Maulana Siapkan Kawasan Terintegrasi dari Perkantoran Wali Kota hingga Danau Telago Kajang Lako

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Pemerintah Kota Jambi menyiapkan konsep kawasan publik terintegrasi yang menghubungkan perkantoran Wali Kota Jambi, Taman Banjuran Budayo, Tugu Keris Siginjai hingga Danau Telago Kajang Lako yang berada di kawasan kolam retensi.

Konsep tersebut disiapkan Wali Kota Jambi Maulana sebagai bagian dari penataan kawasan agar sejumlah ruang publik dan ikon Kota Jambi tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dalam satu kawasan yang saling mendukung.

Rencana itu disampaikan Maulana saat bersama Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra melakukan penanaman pohon tanjung dan tabebuya di kawasan kolam retensi, Selasa 18 Agustus 2026.

Menurut Maulana, pembangunan kolam retensi menjadi kesempatan untuk menata kawasan di sekitarnya secara lebih menyeluruh.

“Ke depan kawasan ini akan kita integrasikan. Dari perkantoran Wali Kota Jambi, Taman Banjuran Budayo, Tugu Keris Siginjai sampai ke Danau Telago Kajang Lako. Kita ingin kawasan ini menjadi satu kesatuan ruang publik yang menarik,” ujar Maulana.

Bukan Lagi Titik-Titik yang Berdiri Sendiri

Konsep integrasi tersebut diarahkan untuk membentuk satu kawasan publik yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai aktivitas.

Perkantoran Wali Kota Jambi akan menjadi salah satu titik dalam konektivitas kawasan.

Dari area tersebut, masyarakat nantinya dapat terhubung dengan Taman Banjuran Budayo, Tugu Keris Siginjai hingga kawasan Danau Telago Kajang Lako.

Maulana ingin kawasan tersebut memiliki fungsi yang lebih luas, mulai dari ruang terbuka, olahraga, rekreasi hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Dengan konsep tersebut, kolam retensi tidak hanya diposisikan sebagai infrastruktur pengendalian banjir, tetapi menjadi bagian dari wajah baru ruang publik Kota Jambi.

Kolam Retensi Jadi Titik Penghubung

Danau Telago Kajang Lako yang berada di kawasan kolam retensi menjadi salah satu bagian penting dalam konsep tersebut.

Fungsi utama kolam retensi tetap sebagai tempat menampung dan mengendalikan aliran air. Namun, area di sekitarnya akan ditata agar dapat dimanfaatkan masyarakat.

Salah satu fasilitas yang tengah dibangun adalah jogging track sepanjang sekitar 1,4 kilometer.

Jalur tersebut akan dilengkapi pepohonan peneduh dan penerangan sehingga dapat digunakan masyarakat untuk berolahraga pada pagi, sore hingga malam hari.

Penataan lingkungan juga mulai dilakukan dengan penanaman pohon tanjung dan tabebuya oleh Maulana bersama Diza.

“Dua jenis pohon yang kita tanam, yakni tabebuya dan tanjung, dengan jarak sekitar lima meter. Harapannya nanti pohon-pohon ini tumbuh dan menjadi peneduh bagi masyarakat yang menggunakan jogging track,” katanya.

Tugu Keris Siginjai Masuk dalam Konsep Kawasan

Tugu Keris Siginjai menjadi salah satu ikon yang akan masuk dalam jaringan kawasan publik tersebut.

Maulana ingin keberadaan sejumlah ikon kota tidak hanya menjadi objek yang berdiri sendiri, tetapi memiliki keterhubungan dengan ruang publik lainnya.

Konsep itu sekaligus dapat memperkuat daya tarik kawasan bagi masyarakat maupun wisatawan.

Jika konektivitas tersebut berhasil diwujudkan, masyarakat dapat menikmati kawasan dengan fungsi yang beragam dalam satu rangkaian ruang publik.

UMKM Disiapkan agar Ikut Bergerak

Konsep integrasi kawasan juga menyentuh aspek ekonomi.

Pemkot Jambi berencana menyediakan ruang khusus bagi pelaku UMKM di kawasan tersebut.

Namun, aktivitas perdagangan akan diatur agar tidak mengganggu fungsi utama fasilitas publik, khususnya jogging track.

Maulana menegaskan jalur olahraga harus tetap digunakan sesuai peruntukannya dan tidak berubah menjadi area kendaraan atau aktivitas lain.

“Jangan sampai nanti jogging track ini digunakan untuk aktivitas lain. Kita sudah siapkan ruang bagi UMKM di lokasi yang memang diperuntukkan,” tegasnya.

Dengan pengaturan tersebut, kawasan diharapkan dapat menjadi ruang bertemunya aktivitas olahraga, rekreasi dan ekonomi masyarakat.

Bisa Dikembangkan Menjadi Kawasan Wisata

Maulana juga melihat peluang kawasan terintegrasi tersebut untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata baru Kota Jambi.

Namun, pengembangan wisata akan dilakukan setelah fungsi pengendalian banjir berjalan optimal.

Konsep yang disiapkan antara lain wisata air, air mancur dengan permainan lampu serta berbagai fasilitas publik lainnya.

