Jadi Diri Sendiri Kok Takut?

SEPUCUKJAMBI.ID – Rasa takut tidak diterima kerap menjadi penghalang seseorang untuk bersikap apa adanya dalam pertemanan.

Overthinking, kecemasan berlebih, hingga perasaan tidak bebas muncul ketika individu merasa harus menyesuaikan diri demi mendapatkan penerimaan sosial.

Kondisi ini membuat sebagian orang seolah kehilangan ruang untuk menjadi diri sendiri.

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak terlepas dari relasi pertemanan.

Dalam proses tersebut, setiap individu akan bertemu  karakter, sifat, kebiasaan, dan latar belakang yang berbeda.

Lingkungan sosial serta pola pikir turut memengaruhi terbentuknya hubungan pertemanan.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan informasi, tekanan sosial semakin terasa, terutama di kalangan anak muda.

Media sosial memperkuat kondisi tersebut melalui tren yang diikuti demi pengakuan dan popularitas.

Tidak jarang, seseorang melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi, bahkan menutupi perasaan dan identitas diri agar selaras dengan lingkungan pertemanan.

Fenomena ini membuat sebagian individu merasa seperti memakai “topeng” dalam kehidupan sosial.

Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menimbulkan ketidaknyamanan, tekanan emosional, hingga stres yang berdampak pada kesehatan mental.

Penyesuaian diri dalam pertemanan memang diperlukan, namun tidak seharusnya mengorbankan jati diri. Memaksakan diri untuk menjadi pribadi yang diinginkan orang lain justru dapat menimbulkan rasa tertekan dan kehilangan kebebasan.

Keberanian untuk menjadi diri sendiri menjadi kunci dalam membangun pertemanan yang sehat.

Hubungan yang dilandasi kejujuran, saling percaya, dan saling menerima cenderung lebih nyaman serta bertahan lama.

Kepercayaan diri berperan penting dalam menunjukkan jati diri.

Sikap ini dapat dibangun melalui pandangan positif terhadap diri sendiri, menjaga pola hidup sehat, mengelola stres, serta memilih lingkungan pertemanan yang mendukung.

Individu yang percaya diri cenderung lebih berpikir positif dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial.

Namun, tidak semua pertemanan dapat berjalan selaras. Perbedaan pandangan dan ketidakcocokan karakter merupakan hal yang wajar.

Dalam kondisi tersebut, menjaga jarak atau mengakhiri pertemanan dapat menjadi langkah bijak demi menjaga kenyamanan dan kesehatan mental.

Berakhirnya sebuah pertemanan bukan berarti kegagalan.

Dengan tetap percaya diri dan mempertahankan jati diri, setiap individu memiliki peluang untuk menemukan lingkungan sosial yang lebih sehat dan menerima apa adanya. Di tengah dinamika kehidupan sosial, keberanian menjadi diri sendiri menjadi fondasi penting dalam membangun pertemanan yang tulus dan bermakna.(*)




Astra Honda SDGs Future Leaders 2025 Dorong Generasi Muda, untuk Pembangunan Berkelanjutan

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Yayasan Astra Honda Motor (Yayasan AHM) menegaskan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan dengan melibatkan generasi muda melalui program Astra Honda SDGs Future Leaders 2025 (SFL).

Mengusung tema “Synergy for Sustainability”, program ini diikuti oleh 259 tim mahasiswa dari 116 perguruan tinggi di 29 provinsi dengan ide kontribusi sosial yang berdampak di masing-masing wilayah.

Rangkaian kegiatan SFL 2025 yang berlangsung dari Juli hingga November 2025 memilih tiga tim terbaik berdasarkan kreativitas, kebermanfaatan program, dan potensi keberlanjutan.

Implementasi ide ketiga tim pemenang ini didukung Yayasan AHM dengan total pendanaan senilai Rp126 juta.

Tim Pemuda Berkarya dari Universitas PGRI Madiun meraih posisi terbaik dengan program Pemberdayaan Petani Madu di Dusun Maron, Madiun. Program ini membantu puluhan petani melalui penanaman pohon bunga sebagai sumber pakan lebah, penerapan IoT untuk penyiraman, serta pembuatan alat pemanen madu modern.

Selain itu, inisiasi wisata edukasi pemberdayaan lebah membuka potensi pendapatan baru bagi masyarakat setempat.

“Kami ucapkan terima kasih atas dukungan Yayasan AHM. Kami diberikan ruang untuk langsung terjun ke masyarakat dalam menjawab isu sosial terkait ekonomi dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Yoga Ferry Pradana, Ketua Tim Pemuda Berkarya.

