Musim Hujan di Tebo Mundur, BPBD Prediksi Hujan Lebat Mulai Akhir Oktober 2026

MUARATEBO, SEPUCUKJAMBI.ID – Awal musim hujan di Kabupaten Tebo, Jambi, mengalami pergeseran dari pola yang biasanya berlangsung pada akhir September atau awal Oktober.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tebo memperkirakan intensitas hujan meningkat pada sepuluh hari terakhir Oktober 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Tebo, Joko Adriawan, mengatakan prakiraan tersebut mengacu pada informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Meski awal musim hujan bergeser, puncak musim hujan di wilayah Tebo diperkirakan tetap berlangsung pada Desember 2026 hingga Januari 2027.

“Biasanya pada akhir September atau awal Oktober hujan sudah mulai turun. Namun, hingga saat ini kondisi tersebut belum terjadi seperti pola yang biasa kami amati,” kata Joko.

Ia menjelaskan, informasi prakiraan BMKG yang menjadi acuan BPBD sebelumnya menunjukkan awal musim hujan di Tebo pada Oktober 2026.

Perkembangan cuaca pada dasarian III atau periode 21–31 Oktober kini menjadi perhatian karena hujan diprediksi semakin intens pada periode tersebut.

Meski demikian, perkiraan peningkatan hujan itu belum menjadi jaminan bahwa seluruh wilayah Tebo akan mengalami curah hujan tinggi secara bersamaan.

Masyarakat perlu mengikuti pembaruan prakiraan cuaca dan peringatan dini dari BMKG untuk mengetahui kondisi di wilayah masing-masing.

Perubahan pola hujan menjadi perhatian BPBD Tebo dalam menyiapkan langkah antisipasi bencana hidrometeorologi basah.

“Risiko seperti banjir, genangan, dan tanah longsor perlu dicermati sesuai kondisi geografis serta perkembangan cuaca setempat,” sambungnya.

Joko mengatakan, pihaknya masih memantau informasi BMKG untuk memperbarui situasi dan menentukan langkah kesiapsiagaan.

Namun, BPBD belum menyampaikan rincian wilayah rawan, tingkat risiko, maupun langkah penanganan khusus yang akan diterapkan berdasarkan prakiraan terbaru tersebut.

Karena itu, masyarakat diharapkan tidak hanya mengandalkan perkiraan waktu datangnya musim hujan.

“Warga perlu memperhatikan peringatan dini, menjaga saluran air tetap bersih, serta mewaspadai perubahan cuaca yang berlangsung cepat,” imbaunya.

Di sisi lain, BPBD Tebo memperkirakan status siaga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat berakhir pada penghujung Oktober 2026.

Namun, keputusan mengenai kelanjutan status tersebut masih bergantung pada perkembangan kondisi cuaca dan kebijakan pemerintah daerah.

Joko menyebut informasi dari BPBD Provinsi Jambi menjadi salah satu acuan dalam mempertimbangkan apakah status siaga karhutla perlu diperpanjang atau cukup diakhiri sesuai jadwal.

Jika prakiraan BMKG terealisasi dan kondisi mendukung, status siaga karhutla berpeluang tidak diperpanjang.

Meski begitu, berakhirnya status siaga tidak serta-merta menghilangkan risiko kebakaran lahan, terutama jika masih terdapat kawasan kering dan titik rawan kebakaran.

BPBD Tebo masih mengikuti perkembangan cuaca sebelum mengambil langkah lanjutan.

Kepastian mengenai berakhir atau diperpanjangnya status siaga karhutla tetap menunggu keputusan resmi dari pihak berwenang.(*)

 




BMKG Ungkap Kapan Musim Hujan Masuk Jambi, Wilayah Timur Diprediksi Lebih Dulu

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Warga Jambi perlu bersiap menghadapi perubahan pola cuaca. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Provinsi Jambi mulai memasuki musim hujan pada dasarian ketiga Oktober atau 21–31 Oktober 2026.