“Kalau nanti danaunya sudah jadi dan fungsi pengendalian airnya berjalan baik, kita bisa kembangkan menjadi kawasan wisata,” ujarnya.

Menurut Maulana, pengembangan tersebut diharapkan membuat kawasan tidak hanya ramai pada jam kerja.

Aktivitas olahraga, ruang publik, UMKM dan wisata diharapkan membuat kawasan tetap hidup hingga malam.

Penataan Dimulai dari Penghijauan

Penanaman pohon tanjung dan tabebuya menjadi salah satu langkah awal penataan kawasan.

Pohon-pohon tersebut akan menjadi bagian dari lanskap ruang publik sekaligus peneduh jogging track.

Di saat yang sama, pembangunan kolam retensi terus diarahkan untuk menyelesaikan fungsi pengendalian banjir.

Maulana mengatakan kawasan tersebut nantinya diharapkan mampu menjalankan beberapa fungsi sekaligus: mengendalikan banjir, menyediakan ruang publik, menjadi kawasan olahraga, membuka ruang ekonomi dan berpotensi menjadi destinasi wisata.

Jika konsep integrasi terealisasi, kawasan perkantoran Wali Kota Jambi hingga Danau Telago Kajang Lako tidak lagi menjadi titik-titik yang terpisah, tetapi dirancang sebagai satu kesatuan kawasan publik yang memiliki konektivitas dan fungsi yang saling melengkapi.(*)




Tanam Tanjung dan Tabebuya, Maulana Siapkan Kolam Retensi Jambi Jadi Ruang Hijau

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Kolam retensi yang dibangun Pemerintah Kota Jambi mulai diarahkan bukan hanya sebagai infrastruktur pengendali banjir.

Wali Kota Jambi Maulana menyiapkan kawasan tersebut menjadi ruang publik baru yang menggabungkan fungsi pengendalian air, olahraga, penghijauan hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Langkah awal penataan kawasan itu ditandai dengan penanaman pohon tanjung dan tabebuya oleh Maulana bersama Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra, Selasa 18 Agustus 2026.

Pohon-pohon tersebut ditanam di sekitar kawasan yang nantinya memiliki jogging track sepanjang sekitar 1,4 kilometer.

Konsep itu membuat kolam retensi tidak lagi sekadar dipandang sebagai tempat menampung air saat hujan dan banjir.

Pemkot Jambi ingin kawasan tersebut menjadi ruang yang dapat digunakan masyarakat sepanjang hari.

Ada Jogging Track 1,4 Kilometer

Maulana mengatakan jogging track disiapkan sebagai salah satu fasilitas utama di kawasan kolam retensi.

Jalur tersebut akan dilengkapi pepohonan peneduh serta penerangan.

Dengan konsep tersebut, masyarakat nantinya dapat memanfaatkannya untuk berjalan kaki maupun berolahraga mulai pagi hingga malam.

“Dua jenis pohon yang kita tanam, yakni tabebuya dan tanjung, dengan jarak sekitar lima meter. Harapannya nanti pohon-pohon ini tumbuh dan menjadi peneduh bagi masyarakat yang menggunakan jogging track,” ujar Maulana.

Sebagian jalur jogging track saat ini sudah selesai dicor. Pembangunan akan dilanjutkan secara bertahap hingga seluruh lintasan selesai.

Pemkot Jambi juga menyiapkan lampu di sepanjang jalur.

Menurut Maulana, penerangan menjadi bagian penting dalam desain kawasan karena aktivitas masyarakat tidak hanya berlangsung pada siang hari.

“Lampu juga kita siapkan sepanjang jogging track. Setelah terpasang secara bertahap, kawasan ini akan cukup terang sehingga keamanan dan kenyamanan masyarakat juga terjaga,” katanya.

Fungsi Utamanya Tetap Kendalikan Banjir

Meski dikembangkan menjadi ruang publik, Maulana menegaskan fungsi utama kolam retensi tetap sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir Kota Jambi.

Kawasan tersebut dibangun berdasarkan kajian serta pemantauan kondisi banjir, termasuk melalui pemantauan menggunakan drone.

Kolam retensi dirancang untuk menampung sekaligus mengatur aliran air dari kawasan yang lebih tinggi sehingga tekanan aliran air dapat dikendalikan.

“Bagaimana penanggulangan banjir ini sudah mulai bisa kita kendalikan. Salah satu solusinya berdasarkan kajian dan pemantauan melalui drone ketika terjadi banjir besar, maka kita bangun kawasan ini sebagai tempat penampungan dan pengendalian air,” jelasnya.

Maulana mengatakan dinding danau di kawasan tersebut telah rampung.

Tahap berikutnya adalah menata lingkungan sekitar agar fungsi konservasi air dapat berjalan bersamaan dengan fungsi sosial kawasan.

Terhubung dengan Ikon Kota Jambi

Konsep yang disiapkan Pemkot Jambi bahkan lebih luas dari sekadar membangun jogging track.

Maulana ingin kawasan kolam retensi terintegrasi dengan sejumlah ruang dan ikon kota.

Rencananya, kawasan tersebut akan dihubungkan dengan kawasan perkantoran Wali Kota Jambi, Taman Banjuran Budayo, Tugu Keris Siginjai hingga Danau Telago Kajang Lako.

