TikTok Shop dan Shopee Kenakan Biaya Ongkir ke Seller, Kemendag Minta Transparansi

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Kementerian Perdagangan Republik Indonesia memberikan perhatian khusus terhadap kebijakan sejumlah platform e-commerce yang mulai membebankan biaya layanan logistik atau ongkos kirim kepada para penjual.

Kebijakan tersebut memicu berbagai keluhan dari pelaku usaha online karena dinilai dapat mengurangi margin keuntungan, terutama bagi penjual produk lokal dan UMKM.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Iqbal Shoffan Shofwan, menegaskan bahwa setiap penerapan biaya layanan di platform digital harus dilakukan secara adil dan transparan.

“Pada prinsipnya hal tersebut harus dilakukan secara transparan, adil, dan tidak merugikan pelaku usaha, khususnya yang menjual produk lokal,” ujar Iqbal.

Ia juga meminta pengelola marketplace untuk membuka ruang dialog dengan para seller sebelum kebijakan baru diberlakukan secara luas agar tidak menimbulkan gejolak di kalangan pelaku usaha digital.

Menurut Kemendag, pemerintah saat ini tengah mempercepat revisi Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023 guna menciptakan ekosistem perdagangan digital yang lebih sehat dan seimbang.

Dalam aturan baru tersebut, platform e-commerce nantinya diwajibkan menjelaskan secara rinci seluruh jenis biaya yang dibebankan kepada penjual, termasuk biaya logistik dan potongan layanan lainnya.

Langkah ini dilakukan agar tidak ada praktik sepihak yang berpotensi memberatkan pelaku usaha kecil di tengah persaingan bisnis digital yang semakin ketat.

Kebijakan biaya layanan logistik mulai diterapkan beberapa marketplace besar sejak awal Mei 2026, termasuk TikTok Shop dan Shopee.

TikTok Shop diketahui mulai mengenakan biaya layanan logistik berdasarkan berat paket dan jarak pengiriman.

Biaya tersebut dipotong langsung dari pendapatan penjual dan tidak ditampilkan kepada pembeli saat checkout.

Sementara itu, Shopee juga melakukan penyesuaian biaya layanan pada program Gratis Ongkir XTRA dengan skema potongan yang berbeda tergantung kategori produk dan ukuran barang.

Kondisi tersebut membuat sebagian seller mulai mempertimbangkan untuk keluar dari marketplace dan beralih ke situs penjualan mandiri guna menjaga margin keuntungan usaha mereka.

Kemendag menegaskan akan terus memantau dinamika persaingan di pasar digital agar tetap kondusif bagi pertumbuhan produk dalam negeri serta keberlangsungan UMKM.

Pemerintah berharap adanya regulasi baru nantinya dapat menciptakan hubungan yang lebih seimbang antara platform digital dan para pelaku usaha online di Indonesia.(*)




Selisih Rp92 Triliun Pajak E-Commerce Disorot, Pemerintah Siapkan Langkah Besar

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Rasio penerimaan pajak Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara di kawasan Asia Tenggara, sehingga menjadi perhatian serius pemerintah dalam upaya memperkuat struktur fiskal nasional.

Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini tengah menyiapkan langkah strategis untuk meningkatkan penerimaan negara, terutama dari sektor-sektor ekonomi yang belum tergarap maksimal.

“Pemerintah sedang menyiapkan program-program peningkatan penerimaan negara yang akan segera dijalankan,” ujar Hashim Djojohadikusumo dalam sebuah forum di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Salah satu sektor yang menjadi sorotan utama adalah ekonomi digital, khususnya e-commerce yang dinilai memiliki potensi pajak besar namun belum memberikan kontribusi optimal.

Menurutnya, nilai transaksi e-commerce di Indonesia diperkirakan mencapai antara 60 hingga 90 miliar dolar AS.

Jika menggunakan angka konservatif 60 miliar dolar AS, potensi penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) 11 persen seharusnya mencapai sekitar Rp100 triliun.

Namun realisasinya, penerimaan negara dari sektor tersebut baru sekitar Rp8 triliun.

“Kalau potensi Rp100 triliun, tapi yang masuk hanya Rp8 triliun, berarti ada sekitar Rp92 triliun yang belum tergarap. Ini yang menjadi perhatian kami,” ungkap Hashim Djojohadikusumo.

