Kepala Terasa Berat dan Pusing? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

SEPUCUKJAMBI.ID – Keluhan kepala terasa berat dan pusing menjadi masalah yang cukup sering dialami, baik oleh remaja maupun orang dewasa.

Kondisi ini dapat muncul mendadak dan mengganggu aktivitas, terutama karena membuat sulit fokus serta menimbulkan rasa tidak nyaman.

Sensasi kepala berat biasanya terasa seperti ada tekanan di bagian atas atau samping kepala. Sementara pusing dapat dirasakan seperti berputar, goyah, atau seolah tubuh melayang.

Meski umumnya tidak berbahaya, kondisi ini tetap perlu diwaspadai jika terjadi berulang.

Faktor yang Sering Menjadi Pemicu

Beberapa penyebab yang paling umum antara lain kurang tidur dan kualitas istirahat yang buruk. Tubuh yang tidak mendapat waktu pemulihan cukup akan mengalami ketegangan otot, khususnya di area leher dan kepala.

Selain itu, dehidrasi juga menjadi pemicu utama. Kekurangan cairan dapat menurunkan aliran darah dan oksigen ke otak sehingga memunculkan sensasi pusing.

Stres dan tekanan emosional berlebih turut berperan. Saat seseorang cemas atau tertekan, sistem saraf bekerja lebih keras dan memicu ketegangan fisik.

Kebiasaan duduk terlalu lama dengan postur yang kurang baik, termasuk menatap layar komputer atau ponsel dalam waktu lama, juga dapat menyebabkan ketegangan otot leher.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah kadar gula darah rendah akibat telat makan atau kurang asupan energi.

Cara Sederhana Meredakan Kepala Berat

Jika keluhan muncul dan tidak disertai gejala serius, beberapa langkah berikut dapat dicoba:

  • Perbanyak minum air putih untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi

  • Istirahatkan mata serta lakukan peregangan ringan

  • Gunakan kompres hangat di leher atau kompres dingin di dahi

  • Konsumsi camilan sehat seperti buah atau roti gandum

  • Lakukan teknik pernapasan dalam untuk membantu tubuh rileks

Kebiasaan menjaga pola tidur yang cukup dan teratur juga sangat membantu mencegah keluhan datang kembali.

Waspadai Gejala Tambahan

Meski sering kali ringan, kepala berat dan pusing perlu mendapat perhatian medis apabila disertai nyeri hebat, gangguan penglihatan, sesak napas, atau terjadi sangat sering hingga mengganggu aktivitas harian.

Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan tidak ada kondisi kesehatan yang mendasarinya.

Menjaga hidrasi, mengatur waktu istirahat, serta mengelola stres merupakan langkah sederhana namun efektif untuk mencegah keluhan ini berulang.

Dengan gaya hidup yang lebih seimbang, tubuh akan terasa lebih ringan dan pikiran pun tetap fokus menjalani aktivitas.(*)




Sindrom Riley-Day, Gangguan Sistem Saraf Otonom yang Perlu Diwaspadai

SEPUCUKJAMBI.ID – Sindrom Riley-Day merupakan salah satu penyakit genetik langka yang memengaruhi sistem saraf sensorik dan otonom.

Kondisi ini juga dikenal dengan nama familial dysautonomia, yaitu gangguan yang menyebabkan tubuh kesulitan merespons rangsangan sensorik maupun mengatur fungsi otomatis seperti tekanan darah, pernapasan, dan suhu tubuh.

Penyakit ini bersifat bawaan dan umumnya sudah muncul sejak lahir.

Sindrom Riley-Day terjadi akibat mutasi genetik yang diturunkan secara autosomal resesif, artinya seseorang hanya akan mengalami kondisi ini jika mewarisi gen bermutasi dari kedua orang tuanya.

Meski jumlah penderitanya sangat sedikit, dampak yang ditimbulkan tergolong serius karena menyerang banyak fungsi vital tubuh secara bersamaan.

Salah satu ciri paling khas dari sindrom Riley-Day adalah gangguan persepsi nyeri dan suhu.

Penderita sering kali tidak merasakan sakit secara normal atau kesulitan membedakan sensasi panas dan dingin.

Akibatnya, risiko cedera menjadi lebih tinggi karena luka atau trauma dapat terjadi tanpa disadari.

Selain gangguan sensorik, sindrom ini juga memengaruhi sistem saraf otonom yang berperan mengatur fungsi tubuh tanpa disadari.

Beberapa penderita mengalami tekanan darah yang tidak stabil, gangguan pernapasan, serta produksi air mata yang sangat minim, bahkan tidak dapat menangis dengan air mata.

Gejala sindrom Riley-Day biasanya mulai terlihat sejak masa bayi.

Tanda-tanda awal dapat berupa kesulitan menyusu, muntah berulang, tonus otot yang rendah, serta ketidakmampuan mengatur suhu tubuh dengan baik.

Seiring bertambahnya usia, penderita dapat mengalami gangguan berbicara, masalah pengecapan, kesulitan menelan, hingga gangguan pernapasan.

Karena menyerang berbagai sistem tubuh, sindrom Riley-Day berisiko menimbulkan komplikasi serius.

Beberapa di antaranya adalah pneumonia berulang akibat aspirasi makanan ke saluran napas, gangguan fungsi ginjal, kelainan tulang belakang, serta cedera yang tidak disadari akibat gangguan sensorik.

Hingga saat ini, belum tersedia pengobatan yang dapat menyembuhkan sindrom Riley-Day secara menyeluruh.

Penanganan medis difokuskan pada pengelolaan gejala dan pencegahan komplikasi, seperti terapi untuk membantu proses makan dan menelan, pemantauan pernapasan, serta pengendalian tekanan darah.

Perawatan jangka panjang biasanya melibatkan tim medis multidisiplin guna menjaga kualitas hidup penderita.

Secara singkat, sindrom Riley-Day adalah penyakit genetik langka yang menyebabkan gangguan pada sistem saraf sensorik dan otonom.

Meski jarang terjadi, kondisi ini memerlukan penanganan komprehensif karena dampaknya yang kompleks terhadap fungsi tubuh dan kesehatan jangka panjang.(*)