Dengan konektivitas tersebut, pemerintah ingin membentuk satu kawasan publik yang dapat menjadi tempat masyarakat berolahraga, bersantai dan beraktivitas.

“Ke depan kawasan ini akan kita integrasikan. Dari perkantoran Wali Kota Jambi, Taman Banjuran Budayo, Tugu Keris Siginjai sampai ke Danau Telago Kajang Lako. Kita ingin kawasan ini menjadi satu kesatuan ruang publik yang menarik,” ujarnya.

Jogging Track Tak Boleh Jadi Jalur Kendaraan

Penataan kawasan juga akan dibarengi dengan aturan pemanfaatan ruang.

Maulana menegaskan jogging track harus tetap menjadi jalur khusus bagi pejalan kaki dan pelari. Kendaraan tidak diperbolehkan masuk dan menggunakan jalur tersebut.

Sementara aktivitas perdagangan akan diarahkan ke area khusus yang disiapkan pemerintah.

Pemkot Jambi berencana menyediakan ruang bagi pelaku UMKM agar kegiatan ekonomi tetap tumbuh tanpa mengganggu fungsi jogging track.

“Jangan sampai nanti jogging track ini digunakan untuk aktivitas lain. Kita sudah siapkan ruang bagi UMKM di lokasi yang memang diperuntukkan,” tegas Maulana.

Konsep tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa Pemkot Jambi ingin menggabungkan ruang olahraga dengan peluang ekonomi masyarakat.

Disiapkan untuk Olahraga hingga Wisata

Fasilitas lain juga dirancang di sekitar kawasan perkantoran Wali Kota Jambi. Di antaranya arena mini soccer dan sepatu roda yang dapat menjadi fasilitas aktivitas masyarakat.

Namun, pengembangan kawasan tidak berhenti di sana.

Maulana membuka kemungkinan kolam retensi tersebut dikembangkan menjadi destinasi wisata baru Kota Jambi setelah fungsi pengendalian banjir berjalan optimal.

Konsep wisata yang dibayangkan antara lain wisata air, air mancur dengan permainan lampu serta berbagai fasilitas publik yang dapat dinikmati masyarakat pada malam hari.

“Kalau nanti danaunya sudah jadi dan fungsi pengendalian airnya berjalan baik, kita bisa kembangkan menjadi kawasan wisata,” katanya.

Banjir Ditangani, Ekonomi Masyarakat Ikut Bergerak

Pemkot Jambi berharap pembangunan kolam retensi memberikan manfaat lebih luas.

Targetnya bukan hanya mengurangi persoalan genangan, tetapi juga menciptakan ruang yang dapat digunakan masyarakat sekaligus menjadi titik baru aktivitas ekonomi.

Keberadaan UMKM, fasilitas olahraga dan kemungkinan pengembangan wisata diharapkan membuat kawasan tersebut terus hidup.

“Harapannya kawasan ini hidup. Masyarakat bisa berolahraga, menikmati ruang publik, sekaligus ada aktivitas ekonomi yang tumbuh,” ujar Maulana.

Dengan konsep tersebut, kolam retensi Jambi diproyeksikan memiliki tiga wajah sekaligus: infrastruktur pengendali banjir, ruang publik dan calon kawasan wisata.

Penanaman tanjung dan tabebuya yang dilakukan Maulana dan Diza menjadi salah satu langkah awal untuk membentuk wajah baru kawasan tersebut.

Jika seluruh fasilitas terealisasi, kawasan yang awalnya dibangun untuk mengendalikan air itu berpotensi menjadi salah satu ruang publik baru yang menghubungkan olahraga, lingkungan, rekreasi dan aktivitas ekonomi masyarakat Kota Jambi.(*)




Di Momentum HUT RI ke-81, Wali Kota Jambi Beberkan Strategi Atasi Banjir dan Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Jambi tidak hanya diwarnai prosesi pengibaran Bendera Merah Putih.

Momentum 17 Agustus 2026 itu dimanfaatkan Wali Kota Jambi Dr. dr. H. Maulana, M.K.M. untuk menegaskan sejumlah pekerjaan besar pemerintah daerah, mulai dari pengendalian banjir, pengelolaan sampah, hingga upaya menjaga pertumbuhan ekonomi.

Upacara berlangsung di lapangan utama Kantor Wali Kota Jambi, Senin 17 Agustus 2026, dengan Maulana bertindak sebagai inspektur upacara.

Hadir Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha, jajaran Forkopimda, Sekretaris Daerah Kota Jambi A. Ridwan, ASN, veteran, organisasi kemasyarakatan, serta sejumlah tamu undangan.

Ketua DPRD Kota Jambi Kemas Faried Alfarelly bertugas membacakan Naskah Proklamasi.

Prosesi pengibaran bendera diawali dengan penjemputan Duplikat Bendera Pusaka dari Griya Mayang, rumah dinas Wali Kota Jambi. Bendera kemudian dibawa ke lapangan upacara dengan pengawalan TNI dan Polri.

Petugas pembawa baki adalah Lufita Khairi Lestari, siswi SMAN 8 Kota Jambi, didampingi Aqila Zahira dari SMA Negeri 2 Kota Jambi.