Namun, hujan tidak langsung merata di seluruh wilayah Jambi. BMKG memprediksi musim hujan akan masuk secara bertahap dan wilayah bagian timur menjadi kawasan yang lebih dulu mengalami peralihan.

Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi, Jaya Martua Sinaga, mengatakan pola awal musim hujan di Jambi tidak mengikuti batas administrasi kabupaten.

“Dasarian tiga Oktober Jambi mulai masuk musim hujan. Untuk wilayah Provinsi Jambi terdapat empat zona musim (ZOM),” kata Jaya Martua Sinaga di Kota Jambi, baru-baru ini.

Menurut Jaya, satu zona musim dapat mencakup wilayah dua hingga tiga kabupaten.

Karena itu, waktu masuk musim hujan bisa berbeda antarwilayah meski masih berada dalam satu kabupaten.

Pada tahap awal, BMKG memprakirakan musim hujan mulai masuk pada dasarian ketiga Oktober.

Sejumlah wilayah yang berpeluang lebih dulu memasuki musim hujan antara lain Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Muaro Jambi, Kota Jambi, Batang Hari, Tebo, sebagian besar Bungo, dan sebagian besar Sarolangun.

Pola tersebut menunjukkan wilayah Jambi tidak akan langsung mengalami musim hujan secara serentak.

Peralihannya berlangsung bertahap mengikuti kondisi atmosfer dan zona musim masing-masing.

Memasuki dasarian pertama November, giliran sejumlah wilayah lain yang diprakirakan mulai memasuki musim hujan.

Wilayah tersebut mencakup Tanjung Jabung Barat bagian utara, Bungo bagian utara, Merangin bagian barat, serta Sarolangun bagian barat.

Sementara itu, Kerinci dan Kota Sungai Penuh diperkirakan baru memasuki musim hujan pada dasarian kedua November.

Sebagian kecil wilayah Tanjung Jabung Timur juga masuk dalam periode tersebut.

Sebelum memasuki periode hujan, kondisi cuaca Jambi dalam beberapa hari ke depan masih relatif didominasi cuaca cerah hingga berawan.

BMKG memprakirakan kondisi tersebut terjadi pada 7–9 Oktober di sebagian besar wilayah Provinsi Jambi.

Perubahan mulai terlihat pada 10–13 Oktober. Sejumlah wilayah berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan.

Akan tetapi, hujan pada periode tersebut belum menunjukkan awal musim hujan secara menyeluruh.

Potensinya masih bersifat lokal dan tidak merata, dengan peluang lebih besar di wilayah Jambi bagian barat.

Kondisi atmosfer Jambi juga menarik perhatian karena fenomena El Nino masih berada pada indeks yang cukup kuat.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak otomatis membuat seluruh wilayah Jambi tetap kering.

Jaya menjelaskan bahwa dinamika atmosfer lokal dan regional masih berperan dalam pembentukan awan hujan.

Artinya, faktor global seperti El Nino tetap menjadi bagian dari gambaran iklim, tetapi kondisi atmosfer di sekitar Jambi dapat memicu pertumbuhan awan dan hujan pada waktu tertentu.

Perubahan musim juga terlihat dari pola angin. Sepanjang Oktober, angin di Jambi umumnya bertiup dari arah tenggara akibat pengaruh monsun Australia, yaitu pola angin yang bergerak dari wilayah Australia menuju Asia.

Namun, pola tersebut diprakirakan mulai berubah menjelang akhir Oktober hingga awal November.

Memasuki pertengahan November, arah angin diperkirakan semakin berubah seiring berlangsungnya transisi musim di wilayah Jambi.

Perubahan arah angin tersebut menjadi salah satu indikator dinamika atmosfer yang menyertai peralihan Jambi dari periode relatif kering menuju musim hujan.

