Kemas Faried Dianugerahi Bintang Semangat Rimba Emas, Pengakuan Internasional untuk Pramuka Jambi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID  – Ketua DPRD Kota Jambi yang juga menjabat Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Jambi, Kemas Faried Alfarelly, menerima penghargaan kehormatan Bintang Semangat Rimba Emas dari Persekutuan Pengakap Malaysia.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Yang di-Pertua Negeri Melaka, Tun Seri Setia Dr. Haji Mohd Ali bin Mohd Rustam, dalam seremoni resmi yang berlangsung di Ballroom Hotel Mudzaffar, Melaka, Malaysia, Sabtu 1 Agustus 2026.

Bintang Semangat Rimba Emas merupakan salah satu penghargaan tertinggi yang diberikan Persekutuan Pengakap Malaysia kepada tokoh yang dinilai memiliki kontribusi dan komitmen dalam mendukung perkembangan gerakan kepanduan serta pembinaan karakter generasi muda.

Pada penganugerahan tahun ini, penghargaan juga diberikan kepada sejumlah tokoh dari berbagai negara, di antaranya Indonesia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, India, Hong Kong, dan Thailand.

Kehadiran para penerima dari berbagai negara menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring kerja sama dan persahabatan di lingkungan kepanduan internasional.

Usai menerima penghargaan, Kemas Faried menyampaikan apresiasi atas penghormatan yang diberikan kepadanya.

Menurutnya, penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan yang tidak hanya ditujukan kepada dirinya secara pribadi, tetapi juga kepada Gerakan Pramuka dan masyarakat Kota Jambi.

“Penghargaan ini bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi saya persembahkan untuk masyarakat Kota Jambi, Gerakan Pramuka Indonesia, serta seluruh pihak yang selama ini bersama-sama membangun karakter dan kepemimpinan generasi muda, khususnya melalui Gerakan Pramuka,” ujarnya.

Ia berharap penghargaan tersebut dapat semakin mempererat hubungan antara Indonesia dan Malaysia, khususnya dalam bidang kepanduan dan pembinaan generasi muda.

Dorong Penguatan Pendidikan Karakter

Sebagai Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Jambi, Kemas Faried menegaskan komitmennya untuk terus mendorong berbagai program pembinaan yang berorientasi pada pembentukan karakter generasi muda.

Menurutnya, Gerakan Pramuka memiliki peran penting dalam menanamkan nilai kepemimpinan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat pengabdian kepada masyarakat.

Ia menilai penguatan pendidikan karakter menjadi salah satu fondasi dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan di masa depan.

Penghargaan yang diterimanya di tingkat internasional diharapkan dapat menjadi motivasi untuk memperluas kolaborasi antara Indonesia dan Malaysia, terutama dalam pengembangan program kepanduan, pendidikan karakter, dan peningkatan kapasitas kepemimpinan generasi muda.

Selain menjadi apresiasi terhadap kontribusi pribadi, penghargaan tersebut juga dinilai mencerminkan pengakuan terhadap peran tokoh daerah Indonesia dalam memperkuat gerakan kepanduan di tingkat regional dan internasional.(*)




Berpotensi Pangkas Waktu Tempuh 40 Menit, Proyek Jembatan Malaysia–Indonesia

MALAYSIA, SEPUCUKJAMBI.ID – Pemerintah negara bagian Melaka, Malaysia, tengah mengkaji rencana pembangunan jembatan lintas negara yang akan menghubungkan Malaysia dan Indonesia melalui Selat Malaka.

Wacana ini kembali mencuat setelah pemerintah Melaka mengalokasikan anggaran khusus untuk melakukan studi kelayakan sebagai tahap awal proyek.

Ketua Menteri Melaka, Datuk Seri Ab Rauf Yusoh, menyampaikan bahwa pemerintah negara bagian telah menyiapkan dana sebesar RM500.000 atau sekitar Rp2 miliar guna membiayai kajian awal pembangunan jembatan tersebut.

Studi kelayakan ini akan mencakup aspek teknis konstruksi, kelayakan ekonomi, serta dampak logistik dan lingkungan.

Proyek jembatan yang direncanakan memiliki panjang sekitar 47,7 kilometer itu disebut akan menghubungkan kawasan Pengkalan Balak di Masjid Tanah, Melaka, dengan wilayah di Indonesia di seberang Selat Malaka.

Sejumlah kajian awal mengarah pada kawasan Dumai atau Bengkalis di Provinsi Riau sebagai titik penghubung di sisi Indonesia.

Jika proyek tersebut terealisasi, jembatan lintas Selat Malaka diproyeksikan mampu memangkas waktu tempuh perjalanan Malaysia–Indonesia menjadi sekitar 40 menit melalui jalur darat, yang selama ini bergantung pada transportasi laut dan udara.

Ab Rauf menilai pembangunan jembatan ini memiliki nilai strategis bagi hubungan bilateral kedua negara serta berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan.

“Jembatan ini akan menjadi gerbang dunia terakhir yang menghubungkan Malaysia dan Indonesia, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara kedua negara,” ujar Ab Rauf.

Dari sisi Indonesia, rencana ini mendapat sambutan positif di tingkat daerah.

Pemerintah Kabupaten Bengkalis menyatakan dukungan terhadap pelaksanaan studi kelayakan sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas regional.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Bengkalis, Toharudin, mengatakan bahwa pembangunan jembatan lintas negara dapat membuka jalur strategis baru bagi perekonomian wilayah pesisir Riau.

“Kami mendukung penuh studi kelayakan ini sebagai langkah memperkuat konektivitas regional dan mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya di Bengkalis dan Dumai,” ujarnya.

Meski demikian, wacana pembangunan jembatan Selat Malaka ini juga menuai kritik dari kalangan oposisi di Malaysia.

Tokoh oposisi Melaka, Yadzil Yaakub, mempertanyakan kesiapan fiskal pemerintah negara bagian dalam mendanai proyek infrastruktur berskala besar tersebut.

“Belanja pemerintah Melaka masih sangat bergantung pada bantuan federal dari Putrajaya. Jika untuk perbaikan jalan negara bagian saja membutuhkan dukungan pusat, bagaimana mungkin pembangunan jembatan lintas Selat Malaka dapat dibiayai?” kata Yadzil.

Pemerintah Melaka menyebut studi kelayakan dijadwalkan mulai dilakukan pada awal 2026.

Setelah rampung, hasil kajian akan diajukan ke National Physical Planning Council (MPFN) Malaysia untuk dievaluasi.

Selanjutnya, pemerintah Melaka berencana membawa hasil studi tersebut ke tahap pembahasan bilateral dengan pemerintah Indonesia, termasuk mengenai skema pendanaan dan pembagian peran kedua negara.

Hingga saat ini, rencana pembangunan jembatan Malaysia–Indonesia masih berada pada tahap kajian awal dan belum memasuki fase pengambilan keputusan final.

Realisasi proyek akan sangat bergantung pada hasil studi kelayakan serta kesepakatan politik dan ekonomi antara kedua negara.(*)