Buka Puasa Pakai Gorengan? Ini Dampaknya bagi Berat Badan dan Kolesterol

SEPUCUKJAMBI.ID – Gorengan seolah menjadi takjil favorit yang sulit dipisahkan dari momen berbuka puasa.

Mulai dari bakwan, tahu isi, risoles, hingga tempe goreng, aroma gurihnya memang menggoda setelah seharian menahan lapar dan haus.

Namun, kebiasaan langsung menyantap gorengan saat adzan magrib berkumandang ternyata perlu disikapi dengan lebih bijak.

Tubuh Butuh Energi Bertahap Setelah Puasa

Setelah berpuasa selama kurang lebih 12 jam, tubuh memerlukan asupan yang ringan dan mudah dicerna.

Idealnya, berbuka diawali dengan air putih dan makanan manis alami seperti kurma untuk mengembalikan kadar gula darah secara perlahan.

Sebaliknya, gorengan termasuk makanan tinggi lemak karena dimasak dengan minyak bersuhu tinggi.

Lemak, khususnya lemak jenuh, dapat memperlambat proses pengosongan lambung.

Akibatnya, perut terasa penuh lebih lama dan bisa memicu rasa tidak nyaman seperti begah atau mual.

Tinggi Kalori, Berisiko Picu Berat Badan Naik

Gorengan juga dikenal tinggi kalori. Dalam beberapa potong saja, asupan energi bisa meningkat signifikan.

Jika dikonsumsi hampir setiap hari tanpa diimbangi aktivitas fisik, kebiasaan ini berpotensi menyebabkan kenaikan berat badan selama bulan puasa.

Padahal, banyak orang berharap puasa justru membantu mengontrol berat badan. Tanpa perhitungan yang tepat, kalori dari gorengan dapat menggagalkan tujuan tersebut.

Pengaruh terhadap Kolesterol dan Kesehatan Jantung

Konsumsi gorengan berlebihan juga dapat memengaruhi kadar kolesterol dalam darah.

Terlebih jika minyak yang digunakan dipakai berulang kali, proses ini dapat menghasilkan senyawa yang kurang baik bagi kesehatan.

Dalam jangka panjang, pola makan tinggi lemak jenuh dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kardiovaskular.

Karena itu, penting untuk membatasi frekuensi dan jumlah konsumsi makanan yang digoreng.

Boleh Saja, Asal Tahu Batasnya

Bukan berarti gorengan harus dihindari sepenuhnya saat berbuka puasa. Kuncinya ada pada porsi dan keseimbangan.

Mengonsumsi satu atau dua potong sebagai pelengkap masih tergolong wajar, asalkan tidak dijadikan menu utama setiap hari.

Untuk pilihan yang lebih sehat, kamu bisa:

  • Memastikan gorengan ditiriskan dengan baik agar tidak terlalu berminyak

  • Menggunakan minyak baru dan tidak dipakai berulang kali

  • Mempertimbangkan metode memasak alternatif seperti memanggang atau menggunakan air fryer

  • Mengombinasikan dengan makanan bergizi seimbang seperti karbohidrat kompleks, protein tanpa lemak, sayuran, dan buah

Selain itu, minum air putih yang cukup saat berbuka membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh dan mendukung proses pencernaan.

Pada akhirnya, menikmati gorengan saat buka puasa bukanlah kesalahan. Namun, kebiasaan tersebut perlu dikontrol agar tidak berdampak pada kesehatan dalam jangka panjang.

Dengan pola makan yang lebih bijak, momen berbuka tetap nikmat tanpa mengorbankan kondisi tubuh.(*)




Jangan Diabaikan, Ini Berbagai Penyebab Bibir Terlihat Pucat

SEPUCUKJAMBI.ID – Warna bibir sering kali mencerminkan kondisi kesehatan seseorang. Bibir yang sehat umumnya tampak merah merona karena aliran darah dan kadar oksigen yang cukup.

Namun, ketika bibir terlihat lebih pucat dari biasanya, terutama jika terjadi secara mendadak atau berlangsung lama, kondisi ini bisa menimbulkan kekhawatiran.

Salah satu penyebab paling umum bibir pucat adalah anemia. Kondisi ini terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah atau hemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh.

