Klaim Penyakit Kronis Terus Naik, BPJS Kesehatan Tekankan Gaya Hidup Sehat

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Sepanjang tahun 2025, BPJS Kesehatan mencatat total pembayaran biaya pelayanan kesehatan mencapai Rp190,3 triliun.

Angka tersebut mencakup layanan kesehatan primer di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) hingga pelayanan kesehatan rujukan di rumah sakit.

Dari total tersebut, lebih dari Rp50,2 triliun dialokasikan untuk membiayai 59,9 juta kasus penyakit kronis. Penyakit yang mendominasi antara lain jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, sirosis hati, thalassemia, dan hemofilia.

Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, mengungkapkan bahwa penyakit jantung menjadi penyumbang klaim terbesar dengan total 29,7 juta kasus dan biaya mencapai Rp17,3 triliun.

“Selanjutnya disusul gagal ginjal dengan 12,6 juta kasus dan biaya Rp13,3 triliun, serta kanker sebanyak 7,2 juta kasus dengan biaya Rp10,3 triliun,” ujarnya, Jumat (23/01).

Rizzky menambahkan, tren biaya penyakit kronis terus meningkat dari tahun ke tahun. Padahal, sebagian besar penyakit tersebut dapat dicegah sejak dini melalui penerapan pola hidup sehat.

“Penyakit kronis sangat erat kaitannya dengan gaya hidup. Jika pencegahan dilakukan secara konsisten, risiko dan beban biaya dapat ditekan,” jelasnya.

Sebagai langkah preventif, BPJS Kesehatan menginisiasi program Gerak 335, yaitu aktivitas fisik sederhana berupa jalan santai selama tiga menit, dilanjutkan jalan cepat tiga menit, dan diulang sebanyak lima kali hingga mencapai total 30 menit.

Aktivitas ini dapat dilakukan kapan saja tanpa memerlukan alat khusus.

Selain aktivitas fisik, BPJS Kesehatan juga mendorong masyarakat melakukan Skrining Riwayat Kesehatan melalui Aplikasi Mobile JKN, WhatsApp PANDAWA di nomor 08118165165, website resmi BPJS Kesehatan, atau langsung di FKTP.

“Prosesnya hanya membutuhkan waktu 5–10 menit, tetapi manfaatnya sangat besar karena bisa mendeteksi risiko penyakit kronis sejak dini,” kata Rizzky.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Gizi Poltekkes Kemenkes Jakarta II, Prof Trina Astuti, menekankan bahwa penyakit kronis umumnya membutuhkan pengobatan jangka panjang.

Oleh karena itu, pencegahan melalui pola hidup sehat menjadi kunci utama.

Menjelang peringatan Hari Gizi Nasional ke-66 pada 25 Januari, Prof Trina mengingatkan pentingnya penerapan empat Pilar Gizi Seimbang, yakni mengonsumsi makanan beragam, membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat, aktif bergerak, serta menjaga berat badan tetap normal.

Ia juga mengajak masyarakat menerapkan panduan makan “Isi Piringku”, dengan komposisi setengah piring berisi sayur dan buah, seperempat piring karbohidrat, serta seperempat piring protein hewani atau nabati.

“Selain itu, konsumsi gula, garam, dan lemak juga perlu dibatasi agar risiko penyakit kronis dapat ditekan,” pungkasnya.(*)




Waspada! Paparan Polusi Udara Bisa Merusak Mata Secara Perlahan

SEPUCUKJAMBI.ID – Polusi udara selama ini identik dengan gangguan pernapasan dan penyakit jantung. Namun, dampaknya tidak berhenti di sana.

Mata sebagai organ yang terus terbuka dan terpapar langsung lingkungan menjadi salah satu bagian tubuh yang paling rentan terhadap kualitas udara yang buruk.

Berbagai polutan di udara seperti partikel halus PM2.5 dan PM10, nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), ozon (O₃), asap kendaraan bermotor, hingga emisi industri dapat langsung memicu iritasi pada permukaan mata.

Zat-zat ini mengganggu lapisan air mata yang berfungsi sebagai pelindung alami, membuat mata lebih cepat kering dan mudah teriritasi.

Paparan polusi yang terjadi secara terus-menerus tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga berpotensi menyebabkan stres oksidatif pada jaringan mata.

