Terlalu Banyak Pilihan Bisa Bikin Stres, Ini Penjelasan Psikologisnya

SEPUCUKJAMBI.ID – Di era modern, hampir setiap aspek kehidupan dipenuhi pilihan. Mulai dari memesan makanan, menentukan hiburan, hingga membeli kebutuhan sehari-hari, semuanya hadir dengan puluhan bahkan ratusan opsi.
Sekilas hal ini tampak menguntungkan, namun di balik itu tersimpan dampak psikologis yang sering luput disadari.
Alih-alih merasa lebih bebas, banyak orang justru mengalami kelelahan mental akibat terlalu banyak pilihan.
Fenomena ini kerap muncul dalam aktivitas sederhana, seperti membuka platform streaming tanpa tahu harus menonton apa, atau menjelajahi toko online berjam-jam tanpa akhirnya membeli apa pun.
Saat dihadapkan pada banyak opsi sekaligus, otak dipaksa bekerja lebih keras untuk membandingkan manfaat, risiko, serta kemungkinan hasil dari setiap pilihan.
Proses berpikir yang berulang ini menguras energi mental dan dapat memicu rasa lelah, sulit fokus, hingga kecenderungan menunda keputusan.
Tak berhenti di situ, keputusan yang sudah diambil pun sering kali tidak memberikan rasa puas sepenuhnya.
Muncul pikiran bahwa pilihan lain mungkin lebih baik, atau rasa takut melewatkan kesempatan terbaik.
Akibatnya, kebahagiaan dari pilihan yang sudah dibuat menjadi berkurang.
Kondisi ini dikenal sebagai overchoice atau choice overload, sebuah situasi ketika terlalu banyak pilihan justru menurunkan kualitas keputusan dan kepuasan.
Inilah alasan mengapa semakin banyak orang mulai mencari cara untuk menyederhanakan hidup mereka.
Beberapa memilih membatasi jumlah aplikasi di ponsel, mengurangi barang yang dimiliki, atau membuat keputusan rutin menjadi lebih otomatis.
Contohnya, menetapkan menu sarapan yang sama setiap hari atau memilih gaya berpakaian tertentu agar tidak perlu berpikir terlalu lama setiap pagi.
Dalam dunia digital, penyederhanaan pilihan juga bisa berarti mengurangi konsumsi konten, berhenti mengikuti terlalu banyak akun, atau menetapkan batas waktu penggunaan media sosial.
Langkah-langkah kecil ini memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat dari tekanan memilih tanpa henti.
Menyederhanakan pilihan bukan berarti hidup menjadi monoton.
Justru sebaliknya, hal ini memungkinkan seseorang untuk lebih hadir dan menikmati apa yang dimiliki, tanpa terus membandingkan dengan alternatif lain yang tak ada habisnya.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang menemukan pilihan yang paling sempurna, melainkan tentang memilih secara sadar apa yang benar-benar dibutuhkan.
Di tengah dunia yang penuh kebisingan dan opsi tak terbatas, kesederhanaan sering kali menjadi kemewahan yang paling berharga.(*)