Sementara pengibaran bendera dilakukan Polin Manalu dari SMA Negeri 5 Kota Jambi, Torik Ramadhan dari SMA Negeri 13 Kota Jambi, dan M. Dafa Rino Aji dari MAN 2.

Di balik suasana khidmat peringatan kemerdekaan tersebut, Maulana membawa pesan yang lebih konkret: kemerdekaan harus diterjemahkan ke dalam pembangunan yang bisa dirasakan langsung masyarakat.

Banjir Jadi Salah Satu Fokus Utama

Salah satu pekerjaan besar yang disoroti Maulana adalah penanganan banjir. Pemkot Jambi tengah membangun kolam retensi yang diarahkan untuk mengurangi persoalan banjir pada sistem Sungai Asam.

Target pemerintah cukup ambisius. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi sekitar 60 persen persoalan banjir pada sistem Sungai Asam.

Tak berhenti sebagai fasilitas pengendali air, kawasan kolam retensi juga disiapkan sebagai ruang publik.

Pemerintah merencanakan pembangunan jogging track sepanjang sekitar 1,4 kilometer berikut fasilitas pendukung dan penerangan.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur pengendalian banjir diupayakan sekaligus memberi fungsi sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

“Nanti di sekelilingnya kita siapkan jogging track sepanjang kurang lebih 1,4 kilometer, dilengkapi berbagai fasilitas pendukung,” kata Maulana.

Ia berharap penanganan Sungai Asam mulai memberikan hasil pada musim banjir tahun depan.

Namun, persoalan banjir Kota Jambi tidak akan selesai hanya dengan membenahi satu sistem.

Pemkot Jambi masih harus menuntaskan dua sistem lainnya, yakni Sistem Kenali dan Sistem Kambang.

Lahan untuk pembangunan infrastruktur pengendalian banjir di kedua sistem tersebut disebut telah dipersiapkan.

Maulana menilai penyelesaian tiga sistem itu menjadi bagian penting dari strategi jangka bertahap Pemkot Jambi dalam mengurangi risiko banjir.

“Kalau tiga sistem ini bisa kita selesaikan, insyaallah persoalan banjir dapat kita tanggulangi secara bertahap,” ujarnya.

Target Ekonomi 6 Persen Dikaitkan dengan Kebersihan dan Keamanan

Maulana juga menghubungkan agenda pembangunan dengan target pertumbuhan ekonomi Kota Jambi.

Menurut dia, kebersihan dan keamanan tidak bisa dipandang hanya sebagai urusan pelayanan dasar.

Dua faktor tersebut juga menjadi bagian dari ekosistem yang mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.

Pemkot Jambi menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen. Karena itu, Maulana mengajak masyarakat ikut menjaga lingkungan, keamanan, dan kenyamanan kota.

“Kita harus terus menjaga kebersihan, menjaga keamanan. Dengan kebersihan dan keamanan yang baik, insyaallah pertumbuhan ekonomi kita dapat sesuai target, yaitu mencapai 6 persen,” katanya.

Pendekatan itu juga terlihat dari rencana pemanfaatan kawasan kolam retensi. Selain untuk mengendalikan banjir, ruang publik di kawasan tersebut diharapkan membuka peluang aktivitas ekonomi dan mendorong konsep ekonomi sirkular.

997 OPBM Disebut Sudah Berjalan

Di sektor lingkungan, Pemkot Jambi juga memperluas program Optimalisasi Pengelolaan Bank Sampah dan Masyarakat atau OPBM.

Maulana menyebut sekitar 997 OPBM saat ini telah berjalan di Kota Jambi.

Angka tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menggeser pengelolaan sampah dari sekadar persoalan kebersihan menjadi gerakan yang melibatkan masyarakat sekaligus memiliki nilai ekonomi.

“ Kita ingin kebersihan bukan hanya menjadi program pemerintah, tetapi menjadi gerakan bersama masyarakat,” ujar Maulana.

Pemkot Jambi juga melanjutkan Program Kampung Bahagia.

Pada tahap pertama, program tersebut telah dilaksanakan di 795 RT dengan capaian yang disebut telah melampaui 100 persen.

Tahap berikutnya masih menyasar RT yang belum masuk program, termasuk dukungan pengadaan bentor.

Bagi Pemkot Jambi, penguatan pengelolaan sampah dan lingkungan di tingkat RT menjadi penting karena keberhasilan program kota pada akhirnya sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaannya di tingkat masyarakat.

Kemerdekaan Didorong Menjadi Kerja Nyata

Maulana menegaskan peringatan kemerdekaan tidak boleh berhenti pada seremoni.

Pemerintah dan masyarakat harus mengisinya melalui kerja nyata yang berdampak terhadap kualitas hidup warga.

Mulai dari kebersihan, keamanan, pelayanan publik, hingga pembangunan infrastruktur, seluruhnya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

“Semangat kemerdekaan harus kita isi dengan pembangunan. Mari bersama-sama menjaga Kota Jambi agar tetap bersih, aman, nyaman dan ekonominya terus tumbuh,” tegasnya.

Usai upacara, Pemkot Jambi turut menyerahkan sejumlah penghargaan kepada pihak-pihak yang berprestasi.