Partikel berukuran sangat kecil dapat menembus lapisan pelindung mata dan merusak sel-sel sehat, terutama jika diketahui paparan berlangsung dalam jangka panjang.

Sejumlah kelompok diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan mata akibat polusi udara.

Masyarakat perkotaan dengan kualitas udara buruk, pekerja luar ruangan seperti petugas lalu lintas dan pekerja konstruksi, anak-anak, serta lansia termasuk kelompok yang paling rentan.

Risiko juga meningkat pada individu dengan kondisi mata tertentu, seperti dry eye syndrome, alergi mata, atau pengguna lensa kontak.

Gejala gangguan mata akibat polusi sering kali dianggap sepele.

Mata kering, perih, gatal, kemerahan, berair berlebihan, sensitif terhadap cahaya, atau sensasi seperti ada pasir di mata merupakan tanda awal yang patut diwaspadai.

Pada kondisi tertentu, polusi udara bahkan dapat memperparah peradangan mata seperti konjungtivitis atau meningkatkan risiko infeksi.

Apabila keluhan mata tidak membaik meski sudah menggunakan tetes mata pelumas atau mengistirahatkan mata, pemeriksaan ke dokter spesialis mata sangat dianjurkan.

Evaluasi profesional diperlukan untuk menilai produksi air mata, kondisi permukaan mata, serta mendeteksi kemungkinan peradangan atau kerusakan yang lebih serius.

Untuk mengurangi risiko, terdapat sejumlah langkah pencegahan yang dapat dilakukan dalam aktivitas sehari-hari.

Menggunakan kacamata pelindung atau sunglasses saat beraktivitas di luar ruangan membantu mengurangi kontak langsung polutan dengan mata.

Selain itu, membatasi penggunaan lensa kontak saat kualitas udara buruk dan menjaga kebersihan tangan juga penting untuk mencegah iritasi maupun infeksi.

Penggunaan air mata buatan tanpa pengawet dapat membantu menjaga kelembapan mata, terutama bagi mereka yang sering terpapar polusi.

Memantau Indeks Kualitas Udara (AQI) melalui aplikasi atau situs resmi juga menjadi langkah cerdas agar aktivitas luar ruangan bisa disesuaikan dengan kondisi udara.

Di dalam ruangan, air purifier dapat membantu menyaring partikel berbahaya yang masuk dari luar, sehingga kualitas udara dalam rumah lebih terjaga.

Langkah ini tidak hanya melindungi mata, tetapi juga sistem pernapasan secara keseluruhan.

Polusi udara merupakan ancaman yang sering kali tidak disadari dampaknya terhadap kesehatan mata.

Kesadaran akan gejala, pemahaman faktor risiko, dan penerapan perlindungan sederhana dapat membantu menjaga kenyamanan mata dan mempertahankan kualitas penglihatan di tengah tantangan lingkungan perkotaan yang semakin kompleks.(*)




Tidur Lebih Nyaman dan Sehat, Ini Jadwal Ideal Mengganti Sprei

SEPUCUKJAMBI.ID -Tidur berkualitas tidak hanya ditentukan oleh durasi dan posisi tubuh, tetapi juga oleh kebersihan tempat tidur.

Tanpa disadari, sprei yang digunakan setiap malam menyimpan berbagai partikel tak kasat mata mulai dari keringat, minyak tubuh, sel kulit mati, hingga mikroorganisme seperti bakteri dan tungau debu.

Jika jarang diganti, sprei bisa berubah menjadi sumber gangguan kesehatan.

Menurut berbagai kajian kebersihan dan kesehatan lingkungan, sprei idealnya diganti dan dicuci minimal satu kali dalam seminggu.

Kebiasaan ini dinilai paling aman untuk menjaga kebersihan kulit, kualitas udara saat tidur, serta kesehatan saluran pernapasan.

Selama tujuh hari pemakaian, tubuh manusia dapat melepaskan jutaan sel kulit mati yang kemudian menempel di kain sprei.

Dalam kondisi tertentu, frekuensi mengganti sprei bahkan dianjurkan lebih sering.

Tinggal di daerah beriklim panas atau lembap, mudah berkeringat di malam hari, atau tidur dengan pendingin ruangan yang kurang optimal bisa mempercepat penumpukan kotoran di tempat tidur.