Akibatnya, suplai darah beroksigen ke bibir berkurang, sehingga warnanya tampak memudar. Anemia biasanya juga disertai keluhan lain seperti mudah lelah, pusing, lemas, dan sulit berkonsentrasi.

Selain anemia, dehidrasi juga dapat memengaruhi warna bibir. Saat tubuh kekurangan cairan, volume darah menurun dan sirkulasi darah ke kulit serta bibir menjadi kurang optimal.

Kondisi ini membuat bibir terlihat lebih pucat, kering, dan kusam.

Bibir pucat akibat dehidrasi umumnya membaik setelah kebutuhan cairan tubuh terpenuhi.

Infeksi tertentu, terutama yang disertai demam atau kondisi tubuh yang melemah, juga bisa menyebabkan bibir tampak pucat.

Saat tubuh melawan infeksi, aliran darah dan distribusi oksigen dapat terganggu sementara, sehingga memengaruhi warna bibir.

Paparan suhu dingin turut menjadi faktor yang sering tidak disadari. Dalam kondisi dingin, pembuluh darah di kulit dan bibir akan menyempit untuk mempertahankan suhu tubuh.

Akibatnya, aliran darah ke area bibir berkurang dan warna bibir tampak lebih pucat. Biasanya, perubahan ini bersifat sementara dan akan kembali normal ketika tubuh menghangat.

Kekurangan nutrisi penting seperti zat besi, vitamin B12, dan asam folat juga berperan dalam munculnya bibir pucat.

Nutrisi tersebut dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah yang sehat. Jika asupannya kurang, produksi sel darah merah dapat terganggu dan memengaruhi warna bibir.

Kondisi ini sering disertai gejala lain seperti sariawan, nafsu makan menurun, dan tubuh terasa lemas.

Dalam beberapa kasus, bibir pucat dapat berkaitan dengan penyakit kronis, seperti gangguan jantung, paru-paru, atau ginjal.

Penyakit-penyakit ini dapat menurunkan kadar oksigen dalam darah, sehingga bibir tampak pucat atau kusam secara menetap.

Untuk menilai apakah bibir pucat masih tergolong ringan atau perlu pemeriksaan medis, penting memperhatikan gejala yang menyertainya.

Bibir pucat akibat dehidrasi ringan atau udara dingin biasanya akan membaik dengan sendirinya.

Namun, jika warna bibir tetap pucat dalam waktu lama atau disertai keluhan seperti sesak napas, pusing berat, atau kelelahan ekstrem, pemeriksaan ke dokter sangat dianjurkan.

Menjaga asupan nutrisi yang seimbang, mencukupi kebutuhan cairan harian, serta rutin memantau kondisi kesehatan dapat membantu mencegah beberapa penyebab umum bibir pucat dan menjaga tubuh tetap sehat secara menyeluruh.(*)




Waspada! Paparan Polusi Udara Bisa Merusak Mata Secara Perlahan

SEPUCUKJAMBI.ID – Polusi udara selama ini identik dengan gangguan pernapasan dan penyakit jantung. Namun, dampaknya tidak berhenti di sana.

Mata sebagai organ yang terus terbuka dan terpapar langsung lingkungan menjadi salah satu bagian tubuh yang paling rentan terhadap kualitas udara yang buruk.

Berbagai polutan di udara seperti partikel halus PM2.5 dan PM10, nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), ozon (O₃), asap kendaraan bermotor, hingga emisi industri dapat langsung memicu iritasi pada permukaan mata.

Zat-zat ini mengganggu lapisan air mata yang berfungsi sebagai pelindung alami, membuat mata lebih cepat kering dan mudah teriritasi.

Paparan polusi yang terjadi secara terus-menerus tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga berpotensi menyebabkan stres oksidatif pada jaringan mata.

Partikel berukuran sangat kecil dapat menembus lapisan pelindung mata dan merusak sel-sel sehat, terutama jika diketahui paparan berlangsung dalam jangka panjang.

Sejumlah kelompok diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan mata akibat polusi udara.

Masyarakat perkotaan dengan kualitas udara buruk, pekerja luar ruangan seperti petugas lalu lintas dan pekerja konstruksi, anak-anak, serta lansia termasuk kelompok yang paling rentan.