Dengan prakiraan tersebut, masyarakat Jambi perlu mencermati perkembangan cuaca, terutama memasuki paruh kedua Oktober.

Sebab, awal musim hujan tidak terjadi serentak dan setiap wilayah memiliki waktu peralihan yang berbeda. (*)




60 Persen untuk Banjir, Kajang Lako Disiapkan Jadi Ruang Publik dan Destinasi Baru Jambi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Pemerintah Kota Jambi berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan kawasan Danau Telago Kajang Lako.

Proyek yang berada di kawasan kolam retensi tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026, terutama karena musim hujan mulai memasuki wilayah Jambi.

Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, mengatakan percepatan Kajang Lako menjadi perhatian Pemkot Jambi setelah pemerintah mendapat evaluasi mengenai kondisi cuaca dan musim hujan dari BMKG.

Memasuki November, intensitas hujan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam target pengoperasian kawasan tersebut.

“Danau Kajang Lako memang direncanakan akhir tahun ini sudah beroperasi. Ini juga mengingat kemarin kita mendapatkan evaluasi dari BMKG, karena November sudah masuk musim hujan,” kata Diza, Selasa 6 Oktober 2026.

Target tersebut membuat fungsi pengendalian banjir menjadi sorotan utama. Pemkot Jambi merancang sekitar 60 persen fungsi kawasan Kajang Lako untuk mendukung pengendalian banjir.

Artinya, keberadaan Danau Telago Kajang Lako tidak semata diarahkan sebagai ruang rekreasi atau ikon baru kota.

Infrastruktur tersebut memiliki peran penting dalam sistem penanganan genangan dan pengendalian air di Kota Jambi.

Pemkot Jambi tidak ingin fungsi pengendalian banjir membuat kawasan Kajang Lako kehilangan potensi sebagai ruang publik.

Di luar fungsi utamanya, pemerintah menyiapkan sejumlah ruang yang dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk pelaku UMKM.

“Penggunaannya nanti 60 persen memang untuk mengatasi banjir, tetapi juga ada space-space tertentu yang bisa digunakan UMKM,” ujar Diza.

Menurut dia, konsep tersebut menjadi bagian dari strategi menggabungkan fungsi infrastruktur dengan aktivitas ekonomi masyarakat.

Dengan demikian, ketika kawasan tidak digunakan untuk fungsi pengendalian air, ruang yang tersedia tetap dapat memberikan manfaat bagi warga melalui kegiatan publik maupun ekonomi.

Konsep itu juga sejalan dengan program Kota Tangguh yang dikembangkan Pemkot Jambi.

Pemerintah ingin membangun kawasan yang tidak hanya mampu menghadapi persoalan banjir, tetapi juga menyediakan ruang bagi aktivitas ekonomi dan masyarakat.

Kajang Lako juga masuk dalam konsep penataan kawasan publik yang lebih luas.

Pemkot Jambi sebelumnya menyiapkan konektivitas kawasan yang menghubungkan perkantoran Wali Kota Jambi, Taman Banjuran Budayo, Tugu Keris Siginjai hingga Danau Telago Kajang Lako.

Konsep tersebut bertujuan membuat berbagai ruang publik dan ikon kota saling terhubung sehingga membentuk kawasan yang lebih terintegrasi.

Sejumlah fasilitas pendukung juga disiapkan di kawasan Kajang Lako.

Salah satunya jogging track sepanjang sekitar 1,4 kilometer. Jalur tersebut dirancang dengan pepohonan peneduh dan penerangan sehingga dapat menunjang aktivitas olahraga dan rekreasi masyarakat.

Penataan lanskap juga dilakukan melalui penghijauan dengan menanam pohon tanjung dan tabebuya.

Pemkot Jambi melihat Kajang Lako memiliki peluang untuk berkembang menjadi salah satu destinasi wisata baru di Kota Jambi.

Namun, pengembangan tersebut tetap harus berjalan beriringan dengan fungsi utama kawasan sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir.

