Profesionalisme Pers di Tengah Banjir Konten Digital

Oleh: Rizal Zebua

PERKEMBAGAN teknologi digital telah mengubah wajah jurnalistik secara drastis.

Jika dahulu produksi berita membutuhkan proses panjang, mulai dari peliputan, penulisan, penyuntingan hingga publikasi melalui media yang terverifikasi, kini hampir setiap orang dapat memproduksi dan menyebarkan informasi hanya melalui telepon genggam yang ada di genggaman tangan.

Fenomena ini membawa dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, demokratisasi informasi memberi ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk menyampaikan fakta dan peristiwa yang terjadi di sekitar mereka.

Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga memunculkan persoalan baru berupa membanjirnya informasi yang belum tentu akurat, tidak terverifikasi, bahkan berpotensi menyesatkan publik.

Dalam kondisi seperti ini, pertanyaan mengenai profesionalisme wartawan kembali mengemuka.

Apakah seorang wartawan harus mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) untuk dapat disebut profesional? Ataukah profesionalisme cukup dibentuk melalui pengalaman dan proses kerja yang dijalani selama bertahun-tahun di lapangan?

Perdebatan ini sebenarnya bukan hal baru. Tidak sedikit wartawan senior yang lahir dan tumbuh sebelum adanya UKW.

Mereka mampu menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas, disegani, bahkan menjadi rujukan publik. Pengalaman panjang, integritas, dan kedekatan dengan kode etik menjadi modal utama mereka dalam menjalankan profesi.

Namun kondisi hari ini tentu berbeda dengan dua atau tiga dekade lalu. Arus informasi bergerak jauh lebih cepat.

Persaingan antarplatform semakin ketat. Belum lagi kehadiran media sosial yang sering kali mengaburkan batas antara informasi, opini, propaganda, dan hiburan.

Di tengah situasi tersebut, keberadaan UKW menjadi semakin relevan. Uji Kompetensi Wartawan bukan semata-mata soal mendapatkan sertifikat atau pengakuan administratif.

Lebih dari itu, UKW merupakan instrumen untuk memastikan bahwa seorang wartawan memahami standar dasar profesinya.

Melalui UKW, wartawan diuji pemahamannya mengenai hukum pers, kode etik jurnalistik, serta keterampilan teknis dalam melakukan peliputan dan menyusun karya jurnalistik.

Aspek-aspek ini menjadi penting karena kesalahan dalam pemberitaan tidak hanya berdampak pada reputasi media, tetapi juga dapat merugikan masyarakat luas.

Dewan Pers sendiri telah mengatur standar kompetensi wartawan sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas dan akuntabilitas profesi jurnalistik.

Ketentuan tersebut merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang menjadi landasan kebebasan pers di Indonesia.

Meski demikian, perlu dipahami bahwa UKW bukan satu-satunya ukuran profesionalisme. Sertifikat kompetensi tidak otomatis menjadikan seseorang wartawan yang baik.

Sebaliknya, tidak sedikit wartawan yang telah lulus UKW tetapi masih melakukan pelanggaran etik dalam praktik kerjanya.

Profesionalisme sejatinya lahir dari perpaduan antara kompetensi, integritas, dan tanggung jawab moral.

Seorang wartawan profesional bukan hanya mampu menulis berita dengan baik, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menguji informasi, menjaga keberimbangan, serta menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.

Tantangan yang lebih besar justru hadir ketika teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai digunakan secara luas dalam produksi konten. Saat ini, AI mampu membuat berita, artikel, bahkan analisis dalam hitungan detik.

Teknologi tersebut tentu dapat membantu kerja jurnalistik, terutama dalam mengolah data dan mempercepat proses produksi.

Namun AI tidak memiliki nurani, tidak memiliki pertimbangan etik, dan tidak memiliki tanggung jawab sosial sebagaimana manusia.

AI hanya bekerja berdasarkan data dan instruksi yang diberikan. Jika data yang digunakan keliru atau bias, maka hasil yang dihasilkan pun berpotensi menyesatkan.