Selain e-commerce, ia juga menyoroti sektor gim digital yang dinilai belum memberikan kontribusi pajak secara optimal, terutama dari perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia.

“Banyak game yang dimainkan anak-anak kita ternyata belum memberikan kontribusi pajak yang memadai. Perusahaan asing, termasuk dari Tiongkok dan Korea Selatan, perlu diatur lebih baik agar memenuhi kewajiban pajaknya,” tegasnya.

Pemerintah disebut tengah menyiapkan berbagai kebijakan untuk memperluas basis pajak digital sekaligus meningkatkan kepatuhan pelaku usaha di sektor tersebut.

Saat ini, rasio pajak Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di kisaran 10–11 persen, lebih rendah dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.

Kondisi ini menunjukkan masih besarnya ruang optimalisasi penerimaan negara.

Dengan langkah-langkah yang sedang dipersiapkan, pemerintah optimistis penerimaan pajak dapat meningkat signifikan dan memperkuat kemampuan fiskal negara untuk mendukung pembangunan nasional secara berkelanjutan.(*)




Keren! JNE Jadi Perusahaan Logistik Paling Inovatif Secara Digital di 2026

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – JNE kembali menorehkan prestasi dengan meraih penghargaan sebagai perusahaan dengan inovasi digital terbaik di sektor logistik dan kurir dalam ajang Indonesia Digital Innovation Awards 2026.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan JNE dalam melakukan transformasi digital guna meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan di seluruh Indonesia.

Acara yang diselenggarakan oleh Warta Ekonomi Group ini berlangsung di Parle Senayan, Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Penghargaan diserahkan langsung oleh Muhamad Ihsan dan diterima oleh perwakilan JNE, Kurnia Nugraha.

Perwakilan manajemen JNE, Eri Palgunadi, menyampaikan bahwa penghargaan ini menjadi bukti nyata komitmen perusahaan dalam berinovasi secara berkelanjutan selama lebih dari tiga dekade.

Menurutnya, transformasi digital yang dilakukan JNE bertujuan untuk memberikan layanan yang semakin cepat, akurat, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

“Pencapaian ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan menjaga kepercayaan pelanggan,” ujarnya.

Lebih lanjut, digitalisasi yang diterapkan JNE memungkinkan proses logistik berjalan lebih efisien, mulai dari pengiriman hingga pelacakan paket.

Hal ini juga memperkuat peran JNE dalam mendukung pertumbuhan ekosistem ekonomi digital di Indonesia.

Mengusung tema “Driving Industrial Competitiveness Through Impactful Digital Innovation”, ajang penghargaan tahun ini menilai berbagai perusahaan berdasarkan dampak inovasi digital terhadap daya saing industri.

JNE dinilai unggul karena mampu menghadirkan inovasi yang tidak hanya mudah diakses, tetapi juga menjangkau berbagai lapisan masyarakat hingga ke pelosok daerah.

Selain fokus pada layanan pengiriman, JNE juga terus berkontribusi dalam berbagai sektor seperti UMKM, kegiatan sosial, hingga industri kreatif.

Semua ini didukung oleh sistem digital yang terintegrasi, menjadikan JNE semakin relevan dalam kehidupan masyarakat modern.(*)




Pajak Kripto Tembus Rp1,96 Triliun, OJK Fokus Edukasi Investor

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) resmi menggelar Bulan Literasi Kripto (BLK) 2026 sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap aset digital.

Termasuk kripto, agar digunakan secara bijak dan bertanggung jawab.

Dalam pembukaan acara di Jakarta, Adi Budiarso menegaskan bahwa transaksi aset kripto perlu dilakukan secara seimbang dengan dasar analisis yang kuat serta mempertimbangkan potensi jangka panjang.

Menurutnya, perdagangan kripto kini telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.

Oleh karena itu, OJK terus mendorong penguatan tata kelola industri sekaligus meningkatkan perlindungan konsumen di tengah pesatnya pertumbuhan sektor ini.

Tren Kripto dan Kontribusi Pajak

OJK juga menyoroti kontribusi aset kripto terhadap penerimaan negara. Data dari Direktorat Jenderal Pajak menunjukkan bahwa pajak dari transaksi kripto mencapai Rp796,73 miliar sepanjang 2025 dan melonjak menjadi Rp1,96 triliun hingga Februari 2026.

