Masih Sering Dikonsumsi, 5 Makanan Ini Berpotensi Picu Sel Kanker

SEPUCUKJAMBI.ID – Pola makan sehari-hari memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tubuh.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa jenis makanan tertentu dapat memengaruhi kondisi sel di dalam tubuh, termasuk sel kanker.

Meski kanker tidak muncul akibat satu faktor tunggal, pola konsumsi yang tidak seimbang dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan sel abnormal.

Ahli gizi masyarakat, Dr. Rina Kartika, menjelaskan bahwa risiko kanker tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimakan, tetapi juga seberapa sering dan seberapa banyak.

“Masalahnya bukan pada satu jenis makanan saja, melainkan pola makan jangka panjang yang tinggi gula, lemak tidak sehat, dan makanan olahan,” ujarnya.

Berikut lima jenis makanan yang kerap dikaitkan dengan peningkatan risiko pertumbuhan sel kanker dan masih banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia:

1. Makanan tinggi gula tambahan

Asupan gula berlebih tidak secara langsung menyebabkan kanker, namun dapat memicu obesitas dan resistensi insulin.

Kedua kondisi ini diketahui berhubungan dengan meningkatnya risiko beberapa jenis kanker.

Selain itu, sel kanker memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi utama untuk berkembang.

2. Karbohidrat olahan

Karbohidrat olahan seperti nasi putih, roti putih, dan produk tepung olahan memiliki indeks glikemik tinggi.

Konsumsi berlebihan dapat memicu lonjakan gula darah berulang, yang dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan peradangan dan gangguan metabolisme.

3. Daging olahan

Sosis, nugget, kornet, dan daging asap telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, khususnya kanker kolorektal.

Proses pengawetan, penggunaan nitrit, serta pemanasan suhu tinggi diduga menghasilkan senyawa yang berbahaya bagi tubuh.

4. Makanan tinggi lemak trans

Lemak trans banyak ditemukan pada gorengan, makanan cepat saji, dan produk kemasan tertentu.

Lemak jenis ini dapat memicu peradangan kronis, kondisi yang diketahui dapat mendukung perkembangan sel kanker.

5. Makanan dan minuman ultra-proses

Produk ultra-proses umumnya tinggi gula, garam, dan lemak tidak sehat, namun rendah serat dan zat gizi penting.

Konsumsi berlebihan dapat mengganggu keseimbangan metabolisme tubuh dan dikaitkan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit kronis, termasuk kanker.

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa tidak ada satu makanan pun yang secara langsung menyebabkan kanker.

Risiko penyakit ini muncul dari kombinasi berbagai faktor, seperti pola makan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, faktor genetik, dan lingkungan.

Karena itu, menerapkan pola makan seimbang dengan memperbanyak konsumsi sayur, buah, biji-bijian utuh.

Serta membatasi makanan olahan menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan kanker dan menjaga kesehatan jangka panjang.(*)




Mitos atau Fakta, Makan Kacang Bikin Jerawatan?

SEPUCUKJAMBI.ID – Banyak orang memilih menghindari kacang karena khawatir wajah menjadi jerawatan. Padahal, kacang dikenal sebagai sumber nutrisi penting seperti protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral yang bermanfaat bagi tubuh.

Tak heran jika hubungan antara konsumsi kacang dan jerawat kerap menimbulkan perdebatan.

Lantas, benarkah makan kacang bisa bikin jerawatan?

Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa kacang secara langsung menyebabkan jerawat.

Anggapan bahwa kacang memicu jerawat lebih banyak berkembang sebagai mitos turun-temurun, bukan berdasarkan penelitian medis yang kuat.

kacang mengandung asam lemak omega-6 yang berpotensi meningkatkan peradangan jika dikonsumsi secara berlebihan.

Namun, dalam jumlah wajar, kandungan tersebut tidak cukup kuat untuk memicu munculnya jerawat.

Tubuh justru membutuhkan keseimbangan antara omega-3 dan omega-6 dengan rasio ideal sekitar 1:3. Sementara itu, sebagian besar kacang memiliki rasio omega-3 dan omega-6 sekitar 1:17, yang masih tergolong aman jika dikonsumsi secara normal dan tidak berlebihan.

Menariknya, kacang justru dapat memberi manfaat bagi kulit Kandungan antioksidan seperti vitamin E dan selenium berperan melindungi sel kulit dari kerusakan akibat radikal bebas serta membantu mengurangi peradangan.

Selain itu, lemak sehat dalam kacang mampu menurunkan glycaemic load (GL) makanan, sehingga membantu menjaga kestabilan kadar insulin dan mencegah produksi sebum berlebih, salah satu faktor utama penyebab jerawat.

Bagaimana Jerawat bisa muncul?

jerawat terjadi ketika folikel rambut atau pori-pori kulit tersumbat.

Folikel rambut merupakan saluran kecil tempat tumbuhnya rambut yang dikelilingi oleh kelenjar minyak.

Ketika pori-pori tersumbat oleh sebum berlebih, bakteri, dan sel kulit mati, jerawat pun dapat muncul.

Penumpukan ini memicu peradangan yang ditandai dengan nyeri, pembengkakan, serta kemerahan di sekitar area kulit.

Makanan yang Bisa Memicu Jerawat

Selain faktor kebersihan dan hormon, pola makan juga berperan dalam memperparah jerawat.

Beberapa jenis makanan dapat memperparah jerawat karena kandungan lemak, gula, serta indeks glikemiknya yang tinggi.

1. Cokelat

Konsumsi cokelat lebih dari 100 gram per minggu dapat meningkatkan keparahan jerawat.

Kandungan gula dan lemak di dalamnya dapat memicu produksi sitokin proinflamasi serta meningkatkan aktivitas bakteri Cutibacterium acnes, yang berujung pada peradangan dan produksi minyak wajah berlebih.

2. Makanan berminyak dan gorengan

Makanan yang digoreng atau tinggi lemak, terutama jika dikonsumsi lebih dari tiga kali dalam seminggu, berisiko memperburuk jerawat.

Lemak jenuh dan lemak trans dapat merangsang jalur mTORC1 yang berperan dalam peningkatan produksi sebum dan peradangan kulit.

3. Roti dan makanan manis

Karbohidrat sederhana seperti roti putih, kue, dan makanan manis dapat dengan cepat menaikkan kadar gula darah. Lonjakan insulin yang terjadi dapat memicu produksi minyak berlebih dan memperparah kondisi jerawat.

Masyarakat kerap menganggap hal ini sebagai mitos Kacang tetap aman dikonsumsi selama dalam jumlah wajar dan diimbangi dengan pola makan seimbang serta gaya hidup sehat.

Kulit yang sehat bukan hanya ditentukan oleh satu jenis makanan, melainkan oleh keseimbangan nutrisi dan kebiasaan  sehari-hari .(*)