Hati-Hati, Kebiasaan Sehari-hari Ini Bisa Membunuh Pernikahan

SEPUCUKJAMBI.ID – Banyak orang percaya bahwa pernikahan runtuh karena masalah besar seperti perselingkuhan atau krisis ekonomi.

Padahal, dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari, keretakan hubungan sering kali berawal dari hal-hal kecil yang dianggap sepele.

Kata-kata singkat, nada bicara, ekspresi wajah, hingga sikap tubuh yang diabaikan bisa perlahan mengikis rasa aman dan kedekatan emosional.

Tanpa disadari, kebiasaan kecil yang terus diulang akan menumpuk menjadi jarak.

Awalnya terasa biasa saja, namun lama-kelamaan hubungan berubah dingin, komunikasi kaku, dan rasa saling menghargai memudar.

Sejumlah riset menunjukkan bahwa kehancuran pernikahan lebih sering dipicu oleh pola komunikasi yang keliru, bukan semata konflik besar yang meledak tiba-tiba.

Temuan Riset: Sikap Meremehkan adalah Tanda Bahaya Serius

Penelitian jangka panjang yang dilakukan oleh Dr. John Gottman, pakar hubungan dari The Gottman Institute, menemukan pola yang konsisten dari ribuan pasangan yang diteliti.

Salah satu indikator terkuat menuju perceraian bukanlah pertengkaran hebat, melainkan sikap penghinaan dalam komunikasi sehari-hari.

Ekspresi seperti mendengus, memutar mata, berbicara dengan nada sinis, atau meremehkan pasangan secara halus menjadi “racun” dalam pernikahan.

Sikap ini membuat pasangan merasa tidak dihargai, diserang secara emosional, dan akhirnya enggan membuka diri.

Empat Pola Berbahaya yang Merusak Pernikahan

Dr. Gottman menyebut empat perilaku paling merusak dalam hubungan, yang dikenal sebagai Four Horsemen of the Apocalypse, yaitu:

  • Kritik berlebihan

  • Sikap defensif

  • Menarik diri atau menghindar

  • Penghinaan (yang paling merusak)

Dari keempatnya, penghinaan menjadi yang paling berbahaya karena menyiratkan rasa superioritas.

Ketika seseorang berbicara dengan sarkasme atau ejekan, pesan yang diterima pasangan bukan sekadar emosi sesaat, melainkan bahwa dirinya tidak dihormati dan tidak dianggap setara.

Kata “Terserah” yang Diam-Diam Melukai

Sekilas, kata “terserah” terdengar netral dan tidak bermasalah. Namun dalam konteks pernikahan, kata ini sering menjadi sinyal penolakan emosional.

Ucapan tersebut bisa berarti enggan terlibat, lelah berkomunikasi, atau tidak peduli dengan keputusan bersama.

Bagi pasangan, sikap ini terasa menyakitkan karena setiap orang memiliki kebutuhan untuk didengar dan dihargai.

Jika pola komunikasi semacam ini terus berulang, hubungan akan terasa hambar dan penuh jarak emosional.

Sarkasme dan Ejekan Berkedok Candaan

Humor memang penting dalam rumah tangga, tetapi tidak semua candaan bersifat sehat.

Sarkasme dan ejekan halus yang dibungkus tawa justru bisa melukai perasaan dan merusak rasa aman dalam hubungan.

Peneliti The Gottman Institute, Ellie Lisitsa, menyebut sarkasme sering digunakan sebagai bentuk serangan terselubung.

Dampaknya tidak hanya emosional, tetapi juga fisik. Stres berkepanjangan akibat konflik semacam ini dapat menurunkan daya tahan tubuh dan memicu gangguan kesehatan.

Bahasa Tubuh yang Sering Diremehkan

Komunikasi tidak hanya terjadi lewat kata-kata. Bahasa tubuh memiliki peran besar dalam menyampaikan perasaan.

Gestur seperti menyilangkan tangan, menghindari kontak mata, atau menjaga jarak fisik dapat dimaknai sebagai kemarahan, ketidaktertarikan, atau penolakan.

Menurut pelatih pengembangan diri Moira Hutchinson, bahasa tubuh yang tertutup membuat pasangan merasa diabaikan.

Jika dibiarkan, keintiman emosional fondasi utama pernikahan akan perlahan menghilang.