Penghargaan tersebut antara lain diberikan kepada pemenang Lomba Kelurahan Berprestasi Tingkat Kota Jambi, fasilitator tercepat Program Kampung Bahagia Periode I Tahun 2026, serta anggota Polri yang berhasil mengungkap kasus benih bening lobster atau BBL.

Maulana juga memberikan apresiasi kepada jajaran Paskibraka Kota Jambi yang dinilai berhasil menjalankan tugas pengibaran bendera dengan baik.

“Alhamdulillah, seluruh rangkaian upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Jambi berjalan dengan baik. Adik-adik Paskibraka juga telah melaksanakan tugasnya dengan sangat baik,” ujarnya.

Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kota Jambi pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial.

Pemerintah daerah menjadikan momentum tersebut untuk kembali menempatkan tiga agenda sebagai pekerjaan penting ke depan: mengurangi persoalan banjir, memperkuat kebersihan dan pengelolaan sampah, serta menjaga agar roda ekonomi kota terus bergerak.

Turut hadir Ketua TP PKK Kota Jambi Dr. dr. Hj. Nadiyah, Sp.OG., Ketua GOW Kota Jambi Marsha Lystia, S.E., B.Com, para veteran, organisasi kemasyarakatan, dan tamu undangan lainnya.(*)




Wali Kota Jambi Maulana Soroti Krisis Air Baku, Kolam Retensi Mulai Dilirik

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Kemarau panjang mulai menguji ketahanan pasokan air bersih di Kota Jambi.

Debit Sungai Batanghari yang menurun disertai meningkatnya kekeruhan air baku membuat Perumdam Tirta Mayang memangkas produksi sekitar 20 persen.

Dampaknya mulai dirasakan pelanggan, terutama mereka yang mendapat pasokan dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Broni dan IPA Tanjung Sari). Sekitar 5.300 sambungan rumah (SR) terdampak akibat berkurangnya jam pelayanan.

Kondisi tersebut diperkirakan belum akan segera berakhir. Perumdam Tirta Mayang memperkirakan gangguan pasokan dapat berlangsung hingga September 2026, tergantung perkembangan musim kemarau dan kondisi Sungai Batanghari.

Persoalan tidak hanya terjadi pada pelanggan jaringan perpipaan. Warga yang selama ini mengandalkan sumur juga mulai menghadapi ancaman kekeringan di sejumlah wilayah.

Wali Kota Jambi Maulana mengatakan penurunan debit dan peningkatan kekeruhan Batanghari memaksa perusahaan daerah menyesuaikan proses pengolahan air.

“Memang kondisi kemarau menyebabkan debit air Batanghari turun dan kekeruhan meningkat. Akibatnya produksi harus dikurangi. Di sisi lain, masyarakat yang tidak menggunakan PDAM juga mulai mengalami sumurnya kering,” ujar Maulana.

Bukan sekadar produksi turun

Menurut Maulana, pengurangan produksi tidak dapat dilihat semata sebagai persoalan kapasitas Perumdam Tirta Mayang.

Air baku yang semakin keruh membutuhkan penyesuaian dalam proses pengolahan. Langkah tersebut dilakukan agar kualitas air yang sampai ke pelanggan tetap memenuhi standar.

Direktur Utama Perumdam Tirta Mayang Kota Jambi, Arianto sebelumnya menjelaskan, pengurangan produksi awalnya berada di kisaran 10 persen.

Namun, ketika tingkat kekeruhan air baku meningkat, penyesuaian produksi harus diperbesar hingga sekitar 20 persen.

“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan pelanggan. Langkah ini kami lakukan agar kualitas air yang diterima masyarakat tetap terjaga,” kata Arianto.

Dengan kondisi tersebut, Perumdam memilih mempertahankan kualitas air yang diproduksi meski konsekuensinya jam pelayanan kepada sebagian pelanggan harus dikurangi.

Mobil tangki dikerahkan

Pemkot Jambi kini meminta Perumdam Tirta Mayang memperkuat penanganan di lapangan.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengerahkan mobil tangki untuk mendistribusikan air bersih secara gratis ke kawasan yang mengalami gangguan pasokan maupun wilayah yang sumber airnya mulai mengering.

“Kami sudah perintahkan PDAM untuk mengantarkan kebutuhan air bersih semaksimal mungkin ke daerah-daerah yang memang terdampak kekeringan,” ujar Maulana.

Selain mobil tangki, Perumdam juga menyiapkan pompa bergerak dan pemasangan pipa intake untuk menjaga keberlangsungan pengambilan air baku.

Langkah tersebut menjadi penanganan darurat sembari pemerintah melihat perkembangan kondisi Sungai Batanghari dan musim kemarau.

Pemkot mulai pikirkan sumber air selain Batanghari

Di tengah tekanan terhadap sumber air utama, Pemkot Jambi mulai melihat persoalan ini sebagai masalah jangka panjang.

Maulana mengatakan ketergantungan terhadap Sungai Batanghari perlu dikurangi dengan menyiapkan sumber air baku alternatif.

Salah satu opsi yang mulai dipertimbangkan adalah pemanfaatan kolam retensi sebagai sumber air baku tambahan bagi Perumdam Tirta Mayang.

“Kita juga harus berpikir soal ketersediaan air baku. Bisa kita pertimbangkan nanti apakah kolam-kolam retensi ini bisa menjadi sumber air baku bagi PDAM,” katanya.

