Panduan Lengkap Mengunjungi Monumen Nasional Jakarta, Ikon Perjuangan Indonesia

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Monumen Nasional (Monas) adalah simbol kebanggaan dan perjuangan bangsa Indonesia yang terletak di pusat kota Jakarta, tepatnya di Lapangan Merdeka.

Monas bukan hanya penanda geografis Jakarta, tetapi juga ikon identitas nasional yang mudah dikenali dari berbagai arah.

Pembangunan Monas dimulai pada tahun 1961 atas inisiatif Presiden Soekarno, dengan tujuan menjadi pengingat abadi perjuangan rakyat Indonesia meraih kemerdekaan.

Dengan tinggi mencapai 132 meter, Monas menjulang sebagai landmark ikonik Jakarta.

Bangunan ini memiliki filosofi mendalam: tugu melambangkan lingga, sementara pelatarannya melambangkan yoni, simbol keseimbangan dan kesuburan

Di puncak Monas terdapat lidah api berlapis emas yang melambangkan semangat perjuangan yang terus berkobar, menjadi daya tarik utama bagi pengunjung.

Di bagian dalam, Monas memiliki Museum Sejarah Nasional, yang menampilkan diorama perjalanan sejarah Indonesia dari masa prasejarah hingga kemerdekaan.

Diorama ini disusun kronologis sehingga mudah dipahami oleh pelajar maupun wisatawan umum.

Pengunjung juga dapat menikmati panorama Jakarta dari pelataran puncak Monas menggunakan lift.

Dari ketinggian, pemandangan gedung pencakar langit, area hijau, dan hiruk pikuk ibu kota terlihat jelas, terutama pada hari cerah.

Kawasan Lapangan Merdeka di sekitar Monas juga difungsikan sebagai ruang terbuka hijau untuk olahraga, bersantai, dan kegiatan publik.

Monas kerap menjadi lokasi peringatan kenegaraan dan acara budaya nasional.

Fasilitas di Monas cukup lengkap, termasuk area parkir, ruang pameran, dan jalur pedestrian yang rapi. Akses menuju Monas pun mudah dengan berbagai moda transportasi umum.

Lebih dari sekadar destinasi wisata, Monas adalah simbol persatuan dan perjuangan bangsa. Monas mengingatkan masyarakat akan sejarah panjang Indonesia menuju kemerdekaan.

Sekaligus menawarkan pengalaman wisata edukatif, rekreasi, dan sejarah di jantung Jakarta.(*)




Jelang Reuni 212 di Monas, Panitia Tegaskan Nuansa Kebangsaan dan Persaudaraan

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Reuni Akbar 212 akan kembali digelar di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, pada Selasa, 2 Desember 2025.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang dimulai dini hari, acara tahun ini dijadwalkan berlangsung setelah salat Magrib.

Panitia mengusung tema “Revolusi Akhlak untuk Selamatkan NKRI dari Penjahat dan Memerdekakan Palestina dari Penjajah”, dengan tujuan memperkuat ukhuwah Islamiyah, Wathaniyah, dan Insaniyah.

Ketua Steering Committee (SC) Reuni 212, Ustaz Ahmad Shobri Lubis, menegaskan bahwa acara ini menjadi ajang memperkuat persaudaraan umat sekaligus menegaskan solidaritas terhadap Palestina.

Rangkaian kegiatan meliputi ibadah berjamaah, zikir, doa bersama, serta tausiyah dari sejumlah ulama.

Menurut Ustaz Ahmad, reuni ini terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Kami ingin semua masyarakat merasakan nuansa kebersamaan dan nilai kebangsaan,” ujarnya.

Panitia telah mengundang sejumlah tokoh nasional, seperti Presiden Prabowo Subianto, mantan Gubernur DKI Anies Baswedan, serta beberapa menteri.

Pemerintah Provinsi DKI melalui Pramono Anung menyatakan dukungan terhadap penyelenggaraan acara dan memastikan koordinasi keamanan berjalan baik.

Wakil Gubernur Rano Karno turut menyatakan kesiapannya menghadiri acara tersebut.

Peserta diimbau membawa perlengkapan ibadah, seperti sajadah, serta jas hujan atau payung mengingat potensi hujan di kawasan Monas.

 “Spirit 212 tidak hanya tentang persaudaraan, tetapi juga dukungan terhadap perjuangan keadilan internasional, termasuk untuk Palestina,” kata Ustaz Ahmad.

Meski daftar undangan telah dirilis, panitia belum memastikan siapa saja tokoh yang dipastikan hadir.

Format acara yang dimulai sore hari dan lebih menonjolkan kegiatan ibadah bersama menimbulkan sejumlah pertanyaan terkait pengaturan keamanan, arus peserta, dan kesiapan logistik.

Di tengah dinamika politik dan isu keagamaan, Reuni Akbar 212 memunculkan ragam respons publik.

Ada yang melihatnya sebagai momentum kebersamaan dan refleksi nilai kebangsaan, sementara sebagian lain menyoroti potensi politik identitas serta dampak sosial dari keramaian besar.

Sejak pertama kali digelar pada 2016, Reuni 212 dikenal sebagai ajang yang menekankan nilai solidaritas umat.

Panitia menegaskan bahwa acara tahun ini tetap mengedepankan nuansa religius dan kebangsaan, sekaligus menjadi ruang refleksi bagi masyarakat.

Aparat keamanan telah menyiapkan pengamanan ketat untuk memastikan kegiatan berlangsung aman, tertib, dan kondusif.(*)