Pemerintah ingin ruang yang dibangun tidak berhenti sebagai infrastruktur teknis.

Kawasan tersebut juga diharapkan mampu menjadi ruang interaksi warga, lokasi aktivitas olahraga, tempat rekreasi hingga wadah bagi kegiatan ekonomi UMKM.

Dengan target mulai beroperasi pada akhir 2026, Kajang Lako kini menghadapi dua kepentingan sekaligus, memastikan fungsi pengendalian banjir berjalan dan menghadirkan ruang publik yang memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Pemkot Jambi juga merencanakan prosesi peresmian kawasan tersebut pada 2027 setelah seluruh penataan dan fasilitas pendukung rampung.

Jika target berjalan sesuai rencana, Danau Telago Kajang Lako tidak hanya menjadi kolam retensi, tetapi dapat berkembang menjadi salah satu ruang publik baru yang menggabungkan fungsi pengendalian banjir, olahraga, rekreasi, UMKM, penghijauan dan pariwisata di Kota Jambi.(*)




BMKG Ungkap Prediksi Musim Hujan Jambi, Tanjab Barat-Tanjab Timur Diperkirakan Mulai 3 Oktober

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya potensi fenomena El Niño yang masih berlangsung hingga awal 2027.

Di tengah kondisi tersebut, BMKG memprediksi sejumlah wilayah Jambi mulai memasuki musim hujan pada awal Oktober 2026.

Untuk Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, awal musim hujan diperkirakan terjadi sekitar 3 Oktober 2026.

Informasi tersebut disampaikan BMKG dalam kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Provinsi Jambi Tahun 2026 yang digelar di Kantor Bupati Tanjung Jabung Barat, Kamis 24 September 2026.

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG Pusat, Dr. Marjuki, M.Si., yang mengikuti kegiatan secara daring, menyampaikan materi melalui Koordinator Bidang Iklim Terapan, Siswanto.

BMKG mendorong pemerintah daerah, petani, pekebun dan pemangku kepentingan menggunakan informasi iklim sebagai dasar dalam menentukan langkah di lapangan.

“Informasi iklim perlu dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan pertanian dan perkebunan, pemantauan risiko, serta pencegahan karhutla. Sekolah Lapang Iklim diharapkan menghasilkan langkah nyata di lapangan, bukan hanya sebatas pembelajaran,” sebut Marjuki secara daring.

Potensi El Niño hingga awal 2027 menjadi salah satu informasi penting yang perlu diperhatikan sektor pertanian dan perkebunan.

Fenomena tersebut dapat memengaruhi kondisi cuaca dan ketersediaan air sehingga masyarakat yang aktivitasnya bergantung pada kondisi iklim perlu menyesuaikan strategi pengelolaan lahan.

Namun, BMKG juga mencatat adanya perkembangan menuju musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia pada periode Oktober-November.

Untuk wilayah Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, awal musim hujan diprediksi sekitar 3 Oktober.

Perubahan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena transisi dari musim kemarau menuju musim hujan dapat memengaruhi pola kegiatan pertanian, perkebunan dan pengelolaan lahan.

Kepala Stasiun Klimatologi Jambi, Darmadi, S.T., mengatakan Sekolah Lapang Iklim dirancang untuk meningkatkan literasi iklim masyarakat, khususnya pekebun dan petani.

Melalui kegiatan tersebut, peserta diberikan pemahaman teknis mengenai cara memanfaatkan informasi cuaca dan iklim BMKG dalam pengelolaan lahan.

“Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu menggunakan informasi iklim dalam menentukan langkah pengelolaan lahan, terutama pada musim kemarau, termasuk mencegah pembukaan dan pengelolaan lahan dengan cara membakar,” jelas Darmadi.

Pemanfaatan informasi BMKG diharapkan membantu petani menentukan waktu dan strategi pengelolaan lahan secara lebih tepat, termasuk dalam menghadapi perubahan kondisi cuaca.

