Kenapa Gen Z Lebih Berani Investasi Kripto? Ini Penjelasan OJK

SEPUCUKJAMBI.ID – Minat tinggi Generasi Z terhadap investasi kripto terus menjadi sorotan publik.

Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa fenomena tersebut tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan rendahnya literasi keuangan generasi muda.

Menurut OJK, pilihan Gen Z terhadap aset berisiko tinggi justru mencerminkan pergeseran cara pandang dan prioritas dalam mengelola keuangan.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyampaikan bahwa kecenderungan Gen Z memilih kripto sebagai instrumen investasi menunjukkan pemahaman risiko yang relatif baik.

Ia menilai, generasi muda menyadari risiko tinggi yang melekat pada aset digital, namun tetap menjadikannya pilihan karena sesuai dengan kebutuhan dan tujuan finansial mereka.

Mahendra menekankan bahwa perbedaan utama terletak pada pendekatan rasional yang digunakan setiap generasi dalam mengambil keputusan keuangan.

Menurutnya, jika literasi keuangan hanya dipahami secara konvensional, maka akan muncul kesimpulan keliru bahwa Gen Z kurang memahami pengelolaan keuangan.

“Bisa jadi mereka sudah memahami risikonya, tetapi prioritasnya berbeda. Cara pandang mereka rasional sesuai kebutuhan zaman. Jadi bukan semata soal tidak mengerti, melainkan bagaimana pemahaman itu diterapkan,” ungkap Mahendra.

Ia menjelaskan bahwa generasi sebelum Gen Z umumnya menjalani tahapan pengelolaan keuangan yang lebih konservatif.

Fokus awal diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar, kemudian menabung, membangun pendapatan stabil, dan baru setelah itu masuk ke dunia investasi.

Dalam berinvestasi, generasi sebelumnya juga cenderung memilih jalur yang bertahap.

Instrumen berisiko rendah seperti deposito atau produk berimbal hasil tetap menjadi pintu masuk awal sebelum beralih ke reksa dana dan saham.

Aset berisiko tinggi seperti kripto biasanya baru dipertimbangkan jika terdapat dana lebih.

Sementara itu, Gen Z menunjukkan pola yang berbeda. Mereka relatif lebih berani mengambil risiko sejak awal, termasuk langsung masuk ke aset kripto.

OJK menilai hal ini tidak selalu berarti spekulatif, melainkan menunjukkan adaptasi terhadap perkembangan teknologi, akses informasi yang luas, serta karakter pasar digital yang lebih cepat.

Perubahan pola ini menjadi tantangan tersendiri bagi regulator. OJK menilai pendekatan edukasi keuangan perlu disesuaikan dengan karakter generasi muda.

Edukasi tidak lagi cukup hanya menekankan urutan investasi konvensional, tetapi juga harus memahami pola pikir Gen Z yang lebih fleksibel, cepat, dan berbasis peluang.

Dengan meningkatnya jumlah investor muda di aset kripto dan pasar modal digital, OJK menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat literasi keuangan yang relevan dengan zaman.

Selain itu, pengawasan juga akan diperketat agar aktivitas investasi tetap berjalan secara sehat, bertanggung jawab, dan sesuai dengan profil risiko masing-masing individu.

OJK berharap, dengan pendekatan edukasi yang adaptif, minat Gen Z terhadap investasi termasuk kripto dapat menjadi potensi positif bagi pertumbuhan pasar keuangan nasional tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian.(*)




Sleep Call Jadi Tren Anak Muda, Ini Manfaat dan Dampaknya bagi Kesehatan

SEPUCUKJAMBI.ID – Sleep call menjadi salah satu tren yang populer di kalangan pasangan muda.

Aktivitas ini merujuk pada kebiasaan menelepon atau melakukan video call dengan pasangan hingga tertidur.

Meski terdengar romantis, sleep call tidak sekadar soal menemani tidur karena di balik kehangatan yang ditawarkan, kebiasaan ini juga menyimpan sejumlah dampak yang perlu diperhatikan.

Secara bahasa, sleep call berarti “panggilan tidur”, namun dalam praktiknya, istilah ini mengacu pada aktivitas komunikasi jarak jauh yang dilakukan pasangan pada malam hari dan berakhir ketika salah satu atau keduanya tertidur.

Kegiatan ini biasanya berlangsung saat kesibukan mulai mereda, sehingga pasangan memiliki waktu lebih leluasa untuk berbincang.

Awalnya, sleep call banyak dilakukan oleh pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR).

