Karhutla di Aceh Barat Meluas, Warga Diminta Waspada

ACEH, SEPUCUKJAMBI.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, masih berlangsung dan menunjukkan kecenderungan meluas.

Api yang muncul sejak pertengahan Januari 2026 membakar lahan di sejumlah titik, terutama di wilayah Kecamatan Johan Pahlawan, sehingga menimbulkan kekhawatiran warga karena lokasinya dekat permukiman.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kabupaten Aceh Barat, Teuku Ronald Nehdiansyah, mengatakan kondisi cuaca menjadi tantangan utama pemadaman.

Angin kencang membuat api mudah menjalar, sehingga petugas harus bekerja ekstra untuk mencegah kebakaran meluas.

Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan terus dikerahkan. Pemadaman dilakukan secara manual dengan peralatan terbatas, karena akses menuju lokasi tidak semuanya mudah dijangkau dan sumber air minim.

Selain itu, sebagian lahan yang terbakar adalah lahan gambut dan semak kering, sehingga api cepat membesar saat tertiup angin.

Asap dari kebakaran mulai dirasakan warga sekitar, meski belum sampai mengganggu aktivitas secara luas.

Untuk mengantisipasi dampak lebih besar, BPBD Aceh Barat berkoordinasi dengan BPBA dan pihak terkait lainnya.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pengajuan bantuan tambahan, termasuk kemungkinan operasi modifikasi cuaca jika kondisi kebakaran semakin sulit dikendalikan.

BPBD mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan dan segera melapor jika melihat titik api baru.

Hingga kini, proses pemadaman masih berlangsung, sementara aparat dan pemerintah daerah berupaya memastikan api tidak merembet ke permukiman dan fasilitas publik.(*)




Musim Kemarau, PT WKS Maksimalkan Tim dan Teknologi Antisipasi Karhutla

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Menghadapi musim kemarau 2025, PT Wirakarya Sakti (WKS), bagian dari grup Asia Pulp & Paper (APP), meningkatkan kesiapsiagaan dengan menurunkan Regu Pengendalian Kebakaran (RPK) di seluruh area operasionalnya di Provinsi Jambi.

Kepala Fire Preparation PT WKS, Agus Sibarani, menjelaskan bahwa khusus di Distrik 7, Kecamatan Geragai, sebanyak 30 anggota RPK telah disiapkan untuk memantau dan menjaga kawasan seluas 33 ribu hektare dari potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Setiap distrik memiliki jumlah personel yang disesuaikan dengan luas areanya. Tim di Distrik 7 dibekali peralatan lengkap, termasuk menara pantau setinggi 30 meter, drone pemantau udara, kendaraan taktis, dan armada pemadam kebakaran mobile,” ujarnya, Rabu (27/8/2025).

Tak hanya peralatan, para personel RPK juga mendapat pelatihan intensif sesuai bidang tugas masing-masing, untuk memastikan respons cepat terhadap titik api.

Tim ini secara rutin melakukan patroli darat dan air menggunakan sepeda motor, mobil, serta airboat.

Agus menambahkan, perusahaan juga mengimplementasikan pendekatan preventif melalui program Integrated Fire Management.

Langkah ini mencakup penyuluhan ke masyarakat sekitar, edukasi ke sekolah-sekolah, dan pemasangan papan larangan pembakaran lahan.

“Di internal perusahaan, semua karyawan sudah mendapat pelatihan kebakaran. Apalagi saat status bahaya kebakaran dari Fire Danger Rating System (FDRS) memasuki level kuning atau merah, maka wajib ada pelaporan ke Situation Room setiap 30 menit,” jelasnya.

Area patroli juga diperluas hingga radius 5 kilometer dari konsesi. Perusahaan mengandalkan menara pantau, kamera pengawas (CCTV), dan drone untuk mendeteksi asap atau potensi api dari luar.

“Kami harus tanggap jika ada ancaman dari luar area konsesi. Jika ditemukan asap dalam radius 5 kilometer, tim kami langsung dikerahkan untuk merespons dan mencegah api menyebar ke area perusahaan,” sambungnya.

Selain itu, PT WKS memberdayakan masyarakat sekitar lewat program Masyarakat Peduli Api (MPA).

Setiap desa di sekitar area konsesi memiliki 15 anggota MPA yang aktif melaporkan kondisi wilayah secara berkala melalui grup komunikasi digital.

“Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Banyak desa bahkan mengusulkan lebih banyak relawan. Peran MPA sangat penting karena mereka tahu seluk-beluk wilayah sekitar dan bisa mendeteksi potensi kebakaran lebih awal. Ini menjadi bagian dari kolaborasi kami bersama Satgas Karhutla, aparat TNI/Polri, dan perangkat desa,” tutup Agus.(*)