Iran Peringatkan Provokasi Israel dan Sekutu Barat Saat Gelombang Protes Meluas

SEPUCUKJAMBI.ID – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya wajib menempuh jalan keadilan untuk melindungi rakyat dari upaya pihak-pihak yang ingin menciptakan kerusuhan, baik di dalam maupun luar negeri.

Pernyataan itu disampaikan Sabtu (31/1/2026) melalui kantor berita semi-resmi Tasnim.

Pezeshkian menekankan pentingnya membedakan antara protes damai dan usaha untuk menabur perpecahan.

“Kita wajib mendengarkan para pengunjuk rasa damai, namun ada pihak yang berupaya memanfaatkan gelombang protes untuk memecah belah bangsa,” ujarnya.

Presiden menyoroti upaya musuh, termasuk Israel dan sekutunya di Barat, yang berulang kali mencoba menghasut kerusuhan dan memanfaatkan tuntutan sosial agar berubah menjadi kekerasan, penghancuran properti, dan serangan terhadap pasukan keamanan.

“Kami harus memberikan kedaulatan kepada rakyat dan melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan, sambil tetap waspada terhadap upaya mengubah protes menjadi hasutan,” tambah Pezeshkian.

Ia menekankan bahwa pelayanan tulus kepada warga menjadi benteng utama melawan infiltrasi musuh.

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Tehran dan Washington.

Beberapa pekan terakhir, Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa “armada besar” sedang bergerak ke Iran dan menyerukan negosiasi dengan Tehran.

Pemerintah Iran memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan direspons secara cepat dan komprehensif, sambil tetap menyatakan terbuka untuk pembicaraan yang dianggap “adil, seimbang, dan tidak memaksa.”(*)




Houthi Ancam Lanjutkan Operasi Angkatan Laut, Jika Israel Menolak Bantuan Gaza

SEPUCUKJAMBI.ID – Pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi memberikan tenggat waktu empat hari kepada Israel pada hari Jumat (8/3) agar mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Jalur Gaza, atau pihaknya akan melanjutkan operasi angkatan laut terhadap Israel.

Dalam pidato yang disiarkan oleh TV Al-Masirah, saluran yang dikelola oleh Houthi, al-Houthi menuduh Israel gagal memenuhi komitmen yang tercantum dalam kesepakatan gencatan senjata.

Ia mengkritik Israel yang menurutnya “berusaha kembali pada kebijakan genosida melalui kelaparan di Gaza,” menegaskan bahwa tindakan tersebut “tidak dapat ditoleransi.”

“Kami memberikan tenggat waktu empat hari bagi para mediator untuk menyelesaikan masalah ini,” kata al-Houthi.

Baca juga:  Majukan Sektor UMKM, Wali Kota Maulana Buka Bedug Fest Bazar Ramadhan Bahagia 1446 Hijriah

Baca juga:  Polres Metro Jakarta Barat Gagalkan Pengiriman 13 Motor Curian ke Bengkulu

“Jika Israel terus mencegah bantuan kemanusiaan masuk dan menutup penyeberangan Gaza sepenuhnya, kami akan melanjutkan operasi angkatan laut kami melawan Israel,” tambahnya.

Sejak November 2023, kelompok Houthi di Yaman telah melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap target Israel serta kapal-kapal kargo yang terkait dengan Israel di Laut Merah sebagai bentuk solidaritas untuk Gaza.

Pada Minggu (4/3), Israel menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza setelah Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, menolak melanjutkan negosiasi tahap kedua dari kesepakatan gencatan senjata tiga tahap dengan kelompok perlawanan Palestina, Hamas.

Serangan brutal Israel terhadap Gaza sejak Oktober 2023 telah mengakibatkan lebih dari 48.400 korban jiwa dan 111.800 orang terluka, serta menghancurkan banyak area di Gaza.

Meskipun begitu, serangan ini dihentikan sementara setelah kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan pada 19 Januari 2024.(*)