Risiko juga meningkat pada individu dengan kondisi mata tertentu, seperti dry eye syndrome, alergi mata, atau pengguna lensa kontak.

Gejala gangguan mata akibat polusi sering kali dianggap sepele.

Mata kering, perih, gatal, kemerahan, berair berlebihan, sensitif terhadap cahaya, atau sensasi seperti ada pasir di mata merupakan tanda awal yang patut diwaspadai.

Pada kondisi tertentu, polusi udara bahkan dapat memperparah peradangan mata seperti konjungtivitis atau meningkatkan risiko infeksi.

Apabila keluhan mata tidak membaik meski sudah menggunakan tetes mata pelumas atau mengistirahatkan mata, pemeriksaan ke dokter spesialis mata sangat dianjurkan.

Evaluasi profesional diperlukan untuk menilai produksi air mata, kondisi permukaan mata, serta mendeteksi kemungkinan peradangan atau kerusakan yang lebih serius.

Untuk mengurangi risiko, terdapat sejumlah langkah pencegahan yang dapat dilakukan dalam aktivitas sehari-hari.

Menggunakan kacamata pelindung atau sunglasses saat beraktivitas di luar ruangan membantu mengurangi kontak langsung polutan dengan mata.

Selain itu, membatasi penggunaan lensa kontak saat kualitas udara buruk dan menjaga kebersihan tangan juga penting untuk mencegah iritasi maupun infeksi.

Penggunaan air mata buatan tanpa pengawet dapat membantu menjaga kelembapan mata, terutama bagi mereka yang sering terpapar polusi.

Memantau Indeks Kualitas Udara (AQI) melalui aplikasi atau situs resmi juga menjadi langkah cerdas agar aktivitas luar ruangan bisa disesuaikan dengan kondisi udara.

Di dalam ruangan, air purifier dapat membantu menyaring partikel berbahaya yang masuk dari luar, sehingga kualitas udara dalam rumah lebih terjaga.

Langkah ini tidak hanya melindungi mata, tetapi juga sistem pernapasan secara keseluruhan.

Polusi udara merupakan ancaman yang sering kali tidak disadari dampaknya terhadap kesehatan mata.

Kesadaran akan gejala, pemahaman faktor risiko, dan penerapan perlindungan sederhana dapat membantu menjaga kenyamanan mata dan mempertahankan kualitas penglihatan di tengah tantangan lingkungan perkotaan yang semakin kompleks.(*)




Bukan Sekadar Pendek, Ini Dampak Serius Stunting bagi Masa Depan Anak

SEPUCUKJAMBI.ID – Stunting masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan kesehatan di Indonesia.

Masalah ini tidak hanya menyangkut tinggi badan anak yang berada di bawah standar usianya, tetapi juga berkaitan dengan kualitas tumbuh kembang anak secara menyeluruh, mulai dari kesehatan fisik, kecerdasan, hingga kesiapan menghadapi masa depan.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam waktu lama.

Periode paling krusial terjadinya stunting adalah 1.000 hari pertama kehidupan, yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Pada fase ini, otak dan organ tubuh berkembang sangat cepat dan menentukan kualitas hidup anak di kemudian hari.

Sayangnya, masih banyak anggapan di masyarakat bahwa stunting disebabkan faktor keturunan.

Padahal, faktor genetik hanya berpengaruh kecil. Penyebab utama stunting justru berasal dari kurangnya asupan gizi seimbang, minimnya protein hewani, serta pola asuh yang belum optimal sejak dini.

Selain faktor gizi, lingkungan dan kondisi sosial turut berperan besar. Akses air bersih yang terbatas, sanitasi yang buruk, serta rendahnya pemahaman tentang kesehatan ibu dan anak meningkatkan risiko infeksi berulang.

Infeksi yang sering terjadi pada anak dapat menghambat penyerapan nutrisi, sehingga pertumbuhan pun terhambat.

Dampak stunting tidak hanya terlihat secara fisik. Anak yang mengalami stunting cenderung memiliki sistem imun lebih lemah, sehingga lebih mudah sakit.

Selain itu, perkembangan kognitifnya berisiko terganggu, yang berdampak pada kemampuan belajar, konsentrasi, dan prestasi akademik.

