Jambi tetap berlangsung pukul 05.00–19.00 WIB.

engelola menyesuaikan jam tambahan berdasarkan kebutuhan penerbangan dan kondisi operasional yang dihadapi.

Kabut asap dapat mengurangi jarak pandang dan memengaruhi kelancaran penerbangan.

Dalam situasi tersebut, maskapai dan pengelola bandara perlu menyesuaikan pelaksanaan penerbangan dengan kondisi cuaca serta ketentuan keselamatan yang berlaku.

Perpanjangan jam operasional memberi fleksibilitas dari sisi waktu layanan bandara, tetapi tidak menghilangkan risiko akibat jarak pandang yang terbatas.

Keputusan untuk melanjutkan, menunda, atau menyesuaikan penerbangan tetap bergantung pada evaluasi operasional dan keselamatan.

Karena itu, penanganan dampak kabut asap tidak hanya membutuhkan penyesuaian jadwal bandara, tetapi juga informasi yang cepat dan akurat kepada penumpang.

Bandara Sultan Thaha Jambi melalui kebijakan operasional yang fleksibel berupaya mengakomodasi kebutuhan maskapai dan mendukung kelancaran penerbangan.

Namun, penerapan jam tambahan tetap bersifat kondisional dan mengikuti kebutuhan serta ketentuan yang berlaku.(*)




Gubernur Al Haris Pantau Karhutla dari Udara, Api Masih Merayap di Lahan Gambut Tanjabtim

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) masih menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jambi.

Dari patroli udara yang dilakukan Senin 21 September 2026, sejumlah titik api disebut masih terlihat aktif, terutama di kawasan lahan gambut.

Gubernur Jambi Al Haris bersama Komandan Korem 042/Garuda Putih Brigjen TNI Nyamin dan Tim Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Provinsi Jambi memantau langsung kondisi tersebut melalui patroli udara.

Dua kawasan yang menjadi pantauan yakni Taman Nasional Berbak Sembilang serta wilayah Ladang Peris dan Sadu di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Usai patroli, Al Haris mengatakan api masih terlihat di sejumlah bagian kawasan yang dipantau.

“Barusan saya bersama Komandan Korem 042/Gapu Jambi meninjau langsung kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di dua wilayah yang berdekatan, yakni kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang dan wilayah Ladang Peris, Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur,” ujar Al Haris.

Menurut Al Haris, kondisi di lapangan cukup kompleks karena kebakaran terjadi di kawasan gambut. Dari udara, api disebut masih terlihat dan bergerak di atas lahan yang terbakar.

“Dua wilayah ini berdekatan dan kita melihat memang masih ada api di situ yang sedang merayap karena itu gambut ya, merayap terus kelihatan api masih ada cukup luas,” katanya.

Karakter lahan gambut menjadi salah satu tantangan dalam proses penanganan. Selain api yang masih terlihat, akses menuju sejumlah titik kebakaran juga menjadi persoalan bagi tim di lapangan.

Al Haris mengatakan, tim darat tidak mudah mencapai lokasi karena harus melewati kawasan hutan dengan akses yang terbatas.

“Pasti itu sulit bagi tim kita untuk langsung ke sana untuk menjangkau titik lokasi itu. Pertama aksesnya karena belantara ya, hutan belantara sangat sulit akses untuk menuju ke lokasi itu. Kecuali waterbombing atau hujan,” ucapnya.

Selain kawasan Berbak Sembilang dan Sadu, kondisi di Desa Labuan Pering juga menjadi perhatian.

Di wilayah tersebut, masyarakat telah melakukan upaya penyekatan untuk membatasi pergerakan api agar tidak merembet ke area perkebunan warga.

“Memang sudah ada upaya masyarakat untuk melakukan penyekatan membatasi wilayah lahan mereka, kebun mereka, sehingga insya Allah ini bisa bertahan, dengan catatan kalau anginnya tidak kencang, kalau kencang repot juga,” jelas Al Haris.

Pemprov Jambi kemudian mengarahkan pelaksanaan waterbombing di lokasi Labuan Pering untuk membantu mencegah api mencapai kebun masyarakat.

Langkah tersebut menjadi salah satu opsi karena kondisi medan membuat penanganan dari darat tidak mudah dilakukan.

Selain waterbombing, Pemprov Jambi juga masih melihat peluang pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Al Haris berharap keberadaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan dapat dimanfaatkan untuk mendukung upaya penanganan karhutla.

“Semoga kalau ada bintik-bintik hujan, teman-teman dari OMC bisa juga mengambil langkah-langkah OMC di lokasi itu,” tambahnya.

OMC diharapkan dapat menjadi salah satu dukungan dalam penanganan kebakaran, terutama pada kawasan yang sulit dijangkau oleh tim pemadam melalui jalur darat.

Di tengah munculnya berbagai angka mengenai luasan lahan terbakar, Pemprov Jambi belum menetapkan angka final.

Al Haris mengatakan proses penghitungan masih menghadapi kendala karena kawasan kebakaran berada di wilayah yang beririsan antara Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan.

“Kita belum bisa koreksi berapa luasnya karena ini ada dua wilayah Jambi dan juga Sumsel. Tetapi kalau bicara api ya masih ada api yang hidup di situ, maka tim bekerja untuk menangani itu,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa data luasan kebakaran masih dapat berubah seiring proses pemantauan dan verifikasi di lapangan.

Terkait data luasan yang sebelumnya disampaikan WALHI dan sejumlah organisasi masyarakat sipil dengan angka yang lebih besar, Al Haris mengatakan pemerintah belum melakukan penghitungan akhir.

Menurutnya, data hotspot, fire spot, pemantauan posko serta perkembangan penanganan di lapangan akan menjadi bagian dari bahan evaluasi sebelum luasan kebakaran ditetapkan.

“Kita belum menghitung, nanti akan terlihat. Ada hotspot, ada fire spot, ada tindakan kami di lapangan, di posko, ini semua kelihatan nanti pergerakannya. Kita akan hitung nanti setelah selesai semua padam, berapa total areal yang terbakar di wilayah Jambi,” pungkasnya.

Patroli udara tersebut turut didampingi Kepala BPBD Provinsi Jambi Bachyuni Deliansyah, Kepala Dinas Kominfo Provinsi Jambi Ariansyah, serta Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi Jambi Bustanul Arifin.

Pemantauan dari udara menjadi bagian dari upaya Satgas Karhutla Provinsi Jambi memetakan kondisi titik api sekaligus menentukan langkah penanganan di kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.(*)