Pada situasi ini, mengganti sprei setiap 4–5 hari dinilai lebih ideal.

Tak hanya faktor lingkungan, kondisi pribadi juga memengaruhi jadwal penggantian sprei.

Orang dengan riwayat alergi, asma, atau kulit sensitif cenderung lebih rentan terhadap tungau debu.

Sprei yang jarang dicuci bisa memicu bersin, hidung tersumbat, mata gatal, hingga iritasi kulit saat bangun tidur.

Kebiasaan sehari-hari pun ikut berperan. Makan di atas tempat tidur, tidur tanpa pakaian, atau membiarkan hewan peliharaan naik ke kasur meningkatkan jumlah bakteri dan kotoran yang menempel di kain.

Dalam kondisi ini, sprei sebaiknya diganti lebih sering dari jadwal normal.

Saat tubuh sedang sakit, seperti demam atau flu, kebersihan sprei menjadi semakin penting.

Mencuci sprei setiap beberapa hari dapat membantu mencegah bakteri dan virus bertahan di kain, sekaligus mengurangi risiko infeksi ulang setelah tubuh mulai pulih.

Meski ada yang merasa mengganti sprei dua minggu sekali masih nyaman, para pakar menilai interval tersebut merupakan batas maksimum, bukan kebiasaan ideal terutama jika kasur digunakan setiap hari.

Selain sprei, sarung bantal (pillowcase) juga perlu perhatian khusus. Karena bersentuhan langsung dengan wajah dan rambut, sarung bantal lebih cepat menyerap minyak alami kulit, keringat, dan sisa produk perawatan wajah.

Banyak ahli menyarankan sarung bantal dicuci dua kali seminggu, khususnya bagi pemilik kulit sensitif atau berjerawat.

Pada akhirnya, rutinitas mengganti sprei bukan sekadar soal kebersihan visual atau aroma segar.

Kebiasaan sederhana ini berperan besar dalam menjaga kesehatan kulit, kualitas tidur, dan kenyamanan bernapas sepanjang malam.

Tidur di sprei bersih dapat membantu tubuh beristirahat lebih optimal dan bangun dengan perasaan lebih segar.(*)




Dampak Menahan Kencing, Risiko Infeksi dan Batu Kandung Kemih

SEPUCUKJAMBI.ID – Menahan kencing sering dianggap sepele. Banyak orang melakukannya karena kesibukan, pekerjaan yang tidak memungkinkan, atau sekadar menunda karena merasa “masih bisa ditahan”.

Padahal, kebiasaan ini berisiko serius bagi kesehatan, terutama jika dilakukan berulang dan dalam jangka panjang.

Kandung kemih berfungsi sebagai tempat penampungan urine sementara sebelum dikeluarkan dari tubuh.

Saat kandung kemih penuh, tubuh mengirimkan sinyal untuk segera buang air kecil.

Jika sinyal ini diabaikan terus-menerus, kandung kemih akan mengalami tekanan berlebih dan fungsi normalnya terganggu.

Dampak paling umum akibat menahan kencing adalah infeksi saluran kemih (ISK). Urine yang tertahan terlalu lama menjadi lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri.

Gejala yang muncul meliputi rasa perih saat kencing, sering ingin buang air kecil tapi sedikit keluar, hingga urine berbau tidak sedap.

Selain itu, menahan kencing juga bisa melemahkan otot kandung kemih. Otot yang terus menahan beban kehilangan elastisitas, sehingga kandung kemih kurang optimal dalam mengosongkan urine.

Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan saluran kemih di kemudian hari.

Tekanan berlebih pada kandung kemih juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman di perut bawah, seperti nyeri, kram, atau sensasi penuh yang mengganggu aktivitas.

Jika terus terjadi, ketidaknyamanan ini bisa berkembang menjadi masalah kesehatan serius.

Dalam jangka panjang, urine yang tertahan dapat menyebabkan pengendapan mineral di kandung kemih, berpotensi menjadi batu kandung kemih, terutama jika asupan cairan kurang.

Tekanan dari kandung kemih yang terlalu penuh bahkan bisa memengaruhi fungsi ginjal.

Kebiasaan menahan kencing umum terjadi pada pekerja dengan mobilitas tinggi, pengemudi jarak jauh, pelajar, atau orang yang enggan menggunakan toilet umum.