Di sinilah peran wartawan profesional menjadi semakin penting. Kehadiran teknologi seharusnya tidak menggantikan fungsi jurnalistik, melainkan memperkuatnya.

Verifikasi fakta, konfirmasi kepada narasumber, pemahaman konteks, serta pertimbangan etik tetap menjadi tugas yang tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada mesin.

Karena itu, pertanyaan apakah wartawan perlu mengikuti UKW sebenarnya tidak perlu dipertentangkan secara berlebihan.

UKW penting sebagai standar kompetensi dan bentuk pengakuan profesi. Namun yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai yang diuji dalam UKW benar-benar diterapkan dalam praktik jurnalistik sehari-hari.

Di era ketika semua orang bisa membuat konten dan menyebut dirinya sebagai penyampai informasi, masyarakat membutuhkan pembeda yang jelas antara karya jurnalistik dan sekadar opini yang beredar di ruang digital. Pembeda itu adalah profesionalisme.

Dan profesionalisme tidak lahir hanya dari sertifikat, tetapi juga tidak bisa dilepaskan dari kompetensi.

Keduanya harus berjalan beriringan agar pers tetap menjadi pilar demokrasi yang dipercaya publik, bukan sekadar bagian dari kebisingan informasi yang memenuhi ruang digital setiap hari.(*)

Penulis adalah wartawan aktif di Provinsi Jambi.




Penggunaan Media Sosial Berlebih Ancam Kesehatan Mental Gen Z

SEPUCUK JAMBI.ID – Kesehatan mental menjadi aspek penting dalam kehidupan setiap individu, termasuk generasi muda atau Gen Z.

Isu ini semakin mendapat perhatian publik, terutama karena kelompok usia tersebut tumbuh dalam era digital dan media sosial yang berkembang cepat.

Mengutip Halodoc, penelitian yang dilaporkan dalam jurnal JAMA Psychiatry menunjukkan remaja yang menggunakan media sosial lebih dari tiga jam per hari berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan mental, terutama terkait internalisasi alias citra diri.

Temuan ini menegaskan kekhawatiran bahwa konsumsi konten digital berlebihan dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis.

Di tengah kondisi tersebut, pendekatan proaktif dan bijaksana dinilai penting untuk menjaga kesehatan mental Gen Z.

Sejumlah langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Membuat Batasan Penggunaan Media Sosia

Menetapkan durasi penggunaan dan menghindari akses sebelum tidur dinilai mampu mengurangi paparan konten negatif sekaligus meningkatkan kualitas istirahat.

2. Fokus pada Kegiatan yang Membawa Kebahagiaan

Melakukan aktivitas menyenangkan seperti olahraga, hobi, atau berkumpul dengan keluarga dan teman dapat membantu menurunkan tingkat stres.

3. Cari Dukungan

Apabila merasa kewalahan oleh kecemasan, Gen Z dianjurkan tidak ragu mencari bantuan profesional seperti psikiater, psikolog, atau konselor untuk mendapatkan strategi penanganan kesehatan mental yang tepat.

4. Luangkan Waktu untuk Ibadah

Rutinitas ibadah dalam suasana tenang dapat membantu meredakan kecemasan dan meningkatkan kesejahteraan mental.

5. Selektif dalam Mengikuti Akun Media Sosial

Mengikuti akun yang memberikan dampak positif dan inspiratif dinilai lebih bermanfaat, sekaligus menghindari konten yang memicu perbandingan sosial.

6. Berbagi dan Mendiskusikan Perasaan

Membicarakan perasaan dengan orang terdekat dapat meredakan kecemasan dan membuka perspektif baru.

7. Edukasi Diri tentang Kesehatan Mental

Pemahaman mengenai kesehatan mental dan dampak media sosial membantu Gen Z membuat keputusan yang lebih bijak dalam menggunakan teknologi.

Kesehatan mental  yang sering kali terabaikan di tengah aktivitas sehari-hari terutama bagi kalangan Gen Z yang dinilai perlu lebih peka terhadap dampak media sosial terhadap kondisi psikologis mereka.

