Fakta Tersembunyi di Balik Gelas Es Teh Manis

SEPUCUKJAMBI.ID – Es teh manis hampir selalu hadir di meja makan orang Indonesia, mulai dari warung kaki lima, rumah makan, hingga restoran mewah.

Rasanya segar, murah, dan cocok diminum kapan saja.

Namun, di balik kenikmatannya, minuman populer ini menyimpan fakta penting: kalori dari gula tambahan bisa cukup tinggi.

Teh itu sendiri hampir tidak mengandung kalori. Masalah muncul ketika gula ditambahkan.

Satu gelas es teh manis ukuran sedang bisa memiliki kalori setara camilan kecil, terutama jika gulanya banyak.

Kalori dari minuman manis cenderung “tidak terasa”, sehingga kita bisa mengonsumsinya tanpa sadar.

Kebiasaan ini bisa memicu kenaikan berat badan, lonjakan gula darah, dan risiko gangguan metabolik jangka panjang.

Apakah ini berarti es teh manis harus dihindari sepenuhnya? Tidak. Kuncinya ada pada cara menikmati.

Beberapa tips yang bisa dicoba:

  • Kurangi takaran gula secara bertahap. Jika biasanya memakai dua sendok gula, coba satu setengah atau satu sendok. Lidah akan menyesuaikan rasa.

  • Gunakan pemanis rendah kalori seperti stevia atau monk fruit. Rasanya sedikit berbeda, tapi membantu menekan kalori.

  • Pilih teh dingin tanpa gula dengan perasan lemon, jeruk nipis, atau potongan buah segar. Tetap segar dan lebih ramah tubuh.

  • Perhatikan porsi. Nikmati es teh manis dalam jumlah kecil atau sesekali sebagai kompromi antara kesehatan dan kenikmatan.

Intinya, menikmati minuman manis bukan masalah selama diimbangi dengan pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan cukup minum air putih.

Dengan strategi tepat, segelas es teh manis tetap bisa menjadi teman yang menyegarkan tanpa membebani tubuh.(*)




Mengenal Social Jetlag, Gangguan Pola Tidur yang Sering Terjadi Tanpa Disadari

SEPUCUKJAMBI.ID – Banyak orang terbiasa tidur larut dan bangun siang saat akhir pekan, lalu kembali memaksakan diri bangun pagi di hari kerja.

Kebiasaan ini sering dianggap wajar, padahal bisa menjadi tanda social jetlag gangguan pola tidur yang terjadi tanpa perlu bepergian jauh.

Social jetlag muncul ketika jadwal tidur dan bangun seseorang berbeda jauh antara hari kerja dan hari libur.

Kondisinya mirip jet lag akibat perjalanan lintas zona waktu, tetapi penyebabnya adalah perubahan rutinitas harian.

Akibatnya, jam biologis tubuh atau ritme sirkadian menjadi tidak sinkron.

Dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Perubahan pola tidur yang berulang setiap minggu dapat membuat tubuh terasa lelah meski sudah tidur cukup lama.

Banyak orang dengan social jetlag mengeluhkan sulit fokus, suasana hati memburuk, hingga produktivitas yang menurun.

Sejumlah penelitian juga mengaitkan social jetlag dengan masalah kesehatan fisik.

Ketidakteraturan jam tidur dapat memengaruhi metabolisme tubuh, meningkatkan risiko obesitas, gangguan gula darah, dan tekanan darah yang tidak stabil.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memperbesar risiko sindrom metabolik.

Dari sisi mental, jam tidur yang tidak selaras dengan ritme alami tubuh dapat membuat seseorang lebih mudah stres dan emosional.

Otak membutuhkan pola tidur yang konsisten untuk bekerja optimal, termasuk dalam hal konsentrasi, pengambilan keputusan, dan daya ingat.

Fenomena social jetlag semakin umum di era modern. Tuntutan pekerjaan, jadwal belajar, aktivitas sosial, hingga penggunaan gawai pada malam hari membuat waktu tidur semakin bergeser.

Tanpa disadari, tubuh harus “menyetel ulang” jam biologisnya hampir setiap minggu.

Para ahli menyarankan langkah sederhana untuk mencegah social jetlag, yaitu menjaga waktu tidur dan bangun yang relatif sama setiap hari, termasuk di akhir pekan.

Konsistensi ini membantu ritme sirkadian tetap stabil dan mendukung kesehatan jangka panjang.

Social jetlag mungkin terasa ringan, tetapi jika dibiarkan, dampaknya bisa serius. Mengatur ulang kebiasaan tidur bukan hanya soal istirahat, melainkan investasi penting bagi kesehatan tubuh dan pikiran.(*)