Tim Gehu dari Universitas Diponegoro mengusung program Mengubah Limbah Tahu Menjadi Pupuk Cair Biofertilizer di Desa Gogik, Semarang.

Sementara tim Arunika Berdaya dari Universitas Gadjah Mada menjalankan Aksi Konservasi Energi dan Air di Pesisir Pantai Kayu Arum, Gunungkidul, Yogyakarta.

Seluruh tim terbaik mendapatkan pendampingan mentor profesional selama implementasi program.

Ketua Yayasan AHM, Ahmad Muhibbuddin, menekankan bahwa program ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menumbuhkan kepemimpinan sosial dan mendorong percepatan pencapaian SDGs di Indonesia.

“Kami ingin mahasiswa memiliki kepekaan sosial dengan turut andil menciptakan solusi berkelanjutan yang berdampak,” ujar Muhibbuddin.

Selain pendanaan, ketiga tim terbaik juga menerima beasiswa pendidikan berdasarkan evaluasi akhir.

Tim Pemuda Berkarya mendapatkan beasiswa Rp10 juta, Tim Gehu Rp7,5 juta, dan Tim Arunika Berdaya Rp6 juta.

Ajang SFL 2025 menantang mahasiswa untuk merespons masalah sosial di masyarakat melalui seleksi proposal, presentasi, hingga evaluasi lapangan, guna memastikan setiap inisiatif berjalan terukur, kolaboratif, dan berdampak jangka panjang.(*)




Ditbinmas Polda Jambi Bekali Purna Paskibraka 2025, dengan Wawasan Kebangsaan dan Nilai Pancasila

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) melalui Ditbinmas Polda Jambi terus memperluas model pembinaan masyarakat berbasis kolaborasi lintas sektor.

Terbaru, Polda Jambi bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) menggelar kegiatan penambahan dan pembekalan wawasan kebangsaan bagi Purna Paskibraka Provinsi Jambi Tahun Anggaran 2025.

Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (7/11/2025) di Shang Ratu Hotel Jambi ini mengusung tema “Membangun Purna Paskibraka yang Berkarakter Pancasila, Disiplin, Tangguh, dan Berintegritas.”

Sebanyak 45 peserta Purna Paskibraka dan 5 orang panitia ikut ambil bagian dalam pembekalan tersebut.

Narasumber utama sekaligus pemateri, AKBP Dr. Dadang Djoko Karyanto, M.H., M.Pd., membawakan materi bertajuk “Sinergisitas Polri dan Purna Paskibraka sebagai Teladan Ketangguhan dan Ketertiban” dengan konsep “Sinergi Tangguh”.

Dalam paparannya, Dadang menekankan pentingnya sinergi antara Polri dan Purna Paskibraka sebagai bentuk konkret teladan moral, disiplin, dan ketertiban bagi generasi muda.

“Sinergi ini berakar dari semangat satu hati untuk negeri. Purna Paskibraka memiliki nilai disiplin dan keteguhan,” sebutnya.

“Sedangkan Polri memiliki fungsi preemtif-humanis. Jika dipadukan, keduanya menjadi kekuatan moral dalam menjaga tatanan sosial,” jelas Dadang.

Ia juga memperkenalkan konsep growth mindset (pola pikir bertumbuh) yang dikembangkan oleh Dr. Carol S. Dweck, sebagai pendekatan penting dalam membangun karakter pemuda di era perubahan yang cepat.

Selain itu, Dadang memaparkan model kolaboratif lintas pemangku kepentingan yang saat ini tengah ia jalankan sebagai Project Leader penguatan karakter siswa di Jambi.

Program ini merupakan kerja sama Ditbinmas Polda Jambi dengan Dinas Pendidikan dan MKKS SMK se-Kota Jambi, berfokus pada tiga nilai utama: Value, Sustainable Culture, dan Exemplary.

“Pertahanan dan ketertiban nasional bukan hanya tanggung jawab aparat keamanan, tetapi juga tanggung jawab bersama,” kata dia.

“Purna Paskibraka adalah ikon keteladanan disiplin, dan Polri hadir sebagai mitra edukatif dalam membangun kesadaran hukum. Itulah makna sinergi tangguh,” tegasnya.

Secara strategis, kegiatan ini sejalan dengan arah kebijakan pembangunan nasional 2025–2029, khususnya dalam penguatan karakter bangsa dan peningkatan Kamtibmas berbasis pencegahan.

Sinergi antara Polri dan Purna Paskibraka menjadi contoh model kepemimpinan kolaboratif, yang tidak hanya menekankan aspek disiplin fisik.

Tetapi juga keteguhan moral kebangsaan sebagai kompas utama generasi muda dalam menghadapi tantangan era digital.(*)