Dalam jangka panjang, stunting dapat menurunkan produktivitas dan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa.

Upaya pencegahan stunting seharusnya dimulai sejak sebelum kehamilan. Calon ibu perlu memastikan status gizi yang baik, termasuk kecukupan zat besi, asam folat, protein, dan mikronutrien lainnya.

Pemeriksaan kesehatan rutin sebelum dan selama kehamilan menjadi langkah penting untuk memastikan janin tumbuh optimal.

Setelah bayi lahir, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan merupakan fondasi utama pencegahan stunting. ASI mengandung nutrisi lengkap dan antibodi yang melindungi bayi dari infeksi.

Setelah itu, MPASI harus diberikan secara bertahap dengan menu yang beragam, bergizi seimbang, dan sesuai usia anak.

Protein hewani seperti telur, ikan, daging, dan susu memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan tinggi badan dan perkembangan otak anak.

Kombinasi protein, karbohidrat, lemak sehat, vitamin, dan mineral harus menjadi bagian dari menu harian anak.

Tak kalah penting, lingkungan yang bersih dan sehat menjadi faktor pendukung utama.

Kebiasaan mencuci tangan, penggunaan air bersih, sanitasi layak, serta imunisasi lengkap membantu mencegah penyakit infeksi yang dapat memperburuk risiko stunting.

Stunting memang bukan masalah yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

Namun, dengan edukasi yang tepat, keterlibatan aktif orang tua, serta dukungan dari lingkungan dan layanan kesehatan, angka stunting dapat ditekan secara signifikan.

Menjaga tumbuh kembang anak sejak dini merupakan investasi jangka panjang demi terciptanya generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.(*)




Tidur Lebih Nyaman dan Sehat, Ini Jadwal Ideal Mengganti Sprei

SEPUCUKJAMBI.ID -Tidur berkualitas tidak hanya ditentukan oleh durasi dan posisi tubuh, tetapi juga oleh kebersihan tempat tidur.

Tanpa disadari, sprei yang digunakan setiap malam menyimpan berbagai partikel tak kasat mata mulai dari keringat, minyak tubuh, sel kulit mati, hingga mikroorganisme seperti bakteri dan tungau debu.

Jika jarang diganti, sprei bisa berubah menjadi sumber gangguan kesehatan.

Menurut berbagai kajian kebersihan dan kesehatan lingkungan, sprei idealnya diganti dan dicuci minimal satu kali dalam seminggu.

Kebiasaan ini dinilai paling aman untuk menjaga kebersihan kulit, kualitas udara saat tidur, serta kesehatan saluran pernapasan.

Selama tujuh hari pemakaian, tubuh manusia dapat melepaskan jutaan sel kulit mati yang kemudian menempel di kain sprei.

Dalam kondisi tertentu, frekuensi mengganti sprei bahkan dianjurkan lebih sering.

Tinggal di daerah beriklim panas atau lembap, mudah berkeringat di malam hari, atau tidur dengan pendingin ruangan yang kurang optimal bisa mempercepat penumpukan kotoran di tempat tidur.

Pada situasi ini, mengganti sprei setiap 4–5 hari dinilai lebih ideal.

Tak hanya faktor lingkungan, kondisi pribadi juga memengaruhi jadwal penggantian sprei.

Orang dengan riwayat alergi, asma, atau kulit sensitif cenderung lebih rentan terhadap tungau debu.

Sprei yang jarang dicuci bisa memicu bersin, hidung tersumbat, mata gatal, hingga iritasi kulit saat bangun tidur.

Kebiasaan sehari-hari pun ikut berperan. Makan di atas tempat tidur, tidur tanpa pakaian, atau membiarkan hewan peliharaan naik ke kasur meningkatkan jumlah bakteri dan kotoran yang menempel di kain.

Dalam kondisi ini, sprei sebaiknya diganti lebih sering dari jadwal normal.

Saat tubuh sedang sakit, seperti demam atau flu, kebersihan sprei menjadi semakin penting.

Mencuci sprei setiap beberapa hari dapat membantu mencegah bakteri dan virus bertahan di kain, sekaligus mengurangi risiko infeksi ulang setelah tubuh mulai pulih.

