3 Jam Sehari di Medsos, Mengapa Dumb Scrolling Berbahaya? Ini Penjelasan dan Cara Mengatasinya

SEPUCUKJAMBI.ID – Di era digital saat ini, hampir semua orang pernah mengatakan, “Buka medsos sebentar saja,” lalu tanpa sadar sudah menghabiskan waktu berjam-jam menggeser layar tanpa tujuan jelas.

Kebiasaan ini dikenal sebagai dumb scrolling, atau aktivitas scroll pasif yang dilakukan tanpa fokus, dan belakangan menjadi fenomena yang banyak dibahas di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Media sosial telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Data terbaru mencatat ada 191,4 juta pengguna media sosial aktif, atau sekitar 68,9 persen dari total populasi

Rata-rata waktu yang dihabiskan untuk mengakses media sosial mencapai 3 jam 17 menit per hari, sementara sebagian besar pengguna mengaku menghabiskan 1–3 jam per hari hanya untuk scroll konten.

Angka tersebut menunjukkan bahwa konsumsi media digital telah menjadi rutinitas harian yang sulit dipisahkan dari kehidupan modern.

Walaupun tampak sebagai aktivitas santai, dumb scrolling memiliki dampak signifikan pada kesejahteraan psikologis.

Berbagai penelitian mengungkap bahwa konsumsi media sosial secara pasif dapat memicu:

  • Stres dan kecemasan meningkat

  • Rasa kurang percaya diri, akibat perbandingan sosial yang berlebihan

  • FOMO (fear of missing out)

  • Perasaan tidak puas terhadap diri sendiri

Scroll tanpa tujuan membuat otak terus menerima informasi secara berlebihan.

Ketika dilakukan menjelang waktu tidur, paparan cahaya layar dapat menghambat produksi melatonin, hormon yang membantu tubuh beristirahat, sehingga tidur terganggu dan pikiran tetap aktif meski tubuh sedang lelah.

Dumb scrolling sering disebut sebagai pencuri waktu paling halus.

Aktivitas ringan yang sekilas hanya memakan beberapa menit ternyata mudah berubah menjadi satu jam atau lebih tanpa disadari.

Waktu tersebut sebenarnya bisa dialokasikan untuk:

  • belajar atau membaca,

  • mengerjakan pekerjaan pribadi,

  • menulis atau berlatih skill,

  • melakukan kegiatan fisik, atau

  • beristirahat.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat mengurangi fokus dan kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas penting, sehingga produktivitas harian menurun.

Meski memiliki dampak negatif, media sosial tetap menawarkan banyak manfaat: memperkuat hubungan sosial, memperoleh informasi terbaru, hiburan, hingga inspirasi untuk berkarya.

Kuncinya adalah cara penggunaan.

Beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi dumb scrolling:

  • membuka media sosial dengan tujuan yang jelas,

  • mengatur durasi pemakaian harian,

  • menjadwalkan jeda digital,

  • menggunakan fitur screen time atau pengingat waktu,

  • mematikan notifikasi yang tidak penting,

  • mencoba digital detox berkala.

Upaya sederhana ini terbukti mampu meningkatkan fokus, kualitas tidur, dan kesehatan mental secara keseluruhan.

Media sosial bukan musuh. Dumb scrolling pun tidak selalu buruk bila dilakukan sesekali sebagai hiburan.

Namun, saat kebiasaan ini mengganggu emosi, tidur, produktivitas, atau relasi sosial, saat itulah kontrol harus diperketat.

Dengan kesadaran diri dan pengelolaan waktu yang tepat, kita tetap bisa menikmati media sosial tanpa mengorbankan kesehatan mental dan kualitas hidup. Dumb scrolling boleh, asal tetap terkendali.(*)




Cinta Lebih Adiktif dari Narkoba: Penjelasan dr. Ryu Hasan

dr. Ryu Hasan menjelaskan cinta lebih adiktif dari narkoba, membahas pengaruh otak dan emosi saat jatuh cinta dan putus cinta.

SEPUCUKJAMBI.IDCinta lebih adiktif dari narkoba, itulah pernyataan dr. Ryu Hasan, pakar bedah saraf, yang mengungkap fakta ilmiah mengejutkan tentang cinta. Menurutnya, jatuh cinta bukan hanya soal perasaan, melainkan reaksi biologis di otak yang bisa menumpulkan logika dan membuat manusia bertindak irasional.

Mengapa Cinta Lebih Adiktif dari Narkoba?

Ketika seseorang jatuh cinta, otak melepaskan dopamin dan oksitosin, hormon yang menciptakan rasa bahagia, euforia, sekaligus keterikatan mendalam. Dr. Ryu menjelaskan, reaksi ini bahkan lebih kuat daripada efek narkoba karena melibatkan banyak area otak sekaligus.