Pentingnya informasi iklim tersebut terlihat dari kondisi sektor pertanian di Tanjung Jabung Barat.

Wakil Bupati Tanjung Jabung Barat, Dr. H. Katamso SA., S.E., M.E., mengatakan dari sekitar 7.600 hektare lahan sawah di daerah tersebut, kurang lebih 92 hektare telah terdampak kekeringan.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produksi padi serta pencapaian target pangan daerah dan nasional.

Katamso meminta informasi BMKG tidak hanya menjadi bahan pengetahuan, tetapi benar-benar digunakan dalam menentukan waktu pelaksanaan kegiatan pertanian maupun perbaikan saluran.

“Informasi dari BMKG harus menjadi dasar dalam mengambil langkah, termasuk menentukan waktu pelaksanaan kegiatan pertanian dan perbaikan saluran,” ujar Katamso.

BMKG juga menekankan pentingnya informasi iklim untuk mengantisipasi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pemanfaatan data dan informasi cuaca dapat membantu pemerintah serta masyarakat melakukan pemantauan risiko sekaligus menentukan langkah pencegahan, terutama pada periode kering.

SLI Jambi 2026 karena itu tidak hanya melibatkan sektor pertanian dan perkebunan. Kegiatan tersebut juga melibatkan BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, TNI/Polri, Basarnas, Manggala Agni serta sektor swasta.

Kolaborasi lintas sektor tersebut diarahkan untuk memperkuat pemanfaatan informasi iklim dalam menghadapi risiko bencana hidrometeorologi dan menjaga produktivitas pertanian.

SLI Provinsi Jambi 2026 mengusung tema “Tanggap Iklim untuk Perkebunan Ramah Lingkungan dan Tangguh Menghadapi Musim Kemarau”.

Kegiatan diikuti 50 peserta yang terdiri dari petani, pekebun dan penyuluh lapangan.

BMKG berharap pengetahuan yang diperoleh dalam SLI tidak berhenti pada ruang pelatihan, tetapi diterapkan dalam aktivitas pertanian dan perkebunan.

Dengan prediksi awal musim hujan yang mulai muncul sementara El Niño masih berpotensi hingga awal 2027, informasi iklim menjadi salah satu instrumen yang dapat digunakan pemerintah daerah dan masyarakat untuk menyesuaikan pengelolaan lahan dengan perkembangan kondisi cuaca dan iklim.(*)




Wabup Tanjab Barat Ungkap 92 Hektare Sawah Terdampak Kekeringan

KUALATUNGKAL, SEPUCUKJAMBI.ID –  Perubahan iklim mulai menjadi tantangan nyata bagi sektor pertanian di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Dari sekitar 7.600 hektare lahan sawah yang ada, sekitar 92 hektare dilaporkan terdampak kekeringan yang berpotensi memengaruhi produksi padi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat di tengah potensi perubahan pola cuaca yang semakin sulit diprediksi.

Wakil Bupati Tanjung Jabung Barat, Dr. H. Katamso SA., S.E., M.E., meminta petani dan pelaku perkebunan tidak lagi hanya mengandalkan kebiasaan atau pola musim tahun-tahun sebelumnya dalam menentukan waktu tanam maupun pengelolaan lahan.

Menurutnya, informasi cuaca dan iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu dijadikan salah satu dasar pengambilan keputusan di sektor pertanian.

Hal itu disampaikan Katamso saat membuka Sekolah Lapang Iklim (SLI) Provinsi Jambi 2026 di Ruang Pola Utama Kantor Bupati Tanjung Jabung Barat, Kamis 24 September 2026.

SLI tahun ini mengusung tema “Tanggap Iklim untuk Perkebunan Ramah Lingkungan dan Tangguh Menghadapi Musim Kemarau” dan diikuti 50 peserta yang terdiri dari pekebun, petani serta penyuluh lapangan.

