Peringatan Dini Cuaca Jambi Malam Ini: Merangin, Sarolangun, dan Bungo Berpotensi Hujan Lebat

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Sejumlah wilayah di Provinsi Jambi berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang pada Senin malam, 26 Oktober 2026.

Berdasarkan informasi peringatan dini cuaca yang diterbitkan pada pukul 20.45 WIB, kondisi tersebut diperkirakan mulai terjadi sekitar pukul 21.15 WIB.

Potensi cuaca buruk mencakup sejumlah kecamatan di Kabupaten Merangin, Sarolangun, dan Bungo.

Masyarakat di wilayah terdampak perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di luar rumah ketika hujan disertai petir dan angin kencang.

Daftar Wilayah yang Berpotensi Terdampak

Pada tahap awal, hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi di wilayah berikut:

Kabupaten Merangin

  • Tabir
  • Pamenang Selatan
  • Tiang Pumpung

Kabupaten Sarolangun

  • Batang Asai
  • Limun
  • Bathin VIII
  • Cermin Nan Gedang

Kabupaten Bungo

  • Pelepat

Peringatan tersebut juga menyebut potensi perluasan hujan ke sejumlah kecamatan lainnya, khususnya di Kabupaten Merangin.

Hujan Berpotensi Meluas ke Kecamatan Lain

Wilayah yang berpotensi mengalami perluasan cuaca buruk meliputi:

Kabupaten Merangin

  • Bangko
  • Sungai Manau
  • Pamenang
  • Tabir Ulu
  • Tabir Selatan
  • Bangko Barat
  • Nalo Tatan
  • Batang Masumai
  • Pamenang Barat
  • Renah Pembarap
  • Pangkalan Jambu
  • Renah Pamenang
  • Margo Tabir
  • Tabir Lintas

Informasi peringatan dini tersebut memperkirakan kondisi hujan dapat berlangsung hingga pukul 23.15 WIB.

Perkembangan cuaca di setiap wilayah dapat berbeda, sehingga masyarakat perlu memperhatikan pembaruan informasi dari sumber resmi.

Waspadai Petir dan Angin Kencang

Hujan yang disertai petir dan angin kencang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat.

Warga sebaiknya menghindari berteduh di bawah pohon, menjauhi tiang atau benda tinggi yang berdiri sendiri saat terjadi petir, serta mengamankan benda di luar rumah yang mudah terbawa angin.

Pengendara juga perlu mengurangi kecepatan ketika hujan mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan licin.

Jika kondisi tidak aman, sebaiknya berhenti di tempat yang terlindung dan jauh dari pohon besar maupun papan reklame.

Masyarakat di sekitar aliran sungai dan kawasan rawan genangan juga perlu memantau perubahan kondisi lingkungan selama hujan berlangsung.

Warga diimbau mengikuti informasi cuaca terbaru dari BMKG dan memperhatikan arahan pemerintah daerah atau petugas setempat.

Peringatan dini merupakan informasi potensi cuaca, bukan kepastian bahwa seluruh wilayah yang disebut akan mengalami kondisi yang sama.(*)




Kabut Asap Selimuti Kota Jambi, Bagaimana Kondisi Penerbangan di Bandara Sultan Thaha?

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Kabut asap kembali menyelimuti Kota Jambi pada Rabu 21 Oktober 2026 pagi.

Kondisi ini mengurangi jarak pandang di sejumlah kawasan dan menimbulkan perhatian terhadap aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi.

Kepekatan asap menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai dalam operasional penerbangan.

Jika jarak pandang berada di bawah batas yang dipersyaratkan untuk kondisi operasional tertentu, keberangkatan maupun kedatangan pesawat berpotensi mengalami penyesuaian.

Berdasarkan data operasional bandara pada Selasa 20 Oktober 2026, jarak pandang di Bandara Sultan Thaha sempat turun hingga 800 meter pada pukul 06.00 WIB.

Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 1.400 meter pada pukul 07.00 WIB, sebelum tercatat 1.300 meter pada pukul 08.00 WIB.

Kondisi berangsur membaik menjelang siang. Jarak pandang mencapai 3.000 meter pada pukul 10.00 WIB dan meningkat hingga 7.000 meter pada pukul 13.30 WIB.

Namun, jarak pandang kembali mengalami penurunan pada sore hingga malam hari. Pada pukul 18.00 WIB, jarak pandang tercatat berada di angka 2.200 meter.

Penerbangan Selasa Dilaporkan Berjalan Normal

Meski jarak pandang sempat menurun akibat kondisi asap, operasional penerbangan di Bandara Sultan Thaha pada Selasa masih berlangsung normal.

Berdasarkan keterangan manajemen bandara, tidak ada penerbangan yang mengalami keterlambatan akibat kabut asap pada hari tersebut.

Penyesuaian terhadap sejumlah jadwal penerbangan sebelumnya juga telah dilakukan sebagai langkah antisipasi menghadapi perubahan cuaca dan kondisi asap.

Sementara itu, perkembangan terbaru mengenai jarak pandang dan aktivitas penerbangan pada Rabu pagi masih memerlukan konfirmasi dari pihak bandara.

Data operasional sehari sebelumnya belum dapat dijadikan dasar untuk memastikan apakah penerbangan pada Rabu mengalami gangguan.

Calon Penumpang Diminta Memantau Jadwal Penerbangan

Di tengah kondisi kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi, calon penumpang diimbau untuk memantau informasi keberangkatan dan kedatangan pesawat melalui kanal resmi maskapai masing-masing.

Langkah tersebut penting untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan jadwal apabila kondisi cuaca atau jarak pandang memengaruhi operasional penerbangan.

Untuk memperoleh informasi terkait layanan kebandarudaraan, pengguna jasa juga dapat menghubungi Contact Center InJourney Airports melalui nomor 172.

Manajemen Bandara Sultan Thaha sebelumnya menyatakan bahwa tim operasional terus berkoordinasi dengan maskapai dan instansi terkait guna menangani kebutuhan penumpang apabila terjadi penundaan.

Informasi mengenai jadwal penerbangan juga diperbarui secara berkala.

Penanganan Karhutla Diharapkan Kurangi Dampak Asap

Kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi kembali menyoroti pentingnya pemantauan kualitas udara dan jarak pandang, terutama di kawasan yang berkaitan dengan keselamatan transportasi udara.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Jambi juga menjadi perhatian untuk menekan sumber asap yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat.

Hingga informasi terbaru mengenai kondisi penerbangan Rabu pagi diperoleh dari pihak bandara, calon penumpang disarankan tetap memeriksa status penerbangan secara berkala dan mengikuti arahan resmi petugas.

Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas, sementara perkembangan kondisi asap dan jarak pandang akan menjadi faktor penting dalam menentukan kelancaran operasional bandara.(*)




Jarak Pandang Bandara Jambi Turun ke 1.100 Meter, Penerbangan Pagi Terbatas

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Jarak pandang di Bandara Sultan Thaha Jambi menurun hingga 1.100 meter pada Rabu 14 Oktober 2026 pukul 09.00 WIB.

Kondisi tersebut terjadi setelah jarak pandang sempat mencapai 3.800 meter pada pukul 06.00 WIB, berdasarkan data pemantauan yang diterima.

Perubahan jarak pandang pada pagi hari menjadi perhatian dalam operasional penerbangan di bandara tersebut.

Hingga pukul 09.00 WIB, baru satu penerbangan keberangkatan yang tercatat, yakni ID 6807 tujuan Jakarta, yang telah berangkat pada pukul 06.00 WIB.

Sementara itu, penerbangan berikutnya dalam jadwal yang tersedia berlangsung pada sore hari.

