Sleep Call Jadi Tren Anak Muda, Ini Manfaat dan Dampaknya bagi Kesehatan

SEPUCUKJAMBI.ID – Sleep call menjadi salah satu tren yang populer di kalangan pasangan muda.

Aktivitas ini merujuk pada kebiasaan menelepon atau melakukan video call dengan pasangan hingga tertidur.

Meski terdengar romantis, sleep call tidak sekadar soal menemani tidur karena di balik kehangatan yang ditawarkan, kebiasaan ini juga menyimpan sejumlah dampak yang perlu diperhatikan.

Secara bahasa, sleep call berarti “panggilan tidur”, namun dalam praktiknya, istilah ini mengacu pada aktivitas komunikasi jarak jauh yang dilakukan pasangan pada malam hari dan berakhir ketika salah satu atau keduanya tertidur.

Kegiatan ini biasanya berlangsung saat kesibukan mulai mereda, sehingga pasangan memiliki waktu lebih leluasa untuk berbincang.

Awalnya, sleep call banyak dilakukan oleh pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR).

Keterbatasan pertemuan fisik membuat panggilan malam menjadi sarana untuk menjaga kedekatan emosional.

Namun seiring meningkatnya penggunaan ponsel pintar, tren ini juga mulai dilakukan oleh pasangan yang tinggal di kota atau wilayah yang sama dan menjadikannya sebagai rutinitas harian.

Aktivitas sleep call bagi pasangan memberi sejumlah manfaat selain rasa aman dan nyaman, yaitu.

1. Mempererat Hubungan

Pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh atau LDR biasanya menjadikan sleep call sebagai salah satu sarana untuk mempererat hubungan.

Karena berbagai kesibukan sepanjang hari, biasanya mereka hanya bisa berkomunikasi dengan leluasa saat malam.

2. Membuat Tidur Lebih Cepat

Sleep call juga dapat membantu seseorang tidur lebih cepat dengan menceritakan apa yang masih membebani pikirannya pada lawan bicara (pasangan).

Pikiran akan menjadi lebih tenang dan tidur pun lebih cepat dan nyenyak.

3. Mengatasi Rasa Kesepian

Selain pada pasangan, sleep call juga bisa dilakukan antara teman atau keluarga untuk mengatasi rasa kesepian, terutama bagi mereka yang tinggal sendirian di tempat rantau dan jauh dari keluarga.

Bahaya Sleep Call bagi Kesehatan

Meski memberi kenyamanan emosional, sleep call tidak selalu berdampak positif. Jika dilakukan terlalu sering atau tanpa batasan, kebiasaan ini justru bisa mengganggu kesehatan fisik dan mental.

Sleep call berpotensi membuat seseorang sulit menetapkan batasan pribadi. Ketergantungan pada kehadiran pasangan setiap malam dapat mengurangi ruang untuk diri sendiri, padahal setiap orang tetap membutuhkan waktu istirahat tanpa distraksi.

1. Kekurangan Tidur yang Berpengaruh pada Emosi

Kurangnya waktu tidur dapat berpengaruh pada pengendalian emosi dan mood seseorang.

Kekurangan tidur akibat sleep call juga bisa membuat seseorang sulit mengendalikan emosi dan akhirnya akan berpengaruh pada relasi sosialnya.

2. Rentan Konflik dengan Keluarga atau Lingkungan Sekitar

Aktivitas sleep call mungkin mengganggu anggota keluarga lain yang tinggal serumah atau tetangga kamar kos/kontrakan.

Pengendalian emosi yang buruk juga dapat menimbulkan konflik dengan keluarga atau lingkungan sekitar tempat tinggal.

3. Menurunkan Mutu Quality Time

Sebagian orang pasti memerlukan quality time dengan pasangan sehingga melakukan sleep call.

Namun, terlalu sering sleep call juga justru dapat menurunkan mutu dari quality time itu sendiri.

Quality time bersama orang terdekat kita yang lain juga terganggu karena mungkin kita sudah lelah karena sleep call.

4. Meningkatkan Kelelahan dan Stres

Sleep call biasanya dilakukan saat malam ketika tubuh dan pikiran kita seharusnya beristirahat.

kegiatan ini bisa memaksa pikiran kita terus berjalan dan tubuh kekurangan istirahat.

Sehingga keesokan harinya kita bangun dengan perasaan lelah dan stres yang meningkat.

5. Frustrasi karena Lelah Bertumpuk

Jika kelelahan dan stres itu terus bertumpuk dan berkepanjangan tanpa bisa dikurangi, kita akan merasa frustrasi dan berpengaruh pada kesehatan mental.

Sleep call menawarkan kehangatan dan rasa dekat bagi banyak pasangan, terutama di tengah keterbatasan jarak.

Namun, tanpa pengelolaan yang bijak, kebiasaan ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan dan kualitas hubungan.

Menjaga keseimbangan antara komunikasi dan istirahat menjadi kunci agar sleep call tetap memberi manfaat,nyaman dan aman.