Namun, rencana tersebut belum bisa langsung diterapkan.

Pemerintah perlu mengkaji kapasitas tampungan, kontinuitas debit, kualitas air serta teknologi pengolahan yang dibutuhkan sebelum kolam retensi dapat digunakan sebagai sumber air baku.

Jika layak secara teknis, keberadaan sumber air alternatif tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap kondisi Sungai Batanghari ketika kemarau panjang kembali terjadi.

Krisis air berpotensi berulang

Bagi Pemkot Jambi, kondisi yang terjadi saat ini menjadi peringatan bahwa persoalan air baku tidak cukup ditangani dengan langkah darurat setiap musim kemarau.

Penurunan debit sungai dan perubahan kualitas air berpotensi kembali terjadi ketika kemarau berlangsung panjang.

“Ke depan ini harus dipikirkan karena masalah seperti ini memang terjadi setiap tahun,” tegas Maulana.

Karena itu, selain memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi selama kondisi darurat, pemerintah mulai diarahkan untuk membangun sistem penyediaan air yang lebih tahan terhadap perubahan musim.

Masyarakat juga diminta menggunakan air secara bijak selama kondisi pasokan belum kembali normal.

Di sisi lain, Perumdam Tirta Mayang memastikan proses pengolahan tetap mengikuti standar operasional, sementara distribusi bantuan air bersih terus diarahkan ke wilayah yang paling terdampak.

Dengan perkiraan gangguan dapat berlangsung hingga September, persoalan air bersih Kota Jambi kini bukan hanya soal berkurangnya produksi.

Krisis air baku juga menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk memastikan ketahanan pasokan air dalam menghadapi kemarau berikutnya.(*)




Di Depan JICA dan Osaka Jepang, Wali Kota Jambi Paparkan Transformasi Pengendalian Banjir

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Wali Kota Jambi, Maulana, memaparkan perkembangan program pengendalian banjir yang tengah dijalankan Pemerintah Kota Jambi di hadapan delegasi Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Osaka Municipal Water Works Bureau (OMWB), Kamis 11 Juni 2026.

Dalam pertemuan tersebut, Maulana menjelaskan berbagai langkah strategis yang saat ini dilakukan untuk mengurangi risiko banjir di kawasan perkotaan, mulai dari normalisasi sistem drainase hingga pembangunan kolam retensi yang menjadi salah satu proyek prioritas pemerintah daerah.

Menurut Maulana, proyek pengendalian banjir yang didukung JICA bersama Kementerian Pekerjaan Umum itu saat ini terus berjalan dan ditargetkan selesai pada akhir tahun 2026.

Salah satu fokus utama program tersebut adalah pembangunan kolam retensi seluas sekitar 9 hektare yang berfungsi menampung limpasan air hujan sekaligus mengurangi beban aliran pada sistem drainase perkotaan.

“Proyek ini mencakup normalisasi anak Sungai Asam dan jaringan drainase perkotaan yang terhubung dari kawasan hulu hingga hilir menuju Sungai Batanghari,” ujar Maulana di hadapan delegasi Jepang.

Tujuannya agar aliran air lebih lancar dan mampu mengurangi genangan yang selama ini kerap terjadi.

Ia menjelaskan sejumlah saluran drainase yang sebelumnya berukuran kecil kini telah diperlebar sehingga kapasitas aliran air meningkat secara signifikan.

Langkah tersebut mulai menunjukkan hasil dengan berkurangnya titik-titik banjir, khususnya di kawasan permukiman padat penduduk yang selama ini menjadi langganan genangan saat hujan deras.

Menurut Maulana, pengendalian banjir tidak hanya difokuskan pada pembangunan infrastruktur utama, tetapi juga dilakukan secara terintegrasi dari kawasan hulu hingga hilir.

“Drainase yang sebelumnya sempit kita perbesar sehingga aliran air dari hulu menjadi lebih lancar. Dampaknya sudah mulai dirasakan masyarakat karena beberapa kawasan yang sebelumnya sering terdampak banjir kini mengalami penurunan genangan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Maulana juga memaparkan rencana pengembangan kawasan kolam retensi menjadi ruang publik dan destinasi wisata baru Kota Jambi.

Kolam retensi tersebut nantinya akan diberi nama Telago Kajang Lako dan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti jogging track sepanjang 1,4 kilometer yang mengelilingi kawasan danau buatan tersebut.

Selain berfungsi sebagai infrastruktur pengendalian banjir, kawasan itu diharapkan menjadi ruang terbuka publik yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk aktivitas olahraga dan rekreasi.

Maulana menyampaikan apresiasi kepada JICA yang selama ini turut mendukung berbagai program pembangunan di Kota Jambi, termasuk proyek pengendalian banjir yang menjadi salah satu kebutuhan mendesak masyarakat.

“Kami berterima kasih atas dukungan JICA yang terus berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Jambi dan Kementerian PUPR dalam upaya mengatasi persoalan banjir. Program ini sangat penting karena manfaatnya langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan JICA menyatakan dukungannya terhadap berbagai program pembangunan infrastruktur yang tengah dijalankan Pemerintah Kota Jambi.