Meski ada yang merasa mengganti sprei dua minggu sekali masih nyaman, para pakar menilai interval tersebut merupakan batas maksimum, bukan kebiasaan ideal terutama jika kasur digunakan setiap hari.

Selain sprei, sarung bantal (pillowcase) juga perlu perhatian khusus. Karena bersentuhan langsung dengan wajah dan rambut, sarung bantal lebih cepat menyerap minyak alami kulit, keringat, dan sisa produk perawatan wajah.

Banyak ahli menyarankan sarung bantal dicuci dua kali seminggu, khususnya bagi pemilik kulit sensitif atau berjerawat.

Pada akhirnya, rutinitas mengganti sprei bukan sekadar soal kebersihan visual atau aroma segar.

Kebiasaan sederhana ini berperan besar dalam menjaga kesehatan kulit, kualitas tidur, dan kenyamanan bernapas sepanjang malam.

Tidur di sprei bersih dapat membantu tubuh beristirahat lebih optimal dan bangun dengan perasaan lebih segar.(*)




Puasa Berselang Jadi Tren, Apa Manfaat dan Risikonya?

SEPUCUKJAMBI.ID Intermittent fasting atau puasa berselang semakin banyak diterapkan sebagai cara mengatur pola makan yang lebih terstruktur.

Metode ini diminati bukan hanya oleh mereka yang ingin menurunkan berat badan, tetapi juga oleh orang-orang yang ingin membangun kebiasaan makan lebih sadar dan terkontrol.

Berbeda dengan pola diet yang menitikberatkan pada pembatasan jenis makanan, intermittent fasting lebih berfokus pada pengaturan waktu makan.

Prinsip dasarnya adalah membagi hari ke dalam periode makan dan periode puasa, sehingga tubuh memiliki jeda tanpa asupan kalori dalam jangka waktu tertentu.

Salah satu pola yang paling populer adalah metode 16/8, yakni berpuasa selama 16 jam dan makan dalam jendela waktu 8 jam.

Selain itu, ada metode 5:2 yang memungkinkan seseorang makan seperti biasa selama lima hari, lalu membatasi asupan kalori pada dua hari lainnya.

Beberapa orang juga memilih puasa penuh selama 24 jam satu atau dua kali dalam seminggu.

Daya tarik utama intermittent fasting terletak pada fleksibilitasnya. Dengan membatasi jam makan, asupan kalori sering kali berkurang secara alami tanpa perlu menghitung makanan secara detail.

Karena itu, metode ini kerap dikaitkan dengan penurunan berat badan dan perbaikan metabolisme.

Sejumlah penelitian awal juga menunjukkan bahwa intermittent fasting berpotensi meningkatkan sensitivitas insulin, yang berperan penting dalam pengaturan kadar gula darah.

Selain itu, pola ini disebut-sebut dapat membantu tubuh lebih efisien dalam menggunakan energi yang tersimpan.

Meski terdengar sederhana, intermittent fasting sebaiknya dijalani secara bertahap, terutama bagi pemula.

Menggeser waktu makan secara perlahan dapat membantu tubuh beradaptasi tanpa menimbulkan efek tidak nyaman seperti pusing atau lemas berlebihan.

Selama masa puasa, kebutuhan cairan tetap harus dipenuhi. Air putih, teh tanpa gula, atau kopi hitam tanpa tambahan pemanis umumnya masih diperbolehkan.

Sementara itu, saat waktu makan tiba, pemilihan makanan bergizi seimbang menjadi kunci agar tubuh tetap mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.

Perlu diingat, intermittent fasting tidak cocok untuk semua orang.

Ibu hamil dan menyusui, individu dengan riwayat gangguan makan, serta penderita kondisi medis tertentu disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menerapkan pola ini.

Hingga kini, penelitian mengenai dampak jangka panjang intermittent fasting masih terus berkembang.

Meski sejumlah temuan menunjukkan potensi manfaat bagi metabolisme dan kesehatan jantung, diperlukan bukti ilmiah yang lebih kuat untuk memastikan keamanannya dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, intermittent fasting bukan sekadar tren diet, melainkan salah satu pendekatan dalam membentuk kebiasaan makan.