Tren Self-Reward dan Meningkatnya Budaya Konsumtif di Media Sosial

SEPUCUKJAMBI.ID – Dalam beberapa tahun terakhir, istilah self-reward atau hadiah untuk diri sendiri semakin akrab di kalangan anak muda.

Mulai dari selesai mengerjakan tugas berat, menuntaskan masa magang, mencapai target tertentu, bahkan sekadar merasa lelah, banyak orang sering memilih belanja sebagai bentuk apresiasi untuk diri sendiri.

Pada awalnya, konsep ini memang positif, setiap orang memang membutuhkan jeda, hiburan, dan cara untuk menjaga kesehatan mental.

Namun, tanpa disadari, self-reward perlahan bergeser menjadi pembenaran untuk pola konsumsi yang semakin sering dan semakin impulsif.

Fenomena ini semakin terasa sepanjang tahun 2025, berbagai tren belanja viral di media sosial mendorong masyarakat untuk membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan tren dan rasa takut ketinggalan.

Konsep self-reward sebenarnya dapat membawa dampak positif, misalnya dengan memberi waktu istirahat di tengah kesibukan.

Namun, dalam banyak situasi, self-reward justru diwujudkan melalui aktivitas berbelanja, bukan karena kebutuhan sejati, melainkan karena dorongan tren.

Lonjakan budaya konsumtif semakin memperkuat kecenderungan ini, terutama melalui godaan diskon besar, promo terbatas, serta gencarnya promosi di media sosial dan marketplace online.

Akibatnya, self-reward yang sebelumnya dilakukan sesekali berkembang menjadi kebiasaan. Padahal, sebagian orang membeli barang tidak benar-benar dibutuhkan.

Keinginan untuk ikut arus, perasaan pantas mendapatkan hadiah, atau sekadar terbawa suasana sering kali menjadi alasan utama di balik keputusan tersebut.

Tidak jarang, kebiasaan ini baru terasa dampaknya di akhir bulan ketika kondisi keuangan mulai terbebani, sementara rasa puas dari pembelian tersebut hanya bertahan sesaat.

Menjadi konsumen yang bijak di tengah maraknya tren konsumtif bukan berarti harus menolak self-reward sepenuhnya. Yang dibutuhkan adalah kesadaran dan keseimbangan.

Beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan saat melakukan self-reward:

1. Tanyakan pada diri sendiri, sebelum memutuskan membeli, tanyakan, “Kenapa aku membeli ini? Apakah ini kebutuhan, keinginan, atau sekadar ikut-ikutan tren?”

2. Alokasikan anggaran khusus, buatlah anggaran terpisah untuk belanja self-reward atau hadiah bagi diri, jangan mencampurnya dengan biaya kebutuhan pokok.

3. Ingatlah bahwa hadiah tidak selalu berupa barang, self-reward bisa berbentuk quality time, waktu istirahat yang berkualitas, atau aktivitas sederhana lain yang tidak harus mengeluarkan banyak uang.

4. Pikirkan dampak jangka panjang, apakah pembelian barang ini benar-benar memberikan kebahagiaan yang bertahan lama atau hanya sensasi sesaat?

Dengan menerapkan cara-cara ini, kita bisa tetap menikmati hidup dan mengapresiasi diri tanpa harus terjebak dalam budaya konsumtif yang akan menyulitkan kondisi keuangan tanpa kita sadari.(*)




Menikmati Waktu Sendiri, Cara Sederhana Menghargai Kehidupan

SEPUCUKJAMBI.ID – Sebagian orang masih menganggap aktivitas sendiri atau pergi ke pusat perbelanjaan tanpa teman sebagai sesuatu yang tidak lazim.

Masyarakat bahkan langsung mengaitkan aktivitas sendirian dengan kesepian atau minimnya relasi sosial.

Padahal, bagi sebagian individu, melakukan berbagai aktivitas sendiri justru menjadi pilihan sadar untuk menjaga keseimbangan hidup.

Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena me time atau aktivitas solo semakin mudah ditemukan.

Ada pekerja kantoran yang menikmati makan siang di food court sambil membaca buku, penumpang transportasi umum yang memilih mendengarkan musik melalui earphone daripada berbincang, hingga individu yang memutuskan bepergian sendiri ke tempat baru.

Aktivitas ini bukan sekadar tren, melainkan respons terhadap ritme hidup yang semakin padat.

Meski demikian, ruang publik di Indonesia masih belum sepenuhnya ramah terhadap aktivitas sendirian.

Orang yang duduk sendiri di kafe, makan tanpa teman, atau sekadar berdiam di taman sering kali dipandang dengan rasa iba.

Pandangan tersebut muncul dari anggapan bahwa kebahagiaan selalu identik dengan kebersamaan.

Padahal, banyak orang sengaja memilih sendiri untuk mengurangi intensitas interaksi sosial yang berlebihan.

