Pemkot Jambi Siapkan Hibah Aset untuk Madrasah, 28.659 Siswa Jadi Perhatian

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Pemerintah Kota Jambi mulai memperkuat dukungan terhadap pendidikan keagamaan, tidak hanya melalui pembangunan fasilitas, tetapi juga dengan membenahi tata kelola lembaga serta mendorong kepastian hukum bagi guru dan kepala madrasah.

Komitmen tersebut disampaikan Wali Kota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, M.K.M., saat bertemu dengan para kepala madrasah dalam Rapat Koordinasi Kepala Madrasah se-Kota Jambi di Aula Graha Siginjai, Kantor Wali Kota Jambi, Jumat 2 Oktober 2026.

Pertemuan itu diikuti 138 kepala madrasah dari jenjang Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA).

Hadir pula jajaran Kantor Kementerian Agama Kota Jambi, kepala KUA, serta unsur Kejaksaan dan Kepolisian.

Besarnya pemerintah daerah perlu memastikan pendidikan berbasis keagamaan memiliki ruang yang cukup untuk berkembang.

Menurutnya, madrasah dan pondok pesantren tidak hanya berperan dalam pendidikan agama, tetapi juga memiliki potensi menghasilkan lulusan yang mampu bers jumlah lembaga dan peserta didik membuat penguatan pendidikan madrasah menjadi isu yang tidak kecil.

Data Kemenag Kota Jambi mencatat terdapat 28.659 siswa yang saat ini menempuh pendidikan di madrasah dengan dukungan 2.483 guru dan tenaga kependidikan.

Dari jumlah tenaga pendidik tersebut, sebanyak 557 merupakan PNS, 76 PPPK dan 1.589 guru non-ASN. Sementara 1.214 guru telah memiliki sertifikasi profesi.

Hibah Tanah hingga Fasilitas Pendidikan

Maulana mengatakan pemerintah daerah perlu memastikan pendidikan berbasis keagamaan memiliki ruang yang cukup untuk berkembang.

Menurutnya, madrasah dan pondok pesantren tidak hanya berperan dalam pendidikan agama, tetapi juga memiliki potensi menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di bidang sains dan pendidikan umum.

Ia mencontohkan sejumlah alumni madrasah di Kota Jambi yang berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi favorit.

Sebagai bagian dari dukungan tersebut, Pemkot Jambi telah mengalokasikan sejumlah aset untuk mendukung kebutuhan pendidikan dan layanan keagamaan.

Kepala Kantor Kemenag Kota Jambi, Habibi, menyebut dukungan tersebut mencakup hibah gedung Asrama Haji, kendaraan operasional, hingga tanah untuk kebutuhan kantor KUA.

Sejumlah lokasi juga disiapkan untuk mendukung pembangunan KUA baru, di antaranya di Kecamatan Pal Merah, Bagan Pete dan Danau Sipin.

Pemkot Jambi juga menyiapkan rencana hibah tanah untuk mendukung kebutuhan MAN 1 Kota Jambi.

Bagi Kemenag, dukungan aset tersebut menjadi salah satu fondasi untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan keagamaan di Kota Jambi.

Guru Madrasah Juga Disorot dari Sisi Hukum

Rakor tersebut tidak hanya membicarakan soal gedung, tanah dan fasilitas. Aspek perlindungan hukum bagi kepala madrasah dan guru turut menjadi perhatian.

Kehadiran unsur Kejaksaan dan Kepolisian dalam forum tersebut diarahkan untuk memberikan pemahaman mengenai tata kelola serta aspek hukum yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan.

Langkah itu dinilai penting karena kepala madrasah dan guru menjalankan berbagai aktivitas administratif maupun edukatif yang bersinggungan dengan aturan dan kebijakan pemerintah.

Dengan melibatkan aparat penegak hukum sejak tahap edukasi, pengelola madrasah diharapkan memiliki pemahaman lebih baik mengenai batas kewenangan, tata kelola serta prosedur dalam menjalankan tugas.

