Sampah dan Banjir Jadi Sorotan Fraksi DPRD, Wali Kota Jambi Siapkan Langkah Terintegrasi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Wali Kota Jambi, dr. Maulana, menegaskan pentingnya kerja sama erat antara pemerintah dan warga dalam menangani isu sampah dan banjir di Kota Jambi.

Pernyataan tersebut disampaikan saat rapat paripurna DPRD Kota Jambi membahas Pandangan Umum Fraksi-Fraksi terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025, Senin (06/04/2026).

Dalam rapat, Maulana menyampaikan apresiasi atas perhatian legislatif terhadap capaian pembangunan, khususnya penurunan angka kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi.

Meski begitu, persoalan lingkungan menjadi sorotan utama, terutama meningkatnya volume sampah dan risiko banjir di musim hujan.

“Volume sampah, terutama dari kemasan sekali pakai, terus naik. Sistem pengelolaan sampah harus terintegrasi dari rumah tangga hingga TPA,” ujar Maulana.

Ia menambahkan bahwa program Kampung Bahagia, bentor sampah, serta penguatan depo sampah menjadi strategi kunci Pemkot Jambi dalam menata lingkungan.

Wali Kota juga menyoroti penanganan banjir yang memerlukan kolaborasi aktif antara pemerintah daerah, DPRD, dan masyarakat.

Menurutnya, komunikasi yang baik dan partisipasi warga menjadi faktor penentu keberhasilan program.

“Sampah adalah tanggung jawab bersama. Kesadaran masyarakat sangat menentukan keberhasilan penataan lingkungan dan pencegahan banjir,” tegas Maulana.

Pemkot Jambi akan memperkuat penegakan Peraturan Daerah terkait kebersihan secara bertahap setelah sosialisasi masif, memastikan masyarakat disiplin membuang sampah pada tempatnya.

Strategi ini diharapkan menjadikan Kota Jambi bersih, nyaman, dan aman dari banjir, sekaligus meningkatkan kualitas hidup warganya secara menyeluruh.(*)




Pahami Visual Snow Syndrome: Saat Dunia Terlihat Seperti Salju

SEPUCUKJAMBI.ID – Pernah melihat titik-titik kecil seperti butiran salju atau “semut televisi” di seluruh bidang penglihatan, bahkan di ruangan gelap?.

Fenomena ini mungkin menandakan Visual Snow Syndrome, sebuah kondisi neurologis yang memengaruhi cara otak memproses penglihatan.

Sindrom ini membuat penderitanya terus melihat “salju visual” yang tidak hilang dalam waktu singkat

Tidak hanya itu, beberapa orang juga mengalami gejala tambahan, seperti kilatan cahaya, garis-garis melayang, bayangan bergerak, hingga sensitivitas tinggi terhadap cahaya.

Kondisi ini bisa muncul tanpa pemicu jelas, meski stres, kurang tidur, atau kelelahan mental dapat memperburuk gejala.

Para ahli menegaskan bahwa Visual Snow Syndrome bukan gangguan mata murni, melainkan masalah pada cara otak memproses sinyal visual.

Oleh karena itu, pemeriksaan mata standar sering kali tidak menunjukkan kelainan.

Diagnosis biasanya membutuhkan evaluasi neurologis lengkap dan riwayat kesehatan pasien untuk membedakan dengan kondisi lain, seperti migrain visual atau kelainan retina.

Hingga kini, belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan sindrom ini secara total. Penanganannya lebih menekankan pada pengelolaan gejala, misalnya:

  • Kacamata dengan filter cahaya tertentu

  • Teknik relaksasi untuk mengurangi stres

  • Terapi adaptasi otak terhadap gangguan visual

  • Obat-obatan tertentu untuk mengurangi rasa tidak nyaman dan sensitivitas cahaya

Meski tidak mengancam kesehatan fisik secara langsung, dampak Visual Snow Syndrome terhadap kualitas hidup bisa cukup signifikan.

Penderita disarankan berkonsultasi dengan dokter spesialis mata atau neurolog agar mendapatkan arahan dan dukungan yang tepat.

Dengan penanganan yang sesuai, penderita tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.(*)




Kurang Tidur Bukan Hal Sepele, Ini Dampaknya bagi Kesehatan Fisik dan Mental

SEPUCUKJAMBI.ID – Kurang tidur masih sering dianggap hal biasa oleh banyak orang.

Selama tubuh terasa masih kuat beraktivitas dengan bantuan kopi atau minuman berkafein, masalah tidur kerap diabaikan.

Padahal, berbagai lembaga kesehatan dunia telah lama menegaskan bahwa kurang tidur dapat berdampak serius pada kesehatan fisik maupun mental.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut tidur berkualitas sebagai kebutuhan dasar manusia, setara dengan asupan nutrisi dan aktivitas fisik.

Orang dewasa dianjurkan tidur selama 7 hingga 9 jam setiap malam. Jika kekurangan tidur terjadi secara terus-menerus, tubuh akan mulai merasakan konsekuensi yang nyata.

Berdasarkan penjelasan dari Harvard Medical School, kurang tidur dapat menurunkan kemampuan konsentrasi, daya ingat, dan kualitas pengambilan keputusan.

Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah lupa, sulit fokus, dan cenderung lebih emosional.

Dalam jangka panjang, kebiasaan kurang tidur juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko stres kronis serta gangguan kecemasan.

Dari sisi kesehatan fisik, dampaknya tak kalah serius

Sejumlah penelitian medis menunjukkan bahwa kurang tidur berhubungan dengan gangguan metabolisme, penurunan daya tahan tubuh, hingga meningkatnya risiko penyakit jantung

Tubuh yang tidak mendapat waktu istirahat cukup akan kesulitan melakukan proses pemulihan secara optimal.

Tak hanya durasi, kualitas tidur juga memegang peran penting

American Psychological Association (APA) menekankan bahwa tidur yang sering terganggum seperti mudah terbangun atau tidur tidak nyenyak tetap menyebabkan tubuh kelelahan meskipun jam tidur terlihat mencukupi.

Paparan cahaya layar ponsel sebelum tidur menjadi salah satu faktor utama yang menurunkan kualitas tidur.

Kabar baiknya, pola tidur dapat diperbaiki melalui langkah-langkah sederhana.

Menjaga jadwal tidur yang konsisten, mengurangi konsumsi kafein di malam hari, serta membatasi penggunaan gawai sebelum tidur terbukti membantu meningkatkan kualitas istirahat.

Lingkungan tidur yang tenang, gelap, dan nyaman juga berperan besar.

Meski terlihat sederhana, perubahan kebiasaan ini memberikan dampak nyata.

Banyak orang melaporkan suasana hati yang lebih stabil, fokus yang meningkat, serta energi yang lebih terjaga setelah menerapkan pola tidur sehat.

Pada akhirnya, tidur bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan biologis.

Mengorbankan waktu tidur demi produktivitas justru berisiko merugikan kesehatan.

Tidur cukup bukan tanda malas, melainkan langkah dasar untuk menjaga tubuh dan pikiran tetap sehat.(*)