Katamso mengatakan sektor pertanian dan perkebunan memiliki posisi penting dalam perekonomian Tanjung Jabung Barat.

Pada 2025, pertumbuhan ekonomi daerah tersebut tercatat 5,28 persen dan disebut menjadi yang tertinggi di Provinsi Jambi. Kontribusi Tanjung Jabung Barat terhadap PDRB Provinsi Jambi mencapai 17,88 persen.

Dari struktur perekonomian daerah, sektor pertanian memberikan kontribusi sekitar 34 persen, dengan subsektor perkebunan menjadi salah satu penopang utamanya.

“Karena itu, sektor pertanian dan perkebunan harus terus kita kembangkan agar semakin produktif dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Katamso.

Namun, potensi ekonomi tersebut berhadapan dengan risiko perubahan iklim.

Dari sekitar 7.600 hektare sawah, sekitar 92 hektare telah terdampak kekeringan.

Jika tidak diantisipasi, kondisi itu dapat berpengaruh terhadap produksi padi sekaligus pencapaian target pangan daerah dan nasional.

“Informasi dari BMKG harus menjadi dasar dalam mengambil langkah, termasuk menentukan waktu pelaksanaan kegiatan pertanian dan perbaikan saluran,” katanya.

Informasi mengenai perubahan musim menjadi semakin penting karena BMKG memprediksi fenomena El Niño masih berpotensi berlangsung hingga awal 2027.

Di sisi lain, sejumlah wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan pada Oktober hingga November.

Untuk wilayah Jambi, khususnya Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, awal musim hujan diprediksi sekitar 3 Oktober 2026.

Informasi tersebut disampaikan Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG Pusat, Dr. Marjuki, M.Si., melalui Koordinator Bidang Iklim Terapan, Siswanto, dalam kegiatan SLI.

Perubahan kondisi cuaca tersebut dinilai perlu diantisipasi pemerintah daerah dan masyarakat, terutama petani serta pekebun yang aktivitasnya sangat bergantung pada kondisi iklim.

“Informasi iklim perlu dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan pertanian dan perkebunan, pemantauan risiko, serta pencegahan karhutla. Sekolah Lapang Iklim diharapkan menghasilkan langkah nyata di lapangan, bukan hanya sebatas pembelajaran,” disampaikan Siswanto.

Pemanfaatan informasi iklim juga diarahkan untuk memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Katamso mengatakan kondisi hotspot saat ini cenderung menurun dan diharapkan dapat terus terkendali seiring memasuki periode musim hujan.

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Jambi, Darmadi, mengatakan SLI dirancang untuk meningkatkan literasi iklim dan kemampuan teknis pekebun dalam memanfaatkan informasi cuaca serta iklim BMKG.

Peserta didorong menggunakan informasi tersebut untuk menentukan langkah pengelolaan lahan secara lebih produktif, berkelanjutan dan ramah lingkungan.

“Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu menggunakan informasi iklim dalam menentukan langkah pengelolaan lahan, terutama pada musim kemarau, termasuk mencegah pembukaan dan pengelolaan lahan dengan cara membakar,” jelas Darmadi.

Program tersebut sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor. Sejumlah instansi yang terlibat antara lain Dinas Perkebunan dan Peternakan, BPBD, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, TNI/Polri, Basarnas, Manggala Agni hingga sektor swasta.

Bagi Pemkab Tanjung Jabung Barat, SLI diharapkan tidak berhenti sebagai forum pembelajaran.

Katamso meminta peserta membawa pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan tersebut ke tingkat petani dan masyarakat di wilayah masing-masing.

“Informasi tersebut harus digunakan secara tepat guna, tepat sasaran, dan tepat waktu,” ujarnya.

Pemanfaatan data iklim dinilai penting karena pola musim semakin sulit diprediksi.

Dengan informasi yang lebih akurat, petani dapat menyesuaikan waktu tanam, pengelolaan lahan maupun langkah antisipasi terhadap risiko kekeringan dan cuaca ekstrem.