Beberapa orang juga sengaja mengurangi minum untuk mengurangi frekuensi buang air kecil, padahal hal ini justru memperburuk kondisi tubuh.

Untuk menjaga kesehatan saluran kemih, segera ke toilet saat dorongan buang air kecil muncul.

Asupan cairan yang cukup dan tidak menunda kencing adalah langkah sederhana namun penting untuk melindungi kesehatan kandung kemih dan ginjal dalam jangka panjang.(*)




Mindful Eating, Solusi Makan Tenang di Tengah Kesibukan

SEPUCUKJAMBI.ID – Di tengah rutinitas padat, banyak orang makan sambil lalu sarapan sambil cek ponsel, makan siang di depan laptop, atau ngemil saat menonton.

Padahal, cara kita makan sangat memengaruhi kesehatan tubuh dan hubungan dengan makanan. Dari sinilah konsep mindful eating mulai populer.

Mindful eating adalah kebiasaan makan dengan penuh kesadaran, fokus pada pengalaman makan itu sendiri: rasa, tekstur, aroma, dan sinyal tubuh.

Tujuannya sederhana membantu kita lebih peka terhadap rasa lapar dan kenyang, sekaligus menikmati makanan tanpa rasa bersalah.

Berbeda dengan makan terburu-buru, mindful eating mengajak kita memperlambat ritme. Saat makan dengan tenang, otak memiliki waktu menerima sinyal kenyang dari tubuh.

Hasilnya, banyak orang merasa lebih mudah mengontrol porsi makan tanpa harus menghitung kalori.

Manfaat mindful eating bukan hanya soal berat badan. Kebiasaan ini juga memperbaiki hubungan emosional dengan makanan, membantu membedakan lapar fisik dan lapar emosional akibat stres, bosan, atau emosi tertentu.

Dengan cara ini, keputusan makan menjadi lebih sehat.

Selain itu, mindful eating bermanfaat bagi pencernaan. Mengunyah perlahan dan fokus saat makan membantu sistem pencernaan bekerja lebih optimal.

Risiko kembung atau begah dapat berkurang karena tubuh tidak “dipaksa” mencerna makanan secara terburu-buru.

Penerapan mindful eating tidak sulit. Bisa dimulai dari hal sederhana: makan tanpa distraksi layar, memperhatikan rasa setiap suapan, atau berhenti sejenak sebelum mengambil tambahan porsi.

Konsistensi dan kesadaran adalah kuncinya.

Di era media sosial, mindful eating juga menjadi bentuk perlawanan terhadap budaya serba instan.

Alih-alih mengejar tren makanan viral, mindful eating mengajak kita kembali pada fungsi dasar makanan: memberi energi dan merawat tubuh.

Pada akhirnya, mindful eating bukan soal membatasi diri, melainkan menghargai apa yang kita makan.

Dengan perhatian penuh, makanan terasa lebih nikmat, tubuh lebih dihargai, dan hubungan kita dengan makanan menjadi lebih sehat dan seimbang.(*)




5 Cara Menjaga Kesehatan Ginjal Agar Tetap Optimal

SEPUCUKJAMBI.ID – Ginjal merupakan organ vital dalam tubuh yang berperan menyaring darah, mengeluarkan limbah, dan menjaga keseimbangan cairan serta elektrolit.

Karena fungsinya sangat penting, menjaga kesehatan ginjal sejak dini menjadi kunci mencegah berbagai gangguan yang mungkin muncul tanpa gejala jelas. Berikut lima langkah sederhana untuk menjaga ginjal tetap sehat:

1. Pastikan Tubuh Terhidrasi dengan Baik

Air membantu ginjal membersihkan racun dan sisa metabolisme melalui urine. Kurang minum dapat menyebabkan dehidrasi dan meningkatkan risiko batu ginjal.

Biasakan minum air putih secara teratur sepanjang hari agar ginjal bekerja optimal.

2. Kurangi Asupan Garam

Terlalu banyak garam dapat meningkatkan tekanan darah dan menambah beban ginjal. Batasi makanan olahan, makanan cepat saji, mie instan, atau makanan kaleng untuk menjaga fungsi ginjal.