Jika dilakukan secara bijak dan disesuaikan dengan kondisi tubuh, metode ini dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang berkelanjutan.(*)




Kuku Tampak Pucat atau Rapuh? Waspadai Tanda Gangguan Ginjal

SEPUCUKJAMBI.ID – Kuku tidak hanya berperan sebagai pelindung ujung jari, tetapi juga dapat mencerminkan kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Dalam dunia medis, perubahan pada kuku kerap dikaitkan dengan gangguan tertentu, termasuk masalah pada fungsi ginjal.

Salah satu tanda yang sering dibahas adalah perubahan warna kuku.

Pada sebagian orang dengan gangguan ginjal, kuku dapat terlihat lebih pucat atau tampak putih di bagian tengah, sementara bagian tepinya cenderung lebih gelap.

Kondisi ini diduga berkaitan dengan perubahan aliran darah atau penumpukan zat sisa metabolisme dalam tubuh.

Tak hanya warna, tekstur kuku juga bisa mengalami perubahan.

Kuku yang menjadi rapuh, mudah pecah, atau muncul garis-garis pada permukaannya dapat mengindikasikan gangguan metabolisme.

Fungsi ginjal yang menurun dapat memengaruhi penyerapan nutrisi penting, sehingga berdampak pada kesehatan kuku.

Dalam beberapa kasus, kuku dapat terlihat kebiruan atau keabu-abuan. Warna ini bisa menandakan gangguan oksigenasi darah atau ketidakseimbangan elektrolit.

Ginjal berperan penting dalam menjaga keseimbangan mineral dalam tubuh, sehingga ketika fungsinya terganggu, dampaknya dapat terlihat hingga ke bagian kuku.

Perubahan bentuk kuku juga dilaporkan pada sebagian penderita gangguan ginjal.

Ujung kuku yang tampak lebih membulat atau menebal dapat berkaitan dengan masalah sirkulasi darah dan distribusi oksigen ke jaringan tubuh.

Meski demikian, perubahan pada kuku tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan ginjal.

Faktor lain seperti anemia, kekurangan vitamin, penyakit hati, hingga infeksi jamur juga dapat memengaruhi kondisi kuku.

Oleh karena itu, tanda pada kuku sebaiknya dilihat sebagai sinyal awal, bukan sebagai diagnosis.

Jika perubahan kuku disertai gejala lain seperti pembengkakan pada kaki atau pergelangan, rasa lelah berlebihan, mual, atau perubahan pola buang air kecil, pemeriksaan medis sangat disarankan.

Tes darah dan urin dapat membantu memastikan apakah terdapat gangguan fungsi ginjal atau penyebab lainnya.

Memerhatikan kondisi kuku secara rutin dapat menjadi langkah sederhana untuk mengenali perubahan dalam tubuh.

Deteksi dini terhadap tanda-tanda kesehatan yang tidak normal memungkinkan penanganan dilakukan lebih cepat dan tepat.(*)




Kenali Gejala dan Langkah Darurat Saat Serangan Jantung

SEPUCUKJAMBI.ID – Serangan jantung merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika aliran darah ke otot jantung tersumbat secara tiba-tiba.

Penyumbatan ini umumnya disebabkan oleh penumpukan plak kolesterol atau terbentuknya gumpalan darah di pembuluh darah jantung.

Kondisi ini sangat berbahaya, terlebih jika terjadi saat seseorang sedang sendirian tanpa bantuan di sekitar.

Gejala serangan jantung dapat muncul secara mendadak maupun perlahan.

Tanda yang paling umum adalah nyeri dada, rasa tertekan atau terbakar di dada, sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, hingga rasa tidak nyaman yang menjalar ke lengan kiri, leher, punggung, atau rahang.

Pada sebagian orang, terutama lansia dan perempuan, gejala bisa tidak khas dan kerap diabaikan.

Ketika serangan jantung terjadi saat sendirian, langkah pertama yang harus dilakukan adalah segera menghentikan seluruh aktivitas.

Ambil posisi duduk atau setengah berbaring dengan punggung disangga untuk mengurangi beban kerja jantung.

Usahakan tubuh tetap tenang dan hindari gerakan mendadak yang dapat memperparah kondisi.

Langkah paling krusial selanjutnya adalah segera menghubungi layanan gawat darurat. Penanganan serangan jantung membutuhkan pertolongan medis profesional secepat mungkin.