Mereka menilai proyek pengendalian banjir yang dilakukan secara terintegrasi memiliki potensi besar meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.

Paparan yang disampaikan Wali Kota Jambi tersebut menjadi bagian dari agenda kunjungan delegasi Jepang yang juga membahas kerja sama sektor air bersih bersama Perumda Tirta Mayang.

Namun, proyek pengendalian banjir dan pembangunan Telago Kajang Lako menjadi salah satu perhatian utama karena dinilai memiliki dampak langsung terhadap kualitas hidup masyarakat Kota Jambi.(*)




Tinjau Proyek Danau Telago Kajang Lako, Wali Kota Jambi Targetkan Bebas Banjir 2026

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Upaya Pemerintah Kota Jambi dalam mengatasi persoalan banjir terus dikebut.

Wali Kota Jambi, Maulana, meninjau langsung progres pembangunan kolam retensi yang diberi nama Danau Telago Kajang Lako di kawasan Paal V, Kecamatan Kotabaru, Kamis (12/3/2026).

Proyek strategis ini menjadi bagian dari program unggulan “Kota Tangguh” yang digagas bersama Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha, dengan fokus utama mengurangi risiko banjir, khususnya di wilayah Sistem Asam.

Dari hasil peninjauan di lapangan, Maulana menyampaikan bahwa pekerjaan konstruksi berjalan dengan baik dan menunjukkan progres yang signifikan.

Sejauh ini, pembangunan telah mencatat pemasangan 148 tiang pancang di dua titik lokasi, dari total kebutuhan lebih dari 1.400 tiang pancang yang akan membentang sepanjang 1,4 kilometer.

Meski demikian, pemerintah masih menunggu kedatangan peralatan dengan teknologi lebih modern guna meminimalisir getaran saat proses pemancangan, sehingga tidak berdampak pada bangunan di sekitar area proyek.

Selain fokus pada konstruksi, Pemkot Jambi juga tengah menuntaskan proses pembebasan lahan tahap kedua.

Ditargetkan seluruh pembayaran rampung pada April 2026, sehingga total lahan seluas 9 hektare dapat segera dimanfaatkan secara optimal.

Saat ini, pengerjaan baru mencakup sekitar 3,8 hektare dari keseluruhan area yang direncanakan.

Maulana menargetkan proyek kolam retensi ini dapat diselesaikan pada Oktober hingga November 2026.

Dengan begitu, saat memasuki musim hujan berikutnya, kawasan Sistem Asam diharapkan sudah terbebas dari banjir.

Tak hanya itu, Pemkot Jambi juga berencana memperluas pembangunan kolam retensi ke sejumlah titik lain.

Pemerintah telah mengajukan permohonan ke pihak terkait untuk pembangunan di kawasan sekitar pusat perbelanjaan Jamtos dan JBC.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam menuntaskan persoalan banjir di beberapa sistem wilayah, termasuk Sistem Kambang, Simpang Rimbo, hingga kawasan Jambi Timur.

Dengan percepatan pembangunan ini, Pemerintah Kota Jambi optimistis mampu menciptakan lingkungan yang lebih aman, nyaman, dan bebas dari ancaman banjir bagi masyarakat.(*)




Wakil Wali Kota Jambi Dorong Partisipasi Warga Atasi Genangan dan Banjir

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, meninjau langsung kegiatan gotong royong warga di RT 51, Kelurahan Jelutung, Kecamatan Jelutung, Rabu (17/12/2025).

Kegiatan ini fokus pada pembersihan drainase dan lingkungan sekitar rumah warga yang sebelumnya tersumbat sampah, memicu genangan air.

Diza menekankan pentingnya identifikasi titik rawan banjir dan penanganan secara partisipatif.

“Ada beberapa titik yang terkena genangan. Rumah warga banyak drainasenya tertutup sampah, sehingga kami arahkan untuk bergotong royong,” sebutnya.

“Kami juga memberikan penyuluhan soal kebersihan lingkungan masing-masing,” kata Diza.

Selain gotong royong, Diza meninjau pembangunan kolam retensi di kawasan Paal Lima, Kecamatan Kota Baru.

Kolam retensi ini diharapkan dapat mengurangi potensi banjir di Kota Jambi hingga hampir 60 persen.

Proyek ini melibatkan pembebasan lahan warga dan milik pemerintah, dengan total 51 bidang lahan warga dan 85 bidang lahan milik Pemerintah Provinsi.

“Kami pastikan pembangunan kolam retensi berjalan lancar. Warga menyambut positif karena tujuannya untuk meminimalkan banjir. Dampak signifikan diperkirakan mulai terasa pada 2027,” ujar Diza.

Selain berfungsi menahan banjir, kolam retensi juga akan dimanfaatkan sebagai ruang publik dan pusat aktivitas ekonomi kreatif, termasuk festival UMKM dan kegiatan masyarakat lainnya.

Diza menambahkan, pemerintah tetap fokus pada normalisasi drainase dan sungai sepanjang 43 kilometer, serta mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan dan kewaspadaan menghadapi musim hujan.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi berkelanjutan Pemerintah Kota Jambi untuk mengurangi risiko banjir melalui kolaborasi pemerintah dan masyarakat, normalisasi sungai, pembangunan kolam retensi, serta peningkatan kesadaran lingkungan.(*)




Kolam Retensi Paal Lima Ditargetkan Atasi Banjir, Wawako Diza: Dampak Signifikan Mulai 2027

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, meninjau progres pembangunan kolam retensi di kawasan Paal Lima, Kecamatan Kota Baru, Senin (17/11).