Penutup

Pernikahan yang kuat tidak hanya dibangun oleh cinta, tetapi juga oleh rasa hormat, empati, dan komunikasi yang sehat.

Mengabaikan hal-hal kecil seperti nada bicara, candaan, atau bahasa tubuh bisa menjadi awal dari keretakan yang sulit diperbaiki.

Belajar menyampaikan perasaan tanpa merendahkan, serta menghadapi perbedaan dengan sikap saling menghargai, adalah kunci hubungan jangka panjang.

Karena sering kali, bukan konflik besar yang menghancurkan pernikahan, melainkan kebiasaan kecil yang terus dibiarkan hingga akhirnya tak tertahankan.(*)




Mau Hubungan Langgeng? Ini Kuncinya Menurut Psikolog Cinta

SEPUCUKJAMBI.ID – Kita sering banget denger, “Komunikasi adalah kunci hubungan yang langgeng.” Dan ya, itu nggak salah. Tapi… apakah itu cukup?

Dulu aku juga percaya banget sama hal itu. Kalau ada konflik? Ya tinggal komunikasiin aja, selesai. Tapi ternyata, realitas hubungan itu jauh lebih kompleks dari sekadar ngobrol baik-baik.

Komunikasi Itu Penting, Tapi Bukan Segalanya!

Kita tuh sering lupa, waktu PDKT semua masih pakai “topeng”. Kita tampil semaksimal mungkin, pengen jadi versi terbaik buat pasangan kita. Tapi gimana setelah jadian, atau bahkan menikah? Topeng itu pasti perlahan dilepas. Kekurangan satu sama lain mulai kelihatan. Dan disinilah ujian sebenarnya dimulai.

Kita mulai bertanya:

  • Apakah dia tetap mau stay saat tahu sisi gelap kita?
  • Apakah dia bisa menerima kita apa adanya?
  • Dan sebaliknya, apakah kita bisa menerima dia?

Sentimen Positif: Kunci yang Sering Terlupakan

Menurut John Gottman, seorang pakar hubungan dan penulis buku The Marriage Clinic: A Scientifically Based Marital Therapy, hal paling penting dalam hubungan bukan cuma komunikasi, tapi perasaan positif yang terus dibangun dalam hubungan itu sendiri.

 

Gottman menyebutnya sebagai Positive Sentiment Override. Ini adalah kondisi di mana emosi positif yang kuat di antara pasangan membuat mereka lebih tahan banting dalam menghadapi konflik. Bahkan ketika pasangan lagi marah-marah, kita bisa berpikir positif kayak:

  • “Mungkin dia lagi capek banget.”
  • “Dia nggak maksud nyakitin aku.”
  • “Dia tetap sayang kok, cuma lagi overwhelmed aja.”

Kenapa Ini Penting Banget?

Karena perasaan positif ini bikin:

  • Konflik jadi lebih jarang.
  • Kalau pun ada konflik, penyelesaiannya lebih lembut dan penuh pengertian.
  • Kita cenderung memaklumi, bukan menghakimi.

Lalu, Gimana Cara Membangun Sentimen Positif Itu?

1. Be Authentic

Jadi diri sendiri dari awal. Jangan tampil sempurna waktu PDKT cuma buat disukai. Karena pasanganmu perlu mencintai kamu yang asli—dengan semua kelebihan dan kekuranganmu.

2. Kenali Pasanganmu Sedalam-Dalamnya

Amati pola interaksinya. Apa yang bikin dia kesal, apa yang bikin dia bahagia. Dan tanyakan ke diri sendiri: “Aku bisa nggak nerima ini dalam jangka panjang?”

3. Tumbuhkan Rasa Syukur dan Bahagia dalam Hubungan

Kangen-kangenan, momen ketawa bareng, saling support—itu hal kecil yang membangun positive vibes. Dan vibes itu bisa jadi pelindung hubungan dari badai konflik.

Kesimpulannya?

Komunikasi tetap penting, tapi bukan satu-satunya kunci. Hubungan yang langgeng itu dibangun lewat rasa syukur, pengertian, dan vibes positif yang terus dijaga dari hari ke hari.

Jadi, yuk mulai dari sekarang: bukan cuma ngobrol, tapi juga rawat emosi positif dalam hubunganmu (*)