Keterbatasan pertemuan fisik membuat panggilan malam menjadi sarana untuk menjaga kedekatan emosional.

Namun seiring meningkatnya penggunaan ponsel pintar, tren ini juga mulai dilakukan oleh pasangan yang tinggal di kota atau wilayah yang sama dan menjadikannya sebagai rutinitas harian.

Aktivitas sleep call bagi pasangan memberi sejumlah manfaat selain rasa aman dan nyaman, yaitu.

1. Mempererat Hubungan

Pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh atau LDR biasanya menjadikan sleep call sebagai salah satu sarana untuk mempererat hubungan.

Karena berbagai kesibukan sepanjang hari, biasanya mereka hanya bisa berkomunikasi dengan leluasa saat malam.

2. Membuat Tidur Lebih Cepat

Sleep call juga dapat membantu seseorang tidur lebih cepat dengan menceritakan apa yang masih membebani pikirannya pada lawan bicara (pasangan).

Pikiran akan menjadi lebih tenang dan tidur pun lebih cepat dan nyenyak.

3. Mengatasi Rasa Kesepian

Selain pada pasangan, sleep call juga bisa dilakukan antara teman atau keluarga untuk mengatasi rasa kesepian, terutama bagi mereka yang tinggal sendirian di tempat rantau dan jauh dari keluarga.

Bahaya Sleep Call bagi Kesehatan

Meski memberi kenyamanan emosional, sleep call tidak selalu berdampak positif. Jika dilakukan terlalu sering atau tanpa batasan, kebiasaan ini justru bisa mengganggu kesehatan fisik dan mental.

Sleep call berpotensi membuat seseorang sulit menetapkan batasan pribadi. Ketergantungan pada kehadiran pasangan setiap malam dapat mengurangi ruang untuk diri sendiri, padahal setiap orang tetap membutuhkan waktu istirahat tanpa distraksi.

1. Kekurangan Tidur yang Berpengaruh pada Emosi

Kurangnya waktu tidur dapat berpengaruh pada pengendalian emosi dan mood seseorang.

Kekurangan tidur akibat sleep call juga bisa membuat seseorang sulit mengendalikan emosi dan akhirnya akan berpengaruh pada relasi sosialnya.

2. Rentan Konflik dengan Keluarga atau Lingkungan Sekitar

Aktivitas sleep call mungkin mengganggu anggota keluarga lain yang tinggal serumah atau tetangga kamar kos/kontrakan.

Pengendalian emosi yang buruk juga dapat menimbulkan konflik dengan keluarga atau lingkungan sekitar tempat tinggal.

3. Menurunkan Mutu Quality Time

Sebagian orang pasti memerlukan quality time dengan pasangan sehingga melakukan sleep call.

Namun, terlalu sering sleep call juga justru dapat menurunkan mutu dari quality time itu sendiri.

Quality time bersama orang terdekat kita yang lain juga terganggu karena mungkin kita sudah lelah karena sleep call.

4. Meningkatkan Kelelahan dan Stres

Sleep call biasanya dilakukan saat malam ketika tubuh dan pikiran kita seharusnya beristirahat.

kegiatan ini bisa memaksa pikiran kita terus berjalan dan tubuh kekurangan istirahat.

Sehingga keesokan harinya kita bangun dengan perasaan lelah dan stres yang meningkat.

5. Frustrasi karena Lelah Bertumpuk

Jika kelelahan dan stres itu terus bertumpuk dan berkepanjangan tanpa bisa dikurangi, kita akan merasa frustrasi dan berpengaruh pada kesehatan mental.

Sleep call menawarkan kehangatan dan rasa dekat bagi banyak pasangan, terutama di tengah keterbatasan jarak.

Namun, tanpa pengelolaan yang bijak, kebiasaan ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan dan kualitas hubungan.

Menjaga keseimbangan antara komunikasi dan istirahat menjadi kunci agar sleep call tetap memberi manfaat,nyaman dan aman.




Tiga Tips Perawatan kulit Dasar yang Wajib Diketahui Gen Z

SEPUCUKJAMBI.ID – Perawatan kulit kini semakin menjadi bagian dari gaya hidup sehat kalangan Gen Z.

Jika dulu skincare dianggap eksklusif dan hanya penting bagi orang dewasa, kini remaja pun mulai memahami bahwa menjaga kulit merupakan bentuk self-care sekaligus upaya menjaga kesehatan fisik dan mental.

Kesadaran ini muncul seiring banyaknya informasi mengenai pentingnya skin barrier dan perlindungan kulit.