Dengan langkah pencegahan yang tepat serta dukungan lingkungan dan profesional, Gen Z tetap memiliki peluang menjaga kesehatan mental dan membangun masa depan yang lebih sehat dan bahagia.




Mengapa Media Sosial Menjadi Tempat Curhat yang Populer?

SEPUCUKJAMBI.ID – Di era digital saat ini, banyak orang memilih untuk menuangkan perasaannya melalui media sosial.

Fenomena ini mungkin terasa janggal, mengingat berbicara langsung dengan orang terdekat seharusnya lebih aman dan menenangkan.

Namun, kenyataannya, banyak yang merasa lega setelah membagikan curhatan mereka melalui story, tweet, atau unggahan panjang di media sosial.

Mengapa Orang Lebih Memilih Curhat di Media Sosial?

Salah satu alasan utama adalah kendali penuh atas apa yang ingin dibagikan dan bagaimana cara menyampaikannya.

Di media sosial, kita bisa dengan bebas mengatur kata-kata, memilih foto, menyunting cerita, bahkan menghapus unggahan jika dirasa terlalu pribadi.

Proses ini memberi rasa aman, karena kita dapat memfilter emosi sebelum membagikannya.

Selain itu, kita tidak perlu menerima respons langsung yang kadang bisa membuat tidak nyaman.

Kebebasan Bercerita Tanpa Beban

Media sosial juga memberi kebebasan bercerita tanpa harus mendengar balasan panjang atau nasihat yang tidak diminta.

Teman dekat sering kali memberikan tanggapan dengan niat baik, namun hal itu bisa terasa menghakimi atau malah membuat kita merasa bersalah.

Risiko dalam Membuka Cerita ke Teman Dekat

Keterbukaan kepada teman dekat bisa membawa risiko emosional yang tidak dimiliki oleh media sosial.

Cerita yang dibagikan langsung sering kali memengaruhi dinamika hubungan. Ada rasa takut dianggap lemah, merepotkan, atau terlalu dramatis, terutama jika cerita itu berulang atau menyentuh aspek pribadi.

Bebas dari Beban Sosial

Media sosial memberi rasa kebebasan tanpa beban sosial. Kita tidak perlu menjaga ekspresi wajah, menahan tangis, atau khawatir apakah lawan bicara merasa tidak nyaman.

Semua bisa disampaikan melalui layar, di waktu yang kita pilih sendiri, tanpa harus menghadapi tatapan atau reaksi yang sulit dihadapi.

Keterbukaan dalam Era Digital

Fenomena ini juga dipengaruhi oleh perubahan cara kita membangun kedekatan dalam era digital. Banyak hubungan saat ini terbentuk dan dipelihara secara daring.

Hal ini membuat batas antara teman dunia maya dan teman nyata semakin kabur. Dalam konteks ini, bercerita di media sosial terasa cukup sebagai bentuk interaksi emosional.

Dampak Negatif Curhat di Media Sosial

Namun, kebiasaan curhat di media sosial memiliki dampak negatif. Ketergantungan pada platform sosial sebagai tempat untuk berbagi perasaan bisa mengurangi kualitas hubungan nyata.

Ini bisa membuat kita merasa semakin jauh dari orang-orang terdekat, karena kita tidak pernah benar-benar berbagi secara mendalam.

Selain itu, kebiasaan ini bisa memicu oversharing, yaitu membuka terlalu banyak informasi pribadi ke publik.

Dalam jangka panjang, ini bisa menjadi bumerang, karena jejak digital tidak pernah benar-benar hilang. Apa yang hari ini terasa melegakan, bisa menjadi bahan gosip atau penyesalan di masa depan.

Kembali ke Teman Dekat

Di tengah dunia yang cepat dan penuh tekanan, kita kadang hanya butuh tempat untuk menaruh beban tanpa harus menjelaskannya panjang lebar.

Namun, mungkin sesekali tidak ada salahnya mencoba kembali bercerita pada teman dekat yang benar-benar peduli, bukan hanya di media sosial.(*)