Pelabuhan Talang Duku Terapkan PAB Mulai Agustus 2026, Pelindo Perkuat Sistem Logistik Nasional

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Jambi terus memperkuat perannya dalam mendukung transformasi logistik nasional melalui implementasi Pemberitahuan Perdagangan Antarpulau Barang (PAB) di Pelabuhan Talang Duku.

Program tersebut akan mulai diterapkan pada 1 Agustus 2026 sebagai bagian dari upaya menciptakan sistem perdagangan domestik yang lebih tertib, transparan, dan terintegrasi.

Komitmen itu diwujudkan melalui Coaching Clinic Implementasi PAB Tahap IV yang diselenggarakan Direktorat Sarana Perdagangan dan Logistik Kementerian Perdagangan RI bekerja sama dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Talang Duku di Pelabuhan Talang Duku, Jambi, Senin 21 Juli 2026.

Implementasi PAB merupakan tindak lanjut Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 27 Tahun 2024 tentang Perdagangan Antarpulau serta Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 41 Tahun 2025 mengenai penahapan pelabuhan dalam penerapan Nomor Laporan PAB sebagai syarat penerbitan akses masuk barang ke kawasan pelabuhan.

Direktur Sarana Perdagangan dan Logistik Kementerian Perdagangan RI, Sri Sugy Atmanto, mengatakan implementasi PAB menjadi bagian penting dalam membangun tata kelola perdagangan domestik yang lebih efisien melalui integrasi sistem antar kementerian dan lembaga.

Menurutnya, pelaporan PAB tidak hanya meningkatkan kepatuhan pelaku usaha, tetapi juga menjadi fondasi dalam mewujudkan Satu Data Perdagangan Antarpulau yang akurat sebagai dasar penyusunan kebijakan pemerintah.

“Pelaporan PAB menjadi kunci dalam percepatan implementasi National Logistic Ecosystem karena menyediakan informasi mengenai alur distribusi barang yang dibutuhkan pemerintah dalam perencanaan, pengawasan, dan pengambilan kebijakan,” ujar Sri Sugy Atmanto.

Ia mengajak seluruh pelaku usaha memanfaatkan masa persiapan sebelum implementasi Tahap IV diberlakukan agar proses pelaporan berjalan optimal.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, sepanjang 1 Januari hingga 30 Juni 2026, volume perdagangan melalui Pelabuhan Talang Duku mencapai 3.685,74 ton, didominasi komoditas minyak sawit beserta turunannya serta berbagai komoditas kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, General Manager PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Jambi, Febrianto Zenny Sulistyo Harimurti, menegaskan kesiapan Pelindo dalam mendukung implementasi PAB melalui integrasi layanan kepelabuhanan dan digitalisasi sistem logistik.

Menurutnya, Pelindo tidak hanya berperan sebagai operator pelabuhan, tetapi juga menjadi penghubung berbagai kebijakan dan layanan untuk memperkuat ekosistem logistik nasional.

“Pelindo hadir bukan hanya sebagai operator pelabuhan, tetapi sebagai enabler yang menghubungkan kebijakan, layanan, dan kolaborasi untuk mewujudkan ekosistem logistik nasional yang semakin terintegrasi, efisien, dan berdaya saing,” kata Febrianto.

Ia menjelaskan, implementasi Nomor PAB sebagai referensi penerbitan akses masuk barang ke kawasan pelabuhan merupakan bagian dari transformasi layanan berbasis digital yang diharapkan mampu mempercepat proses bisnis, meningkatkan transparansi, serta memberikan kemudahan bagi pengguna jasa.

Pelabuhan Talang Duku menjadi salah satu pelabuhan yang masuk dalam Tahap IV implementasi PAB.

Program ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari regulator, operator pelabuhan, perusahaan pelayaran, perusahaan bongkar muat, perusahaan jasa pengurusan transportasi, cargo owner, hingga pengelola Terminal Khusus (Tersus) dan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS).