Yang menarik, cinta juga menonaktifkan bagian otak yang biasanya berfungsi mengendalikan logika dan kritik. Itulah sebabnya orang yang jatuh cinta kerap “buta” terhadap kekurangan pasangannya.

Otak Saat Jatuh Cinta: Laki-laki vs Perempuan

Menurut dr. Ryu Hasan, respons cinta antara pria dan wanita memiliki perbedaan:

  • Wanita: amigdala dan anterior cingulate cortex (pusat kontrol logika) menjadi “mati suri”. Akibatnya, wanita lebih mudah mengabaikan hal-hal yang biasanya ia perhatikan secara kritis.

  • Pria: jatuh cinta memicu lonjakan testosteron, dopamin, dan vasopresin, sehingga pikiran bisa terfokus pada pasangan hingga 85% waktu terjaga.

Efeknya sama seperti “mabuk cinta”—alami, namun dampaknya nyata pada otak.

Putus Cinta: Rasa Sakit yang Nyata di Otak

Perasaan patah hati bukan sekadar kiasan. Saat cinta berakhir, kadar dopamin menurun drastis sehingga otak mengalami rasa sakit emosional yang mirip dengan sakit fisik. Itulah mengapa putus cinta bisa menimbulkan gejala seperti depresi, cemas, hingga gangguan tidur.

Namun, menurut dr. Ryu, otak manusia punya “rencana cadangan”. Saat menjalin hubungan baru, otak kembali melepaskan dopamin dan oksitosin yang membantu menyembuhkan luka emosional akibat putus cinta.

Belajar Bijak dari Fakta Ilmiah tentang Cinta

Mengetahui bahwa cinta adalah reaksi biologis di otak membuat kita bisa lebih bijak dalam menjalani hubungan. Cinta memang bisa membuat kita bahagia, tetapi juga bisa menimbulkan sakit yang nyata.

Seperti narkoba, cinta bersifat adiktif. Bedanya, cinta adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Yang terpenting, kita harus mampu menyeimbangkan perasaan dengan kesadaran diri agar tidak terjebak dalam hubungan yang merugikan.

dr. Ryu Hasan menegaskan, cinta memang lebih adiktif dari narkoba karena melibatkan kerja kompleks otak yang memengaruhi emosi, logika, hingga perilaku. Dengan memahami sisi ilmiah cinta, kita bisa melihat hubungan asmara bukan sekadar perasaan, melainkan juga fenomena biologis yang patut disikapi dengan bijak. (*)




Wellness Tourism: Tren Liburan untuk Kesehatan Fisik, Mental, dan Spiritual

SEPUCUKJAMBI.ID – Di tengah rutinitas yang penuh tekanan dan dunia yang terus bergerak cepat, banyak orang mencari pelarian untuk menenangkan diri dan menyembuhkan tubuh serta pikiran.

Fenomena ini melahirkan wellness tourism, sebuah bentuk pariwisata yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup melalui kesehatan fisik, kesejahteraan mental, dan spiritualitas.

Apa Itu Wellness Tourism?

Menurut Global Wellness Institute, wellness tourism adalah perjalanan dengan tujuan utama untuk menjaga atau meningkatkan kesehatan fisik dan mental.

Berbeda dengan perjalanan rekreasi yang berfokus pada hiburan sementara, wellness tourism lebih menekankan pada pengalaman yang bermanfaat bagi kesehatan jangka panjang.

Berbeda dengan wisata medis yang berkaitan dengan penanganan penyakit, wisata kesehatan menawarkan aktivitas seperti spa, yoga, retret wellness, pemandian air panas, serta petualangan alam terbuka yang mendalam.

Aktivitas Wellness Tourism yang Populer

  1. Spa untuk Kesehatan Fisik

Bagi Anda yang merasa penat setelah perjalanan panjang, spa adalah solusi untuk meredakan ketegangan tubuh.

Nikmati pijatan relaksasi dengan suasana yang menenangkan serta berendam di air panas untuk mengembalikan energi Anda.

  1. Retret untuk Kesehatan Mental

Retret wellness menjadi pilihan tepat bagi mereka yang ingin beristirahat dari rutinitas sehari-hari.

Biasanya terletak jauh dari keramaian kota, retret menawarkan kedamaian dan ketenangan untuk pemulihan mental.

  1. Retret untuk Eksplorasi Spiritual

Destinasi seperti Jepang, India, dan Nepal menawarkan retret yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan spiritual.

Di sini, peserta dapat mengikuti program selama seminggu atau lebih, bergantung pada tujuan dan filosofi lokal yang diterapkan.

Naiknya Popularitas Wellness Tourism

  1. Tren Healing dan Self-care

Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental yang dipopulerkan melalui kampanye di media sosial, banyak orang kini mencari cara untuk merawat tubuh dan jiwa mereka.

Wellness tourism menjadi pilihan utama bagi mereka yang merasa burnout dan membutuhkan lebih dari sekadar liburan biasa.