Tantangan Berikutnya Bukan Sekadar Menambah Fasilitas

Dengan jumlah siswa yang mencapai puluhan ribu, dukungan terhadap pendidikan madrasah tidak cukup berhenti pada penyediaan aset.

Peningkatan mutu pembelajaran, kualitas tenaga pendidik, tata kelola lembaga, hingga kesinambungan dukungan pemerintah menjadi pekerjaan lanjutan yang perlu dikawal bersama.

Rakor antara Pemkot Jambi, Kemenag, pengelola madrasah dan aparat penegak hukum tersebut menjadi ruang untuk menyatukan langkah agar pengembangan pendidikan keagamaan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Pemkot Jambi berharap sinergi tersebut dapat memperkuat kualitas pendidikan madrasah sekaligus memastikan kebutuhan peserta didik dan tenaga pendidik mendapat perhatian dalam kebijakan pembangunan daerah.(*)




Walikota Maulana Buka MTQ ke-55 Kota Jambi, Siapkan Generasi Cerdas dan Berakhlak

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Walikota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, M.K.M., bersama Wakil Walikota Jambi Dizha Hazra Aljosha, SE, MA, secara resmi membuka Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-55 tingkat Kota Jambi pada Sabtu malam, 29 November 2025.

Acara digelar di Lapangan Bola RT 05, Kelurahan Tanjung Johor, Kecamatan Pelayangan, Kota Jambi.

Acara dibuka dengan tema “Dengan Musabaqah Tilawatil Qur’an ke-55 Tingkat Kota Jambi, kita bangun generasi yang cerdas dan berakhlakul karimah menuju Kota Jambi Bahagia.”

MTQ tingkat kota Jambi berlangsung selama 5 hari, dari 29 November hingga 3 Desember 2025, dan diikuti oleh 11 kecamatan yang siap bersaing memperebutkan piala bergilir MTQ tingkat kota.

Kecamatan Pelayangan menjadi tuan rumah pada MTQ tahun ini. Jumlah peserta kafilah dari tiap kecamatan sebagai berikut:

  • Kecamatan Jelutung: 50 peserta

  • Kecamatan Danau Teluk: 48 peserta

  • Kecamatan Paal Merah: 51 peserta

  • Kecamatan Alam Barajo: 60 peserta

  • Kecamatan Pasar Jambi: 59 peserta

  • Kecamatan Telanaipura: 57 peserta

  • Kecamatan Jambi Selatan: 55 peserta

  • Kecamatan Jambi Timur: 70 peserta

  • Kecamatan Kota Baru: 67 peserta

  • Kecamatan Danau Sipin: 42 peserta

  • Kecamatan Pelayangan (tuan rumah): 60 peserta

Selain itu, Kota Jambi juga telah ditunjuk sebagai tuan rumah MTQ tingkat Provinsi Jambi 2026, yang menjadikan pelaksanaan MTQ ke-55 sebagai persiapan awal.

Pembukaan MTQ ditandai dengan beberapa prosesi simbolis, antara lain:

  1. Menempelkan telapak tangan Walikota dan Wakil Walikota diikuti seluruh tamu kehormatan.

  2. Tanda tangan di atas lukisan pasir, menegaskan pembukaan resmi MTQ.

  3. Pengibaran bendera MTQ, menandai dimulainya kegiatan.

Acara pembukaan juga diwarnai drama kolosal berjudul “Tsamaratul Insan” yang digarap oleh Kecamatan Pelayangan di bawah binaan Camat H. Gazali, SE, MA.

Drama ini menggambarkan sejarah berdirinya pondok pesantren di Seberang Kota Jambi, termasuk pendirian empat madrasah bersejarah:

  • Madrasah Nurul Iman (1915)

  • Madrasah Sa’adatuddaren (1920)

  • Madrasah Al-Jauharen (1922)

  • Madrasah Nurul Islam (1922)

Beberapa madrasah ini kemudian berkembang menjadi pesantren modern, menjadikan Tsamaratul Insan sebagai pionir pendirian lembaga pendidikan di Kota Jambi.