3. Kontrol Gula Darah

Kadar gula tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal. Menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga, dan memantau gula darah secara berkala membantu menstabilkan gula darah dan melindungi ginjal.

4. Hindari Konsumsi Alkohol Berlebihan

Alkohol berlebihan mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit serta meningkatkan tekanan darah. Membatasi atau menghindari alkohol membantu ginjal bekerja lebih efisien.

5. Berhenti Merokok

Rokok dan vaping merusak pembuluh darah, termasuk yang menuju ginjal. Menghentikan kebiasaan ini menurunkan risiko kerusakan ginjal dan menjaga aliran darah tetap lancar.

Selain langkah di atas, perhatikan gejala seperti nyeri saat buang air kecil, urine berbusa atau berdarah, serta pembengkakan di kaki atau wajah.

Segera konsultasikan ke tenaga medis jika gejala muncul. Dengan menerapkan gaya hidup sehat dan rutin memantau tanda tubuh, ginjal dapat tetap berfungsi optimal sepanjang hidup.(*)




Tren Tanaman Indoor dan Dampaknya bagi Kesehatan Fisik dan Mental

SEPUCUKJAMBI.ID – Tanaman hias kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai pelengkap dekorasi rumah yang estetik dan Instagram-able.

Di balik tampilan daunnya yang hijau dan bentuknya yang menarik, tanaman indoor ternyata menyimpan manfaat nyata bagi kesehatan fisik dan mental, terutama di tengah gaya hidup modern yang sarat tekanan.

Kehadiran tanaman di dalam rumah diketahui mampu menciptakan suasana yang lebih nyaman dan menenangkan.

Berada di sekitar tumbuhan dapat membantu menurunkan tingkat stres dan kecemasan setelah aktivitas harian yang padat.

Aktivitas sederhana seperti menyiram atau merawat tanaman bahkan dapat memicu respons relaksasi tubuh dan membantu menurunkan tekanan darah.

Selain menenangkan, tanaman indoor juga berkontribusi pada kejernihan mental. Lingkungan dengan elemen alami terbukti dapat meningkatkan fokus, suasana hati, serta produktivitas.

Sejumlah penelitian di ruang kerja menunjukkan bahwa keberadaan tanaman membuat seseorang lebih nyaman, lebih fokus, dan lebih menikmati aktivitas yang dilakukan di dalam ruangan.

Manfaat tanaman tidak hanya dirasakan secara psikologis, tetapi juga secara fisik.

Tanaman membantu memperbaiki kualitas udara di dalam rumah melalui proses fotosintesis, dengan menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen. Udara pun terasa lebih segar dan sehat.

Beberapa jenis tanaman bahkan dikenal mampu menyerap polutan tertentu di udara.

Senyawa organik volatil seperti formaldehida dan benzena, yang kerap berasal dari furnitur, cat, hingga produk pembersih rumah tangga, dapat dikurangi dengan kehadiran tanaman tertentu.

Peace lily, snake plant, dan spider plant termasuk tanaman indoor yang populer karena kemampuannya membantu membersihkan udara di dalam ruangan.

Selain itu, tanaman juga berperan dalam menjaga kelembapan udara secara alami. Melalui proses transpirasi, tanaman melepaskan uap air dari daunnya, sehingga membantu meningkatkan kelembapan ruangan.

Kondisi ini bermanfaat untuk mengurangi iritasi tenggorokan, kulit kering, serta membuat pernapasan lebih nyaman, terutama di ruangan ber-AC atau saat musim kering.

Tidak kalah penting, merawat tanaman dapat menjadi aktivitas terapeutik.

Rutinitas memindahkan pot, memangkas daun, atau sekadar memperhatikan pertumbuhan tanaman dapat menjadi bentuk mindfulness yang membantu seseorang sejenak menjauh dari layar gawai dan tekanan digital.

Meski tidak dapat sepenuhnya menggantikan alat pembersih udara modern, menempatkan beberapa tanaman indoor di ruang keluarga, kamar tidur, atau meja kerja dapat membuat rumah terasa lebih segar, tenang, dan sehat secara menyeluruh.(*)




Jahe, Solusi Alami untuk Mual, Nyeri Otot, dan Tubuh Lebih Sehat

SEPUCUKJAMBI.ID – Jahe bukan hanya bumbu dapur yang memberi rasa hangat dan aroma khas, tetapi juga memiliki manfaat kesehatan yang luar biasa.