Pembangunan yang menjadi salah satu proyek strategis daerah ini ditargetkan menjadi solusi besar dalam pengendalian banjir di Kota Jambi beberapa tahun ke depan.

Diza menegaskan bahwa pembangunan kolam retensi merupakan upaya penting pemerintah untuk mengurangi potensi banjir, khususnya pada kawasan yang kerap terdampak saat musim hujan.

Proyek tersebut juga melibatkan pembebasan lahan, terdiri dari 51 bidang milik warga dan 85 bidang milik Pemerintah Provinsi.

“Pembangunan ini berjalan lancar dan mendapat respons positif dari warga. Kolam retensi ini berdasarkan kajian dapat mengurangi risiko banjir hingga hampir 60 persen,” ujarnya.

Menurut Diza, proyek ini ditargetkan rampung pada tahun depan, dan dampak pengurangan banjir diperkirakan mulai terasa signifikan pada tahun 2027, seiring berfungsinya kolam retensi secara maksimal.

Selain sebagai pengendali banjir, kolam retensi Paal Lima juga akan difungsikan sebagai ruang publik dan pusat kegiatan ekonomi kreatif, termasuk festival UMKM dan kegiatan masyarakat lainnya.

Lebih lanjut, Diza mengimbau warga tetap waspada menghadapi musim hujan.

Meski beberapa titik masih mengalami genangan, intensitasnya disebut jauh lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.

“Pak Wali telah menginstruksikan normalisasi sungai sepanjang 43 kilometer,” kata dia.

“Hasilnya mulai terlihat, dan akan semakin efektif dengan keberadaan kolam retensi ini. Kami mengajak warga menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan,” tegasnya.(*)




Pembangunan Kolam Retensi Dimulai, Pemkot Jambi Targetkan ‘Groundbreaking’ November

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Pemerintah Kota Jambi terus mewujudkan visi Kota Tangguh yang bersih, aman, harmonis, dan inovatif.

Di bawah kepemimpinan Maulana‑Diza, tahap awal pembangunan kolam retensi sebagai solusi banjir kini dimulai di kawasan Griya Lingga Permai, Kelurahan Paal Lima, Kecamatan Kotabaru.

Senin siang (13/10/2025), Wali Kota Dr. dr. H. Maulana, M.K.M, didampingi Wakil Wali Kota Diza Hazra Aljosha, S.E., M.A., bersama pejabat dari Kantor Pertanahan Kota Jambi memulai pengukuran tanah milik masyarakat terdampak.

Proses ini menjadi tahap awal pembebasan lahan untuk kolam retensi di sepanjang sistem Asam, yang akan menampung air dan mencegah genangan.

Baca juga:  Ingat Ya! Bunda PAUD Kota Jambi Ingatkan Pentingnya Metode Belajar yang Menyenangkan

Baca juga:  Wali Kota Maulana Tinjau Rencana Pembangunan Kolam Retensi dan Wisata Air Griya Lingga Permai

“Alhamdulillah hari ini perdana kita melakukan pengukurannya, dan sejauh ini dukungan masyarakat sangat baik,” ujar Maulana.

“Kami berharap dukungan terus mengalir karena mimpi kita bersama adalah Kota Jambi bebas banjir,” tambahnya.

Dari total area sekitar 9,1 hektar, terdapat 51 sertifikat yang harus dihitung dan diberikan kompensasi, terdiri dari 15 rumah dan sisanya lahan kosong.

Tim pengukuran yang melibatkan Dinas Pertanian, Dinas Perumahan & Permukiman, BPN, dan KJPP akan memvalidasi data lahan tersebut.

Baca juga:  Skutik Adventure Honda ADV160 Resmi Mengaspal di Jambi, Usung Teknologi Honda RoadSync

Baca juga:  Wali Kota Jambi Hadiri Rakornas TPAKD 2025: Komitmen Perkuat Akses Keuangan Daerah

Maulana menjelaskan bahwa proses kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat sejauh ini berjalan lancar tanpa resistensi besar.

Dia berharap tidak muncul gejolak sosial selama proses pengukuran dan pembebasan lahan.

Soal pendanaan, proyek kolam retensi ini telah mendapatkan anggaran sekitar Rp 75 miliar yang dihimpun dari pemerintah pusat, provinsi, dan kota.

Untuk pembiayaan operasional, ia menyatakan bahwa pihak Balai telah menyiapkannya.

Ke depan, Wali Kota menargetkan groundbreaking proyek mulai November dengan kecepatan pengerjaan tinggi, mengingat musim hujan akan segera tiba.

Kawasan sepanjang sistem Asam yang selama ini rawan banjir menjadi fokus utama penanganan.

Dia berharap kolam retensi ini bukan hanya sebagai upaya teknis terhadap banjir, melainkan juga menjadi ruang ekonomi baru bagi pelaku ekonomi kreatif lokal, sehingga pembangunan membawa manfaat sosial-ekonomi bagi masyarakat.(*)