Bantuan Rp7 Miliar dari Jabar Dikirim ke Aceh, Dedi Mulyadi Ikut Cari Kerabatnya

BANDUNG, SEPUCUKJAMBI.ID – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bertolak ke Sumatera pada awal Desember 2025 untuk menyerahkan bantuan kemanusiaan sekaligus mencari anggota keluarganya yang hilang kontak akibat bencana banjir dan longsor di Aceh.

Kunjungan ini menarik perhatian publik karena memadukan tugas resmi sebagai kepala daerah dengan kepentingan pribadi yang sangat emosional.

Dedi membawa bantuan senilai sekitar Rp7 miliar yang dihimpun dari berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kadin, Apindo, Baznas, hingga Bank BJB.

Bantuan tersebut dikirim menggunakan dua pesawat Susi Air agar dapat menjangkau lokasi yang sulit dilalui jalur darat.

Sejumlah kebutuhan pokok juga dibeli langsung dari pedagang di Sumatera Barat untuk mempercepat distribusi menuju wilayah-wilayah terdampak.

Dalam pernyataannya, Dedi menegaskan bahwa keluarganya di Aceh masih belum dapat dihubungi setelah bencana terjadi.

“Saudara saya sampai sekarang hilang kontak di Aceh,” ujar Dedi di Gedung Sate, Bandung.

“Saya nanti juga akan mencoba mencari apakah saudara saya bisa ditemukan,” tambahnya.

Setibanya di Sumatra Barat, Dedi disambut hangat warga. Ia meninjau sejumlah toko dan sentra logistik lokal untuk memastikan bantuan yang dibeli sesuai kebutuhan lapangan.

Dedi juga mengajak masyarakat Jawa Barat terus menunjukkan solidaritas bagi korban bencana di Sumatera serta mengingatkan para pemangku kebijakan agar lebih bijak dalam mengambil keputusan yang dapat berdampak pada kerentanan bencana.

Sementara itu, kondisi di Aceh dan beberapa wilayah Sumatra lainnya masih memprihatinkan.

Rusaknya jaringan komunikasi serta akses wilayah membuat proses pencarian korban, termasuk keluarga Dedi, berjalan lambat.

Pemerintah daerah setempat masih melakukan pendataan dan pencarian, namun banyak warga yang dilaporkan hilang kontak belum dapat dipastikan keberadaannya.

Hingga berita ini ditulis, rombongan Gubernur Jawa Barat masih melakukan distribusi bantuan.

Sementara upaya pencarian anggota keluarga Dedi terus dilakukan mengikuti perkembangan situasi di lapangan.(*)




Modernisasi Jalur Cikampek–Padalarang, Proyek Kilat Pajajaran Masuk Tahap Perencanaan

BANDUNG, SEPUCUKJAMBI.ID – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, resmi mengumumkan kerja sama strategis dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk menghadirkan layanan kereta cepat Kilat Pajajaran.

Proyek ini digagas untuk memangkas waktu perjalanan Jakarta (Gambir)–Bandung menjadi sekitar 1,5 jam, jauh lebih cepat dibandingkan layanan reguler yang kini memerlukan 2,5–3 jam.

Dedi menyebut percepatan layanan kereta ini sebagai langkah penting untuk meningkatkan konektivitas antarkota, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi, logistik, dan pariwisata di Jawa Barat.

“Kami ingin menghadirkan mobilitas yang lebih efisien dan nyaman bagi masyarakat,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan anggaran sekitar Rp 8 triliun, yang dialokasikan bertahap melalui APBD untuk modernisasi jalur kereta eksisting.

Pendekatan ini dipilih untuk menghindari pembangunan rel baru dan fokus pada peningkatan infrastruktur.

Seperti perbaikan tikungan, penataan kontur jalur, serta penggunaan teknologi bogie tilting yang memungkinkan kereta melaju lebih cepat pada lintasan berkelok tanpa mengurangi aspek keselamatan.

KAI menjelaskan bahwa hambatan terbesar kecepatan kereta selama ini bukan pada armada, tetapi pada kondisi jalur Cikampek–Padalarang yang memiliki banyak tikungan dan elevasi menurun.

Modernisasi jalur menjadi kunci agar kereta dapat mencapai kecepatan tinggi dengan aman.

Selain melayani penumpang, kereta cepat Kilat Pajajaran juga akan difokuskan pada distribusi logistik, terutama untuk hasil pertanian Jawa Barat.

Pemerintah berharap layanan ini dapat mempercepat arus komoditas dari sentra produksi ke kota-kota besar.

Meski konsepnya telah diperkenalkan, proyek ini masih berada dalam tahap perencanaan dan kajian teknis.

Modernisasi jalur diprediksi berjalan mulai tahun 2027 hingga 2030, bergantung pada kesiapan pendanaan, koordinasi lintas daerah, dan proses pembebasan lahan.

Sejumlah pihak juga memberikan catatan mengenai potensi tumpang tindih dengan moda transportasi lain dan kebutuhan infrastruktur daerah yang masih mendesak.

Namun Pemprov Jawa Barat menegaskan bahwa Kilat Pajajaran merupakan investasi jangka panjang yang akan meningkatkan efisiensi perjalanan, mengurangi kemacetan, dan menumbuhkan pusat ekonomi baru.

Dedi Mulyadi berharap proyek ini menjadi contoh transformasi transportasi publik modern di Indonesia.(*)