Desa Suka Maju Tanjab Timur Terendam Banjir, Warga Minta Penanganan Sungai Lagan

MUARASABAK, SEPUCUKJAMBI.ID – Banjir tahunan kembali melanda Desa Suka Maju, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjab Timur).
Luapan air Sungai Lagan akibat sedimentasi yang terus terjadi membuat kawasan ini kembali terendam, mengganggu aktivitas warga dan fasilitas umum.
Desa Suka Maju yang berada di dataran rendah menjadi titik tumpuan luapan air sungai, terutama saat curah hujan tinggi.
Kondisi ini diperparah dengan pendangkalan Sungai Lagan yang dipenuhi sampah pepohonan serta tumbuhan liar di sepanjang aliran sungai.
Akibat banjir, sejumlah ruas jalan penghubung antar permukiman warga terendam, termasuk jalan utama di Blok H Suka Maju.
Ketinggian air bahkan mencapai setinggi paha orang dewasa, sehingga menyulitkan warga beraktivitas dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Tak hanya jalan, rumah warga, pasar tradisional, kantor desa, serta fasilitas umum lainnya ikut terendam.
Kondisi ini juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri karena adanya kabel listrik yang menjuntai rendah dan tersentuh air banjir.
Salah seorang warga, Nadillah, mengaku banjir membuatnya khawatir melintas di malam hari.
“Kalau sudah malam, saya takut lewat jalan yang terendam banjir. Kalau pulang kerja malam, saya lebih memilih menginap di rumah teman daripada pulang ke rumah,” ujarnya.
Ia menuturkan bahwa banjir merupakan peristiwa rutin setiap tahun di wilayah tersebut.
Warga pun berharap ada perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait agar penanganan dilakukan secara menyeluruh dan efektif.
Sementara itu, Kepala Desa Suka Maju, Didik Budi Cahyanto, menjelaskan bahwa secara geografis desanya berada di posisi paling rendah, sehingga menjadi tumpuan luapan air dari wilayah sekitar.
“Ibarat kuali, desa kami ini berada di lekukan paling bawah dan menjadi tumpuan luapan air sungai,” jelasnya.
Menurut Didik, sedimentasi Sungai Lagan yang telah berlangsung lama menjadi penyebab utama banjir tahunan yang terus berulang.
Pendangkalan sungai dan tumbuhnya rumput di tengah aliran membuat kapasitas tampung air semakin berkurang.
“Pembersihan memang pernah dilakukan dengan alat berat, tapi tidak efektif karena hanya menjangkau bagian pinggir sungai,” ujarnya.
Ia menilai, penanganan optimal membutuhkan eksavator amfibi agar pembersihan dan pengerukan bisa dilakukan hingga ke bagian tengah sungai.
Sehingga aliran air kembali normal dan banjir dapat diminimalkan.
Akibat banjir ini, sejumlah kepala keluarga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat yang tidak terdampak.
Selain itu, pasar tradisional Suka Maju juga tidak dapat digunakan sementara waktu karena terendam air.
“Saat ini pedagang terpaksa berjualan di bahu jalan dan akses masuk kantor desa,” terang Didik.
Meski pengelolaan pasar berada di bawah kewenangan Dinas Perindag Tanjab Timur, Pemerintah Desa Suka Maju tetap memberi kelonggaran bagi pedagang untuk berjualan sementara, dengan catatan menjaga kebersihan lingkungan.
Banjir tahunan di Desa Suka Maju ini kembali menjadi sorotan, sekaligus pengingat perlunya penanganan serius terhadap sedimentasi Sungai Lagan agar warga tidak terus-menerus hidup dalam ancaman banjir setiap musim hujan.(*)