Meski demikian, salah informasi dari media sosial masih sering membuat Gen Z salah memilih produk atau langkah perawatan.

Kulit yang sehat bukan hanya soal penampilan, tetapi juga berperan sebagai garis pertahanan tubuh dari polusi, paparan sinar UV, mikroorganisme, hingga kerusakan lingkungan.

Untuk menjaga kesehatan kulit,ada tiga langkah utama yang dapat diterapkan Gen Z dalam rutinitas harian:

  • Membersihkan wajah untuk mengangkat debu, minyak berlebih, dan sisa make-up yang menempel sepanjang hari.
  • Menggunakan pelembap guna menjaga kekuatan lapisan pelindung kulit sehingga tetap lembap dan tidak mudah iritasi.
  • Mengoleskan tabir surya setiap hari sebagai pelindung dari sinar UV, bahkan saat beraktivitas di dalam ruangan.

Tambahan seperti serum atau masker bisa digunakan sesuai kebutuhan kulit, misalnya untuk mencerahkan atau mengontrol minyak.

Selain itu, gunakan juga beberapa bahan aktif yang terbukti efektif dan aman digunakan bagi kulit muda seperti kandungan nano niacinamide, hyaluronic zinc dan ceramide.

Ini membantu mencerahkan kulit tanpa menyebabkan iritasi, mengontrol produksi sebum berlebih pada kulit wajah dan memperkuat lapisan pelindung kulit.(*)




Minat Baca Indonesia Naik, Gen Z Jadi Pendorong Utama Pertumbuhan Literasi

SEPUCUKJAMBI.ID – Minat baca masyarakat Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Terutama berkat dorongan kuat dari generasi muda, khususnya Gen Z.

Para penggiat literasi menilai perkembangan ini sebagai sinyal positif bagi penguatan budaya membaca di Tanah Air.

Data terbaru Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Tingkat Gemar Membaca (TGM) nasional naik dari 66,77 pada 2023 menjadi 72,44 pada 2024.

Kenaikan tersebut tidak hanya berasal dari meningkatnya jumlah buku yang dibaca.

Tetapi juga dari semakin populernya konsumsi bacaan digital, seperti e-book, artikel daring, serta konten literasi di media sosial.

Tren seperti booktok dan bookgram terbukti mendorong anak muda lebih aktif membaca sekaligus membentuk ekosistem literasi yang kreatif.

Salah satu penggiat literasi nasional menyebut bahwa Gen Z menjadi motor utama pertumbuhan literasi.

Mereka dinilai lebih adaptif dengan format digital dan aktif membangun komunitas baca yang dinamis.

Tak hanya dunia digital, literasi dalam bentuk fisik juga tumbuh signifikan.

Berbagai pameran buku seperti Big Bad Wolf Books maupun book fair lokal selalu mendapat sambutan meriah, terutama dari anak-anak, remaja, hingga keluarga.

Program pemerintah seperti Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan layanan perpustakaan digital iPusnas juga dinilai mulai memberikan dampak.

Meski akses buku fisik di beberapa daerah masih menjadi tantangan.

Namun, para ahli literasi mengingatkan bahwa meningkatnya minat baca belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kualitas literasi.

Banyak anak muda masih lebih sering memilih bacaan populer atau konten cepat.

Sehingga kemampuan analisis dan pemahaman bacaan belum turut meningkat secara signifikan.

Survei nasional serta data dari BBW Books menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia rata-rata membaca sekitar enam buku per tahun.

Angka ini menunjukkan bahwa meski tren membaca meningkat, kebiasaan membaca rutin masih relatif rendah dan belum merata di berbagai wilayah.

Meski demikian, para pengamat melihat tren positif ini sebagai peluang besar untuk memperkuat budaya baca nasional.

Pemanfaatan teknologi, pengembangan konten digital, serta komunitas literasi kreatif dinilai mampu memperluas akses terhadap bacaan berkualitas dan menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini.

Generasi muda, khususnya Gen Z, diharapkan menjadi ujung tombak transformasi literasi.

Tidak hanya membaca untuk hiburan, tetapi turut mengembangkan komunitas literasi yang inklusif dan kolaboratif.

Dengan momentum yang dipimpin generasi muda, para penggiat literasi optimistis bahwa peningkatan minat baca masyarakat dapat terus berlanjut.

Sehingga Indonesia mampu membangun budaya membaca yang kuat, berkelanjutan, dan merata di masa depan.(*)