Rempah ini telah digunakan secara tradisional di banyak negara, termasuk Indonesia, untuk membantu meredakan berbagai keluhan tubuh.

Salah satu manfaat jahe yang paling populer adalah meredakan mual.

Ibu hamil kerap memanfaatkan jahe untuk mengurangi mual di pagi hari, sementara pasien yang menjalani kemoterapi juga menggunakannya sebagai bantuan alami.

Senyawa aktif dalam jahe memengaruhi sistem saraf yang memicu rasa mual sehingga keluhan bisa lebih ringan.

Tidak hanya itu, jahe juga mendukung kesehatan pencernaan.

Konsumsi jahe dapat mempercepat proses pengosongan lambung, mengurangi rasa kembung atau perut penuh setelah makan. Inilah alasan teh jahe sering dikonsumsi setelah santap berat.

Selain itu, jahe memiliki sifat antiinflamasi, yang membantu meredakan nyeri otot, kekakuan sendi, bahkan keluhan kronis seperti artritis.

Rempah ini juga dipercaya mendukung kesehatan jantung, dengan potensi menurunkan kolesterol dan tekanan darah dua faktor risiko utama penyakit kardiovaskular.

Bagi perempuan, jahe kerap dimanfaatkan untuk meredakan kram menstruasi, karena efek hangat dan antiperadangannya membantu mengurangi kontraksi berlebihan pada otot rahim.

Jahe kaya akan antioksidan yang melindungi tubuh dari radikal bebas dan mendukung sistem imun.

Beberapa penelitian awal bahkan menunjukkan jahe dapat meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan gula darah pada penderita diabetes tipe 2.

Serta membantu mengontrol nafsu makan dan metabolisme untuk mendukung program penurunan berat badan.

Tak kalah penting, jahe juga memiliki sifat antibakteri dan antivirus ringan, membantu meredakan iritasi tenggorokan dan batuk.

Jahe dapat dinikmati dalam berbagai bentuk segar, bubuk, teh, atau dicampur dalam masakan.

Namun, konsumsi berlebihan tetap harus dihindari karena bisa mengganggu pencernaan atau berinteraksi dengan obat tertentu.

Dengan mengonsumsi jahe secara bijak dan seimbang, rempah ini bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang sederhana namun bermanfaat, meningkatkan kualitas hidup secara alami.(*)




Puasa Berselang Jadi Tren, Apa Manfaat dan Risikonya?

SEPUCUKJAMBI.ID Intermittent fasting atau puasa berselang semakin banyak diterapkan sebagai cara mengatur pola makan yang lebih terstruktur.

Metode ini diminati bukan hanya oleh mereka yang ingin menurunkan berat badan, tetapi juga oleh orang-orang yang ingin membangun kebiasaan makan lebih sadar dan terkontrol.

Berbeda dengan pola diet yang menitikberatkan pada pembatasan jenis makanan, intermittent fasting lebih berfokus pada pengaturan waktu makan.

Prinsip dasarnya adalah membagi hari ke dalam periode makan dan periode puasa, sehingga tubuh memiliki jeda tanpa asupan kalori dalam jangka waktu tertentu.

Salah satu pola yang paling populer adalah metode 16/8, yakni berpuasa selama 16 jam dan makan dalam jendela waktu 8 jam.

Selain itu, ada metode 5:2 yang memungkinkan seseorang makan seperti biasa selama lima hari, lalu membatasi asupan kalori pada dua hari lainnya.

Beberapa orang juga memilih puasa penuh selama 24 jam satu atau dua kali dalam seminggu.

Daya tarik utama intermittent fasting terletak pada fleksibilitasnya. Dengan membatasi jam makan, asupan kalori sering kali berkurang secara alami tanpa perlu menghitung makanan secara detail.

Karena itu, metode ini kerap dikaitkan dengan penurunan berat badan dan perbaikan metabolisme.

Sejumlah penelitian awal juga menunjukkan bahwa intermittent fasting berpotensi meningkatkan sensitivitas insulin, yang berperan penting dalam pengaturan kadar gula darah.

Selain itu, pola ini disebut-sebut dapat membantu tubuh lebih efisien dalam menggunakan energi yang tersimpan.

