Beras Premium Kemasan 5 Kg Hilang dari Sejumlah Pasar Jambi, Ini Penyebabnya

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Konsumen di Kota Jambi mulai kesulitan menemukan beras premium kemasan 5 kilogram di sejumlah pasar.

Kelangkaan tersebut terpantau di pasar tradisional hingga jaringan ritel modern.

Kondisi itu terungkap dalam pemantauan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi bersama Tim Satgas Pangan dan Bulog di sejumlah titik penjualan pada Sabtu lalu.

Salah satu lokasi yang mengalami kekosongan adalah Pasar Angso Duo.

Beberapa merek beras premium kemasan 5 kilogram yang selama ini beredar, di antaranya Belido dan Topi Koki, disebut tidak lagi ditemukan saat pemantauan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi, Johansyah, membenarkan kondisi tersebut.

“Memang khususnya di Pasar Angso Duo, beras kemasan 5 kilo yang premium dari beberapa jenis beras premium itu tidak dapat kita jumpai lagi,” ujar Johansyah.

Gangguan pasokan tersebut ternyata bukan semata-mata disebabkan tingginya permintaan di Jambi.

Johansyah menyebut distributor beras dari Palembang untuk sementara menghentikan produksi beras premium kemasan 5 kilogram.

Keputusan tersebut dipengaruhi meningkatnya biaya produksi, terutama harga bahan kemasan dan ongkos distribusi.

Di sisi lain, ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) juga menjadi persoalan yang ikut membebani proses distribusi.

Akibat tekanan biaya tersebut, produksi beras kemasan 5 kilogram diperkirakan berhenti selama sekitar dua bulan.

“Ini dikarenakan biaya kemasannya sudah naik. Kemudian ongkos angkutnya juga meningkat. Belum lagi ditambah susahnya mendapat BBM,” jelas Johansyah.

Kondisi ini berpotensi membuat pilihan beras premium kemasan di tingkat konsumen semakin terbatas jika pasokan alternatif belum segera masuk ke pasar.

Meski beras premium kemasan 5 kilogram dari sejumlah merek mengalami kekosongan, pemerintah memastikan masyarakat masih memiliki pilihan pasokan lain.

Bulog menyiapkan beras SPHP jenis medium serta beras premium Befood untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Konsumen dapat memperoleh beras tersebut melalui gudang Bulog maupun toko TPID yang berada di Pasar Angso Duo dan Pasar Talang Banjar.

Johansyah memastikan beras yang disediakan Bulog dijual mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.

Pemerintah pun mengarahkan masyarakat yang kesulitan mendapatkan beras premium kemasan 5 kilogram di pasar untuk sementara beralih ke produk yang disediakan Bulog.

“Bagi masyarakat yang ingin mencari beras medium seperti jenis Belido dan sebagainya, kami arahkan membeli beras Bulog, baik medium SPHP maupun premium Befood,” katanya.

Selain mengandalkan stok Bulog, upaya menambah pasokan juga dilakukan melalui sektor swasta.

Bulog pusat telah meminta perusahaan swasta, termasuk Wilmar, untuk membantu memasok beras ke pasar tradisional maupun ritel modern.

Namun, waktu masuknya pasokan tambahan tersebut ke Jambi belum dapat dipastikan.

Artinya, dalam waktu dekat konsumen masih berpotensi menghadapi keterbatasan pilihan beras premium kemasan 5 kilogram, terutama untuk merek tertentu yang pasokannya bergantung pada distributor dari Palembang.

Pemerintah kini mengandalkan pasokan Bulog sebagai salah satu penyangga untuk menjaga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama distribusi beras premium kembali normal.(*)




Pasokan Terbatas, Harga Cabai Rawit dan Merah Naik Tajam di Kota Jambi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Harga sejumlah jenis cabai di Pasar Angso Duo, Kota Jambi, mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir.

Lonjakan harga paling terasa pada cabai rawit dan cabai merah keriting yang kini dijual jauh lebih mahal dibandingkan pekan sebelumnya.

Salah seorang pedagang di Pasar Angso Duo, Fitri, mengungkapkan bahwa kenaikan harga cabai sudah terjadi hampir sepekan.

Cabai merah yang sebelumnya dijual dengan harga Rp28 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram, kini melonjak hingga kisaran Rp50 ribu sampai Rp60 ribu per kilogram.

Menurut Fitri, kenaikan harga dipicu oleh pasokan cabai yang sangat terbatas di tingkat pedagang. Kondisi ini membuat harga cepat terdorong naik karena permintaan pasar tetap tinggi.

Berbeda dengan cabai merah, harga cabai hijau masih terpantau relatif stabil dan belum menunjukkan kenaikan berarti.

Padahal, beberapa hari sebelumnya harga cabai merah sempat turun dan berada di kisaran Rp24 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram sebelum kembali melonjak dalam dua hari terakhir.

Menanggapi situasi tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi, Johansyah, menjelaskan bahwa pemerintah daerah bersama Badan Pusat Statistik (BPS) serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan secara rutin melakukan pemantauan harga pangan setiap hari.

Berdasarkan laporan pengelola Pasar Angso Duo, kenaikan harga cabai merah keriting terjadi akibat berkurangnya cabai yang layak jual di pasar.

Meskipun pasokan cabai dari daerah Kerinci maupun dari luar Provinsi Jambi masih tersedia, sebagian besar cabai yang masuk dalam kondisi terlalu basah sehingga tidak dapat dipasarkan.

Akibatnya, jumlah cabai yang siap edar berkurang dan berdampak pada kenaikan harga di tingkat pedagang.

Saat ini, harga cabai merah keriting di tingkat pasar berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram.

Johansyah memastikan bahwa harga cabai di Pasar Angso Duo masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan, yakni sekitar Rp51.700 per kilogram, sehingga secara umum kondisi harga masih tergolong stabil.

Untuk mencegah kenaikan harga lanjutan, pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan agen dan distributor guna memperpendek rantai distribusi.

Ke depan, pasokan cabai akan lebih dioptimalkan dari daerah terdekat seperti Kerinci agar kualitas tetap terjaga dan harga dapat dikendalikan di pasaran.(*)