Coaching Clinic tersebut diikuti lebih dari 200 peserta secara luring maupun daring. Para peserta memperoleh pembekalan mengenai penerapan PAB, penggunaan sistem Indonesia National Single Window (INSW), hingga pemanfaatan Nomor PAB sebagai syarat penerbitan akses masuk barang ke kawasan pelabuhan.

Materi disampaikan oleh perwakilan Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kementerian Perhubungan, Lembaga National Single Window (LNSW) Kementerian Keuangan, serta PT Pelabuhan Indonesia (Persero).

Febrianto menegaskan keberhasilan implementasi PAB membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar transformasi logistik nasional berjalan optimal.

Keberhasilan transformasi logistik nasional tidak hanya ditentukan oleh kebijakan yang baik, tetapi juga oleh kolaborasi yang kuat dalam implementasinya.

“Pelindo akan terus mendukung terciptanya ekosistem logistik yang semakin terintegrasi sehingga mampu memberikan kemudahan berusaha, meningkatkan efisiensi layanan, dan memperkuat daya saing logistik Indonesia,” pungkasnya.(*)




Saat Logistik Menjadi Nadi Ekonomi: Peran PTP Nonpetikemas di Jambi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Di tengah ambisi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, satu hal yang kerap luput dari perhatian adalah logistik.

Padahal, sekuat apa pun produksi suatu daerah baik itu karet, pinang, maupun komoditas perkebunan lainnya tanpa sistem logistik yang efisien, semuanya akan terhambat di titik distribusi.

Di Provinsi Jambi, denyut logistik itu salah satunya bertumpu pada Pelabuhan Talang Duku.

Sebagai pelabuhan sungai, Talang Duku memiliki keunggulan tersendiri: relatif stabil dari pengaruh pasang surut air laut.

Namun keunggulan geografis ini tidak otomatis menjamin efisiensi jika tidak diimbangi dengan sistem yang modern dan terintegrasi.

Di sinilah peran PTP Nonpetikemas menjadi penting. Upaya yang dilakukan melalui digitalisasi layanan, peningkatan fasilitas, serta penguatan kolaborasi lintas sektor menunjukkan arah transformasi yang tepat.

Namun, pertanyaannya: apakah itu sudah cukup?

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa efisiensi logistik masih menghadapi tantangan klasik.

Proses bongkar muat, misalnya, bisa memakan waktu hingga enam sampai tujuh hari untuk satu muatan tongkang.

Bahkan, keterbatasan operasional gudang penerima yang tidak berjalan 24 jam turut memperlambat distribusi barang.

Ini bukan semata persoalan pelabuhan, tetapi persoalan ekosistem logistik secara keseluruhan.

Branch Manager PTP Nonpetikemas Pelabuhan Talang Duku, Romi Hasbeni, menyebut bahwa pihaknya terus melakukan inovasi, termasuk melalui penerapan sistem digital seperti Truck Identification Data (STID) dan sistem operasional berbasis daring.

“Kami berkomitmen mempercepat distribusi barang melalui digitalisasi dan peningkatan layanan agar daya saing industri di Jambi semakin meningkat,” ujarnya.

Langkah ini patut diapresiasi. Digitalisasi memang menjadi kunci dalam menekan biaya logistik yang selama ini dikenal tinggi di Indonesia.

Dengan sistem yang mampu memantau arus kendaraan secara real-time serta menyediakan data operasional secara terbuka, transparansi dan efisiensi dapat ditingkatkan.

Namun, digitalisasi saja tidak cukup tanpa diiringi perubahan pola kerja seluruh rantai distribusi.

Efisiensi pelabuhan akan sia-sia jika tidak diikuti kesiapan sektor lain, seperti pergudangan, transportasi darat, hingga regulasi yang mendukung kelancaran arus barang.

Lebih jauh, logistik bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga soal daya saing. Ketika biaya distribusi tinggi, maka harga komoditas ikut terdorong naik.