  1. Eksplorasi Budaya

Banyak retret wellness yang menawarkan pengalaman yang memadukan kesejahteraan dengan kekayaan budaya lokal.

Destinasi seperti Bali, Nepal, dan India menarik wisatawan dengan pendekatan budaya mereka yang kaya serta kesempatan untuk meningkatkan kesehatan tubuh dan pikiran secara bersamaan.

  1. Wellness Tourism sebagai Investasi Diri

Bagi banyak orang, liburan kini bukan hanya tentang melarikan diri dari rutinitas, tetapi juga tentang memperbaiki diri.

Dengan memilih wellness tourism, seseorang tidak hanya membawa pulang kenangan, tetapi juga keseimbangan jiwa dan raga yang lebih baik

Wisata kesehatan bukan hanya tren sesaat, tetapi investasi jangka panjang untuk kesejahteraan diri.(*)




Mindset dan Takdir: Cara Pikiran Membentuk Hidup Kita

SEPUCUKJAMBI.ID – Pernahkah kamu mendengar nasihat seperti ini: “Pikiranmu akan membentuk keyakinan, keyakinan membentuk perilaku, dan perilaku membentuk kebiasaan, lalu kebiasaan itu akan menentukan takdirmu?”

Ungkapan ini sering terdengar dalam seminar, obrolan bersama teman, bahkan dari para motivator. Secara sederhana, ia menggambarkan bagaimana pola pikir kita membentuk jalan hidup. Namun, ada hal yang lebih dalam dari sekadar “ubah mindset, maka kamu akan sukses.”

Dalam salah satu video YouTube milik Dr. Jiemi Ardian, seorang psikiater yang banyak berbicara tentang kesehatan mental, ia mengajak kita untuk memahami bahwa pikiran adalah buah dari adaptasi terhadap realita. Pikiran bukanlah sesuatu yang bisa diatur seperti tombol lampu: on dan off. Ia muncul karena sebuah alasan.

Ketika Rasa Takut Mengendalikan Kita

Misalnya, saat seseorang takut ditinggalkan dalam hubungan, ia cenderung memilih untuk meninggalkan terlebih dahulu. Akhirnya, keyakinan itu pun menjadi nyata: ia benar-benar ditinggalkan. Pikiran yang awalnya berisi ketakutan, membentuk kepercayaan (bahwa semua orang akan meninggalkan), lalu menjadi pola (meninggalkan lebih dulu), hingga menjadi kebiasaan yang terus berulang.

Baca juga:  Panduan Lengkap Fidyah: Syarat, Keutamaan, dan Cara Pembayarannya

Baca juga:  Pentingnya Mengajarkan Doa Sebelum Tidur kepada Anak

Pikiran Bukan Musuh, Ia Pernah Melindungi

Seringkali, kita mencoba “mengubah mindset” tanpa memahami dari mana pikiran itu berasal. Padahal, banyak dari pikiran kita terbentuk sebagai bentuk perlindungan diri. Pikiran bahwa “saya tidak cukup baik” bisa muncul karena bertahun-tahun hidup dalam lingkungan yang membandingkan, merendahkan, dan menganggap hidup sebagai ajang kompetisi tiada akhir.

Di masyarakat kita sendiri, budaya kompetisi sudah seperti napas sehari-hari—dari orang tua yang membandingkan prestasi anak, tetangga yang bersaing soal rumah dan harta, hingga lingkungan kerja yang mendorong orang saling sikut. Tak heran bila banyak dari kita membentuk pikiran negatif tentang dunia—bahwa ia penuh tekanan dan penilaian.

Mindset Tidak Bisa Diubah Jika Tidak Dihargai

Maka, kesalahan terbesar adalah mencoba langsung mengganti pikiran. Padahal, yang perlu kita lakukan adalah menghargai keberadaannya terlebih dahulu. Tanyakan: mengapa pikiran ini ada? kapan ia muncul? apa fungsinya dulu bagi saya?

Ketika kita melihat pikiran sebagai hasil adaptasi, maka pendekatannya bukan lagi menyingkirkan, melainkan mengajak ia bertumbuh. Di sinilah kita mulai membentuk kebiasaan baru, membangun kepercayaan baru, dan membuka ruang untuk takdir yang berbeda.

Bersikap Lembut pada Diri Sendiri

Perubahan tidak datang dari perlawanan, tapi dari penerimaan. Kita tidak harus menjadi musuh dari pikiran-pikiran kita. Kita hanya perlu belajar bersikap lembut, menghargainya, lalu perlahan mengajak mereka beradaptasi ke arah yang lebih sehat.

Dengan begitu, perubahan yang kita ciptakan bukan sekadar tempelan motivasi sesaat, tapi benar-benar berakar pada pemahaman diri. Kita tidak hanya mengubah perilaku, tapi juga menciptakan dunia batin yang lebih tenang dan bertumbuh.(*)