Pemerintah daerah berharap pendekatan tersebut dapat memperkuat ketahanan sektor pertanian dan perkebunan Tanjung Jabung Barat sekaligus menjaga sektor tersebut tetap menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah.(*)




Untuk Warga Jambi, Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Siang Ini!

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca Jambi pada 31 Desember 2025 pukul 13:55 WIB.

Warga diimbau waspada terhadap potensi hujan sedang hingga lebat, yang kemungkinan disertai kilat/petir dan angin kencang mulai pukul 14:25 WIB.

Wilayah yang terdampak awal meliputi:

  • Kabupaten Batanghari: Mersam

  • Kabupaten Muaro Jambi: Sekernan, Sungai Bahar

  • Kabupaten Tanjung Jabung Barat: Pengabuan, Betara, Seberang Kota, Bram Itam, Kuala Betara

  • Kabupaten Tanjung Jabung Timur: Mendahara Ulu dan sekitarnya

Hujan lebat ini diprediksi meluas ke wilayah lainnya, termasuk:

  • Kabupaten Batanghari: Muara Tembesi, Muara Bulian, Batin XXIV, Pemayung, Maro Sebo Ulu, Bajubang, Maro Sebo Ilir

  • Kabupaten Muaro Jambi: Jambi Luar Kota, Kumpeh, Maro Sebo, Mestong, Kumpeh Ulu, Sungai Gelam, Bahar Utara, Bahar Selatan, Taman Rajo

  • Kabupaten Tanjung Jabung Barat: Tungkal Ulu, Tungkal Ilir, Merlung, Tebing Tinggi, Batang Asam, Renah Mendaluh, Muara Papalik, Senyerang

  • Kabupaten Tanjung Jabung Timur: Mendahara, Sadu, Dendang, Muara Sabak Barat, Geragai, Berbak

  • Kota Jambi: Telanaipura, Jambi Selatan, Jambi Timur, Pasar Jambi, Pelayangan, Danau Teluk, Kota Baru, Jelutung, Alam Barajo, Danau Sipin, Paal Merah, dan sekitarnya

BMKG memperkirakan kondisi ini masih berlangsung hingga pukul 17:30 WIB.

Warga diimbau untuk tetap waspada, menghindari aktivitas di luar ruangan saat hujan deras, dan memastikan keamanan rumah serta kendaraan dari potensi angin kencang dan petir.(*)




11 Posko Nataru di Jambi, Fasilitas Lengkap untuk Pemudik dan Penanganan Darurat

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Jambi meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Sebanyak 11 posko Nataru telah disiagakan di berbagai wilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi, lengkap dengan alat berat dan petugas lapangan.

Kepala BPJN Jambi, Dr. Dedy Hariadi, S.T., M.T., mengatakan posko tersebut sudah aktif sejak 10 Desember dan akan beroperasi hingga 4 Januari 2026.

“Di 11 titik tersebut seluruh manajerial ruas kita tempatkan di posko-posko itu dan alat berat juga kita standby-kan di setiap titik. Jadi, jika sewaktu-waktu terjadi bencana, penanganannya bisa langsung dilakukan,” jelas Dedy.

Posko Nataru BPJN Jambi tersebar di wilayah Sebapo, Batang Hari, Kerinci, Merangin, Bungo, Tebo, Tanjung Jabung Barat, dan Tanjung Jabung Timur.

Beberapa wilayah seperti Kerinci dan Bangko Merangin menjadi perhatian khusus karena berada di kawasan pegunungan yang rawan longsor.

BPJN Jambi mencatat terdapat 95 titik rawan longsor, 10 titik rawan banjir, dan 2 titik rawan banjir rob yang perlu diantisipasi selama musim hujan.