Melakukan aktivitas seorang diri sejatinya merupakan keterampilan penting dalam kehidupan modern.

Kemampuan menikmati waktu sendiri menunjukkan kemandirian dan ketahanan mental dalam menghadapi tekanan hidup.

Di tengah tuntutan sosial dan profesional yang tinggi, terutama bagi pekerja yang menghabiskan 8–10 jam sehari untuk berinteraksi dan berkoordinasi, waktu sendiri menjadi ruang pemulihan yang dibutuhkan untuk mengurangi over stimulasi.

Menjalani hobi secara mandiri, seperti bersepeda di malam hari, menonton film di bioskop sendirian, atau berjalan santai tanpa tujuan tertentu, bukanlah tanda menarik diri dari lingkungan sosial.

Sebaliknya, aktivitas tersebut dapat menjadi cara efektif untuk mengurangi kelelahan mental akibat stimulasi berlebih.

Dengan berkurangnya multitugas, otak memiliki kesempatan untuk beristirahat dan kembali bekerja dengan fokus yang lebih baik.

Aktivitas solo juga berkaitan erat dengan pembentukan kemandirian. Melakukan sesuatu tanpa bergantung pada orang lain melatih kemampuan mengambil keputusan, mengatur waktu, serta bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Budaya kolektif yang kuat di Indonesia sering kali menanamkan anggapan bahwa setiap aktivitas sebaiknya dilakukan bersama.

Akibatnya, banyak rencana pribadi tertunda hanya karena menunggu persetujuan atau ketersediaan orang lain.

Padahal, membiasakan diri melakukan berbagai hal sendiri, mulai dari makan sederhana hingga merencanakan perjalanan, merupakan bentuk penghargaan terhadap kehidupan yang terkelola dengan baik.

Kesendirian tidak selalu identik dengan kesepian.

Dalam batas yang sehat, waktu sendiri justru berperan penting dalam menjaga kesehatan mental, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat kemampuan individu untuk bertahan dan berkembang, baik di perantauan maupun di kampung halaman.




Penggunaan Media Sosial Berlebih Ancam Kesehatan Mental Gen Z

SEPUCUK JAMBI.ID – Kesehatan mental menjadi aspek penting dalam kehidupan setiap individu, termasuk generasi muda atau Gen Z.

Isu ini semakin mendapat perhatian publik, terutama karena kelompok usia tersebut tumbuh dalam era digital dan media sosial yang berkembang cepat.

Mengutip Halodoc, penelitian yang dilaporkan dalam jurnal JAMA Psychiatry menunjukkan remaja yang menggunakan media sosial lebih dari tiga jam per hari berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan mental, terutama terkait internalisasi alias citra diri.

Temuan ini menegaskan kekhawatiran bahwa konsumsi konten digital berlebihan dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis.

Di tengah kondisi tersebut, pendekatan proaktif dan bijaksana dinilai penting untuk menjaga kesehatan mental Gen Z.

Sejumlah langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Membuat Batasan Penggunaan Media Sosia

Menetapkan durasi penggunaan dan menghindari akses sebelum tidur dinilai mampu mengurangi paparan konten negatif sekaligus meningkatkan kualitas istirahat.

2. Fokus pada Kegiatan yang Membawa Kebahagiaan

Melakukan aktivitas menyenangkan seperti olahraga, hobi, atau berkumpul dengan keluarga dan teman dapat membantu menurunkan tingkat stres.

3. Cari Dukungan

Apabila merasa kewalahan oleh kecemasan, Gen Z dianjurkan tidak ragu mencari bantuan profesional seperti psikiater, psikolog, atau konselor untuk mendapatkan strategi penanganan kesehatan mental yang tepat.

4. Luangkan Waktu untuk Ibadah

Rutinitas ibadah dalam suasana tenang dapat membantu meredakan kecemasan dan meningkatkan kesejahteraan mental.

5. Selektif dalam Mengikuti Akun Media Sosial

Mengikuti akun yang memberikan dampak positif dan inspiratif dinilai lebih bermanfaat, sekaligus menghindari konten yang memicu perbandingan sosial.

6. Berbagi dan Mendiskusikan Perasaan

Membicarakan perasaan dengan orang terdekat dapat meredakan kecemasan dan membuka perspektif baru.

7. Edukasi Diri tentang Kesehatan Mental

Pemahaman mengenai kesehatan mental dan dampak media sosial membantu Gen Z membuat keputusan yang lebih bijak dalam menggunakan teknologi.

Kesehatan mental  yang sering kali terabaikan di tengah aktivitas sehari-hari terutama bagi kalangan Gen Z yang dinilai perlu lebih peka terhadap dampak media sosial terhadap kondisi psikologis mereka.

Dengan langkah pencegahan yang tepat serta dukungan lingkungan dan profesional, Gen Z tetap memiliki peluang menjaga kesehatan mental dan membangun masa depan yang lebih sehat dan bahagia.