Penemuan Mayat di Sungai Buta-Buta, Gegerkan Warga Mendahara Ulu

MUARASABAK, SEPUCUKJAMBI.ID – Warga di sekitar perbatasan Kecamatan Mendahara Ulu dan Kecamatan Mendahara, Kabupaten Tanjab Timur digegerkan oleh penemuan sesosok mayat yang mengapung di sungai, Kamis (8/1/2026) pagi.

Mayat tersebut ditemukan di aliran Sungai Buta-Buta, tepatnya di wilayah perbatasan Desa Sungai Beras, Kecamatan Mendahara Ulu, dan Desa Bhakti Idaman, Kecamatan Mendahara, Kabupaten Tanjab Timur.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, penemuan mayat berjenis kelamin belum diketahui ini pertama kali dilaporkan oleh warga yang sedang beraktivitas di sekitar aliran sungai.

Saat melihat tubuh korban mengapung di permukaan air, warga memilih untuk tidak mendekat dan segera melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib.

Salah seorang warga setempat, Safaruddin, mengatakan hingga saat ini identitas korban belum diketahui. Warga juga belum berani melakukan evakuasi secara mandiri.

“Waktu saya sampai di lokasi, warga sudah mulai ramai. Saya lihat kondisi mayat menghadap ke atas, memakai baju kaos dan celana pendek,” ujar Safaruddin.

Pihak desa bersama Bhabinkamtibmas dan Babinsa setempat telah mengimbau masyarakat agar segera melapor ke kepolisian apabila mengenali ciri-ciri korban atau mengetahui adanya warga yang dilaporkan hilang dalam beberapa waktu terakhir.

Menindaklanjuti laporan tersebut, personel dari Polsek Mendahara Ulu dan Polsek Mendahara langsung menuju lokasi kejadian untuk memastikan kebenaran informasi serta melakukan pengecekan di tempat penemuan mayat.

Hingga berita ini publish, pihak kepolisian masih melakukan penanganan di lokasi.(*)




Bangunan Rusak dan Minim Fasilitas, Ini Kondisi Madrasah Nurul Ihsan di Tanjab Timur

MUARASABAK, SEPUCUKJAMBI.ID – Upaya mencerdaskan generasi penerus bangsa terus dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan nonformal seperti Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Nurul Ihsan, yang berlokasi di Kelurahan Simpang Tuan, Kecamatan Mendahara Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Meski berada dalam keterbatasan sarana dan prasarana, para guru di madrasah yang berdiri di pinggir jalan lintas Jambi-Kuala Tungkal ini tetap semangat memberikan pelajaran tambahan di luar jam sekolah kepada puluhan muridnya.

Kepala Madrasah, Marzuki, mengatakan saat ini madrasah memiliki 83 murid, 5 tenaga pengajar, dan hanya 4 ruang belajar yang kondisinya memprihatinkan.

“Madrasah ini berdiri sejak sekitar tahun 1991 atau 1992. Mayoritas murid berasal dari Kelurahan Simpang Tuan dan desa-desa sekitar,” ujar Marzuki.

Bangunan madrasah sudah mengalami banyak kerusakan, seperti plafon ruang kelas yang jebol, kaca jendela pecah, dan kekurangan sanitasi.

Dari beberapa toilet yang tersedia, hanya satu yang masih bisa digunakan. Selain itu, sumber air bersih juga belum tersedia karena tidak adanya sumur bor.

“Listrik memang sudah ada, tapi baru sampai ke meteran. Belum ada sambungan ke ruang kelas,” ungkap Marzuki.

Karena kegiatan belajar dilakukan di sore hari, kondisi ruangan yang minim pencahayaan sering menyulitkan proses belajar mengajar.

Hal ini membuat kebutuhan akan penerangan listrik menjadi sangat mendesak.

Tidak hanya itu, kekurangan meja dan kursi belajar juga menjadi masalah.

Salah satu ruang kelas bahkan tidak memiliki meja dan kursi sama sekali, membuat siswa harus belajar di lantai semen tanpa alas.

Di ruang lainnya, siswa terpaksa berbagi bangku dengan jumlah yang tidak mencukupi.

“Kami benar-benar berharap ada perhatian dan bantuan, baik dalam bentuk dana operasional maupun dana tahunan untuk memperbaiki kondisi madrasah ini,” kata Marzuki.

Karena lokasi madrasah berada tepat di tepi jalan lintas, Marzuki juga mengusulkan adanya pemasangan pagar permanen dan rambu-rambu zona sekolah demi keselamatan para murid.

“Kami khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Rambu zona sekolah sangat penting, apalagi di sini ada dua sekolah berdampingan, yakni madrasah dan SD negeri,” tegasnya.

Marzuki juga menyampaikan keprihatinannya terhadap banyaknya orang tua yang belum bisa mendampingi anak belajar di rumah, sebagian karena sibuk bekerja, dan sebagian lain karena belum bisa membaca atau menulis (buta aksara).

Oleh karena itu, keberadaan madrasah ini sangat penting untuk mendampingi anak memahami pelajaran sekolah, serta memberikan bekal pendidikan agama dan karakter.

“Selain menambah pemahaman pelajaran, kami juga berupaya mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget dan konten negatif dari internet,” tutup Marzuki.(*)