Apa Itu Dopamine Detox? Tren Gaya Hidup yang Diklaim Bisa Reset Otak

SEPUCUKJAMBI.ID – Belakangan ini, istilah dopamine detox semakin sering muncul di media sosial dan konten gaya hidup.
Banyak yang menyebutnya sebagai cara untuk “mereset otak”, mengurangi kecanduan gawai, hingga membantu meningkatkan fokus dan produktivitas.
Tren ini pun menarik perhatian, terutama di tengah kehidupan digital yang serba cepat dan penuh distraksi.
Namun, dopamine detox bukan berarti menghilangkan dopamine dari tubuh.
Dopamine adalah zat kimia alami di otak yang berperan penting dalam rasa senang, motivasi, dan kepuasan.
Masalah muncul ketika otak terlalu sering terpapar rangsangan instan, seperti notifikasi media sosial, video pendek, gim, makanan tinggi gula, hingga belanja impulsif.
Akibatnya, otak menjadi terbiasa dengan kesenangan cepat dan kehilangan kepekaan terhadap hal-hal sederhana.
Konsep dopamine detox hadir sebagai upaya memberi jeda dari rangsangan berlebihan tersebut.
Secara sederhana, ini adalah praktik membatasi sementara aktivitas yang memicu lonjakan dopamine secara instan, agar otak bisa kembali “tenang” dan lebih fokus.
Tujuannya bukan menyiksa diri, melainkan mengembalikan kendali atas perhatian dan kebiasaan sehari-hari.
Dalam praktiknya, dopamine detox dilakukan dengan berbagai cara.
Ada yang memilih berhenti sementara dari media sosial, mengurangi waktu layar, atau menghindari hiburan digital tertentu.
Sebagian orang juga membatasi konsumsi makanan manis, berhenti multitasking, dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih pelan, seperti membaca buku, berjalan kaki, menulis jurnal, atau sekadar menikmati waktu tanpa gawai.
Tren ini banyak diminati karena semakin banyak orang merasa kelelahan secara mental.
Notifikasi yang terus masuk, tuntutan untuk selalu online, serta kebiasaan scrolling tanpa henti membuat otak jarang benar-benar beristirahat.
Dopamine detox dianggap sebagai cara untuk memperlambat ritme hidup dan mengembalikan fokus pada hal yang lebih penting.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa dopamine detox bukan solusi instan atau metode ilmiah yang kaku. Jika dilakukan terlalu ekstrem misalnya menghindari semua bentuk hiburan justru bisa menimbulkan stres baru.
Pendekatan yang lebih sehat adalah menjadikannya sebagai sarana refleksi, untuk mengenali kebiasaan mana yang perlu dikurangi dan mana yang masih bisa dinikmati secara wajar.
Pada akhirnya, dopamine detox bukan tentang hidup tanpa kesenangan. Justru sebaliknya, ini adalah upaya menikmati hidup dengan lebih sadar.
Ketika otak tidak terus dibanjiri rangsangan instan, fokus bisa meningkat, pikiran terasa lebih jernih, dan hal-hal sederhana kembali memberi rasa cukup.(*)