“Ada sekitar 107 titik rawan yang kita antisipasi. Titik rawan terbanyak berada di Kerinci dan Bangko Merangin karena kawasan pegunungan. Alat berat DRU sudah standby di lokasi tersebut,” tambah Dedy.

Selain itu, posko Nataru juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung bagi pemudik, mulai dari ruang tunggu, tempat istirahat, fasilitas pijat, hingga toilet mobil.

Melalui penyiagaan ini, BPJN Jambi berharap arus lalu lintas selama libur Nataru di Provinsi Jambi berjalan aman, dan keberadaan posko tidak hanya menjadi pusat informasi.

Tetapi juga tempat singgah bagi pengendara yang membutuhkan bantuan di perjalanan.(*)




Wakil Wali Kota Jambi Dorong Partisipasi Warga Atasi Genangan dan Banjir

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, meninjau langsung kegiatan gotong royong warga di RT 51, Kelurahan Jelutung, Kecamatan Jelutung, Rabu (17/12/2025).

Kegiatan ini fokus pada pembersihan drainase dan lingkungan sekitar rumah warga yang sebelumnya tersumbat sampah, memicu genangan air.

Diza menekankan pentingnya identifikasi titik rawan banjir dan penanganan secara partisipatif.

“Ada beberapa titik yang terkena genangan. Rumah warga banyak drainasenya tertutup sampah, sehingga kami arahkan untuk bergotong royong,” sebutnya.

“Kami juga memberikan penyuluhan soal kebersihan lingkungan masing-masing,” kata Diza.

Selain gotong royong, Diza meninjau pembangunan kolam retensi di kawasan Paal Lima, Kecamatan Kota Baru.

Kolam retensi ini diharapkan dapat mengurangi potensi banjir di Kota Jambi hingga hampir 60 persen.

Proyek ini melibatkan pembebasan lahan warga dan milik pemerintah, dengan total 51 bidang lahan warga dan 85 bidang lahan milik Pemerintah Provinsi.

“Kami pastikan pembangunan kolam retensi berjalan lancar. Warga menyambut positif karena tujuannya untuk meminimalkan banjir. Dampak signifikan diperkirakan mulai terasa pada 2027,” ujar Diza.

Selain berfungsi menahan banjir, kolam retensi juga akan dimanfaatkan sebagai ruang publik dan pusat aktivitas ekonomi kreatif, termasuk festival UMKM dan kegiatan masyarakat lainnya.

Diza menambahkan, pemerintah tetap fokus pada normalisasi drainase dan sungai sepanjang 43 kilometer, serta mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan dan kewaspadaan menghadapi musim hujan.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi berkelanjutan Pemerintah Kota Jambi untuk mengurangi risiko banjir melalui kolaborasi pemerintah dan masyarakat, normalisasi sungai, pembangunan kolam retensi, serta peningkatan kesadaran lingkungan.(*)




Siaga Karhutla Dicabut, BPBD Jambi Alihkan Fokus Hadapi Bencana Hidrometeorologi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Pemerintah Provinsi Jambi resmi mengakhiri status darurat siaga kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pada 31 Oktober 2025.

Saat ini, fokus penanganan bencana bergeser pada kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi basah seiring meningkatnya curah hujan dan potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah Jambi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, menjelaskan bahwa perubahan status ini mengikuti hasil evaluasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang menyatakan bahwa wilayah Jambi telah memasuki awal musim hujan.

“Wilayah Jambi sudah mulai memasuki musim hujan. Status siaga Karhutla resmi berakhir dan kita beralih ke status kesiapsiagaan hidrometeorologi basah,” ujar Bachyuni, Sabtu (1/11).

Ancaman bencana kini bergeser dari kebakaran hutan dan lahan ke banjir, tanah longsor, serta angin kencang.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi genangan, banjir, tanah longsor, dan gangguan transportasi akibat cuaca ekstrem.

Warga diharapkan berhati-hati terutama di wilayah dengan kondisi tanah labil dan daerah aliran sungai.(*)