Meski terdengar sederhana, intermittent fasting sebaiknya dijalani secara bertahap, terutama bagi pemula.

Menggeser waktu makan secara perlahan dapat membantu tubuh beradaptasi tanpa menimbulkan efek tidak nyaman seperti pusing atau lemas berlebihan.

Selama masa puasa, kebutuhan cairan tetap harus dipenuhi. Air putih, teh tanpa gula, atau kopi hitam tanpa tambahan pemanis umumnya masih diperbolehkan.

Sementara itu, saat waktu makan tiba, pemilihan makanan bergizi seimbang menjadi kunci agar tubuh tetap mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.

Perlu diingat, intermittent fasting tidak cocok untuk semua orang.

Ibu hamil dan menyusui, individu dengan riwayat gangguan makan, serta penderita kondisi medis tertentu disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menerapkan pola ini.

Hingga kini, penelitian mengenai dampak jangka panjang intermittent fasting masih terus berkembang.

Meski sejumlah temuan menunjukkan potensi manfaat bagi metabolisme dan kesehatan jantung, diperlukan bukti ilmiah yang lebih kuat untuk memastikan keamanannya dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, intermittent fasting bukan sekadar tren diet, melainkan salah satu pendekatan dalam membentuk kebiasaan makan.

Jika dilakukan secara bijak dan disesuaikan dengan kondisi tubuh, metode ini dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang berkelanjutan.(*)




Kuku Tampak Pucat atau Rapuh? Waspadai Tanda Gangguan Ginjal

SEPUCUKJAMBI.ID – Kuku tidak hanya berperan sebagai pelindung ujung jari, tetapi juga dapat mencerminkan kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Dalam dunia medis, perubahan pada kuku kerap dikaitkan dengan gangguan tertentu, termasuk masalah pada fungsi ginjal.

Salah satu tanda yang sering dibahas adalah perubahan warna kuku.

Pada sebagian orang dengan gangguan ginjal, kuku dapat terlihat lebih pucat atau tampak putih di bagian tengah, sementara bagian tepinya cenderung lebih gelap.

Kondisi ini diduga berkaitan dengan perubahan aliran darah atau penumpukan zat sisa metabolisme dalam tubuh.

Tak hanya warna, tekstur kuku juga bisa mengalami perubahan.

Kuku yang menjadi rapuh, mudah pecah, atau muncul garis-garis pada permukaannya dapat mengindikasikan gangguan metabolisme.

Fungsi ginjal yang menurun dapat memengaruhi penyerapan nutrisi penting, sehingga berdampak pada kesehatan kuku.

Dalam beberapa kasus, kuku dapat terlihat kebiruan atau keabu-abuan. Warna ini bisa menandakan gangguan oksigenasi darah atau ketidakseimbangan elektrolit.

Ginjal berperan penting dalam menjaga keseimbangan mineral dalam tubuh, sehingga ketika fungsinya terganggu, dampaknya dapat terlihat hingga ke bagian kuku.

Perubahan bentuk kuku juga dilaporkan pada sebagian penderita gangguan ginjal.

Ujung kuku yang tampak lebih membulat atau menebal dapat berkaitan dengan masalah sirkulasi darah dan distribusi oksigen ke jaringan tubuh.

Meski demikian, perubahan pada kuku tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan ginjal.

Faktor lain seperti anemia, kekurangan vitamin, penyakit hati, hingga infeksi jamur juga dapat memengaruhi kondisi kuku.

Oleh karena itu, tanda pada kuku sebaiknya dilihat sebagai sinyal awal, bukan sebagai diagnosis.

Jika perubahan kuku disertai gejala lain seperti pembengkakan pada kaki atau pergelangan, rasa lelah berlebihan, mual, atau perubahan pola buang air kecil, pemeriksaan medis sangat disarankan.

Tes darah dan urin dapat membantu memastikan apakah terdapat gangguan fungsi ginjal atau penyebab lainnya.

Memerhatikan kondisi kuku secara rutin dapat menjadi langkah sederhana untuk mengenali perubahan dalam tubuh.

Deteksi dini terhadap tanda-tanda kesehatan yang tidak normal memungkinkan penanganan dilakukan lebih cepat dan tepat.(*)