Walikota Maulana memberikan apresiasi tinggi terhadap drama kolosal ini, dan drama tersebut akan ditampilkan kembali pada pembukaan MTQ tingkat Provinsi Jambi 2026.

Walikota Maulana menegaskan bahwa, MTQ bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi juga media pembinaan generasi muda dalam memahami nilai Al-Qur’an.

“Termasuk meningkatkan kecerdasan spiritual, dan menanamkan akhlakul karimah,” kata dia.(*)




Bangunan Rusak dan Minim Fasilitas, Ini Kondisi Madrasah Nurul Ihsan di Tanjab Timur

MUARASABAK, SEPUCUKJAMBI.ID – Upaya mencerdaskan generasi penerus bangsa terus dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan nonformal seperti Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Nurul Ihsan, yang berlokasi di Kelurahan Simpang Tuan, Kecamatan Mendahara Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Meski berada dalam keterbatasan sarana dan prasarana, para guru di madrasah yang berdiri di pinggir jalan lintas Jambi-Kuala Tungkal ini tetap semangat memberikan pelajaran tambahan di luar jam sekolah kepada puluhan muridnya.

Kepala Madrasah, Marzuki, mengatakan saat ini madrasah memiliki 83 murid, 5 tenaga pengajar, dan hanya 4 ruang belajar yang kondisinya memprihatinkan.

“Madrasah ini berdiri sejak sekitar tahun 1991 atau 1992. Mayoritas murid berasal dari Kelurahan Simpang Tuan dan desa-desa sekitar,” ujar Marzuki.

Bangunan madrasah sudah mengalami banyak kerusakan, seperti plafon ruang kelas yang jebol, kaca jendela pecah, dan kekurangan sanitasi.

Dari beberapa toilet yang tersedia, hanya satu yang masih bisa digunakan. Selain itu, sumber air bersih juga belum tersedia karena tidak adanya sumur bor.

“Listrik memang sudah ada, tapi baru sampai ke meteran. Belum ada sambungan ke ruang kelas,” ungkap Marzuki.

Karena kegiatan belajar dilakukan di sore hari, kondisi ruangan yang minim pencahayaan sering menyulitkan proses belajar mengajar.

Hal ini membuat kebutuhan akan penerangan listrik menjadi sangat mendesak.

Tidak hanya itu, kekurangan meja dan kursi belajar juga menjadi masalah.

Salah satu ruang kelas bahkan tidak memiliki meja dan kursi sama sekali, membuat siswa harus belajar di lantai semen tanpa alas.

Di ruang lainnya, siswa terpaksa berbagi bangku dengan jumlah yang tidak mencukupi.

“Kami benar-benar berharap ada perhatian dan bantuan, baik dalam bentuk dana operasional maupun dana tahunan untuk memperbaiki kondisi madrasah ini,” kata Marzuki.

Karena lokasi madrasah berada tepat di tepi jalan lintas, Marzuki juga mengusulkan adanya pemasangan pagar permanen dan rambu-rambu zona sekolah demi keselamatan para murid.

“Kami khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Rambu zona sekolah sangat penting, apalagi di sini ada dua sekolah berdampingan, yakni madrasah dan SD negeri,” tegasnya.

Marzuki juga menyampaikan keprihatinannya terhadap banyaknya orang tua yang belum bisa mendampingi anak belajar di rumah, sebagian karena sibuk bekerja, dan sebagian lain karena belum bisa membaca atau menulis (buta aksara).

Oleh karena itu, keberadaan madrasah ini sangat penting untuk mendampingi anak memahami pelajaran sekolah, serta memberikan bekal pendidikan agama dan karakter.

“Selain menambah pemahaman pelajaran, kami juga berupaya mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget dan konten negatif dari internet,” tutup Marzuki.(*)