Sejumlah maskapai juga menjadwalkan penerbangan pada sore hingga malam sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi jarak pandang yang terbatas pada pagi hingga siang hari.

Data pemantauan pada 14 Oktober 2026 menunjukkan jarak pandang di Bandara Sultan Thaha Jambi mengalami perubahan cukup besar sepanjang pagi.

Berikut rincian jarak pandang berdasarkan waktu pengamatan:

Waktu pengamatan Jarak pandang
06.00 WIB 3.800 meter
07.00 WIB 1.600 meter
08.00 WIB 1.900 meter
09.00 WIB 1.100 meter

Jarak pandang turun dari 3.800 meter pada pukul 06.00 WIB menjadi 1.600 meter satu jam kemudian.

Pada pukul 08.00 WIB, jarak pandang sempat meningkat menjadi 1.900 meter sebelum kembali turun ke 1.100 meter pada pukul 09.00 WIB.

Data tersebut memperlihatkan bahwa jarak pandang tidak menurun secara berurutan setiap jam, tetapi mengalami fluktuasi.

Angka terendah dalam rangkaian pengamatan tersebut tercatat pada pukul 09.00 WIB.

Di tengah perubahan jarak pandang tersebut, penerbangan ID 6807 tujuan Jakarta menjadi satu-satunya penerbangan keberangkatan yang tercatat telah berangkat hingga pukul 09.00 WIB.

Jadwal penerbangan berikutnya dalam informasi yang tersedia berada pada sore hari.

Sejumlah maskapai turut mengatur jadwal penerbangan sore dan malam sebagai antisipasi terhadap kondisi jarak pandang yang terbatas sejak pagi hingga siang.

Meski demikian, data tersebut belum menunjukkan bahwa seluruh penerbangan pagi mengalami pembatalan atau penundaan.

Kepastian mengenai perubahan jadwal setiap penerbangan perlu merujuk pada informasi resmi bandara dan maskapai terkait.

Jarak pandang merupakan salah satu faktor yang diperhitungkan dalam operasional penerbangan, terutama ketika kondisi atmosfer membatasi visibilitas di sekitar bandara.

Keputusan untuk memberangkatkan, menunda, atau menyesuaikan penerbangan tidak hanya bergantung pada angka jarak pandang.

Maskapai dan pihak operasional penerbangan juga mempertimbangkan kondisi cuaca, prosedur penerbangan, kemampuan fasilitas navigasi, serta ketentuan keselamatan yang berlaku.

Karena itu, perubahan jarak pandang di Bandara Sultan Thaha Jambi perlu dipantau bersama perkembangan jadwal penerbangan sepanjang hari.

Penumpang yang memiliki jadwal penerbangan dari Jambi pada Rabu 14 Oktober 2026 sebaiknya memeriksa status penerbangan melalui maskapai masing-masing sebelum menuju bandara.

Data jarak pandang pada pagi hari ini memberikan gambaran kondisi visibilitas di Bandara Sultan Thaha Jambi.

Perkembangan selanjutnya tetap bergantung pada hasil pemantauan cuaca dan informasi operasional resmi sepanjang hari.(*)




BMKG Ungkap Kapan Musim Hujan Masuk Jambi, Wilayah Timur Diprediksi Lebih Dulu

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Warga Jambi perlu bersiap menghadapi perubahan pola cuaca. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Provinsi Jambi mulai memasuki musim hujan pada dasarian ketiga Oktober atau 21–31 Oktober 2026.

Namun, hujan tidak langsung merata di seluruh wilayah Jambi. BMKG memprediksi musim hujan akan masuk secara bertahap dan wilayah bagian timur menjadi kawasan yang lebih dulu mengalami peralihan.

Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi, Jaya Martua Sinaga, mengatakan pola awal musim hujan di Jambi tidak mengikuti batas administrasi kabupaten.

“Dasarian tiga Oktober Jambi mulai masuk musim hujan. Untuk wilayah Provinsi Jambi terdapat empat zona musim (ZOM),” kata Jaya Martua Sinaga di Kota Jambi, baru-baru ini.