Dampaknya, produk daerah menjadi kurang kompetitif di pasar nasional maupun global.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi itu sendiri.

Data arus barang yang mencapai sekitar 81 ribu ton sejak awal 2026 menunjukkan bahwa aktivitas logistik di Jambi terus bergerak.

Namun angka tersebut seharusnya tidak hanya dilihat sebagai capaian, melainkan sebagai sinyal bahwa kebutuhan akan sistem logistik yang lebih efisien semakin mendesak.

Di sisi lain, kontribusi sosial melalui program TJSL juga menjadi elemen penting. Kehadiran pelabuhan tidak boleh hanya dirasakan sebagai pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

Di sinilah keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan sosial diuji.

Ke depan, penguatan logistik di Jambi membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh.

Pemerintah daerah, operator pelabuhan, pelaku usaha, hingga masyarakat harus berada dalam satu visi yang sama. Kolaborasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Transformasi yang dilakukan saat ini adalah langkah awal. Namun untuk benar-benar menjadikan logistik sebagai penggerak utama ekonomi daerah, diperlukan keberanian untuk melakukan reformasi yang lebih luas mulai dari infrastruktur, sistem kerja, hingga kebijakan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Dari tepian Sungai Batanghari, kita belajar satu hal: bahwa ekonomi tidak hanya tumbuh dari apa yang diproduksi, tetapi juga dari seberapa cepat dan efisien produk itu sampai ke pasar.(*)




Krisis Kapal ke Iran, Ekspor Pinang Jambi Beralih ke Rute Alternatif

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Gangguan jalur pengiriman ke kawasan Timur Tengah memaksa pelaku usaha pinang di Jambi mengubah strategi ekspor.

Minimnya ketersediaan kapal tujuan Iran menjadi kendala utama yang dihadapi saat ini.

Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jambi, Sudiwan Situmorang, menjelaskan bahwa selama ini ekspor pinang dari Jambi dilakukan melalui beberapa jalur distribusi internasional.

“Ada yang lewat Talang Duku ke Singapura, kemudian dilanjutkan ke Timur Tengah. Ada juga yang melalui Kuala Tungkal ke Port Klang, bahkan bisa lewat Tanjung Priok, Belawan, atau Lampung,” ujarnya.

Namun dalam kondisi saat ini, sejumlah jalur tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Salah satu kendala utama adalah ketidakpastian jadwal kapal dari Singapura menuju Iran.

Situasi ini membuat eksportir harus lebih berhati-hati dalam menentukan rute pengiriman.

“Karena tidak ada kepastian kapal, sebagian eksportir memilih menunda pengiriman atau mencari jalur alternatif yang lebih memungkinkan,” kata Sudiwan.

Sebagai langkah antisipasi, beberapa pelaku usaha mulai mengalihkan pengiriman ke jalur lain.

Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah melalui Tanjung Priok dengan menggunakan kapal berbendera Iran.

“Ada perusahaan yang sudah mengajukan rencana pengiriman lewat Tanjung Priok dan dijadwalkan berangkat dalam waktu dekat,” jelasnya.

Di sisi lain, muncul pula informasi terkait potensi kendala pengiriman melalui Port Klang.

Meski demikian, hingga kini belum ada kepastian resmi mengenai hal tersebut.

Kondisi ini membuat pelaku usaha harus melakukan perhitungan ulang terhadap biaya logistik dan potensi keuntungan.

Ketidakpastian jalur distribusi berdampak langsung pada efisiensi bisnis ekspor.

“Pengusaha sekarang harus benar-benar menghitung. Jika masih menguntungkan, ekspor tetap jalan. Tapi kalau tidak, mereka memilih menunggu situasi lebih stabil,” ungkap Sudiwan.

Meski menghadapi berbagai tantangan, aktivitas ekspor pinang dari Jambi masih berlangsung.

Namun, para eksportir kini cenderung lebih selektif dalam memilih jalur distribusi di tengah dinamika global yang belum kondusif.(*)