Inspiratif! Nenek 83 Tahun Raih Juara 1 Pasanggiri Angklung Satu Hati

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Sosok inspiratif datang dari ajang Pasanggiri Angklung Satu Hati (PASH) yang diikuti ribuan peserta dari seluruh Indonesia.
Seorang nenek berusia 83 tahun, Merrywati Peruba, berhasil mencuri perhatian setelah keluar sebagai juara pertama dalam kompetisi tersebut.
Ajang yang diselenggarakan oleh PT Astra Honda Motor (AHM) ini diikuti lebih dari 1.700 peserta dari 21 kabupaten dan kota.
Kompetisi ini menjadi wadah bagi pecinta angklung untuk menampilkan kreativitas musik tradisional dalam balutan modern.
Meski usianya telah menginjak lebih dari delapan dekade, Merrywati tetap aktif bermain angklung bersama grup Gita Pundarika NSI, yang telah ia tekuni sejak 1979.
Dalam kompetisi tersebut, ia tampil bersama 39 anggota tim yang mayoritas juga berusia di atas 50 tahun.
Penampilan mereka membawakan lagu Donau Wellen sukses memukau dewan juri. Harmonisasi permainan angklung yang solid membuat tim asal DKI Jakarta ini dinobatkan sebagai juara pertama kategori umum.
Merrywati mengungkapkan bahwa bermain angklung bukan sekadar hobi, tetapi juga memberikan manfaat positif bagi kesehatan mental dan kebahagiaan.
“Bermain angklung membantu memperkuat daya ingat, memberi rasa nyaman, dan kebahagiaan. Selain itu, kita juga belajar kerja sama untuk menghasilkan harmoni yang indah,” ujarnya.
Tak hanya kategori umum, panitia juga menetapkan pemenang dari kategori Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain itu, dua tim favorit juga dipilih berdasarkan popularitas di media sosial.
Selama kompetisi, para peserta menampilkan beragam genre musik, mulai dari lagu daerah, lagu anak-anak, hingga soundtrack film.
Hal ini menunjukkan bahwa angklung mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai tradisionalnya.
General Manager Corporate Communication AHM, Ahmad Muhibbuddin, menyatakan bahwa ajang ini membuktikan angklung dapat dikolaborasikan dengan berbagai jenis musik.
“Teknik permainan, kreativitas aransemen, hingga estetika penampilan menjadi aspek penting dalam penilaian,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi semangat peserta dalam melestarikan angklung sebagai warisan budaya dunia yang telah diakui oleh UNESCO.
Menurutnya, perpaduan seni tradisional dengan perkembangan digital dan media sosial dapat menjadi jembatan komunikasi lintas generasi.
Selain kompetisi, peserta juga mendapatkan pembekalan melalui program Astra Honda Berbagi Ilmu (AHBI).
Dalam sesi ini, peserta dibekali pengetahuan tentang teknik bermain angklung, olah vokal, hingga strategi membuat konten kreatif di media sosial.
Salah satu peserta, Elsa, guru dari SDN Sunter Agung 13 Pagi Jakarta, mengaku bangga dapat mengikuti ajang tersebut.
“Kami mendapat banyak ilmu dan bisa berjejaring dengan peserta dari daerah lain. Melestarikan budaya menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi tenaga pendidik,” katanya.
Sebagai alat musik berbahan bambu yang ramah lingkungan, angklung tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga mencerminkan nilai keberlanjutan.
Melalui ajang ini, diharapkan angklung tetap hidup, berkembang, dan semakin dicintai generasi muda.(*)