Menurut Jaya, satu zona musim dapat mencakup wilayah dua hingga tiga kabupaten.

Karena itu, waktu masuk musim hujan bisa berbeda antarwilayah meski masih berada dalam satu kabupaten.

Pada tahap awal, BMKG memprakirakan musim hujan mulai masuk pada dasarian ketiga Oktober.

Sejumlah wilayah yang berpeluang lebih dulu memasuki musim hujan antara lain Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Muaro Jambi, Kota Jambi, Batang Hari, Tebo, sebagian besar Bungo, dan sebagian besar Sarolangun.

Pola tersebut menunjukkan wilayah Jambi tidak akan langsung mengalami musim hujan secara serentak.

Peralihannya berlangsung bertahap mengikuti kondisi atmosfer dan zona musim masing-masing.

Memasuki dasarian pertama November, giliran sejumlah wilayah lain yang diprakirakan mulai memasuki musim hujan.

Wilayah tersebut mencakup Tanjung Jabung Barat bagian utara, Bungo bagian utara, Merangin bagian barat, serta Sarolangun bagian barat.

Sementara itu, Kerinci dan Kota Sungai Penuh diperkirakan baru memasuki musim hujan pada dasarian kedua November.

Sebagian kecil wilayah Tanjung Jabung Timur juga masuk dalam periode tersebut.

Sebelum memasuki periode hujan, kondisi cuaca Jambi dalam beberapa hari ke depan masih relatif didominasi cuaca cerah hingga berawan.

BMKG memprakirakan kondisi tersebut terjadi pada 7–9 Oktober di sebagian besar wilayah Provinsi Jambi.

Perubahan mulai terlihat pada 10–13 Oktober. Sejumlah wilayah berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan.

Akan tetapi, hujan pada periode tersebut belum menunjukkan awal musim hujan secara menyeluruh.

Potensinya masih bersifat lokal dan tidak merata, dengan peluang lebih besar di wilayah Jambi bagian barat.

Kondisi atmosfer Jambi juga menarik perhatian karena fenomena El Nino masih berada pada indeks yang cukup kuat.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak otomatis membuat seluruh wilayah Jambi tetap kering.

Jaya menjelaskan bahwa dinamika atmosfer lokal dan regional masih berperan dalam pembentukan awan hujan.

Artinya, faktor global seperti El Nino tetap menjadi bagian dari gambaran iklim, tetapi kondisi atmosfer di sekitar Jambi dapat memicu pertumbuhan awan dan hujan pada waktu tertentu.

Perubahan musim juga terlihat dari pola angin. Sepanjang Oktober, angin di Jambi umumnya bertiup dari arah tenggara akibat pengaruh monsun Australia, yaitu pola angin yang bergerak dari wilayah Australia menuju Asia.

Namun, pola tersebut diprakirakan mulai berubah menjelang akhir Oktober hingga awal November.

Memasuki pertengahan November, arah angin diperkirakan semakin berubah seiring berlangsungnya transisi musim di wilayah Jambi.

Perubahan arah angin tersebut menjadi salah satu indikator dinamika atmosfer yang menyertai peralihan Jambi dari periode relatif kering menuju musim hujan.

Dengan prakiraan tersebut, masyarakat Jambi perlu mencermati perkembangan cuaca, terutama memasuki paruh kedua Oktober.

Sebab, awal musim hujan tidak terjadi serentak dan setiap wilayah memiliki waktu peralihan yang berbeda. (*)




Update Penerbangan Jambi: Hingga Sore Jarak Pandang Sempat 500 Meter, Sejumlah Pesawat Delay

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Kabut asap kembali mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi, Rabu 7 Oktober 2026.

Kondisi sempat memburuk pada siang hari ketika jarak pandang turun hingga hanya 500 meter.