Meski demikian, nilai transaksi kripto pada 2025 tercatat sebesar Rp482,23 triliun, menurun dibandingkan 2024 yang mencapai Rp650,61 triliun. Penurunan ini dipengaruhi oleh faktor global dan siklus pasar kripto.

Di sisi lain, Indonesia berhasil menempati peringkat ke-7 dalam Global Crypto Adoption Index 2025, yang mencerminkan tingginya tingkat adopsi aset kripto di masyarakat, tidak hanya dari sisi nilai transaksi.

Bangun Ekosistem Kripto yang Kuat

Ketua ABI, Robby, menyebut bahwa industri aset keuangan digital di Indonesia saat ini memiliki fondasi yang kuat dan mampu bersaing di tingkat global.

Ekosistem kripto nasional ditopang oleh tiga pilar utama, yaitu:

  • Bursa sebagai infrastruktur pencatatan transaksi
  • Pedagang sebagai akses bagi investor ritel
  • Kliring dan kustodi sebagai penjaga keamanan aset

Ketiga elemen tersebut memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas dan kepercayaan di industri kripto.

Rangkaian BLK 2026

Program Bulan Literasi Kripto 2026 akan digelar di berbagai kota seperti Jakarta, Solo, Yogyakarta, dan Manado.

Kegiatan ini dibagi dalam tiga fokus utama:

  1. Literasi kripto untuk masyarakat umum
  2. Literasi blockchain bagi mahasiswa, akademisi, dan developer
  3. Literasi kripto untuk aparat penegak hukum

Hingga Februari 2026, jumlah pengguna aset kripto di Indonesia tercatat mencapai 21,07 juta akun, menunjukkan pertumbuhan partisipasi masyarakat yang terus meningkat.

Dorong Literasi dan Perlindungan Konsumen

OJK menegaskan bahwa literasi menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem aset digital yang sehat.

Dengan pemahaman yang baik, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan peluang kripto tanpa mengabaikan risiko yang ada.

Melalui BLK 2026, pemerintah dan pelaku industri berharap dapat menciptakan ekosistem kripto yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga aman dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional.(*)




Kenapa Gen Z Lebih Berani Investasi Kripto? Ini Penjelasan OJK

SEPUCUKJAMBI.ID – Minat tinggi Generasi Z terhadap investasi kripto terus menjadi sorotan publik.

Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa fenomena tersebut tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan rendahnya literasi keuangan generasi muda.

Menurut OJK, pilihan Gen Z terhadap aset berisiko tinggi justru mencerminkan pergeseran cara pandang dan prioritas dalam mengelola keuangan.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyampaikan bahwa kecenderungan Gen Z memilih kripto sebagai instrumen investasi menunjukkan pemahaman risiko yang relatif baik.

Ia menilai, generasi muda menyadari risiko tinggi yang melekat pada aset digital, namun tetap menjadikannya pilihan karena sesuai dengan kebutuhan dan tujuan finansial mereka.

Mahendra menekankan bahwa perbedaan utama terletak pada pendekatan rasional yang digunakan setiap generasi dalam mengambil keputusan keuangan.

Menurutnya, jika literasi keuangan hanya dipahami secara konvensional, maka akan muncul kesimpulan keliru bahwa Gen Z kurang memahami pengelolaan keuangan.

“Bisa jadi mereka sudah memahami risikonya, tetapi prioritasnya berbeda. Cara pandang mereka rasional sesuai kebutuhan zaman. Jadi bukan semata soal tidak mengerti, melainkan bagaimana pemahaman itu diterapkan,” ungkap Mahendra.

Ia menjelaskan bahwa generasi sebelum Gen Z umumnya menjalani tahapan pengelolaan keuangan yang lebih konservatif.

Fokus awal diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar, kemudian menabung, membangun pendapatan stabil, dan baru setelah itu masuk ke dunia investasi.

Dalam berinvestasi, generasi sebelumnya juga cenderung memilih jalur yang bertahap.

Instrumen berisiko rendah seperti deposito atau produk berimbal hasil tetap menjadi pintu masuk awal sebelum beralih ke reksa dana dan saham.

Aset berisiko tinggi seperti kripto biasanya baru dipertimbangkan jika terdapat dana lebih.