Saat menghubungi petugas, jelaskan gejala yang dirasakan dan lokasi secara rinci agar bantuan dapat datang tanpa hambatan.

Jika tersedia dan tidak memiliki alergi atau kontraindikasi medis, mengunyah aspirin dosis rendah dapat membantu memperlambat pembentukan gumpalan darah.

Aspirin bekerja sebagai pengencer darah, namun langkah ini hanya bersifat pertolongan awal dan tidak menggantikan perawatan medis.

Bagi penderita yang sebelumnya telah diresepkan nitrogliserin oleh dokter, obat tersebut dapat digunakan sesuai anjuran.

Nitrogliserin berfungsi melebarkan pembuluh darah sehingga dapat membantu meredakan nyeri dada dan memperbaiki aliran darah ke jantung.

Selama menunggu bantuan datang, atur pernapasan secara perlahan dan teratur.

Tarik napas dalam melalui hidung dan hembuskan perlahan melalui mulut.

Menjaga ketenangan sangat penting karena kepanikan dapat meningkatkan denyut jantung dan memperburuk kondisi.

Apabila kondisi memburuk hingga kehilangan kesadaran atau kesulitan bernapas, bantuan dari orang sekitar sangat diperlukan untuk memberikan pertolongan pertama sambil menunggu tenaga medis.

Oleh karena itu, penting untuk segera menghubungi bantuan sebelum kondisi semakin kritis.

Serangan jantung tidak boleh dianggap sepele.

Mengenali gejala sejak dini dan memahami langkah penyelamatan diri saat sendirian dapat meningkatkan peluang keselamatan serta menurunkan risiko komplikasi serius yang mengancam nyawa.(*)




Ombudsman Jambi Soroti Layanan BPJS, Masyarakat Diimbau Pahami Prosedur Kesehatan

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Masih maraknya keluhan dan kebingungan masyarakat terkait layanan BPJS Kesehatan, terutama dalam prosedur penggunaan fasilitas kesehatan, menjadi perhatian serius dari Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jambi.

M. Padli, Kepala Keasistenan Pemeriksaan Laporan Ombudsman Jambi, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima sejumlah laporan terkait penolakan pasien oleh rumah sakit di Provinsi Jambi.

Setelah dilakukan penelusuran, diketahui bahwa penolakan umumnya terjadi karena peserta BPJS Kesehatan tidak memenuhi syarat atau prosedur yang telah ditetapkan.

“Fasilitas kesehatan memang berkewajiban memberikan pelayanan, namun pada praktiknya masih banyak masyarakat yang belum memahami regulasi yang berlaku. Akibatnya, mereka gagal mendapatkan layanan yang diharapkan,” ujar Padli dalam dialog publik di Stasiun RRI Jambi, Kamis (31/7/2025).

Ia menegaskan, pentingnya edukasi publik secara terus-menerus tentang tata cara penggunaan BPJS, terutama mengenai sistem rujukan dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan ketentuan layanan di Unit Gawat Darurat (UGD) yang harus memenuhi kriteria medis tertentu.

“Kami mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk aktif memberikan edukasi, termasuk soal kewajiban membayar iuran agar peserta bisa menerima pelayanan sesuai ketentuan,” jelas Padli.

Sementara itu, Kepala Bagian Mutu Layanan Kepesertaan BPJS Kesehatan Cabang Jambi, Adithia Hangga Rimartha, mengatakan bahwa edukasi merupakan salah satu hak peserta JKN.

Oleh karena itu, BPJS Kesehatan menyediakan berbagai kanal informasi yang mudah diakses masyarakat.

“Kami memiliki call center 165, media sosial resmi, website, dan aplikasi Mobile JKN yang bisa digunakan peserta untuk mendapatkan informasi atau layanan digital,” tutur Adithia.

Selain itu, BPJS Kesehatan juga menempatkan petugas di rumah sakit untuk memberikan informasi langsung dan membantu menyelesaikan kendala peserta di lapangan.

Adithia pun mengajak masyarakat agar aktif mencari informasi, serta berpartisipasi dengan menyampaikan kritik, saran, dan laporan kepada BPJS Kesehatan sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan publik.(*)