Data operasional Bandara Sultan Thaha mencatat jarak pandang masih berada di angka 1.500 meter pada pukul 06.00 WIB.

Namun, kondisi kemudian menurun menjadi 1.200 meter pada pukul 07.00 WIB dan bertahan hingga pukul 09.00 WIB.

Jarak pandang kembali turun menjadi 1.000 meter pada pukul 10.00 dan 11.00 WIB.

Memasuki pukul 12.00 WIB, jarak pandang tinggal 800 meter. Kondisi kemudian mencapai titik terendah pada pukul 13.00 dan 14.00 WIB dengan jarak pandang hanya 500 meter.

Perbaikan mulai terlihat setelah pukul 14.00 WIB. Jarak pandang naik menjadi 1.000 meter pada pukul 14.30 WIB dan 15.00 WIB, kemudian meningkat menjadi 1.100 meter pada pukul 16.00 WIB dan 1.200 meter pada pukul 17.00 WIB.

Meski jarak pandang berangsur membaik pada sore hari, dampak terhadap jadwal penerbangan masih terasa.

Sejumlah penerbangan dari dan menuju Jakarta mengalami penundaan serta perubahan waktu kedatangan maupun keberangkatan.

Penerbangan Jakarta-Jambi Bergeser hingga Malam

Pada sisi kedatangan, Batik Air ID 6804 dari Jakarta masih menunggu kondisi jarak pandang membaik dan berstatus Delayed due to Haze.

Citilink QG 960 dari Jakarta mengalami perubahan jadwal kedatangan menjadi pukul 19.55 WIB.

Citilink QG 966 dari Jakarta juga mengalami perubahan jadwal menjadi pukul 20.10 WIB, dengan status ditunda karena asap.

Sementara itu, Garuda Indonesia GA 126 dari Jakarta tercatat mengalami perubahan jadwal menjadi pukul 19.20 WIB dan 19.45 WIB, masing-masing dengan status ditunda karena asap.

Perubahan jadwal tersebut menunjukkan dampak kabut asap tidak hanya terjadi pada penerbangan pagi. Gangguan operasional juga berlanjut hingga jadwal penerbangan malam.

Penerbangan dari Jambi Ikut Terdampak

Gangguan serupa terjadi pada penerbangan keberangkatan dari Bandara Sultan Thaha menuju Jakarta.

Batik Air ID 6805 masih berstatus ditunda karena asap.

Citilink QG 961 mengalami perubahan waktu keberangkatan menjadi pukul 20.25 WIB.

Citilink QG 966 juga bergeser menjadi pukul 20.40 WIB.

Sementara itu, Garuda Indonesia GA 127 dijadwalkan menjadi pukul 20.05 WIB, sedangkan GA 129 menjadi pukul 20.30 WIB.

Seluruh penerbangan tersebut tercatat berstatus Delayed due to Haze.

Batik Air ID 6807 Sempat Berangkat Pagi Hari

Di tengah kondisi yang kemudian memburuk, Batik Air ID 6807 tujuan Jakarta masih sempat berangkat pada pukul 06.05 WIB.

Saat penerbangan tersebut berangkat, jarak pandang di Bandara Sultan Thaha masih mencapai 1.500 meter.

Pesawat yang digunakan merupakan pesawat Remain Over Night (RON), atau pesawat yang sebelumnya bermalam di Bandara Sultan Thaha.

Setelah keberangkatan tersebut, jarak pandang terus mengalami penurunan hingga mencapai 500 meter pada siang hari.

Sore Hari Jarak Pandang Mulai Membaik

Data terbaru menunjukkan kondisi mulai membaik setelah pukul 14.00 WIB.

Jarak pandang yang sebelumnya hanya 500 meter meningkat menjadi 1.000 meter pada pukul 14.30 WIB. Angka tersebut bertahan hingga pukul 15.00 WIB.