Sementara itu, Gen Z menunjukkan pola yang berbeda. Mereka relatif lebih berani mengambil risiko sejak awal, termasuk langsung masuk ke aset kripto.

OJK menilai hal ini tidak selalu berarti spekulatif, melainkan menunjukkan adaptasi terhadap perkembangan teknologi, akses informasi yang luas, serta karakter pasar digital yang lebih cepat.

Perubahan pola ini menjadi tantangan tersendiri bagi regulator. OJK menilai pendekatan edukasi keuangan perlu disesuaikan dengan karakter generasi muda.

Edukasi tidak lagi cukup hanya menekankan urutan investasi konvensional, tetapi juga harus memahami pola pikir Gen Z yang lebih fleksibel, cepat, dan berbasis peluang.

Dengan meningkatnya jumlah investor muda di aset kripto dan pasar modal digital, OJK menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat literasi keuangan yang relevan dengan zaman.

Selain itu, pengawasan juga akan diperketat agar aktivitas investasi tetap berjalan secara sehat, bertanggung jawab, dan sesuai dengan profil risiko masing-masing individu.

OJK berharap, dengan pendekatan edukasi yang adaptif, minat Gen Z terhadap investasi termasuk kripto dapat menjadi potensi positif bagi pertumbuhan pasar keuangan nasional tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian.(*)




Kolaborasi Indosat–Indogrosir Buka Peluang Baru untuk Warung dan Toko Kelontong

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) resmi menjalin kemitraan strategis dengan PT Indogrosir untuk memperluas akses produk telekomunikasi bagi jutaan pelaku usaha kecil di seluruh Indonesia.

Kolaborasi ini menghadirkan cara baru bagi pemilik warung dan toko kelontong untuk mendapatkan serta menjual kembali produk digital Indosat, sekaligus memperkuat konektivitas di tingkat komunitas.

Kerja sama ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan.

Lebih dari 3,6 juta warung dan toko kelontong yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat masih kesulitan memperoleh akses langsung terhadap produk telekomunikasi yang siap dijual kembali.

Indosat dan Indogrosir mencoba menjawab tantangan tersebut dengan menyediakan solusi yang mudah dan menguntungkan.

Melalui program ini, anggota Indogrosir kini dapat membeli Box Grosir Voucher Pulsa IM3 berisi 10 voucher IM3 senilai Rp25 ribu dengan bonus langsung berupa produk sembako di sejumlah gerai Indogrosir.

Produk tersebut kemudian bisa dijual kembali di warung atau toko mereka.

Inisiatif ini tidak hanya memperluas distribusi produk digital Indosat, tetapi juga membuka peluang pendapatan tambahan bagi para penjual kecil.

EVP Head of Circle Sumatra Indosat Ooredoo Hutchison, Agus Sulistio, menyebut kolaborasi ini merupakan langkah nyata untuk memperluas manfaat konektivitas hingga ke tingkat masyarakat bawah.

“Konektivitas tidak hanya soal akses digital, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk tumbuh dan berkembang. Melalui kerja sama ini, kami memberdayakan pelaku usaha kecil agar lebih aktif dalam ekonomi digital,” ujarnya.

Sementara itu, Executive Director General Merchandising Indogrosir dan Indomaret, Santoso Wibowo, menilai kerja sama ini memberikan nilai tambah bagi anggota Indogrosir.

“Pulsa dan paket data merupakan kebutuhan utama pelanggan. Dengan hadirnya IM3 di jaringan kami, anggota bisa lebih mudah mendapatkan stok dan menjualnya kembali sehingga usaha mereka lebih berkembang,” katanya.

Program ini tersedia di seluruh cabang Indogrosir di Indonesia, termasuk Batam, Lampung, Jambi, Palembang, Pekanbaru, dan Medan.

Pelanggan dan reseller juga berkesempatan memperoleh berbagai promo menarik hingga akhir Desember 2025.

Kolaborasi Indosat dan Indogrosir menjadi penguat ekosistem ekonomi digital.

Dengan memperluas akses produk digital dan memberdayakan pelaku usaha kecil.

Indosat terus mendukung misi besarnya dalam memberdayakan Indonesia dan memastikan manfaat konektivitas dapat dirasakan hingga ke seluruh penjuru negeri.(*)