Deforestasi Sumatera Meningkat: 4,4 Juta Hektar Hutan Hilang Sejak 2001

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Pulau Sumatera terus mengalami tekanan berat terhadap kelestarian hutan alamnya. Data terbaru menunjukkan hilangnya tutupan hutan dalam jumlah besar sepanjang dua dekade lebih terakhir.

Dari 2001 hingga 2024, sekitar 4,4 juta hektar hutan hilang akibat konversi lahan untuk perkebunan, pertanian, serta aktivitas kehutanan komersial.

Pada 2024, angka deforestasi di Sumatera melonjak tajam menjadi 91.248 hektar, meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sekitar 33.331 hektar.

Namun, laporan pemerintah hingga September 2025 menyebutkan adanya penurunan deforestasi di beberapa provinsi yang terdampak banjir, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Penurunan tutupan hutan ini memicu dampak langsung terhadap ekosistem dan bencana hidrometeorologi. Banyak daerah aliran sungai (DAS) kini masuk kategori kritis.

Sementara peran hutan primer sebagai penahan erosi, pengendali iklim lokal, dan habitat satwa endemik semakin melemah.

Para ahli lingkungan menegaskan bahwa, hilangnya hutan mengurangi kemampuan alami untuk menyerap air hujan, sehingga meningkatkan risiko banjir dan longsor, terutama di dataran rendah.

Sejak 1990, Sumatera telah kehilangan lebih dari 7,5 juta hektar hutan primer, menyisakan hanya sekitar 12 juta hektar hutan alam, atau sekitar 25% dari total daratan pulau.

Kawasan penting seperti Batang Toru turut merasakan dampak signifikan, dengan penurunan tutupan hutan mencapai 21% dari luas DAS-nya pada periode 1990–2022.

Kementerian Lingkungan Hidup menegaskan pentingnya memperkuat pengelolaan hutan berkelanjutan serta perlindungan kawasan kritis.

“Kita harus memastikan fungsi ekosistem tetap terjaga dan menahan laju konversi hutan yang dapat meningkatkan risiko bencana alam,” ujar seorang pejabat kementerian.

Para pakar lingkungan merekomendasikan langkah mitigasi seperti reboisasi di DAS kritis, pengawasan ketat terhadap ekspansi perkebunan, serta penerapan sistem peringatan dini banjir.

Tanpa intervensi serius, tekanan terhadap hutan Sumatera diprediksi akan terus meningkat, memperburuk krisis ekologis dan risiko bencana bagi masyarakat.(*)




Setelah 13 Tahun, Ilmuwan Temukan Rafflesia ‘Wajah Harimau’ Mekar di Hutan Sumbar

SEPUCUKJAMBI.ID – Bunga langka Rafflesia hasseltii, yang dijuluki “Rafflesia Wajah Harimau”, akhirnya ditemukan mekar di hutan hujan Sumatera Barat.

Momen langka ini menjadi buah dari ekspedisi selama 13 tahun yang dilakukan ilmuwan internasional bersama pemandu lokal, dan kini viral di media sosial.

Video haru saat bunga tersebut mekar diunggah oleh akun Instagram Universitas Oxford (@oxford_uni).

Dalam rekaman itu, pemandu lokal Septian “Deki” Andriki tampak menangis bahagia ketika kelopak Rafflesia terbuka perlahan di tengah malam-momen yang selama ini ia kejar tanpa kenal lelah.

Ekspedisi ini dipimpin oleh Dr. Chris Thorogood dari University of Oxford.

Ia dan tim melakukan perjalanan panjang menembus hutan lebat yang menjadi habitat harimau Sumatra, berjalan siang dan malam demi menyaksikan mekarnya spesies yang sangat sulit ditemukan tersebut.

“Tiga belas tahun. Saya sangat beruntung,” ujar Deki dengan suara bergetar setelah impiannya akhirnya terwujud.

“Hanya sedikit orang di dunia yang pernah melihat bunga ini,” tambah Dr Thorogood, menegaskan betapa langkanya momen tersebut.

Rafflesia hasseltii dikenal dengan pola kelopaknya yang menyerupai wajah harimau.

Spesies ini hanya mekar dalam hitungan hari, membuat peluang untuk menemukan bunga dalam kondisi sempurna menjadi sangat kecil.

Bunga tersebut ditemukan mekar di Hiring Batang Somi, Kecamatan Sumpur Kudus, Sumatera Barat.

Akses menuju lokasi sangat menantang dan berisiko tinggi karena berada di wilayah jelajah harimau.

Penemuan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara peneliti internasional dan masyarakat lokal.

Deki telah menjadi “mata dan telinga” tim selama bertahun-tahun, menyusuri hutan demi mendeteksi tanda-tanda kemunculan Rafflesia.

Para ahli kini menyerukan upaya perlindungan yang lebih serius terhadap habitat Rafflesia hasseltii.

Kerusakan hutan dapat membuat peluang munculnya bunga langka ini semakin menipis di masa mendatang.(*)