Pada pukul 16.00 WIB, jarak pandang kembali meningkat menjadi 1.100 meter dan mencapai 1.200 meter pada pukul 17.00 WIB.

Namun, membaiknya jarak pandang belum otomatis menghapus dampak terhadap jadwal penerbangan. Pesawat yang mengalami penundaan tetap membutuhkan penyesuaian jadwal operasional.

Kondisi cuaca di Bandara Sultan Thaha masih didominasi fenomena asap (smoke). Vertical visibility tercatat sekitar 1.000 kaki karena kondisi langit tertutup kabut.

Penumpang Diminta Cek Jadwal Sebelum ke Bandara

Tim operasional Bandara Sultan Thaha terus berkoordinasi dengan maskapai dan instansi terkait untuk menangani penumpang yang terdampak penundaan.

Pihak bandara juga melakukan pembaruan informasi jadwal penerbangan secara berkala mengikuti perkembangan kondisi cuaca dan jarak pandang.

Calon penumpang diminta mengecek kembali status penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum berangkat menuju bandara.

Untuk informasi kebandarudaraan, pengguna jasa dapat menghubungi Contact Center Injourney Airports melalui nomor 172.

Kabut asap yang masih menyelimuti wilayah Jambi menjadi faktor penting dalam operasional penerbangan hari ini.

Perubahan jarak pandang dapat memengaruhi keputusan operasional maskapai, sehingga jadwal penerbangan masih dapat berubah mengikuti kondisi terbaru di Bandara Sultan Thaha.(*)




UPDATE: Kabut Asap Jambi Makin Ganggu Penerbangan, Batik Air ID 6804 dan ID 6805 Dibatalkan

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Gangguan penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi akibat kabut asap kembali bertambah.

Dua penerbangan Batik Air kini resmi berstatus dibatalkan atau cancelled karena faktor cuaca, Rabu 7 Oktober 2026.

Dua penerbangan tersebut yakni Batik Air ID 6804 dari Jakarta menuju Jambi dan Batik Air ID 6805 dari Jambi menuju Jakarta.

Sebelumnya, kedua penerbangan tersebut masih tercatat mengalami penundaan karena kabut asap.

Namun, perkembangan terbaru menunjukkan maskapai membatalkan penerbangan setelah kondisi cuaca tidak mendukung operasional.

Pembatalan ini terjadi ketika jarak pandang di Bandara Sultan Thaha terus memburuk sepanjang pagi hingga siang.

Pada pukul 06.00 WIB, jarak pandang masih mencapai 1.500 meter. Angka tersebut kemudian turun menjadi 1.200 meter pada pukul 07.00 WIB dan bertahan hingga pukul 09.00 WIB.

Kondisi kembali memburuk pada pukul 10.00 WIB ketika jarak pandang turun menjadi 1.000 meter. Pada pukul 12.00 WIB, jarak pandang hanya mencapai 800 meter.

Fenomena cuaca yang dominan di Bandara Sultan Thaha berupa asap atau smoke. Kondisi langit yang tertutup kabut juga membuat vertical visibility berada di sekitar 500 kaki.

Dua Penerbangan Batik Air Berubah Status

Sebelum pembatalan, Batik Air ID 6804 dari Jakarta menuju Jambi tercatat menunggu perbaikan jarak pandang dengan status Delayed due to Haze.

Sementara Batik Air ID 6805 tujuan Jakarta juga mengalami penundaan karena asap.

Kini status kedua penerbangan tersebut berubah menjadi Cancelled karena faktor cuaca.

Perubahan status itu menambah daftar penerbangan yang terdampak kondisi kabut asap di Bandara Sultan Thaha.

Selain Batik Air, sejumlah penerbangan Citilink dan Garuda Indonesia juga mengalami penundaan maupun perubahan jadwal.

Citilink QG 966 dari Jakarta tercatat mengalami penundaan. Citilink QG 960 mengalami perubahan waktu kedatangan menjadi pukul 13.10 WIB.

Pada sisi keberangkatan, Citilink QG 966 juga mengalami penundaan, sedangkan QG 961 mengalami perubahan jadwal menjadi pukul 13.40 WIB.

Sementara itu, penerbangan Garuda Indonesia juga mengalami perubahan jadwal. GA 127 tujuan Jakarta menjadi pukul 20.05 WIB dan GA 129 menjadi pukul 20.30 WIB.

Informasi operasional juga mencatat perubahan jadwal penerbangan Garuda Indonesia GA 126 dari Jakarta menjadi pukul 19.20 WIB dan 19.45 WIB.

Satu Penerbangan Batik Air Sempat Berangkat

Sebelum kondisi semakin memburuk, Batik Air ID 6807 tujuan Jakarta masih sempat berangkat pada pukul 06.05 WIB.

Saat penerbangan tersebut berangkat, jarak pandang berada di angka 1.500 meter.

Pesawat yang digunakan merupakan pesawat Remain Over Night (RON), yakni pesawat yang sebelumnya bermalam di Bandara Sultan Thaha.

Setelah itu, jarak pandang terus menurun hingga mencapai 800 meter pada tengah hari.

Penumpang Diminta Cek Status Penerbangan

Pihak Bandara Sultan Thaha terus memperbarui informasi operasional penerbangan seiring perubahan kondisi cuaca.

Tim operasional juga berkoordinasi dengan maskapai dan instansi terkait untuk menangani penumpang yang terdampak penundaan maupun pembatalan penerbangan.

Dengan adanya pembatalan dua penerbangan Batik Air, calon penumpang diminta tidak hanya mengacu pada jadwal awal perjalanan.

Penumpang perlu mengecek status penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum menuju bandara untuk memastikan jadwal terbaru.

Untuk informasi kebandarudaraan, pengguna jasa dapat menghubungi Contact Center Injourney Airports melalui nomor 172.

Kondisi kabut asap masih menjadi perhatian karena jarak pandang dapat berubah mengikuti perkembangan cuaca.

Jika kondisi belum membaik, perubahan jadwal penerbangan lainnya masih mungkin terjadi.

UPDATE: Berita ini diperbarui setelah terdapat informasi terbaru mengenai status Batik Air ID 6804 dan ID 6805 yang berubah dari penundaan menjadi dibatalkan (cancelled) karena faktor cuaca.(*)




Update Penerbangan Bandara Sultan Thaha: Akibat Kabut Asap, Sejumlah Penerbangan Ditunda dan Citilink Diverted ke Palembang

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Kabut asap masih memengaruhi aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi, Senin 5 Oktober 2026.

Kondisi jarak pandang di kawasan bandara memang membaik dibanding pagi hari, namun masih berfluktuasi.

Branch Communication Bandara Sultan Thaha Jambi, Ikhsan Pulungan, mengatakan berdasarkan pemantauan terbaru, jarak pandang pada siang hari berada di atas 1.000 meter.

“Update jarak pandang di Bandara Sultan Thaha, pukul 10.00 WIB tercatat 1.100 meter, pukul 11.00 WIB 1.900 meter, pukul 12.00 WIB 1.800 meter, dan pukul 13.00 WIB 1.600 meter,” ujar Ikhsan.

Meski jarak pandang berangsur membaik, sejumlah penerbangan masih terdampak kondisi kabut asap.

Menurut Ikhsan, beberapa maskapai memilih menjadwalkan ulang keberangkatan ke sore hari dengan harapan kondisi cuaca dan jarak pandang membaik.

“Penerbangan yang terdampak masih sama, karena beberapa maskapai menjadwalkan ulang keberangkatan ke sore dengan harapan cuaca di sore nanti lebih baik,” katanya.

Selain penundaan penerbangan, terdapat penerbangan yang harus dialihkan atau diverted ke bandara lain.

Ikhsan menyampaikan, penerbangan Citilink QG 960 dari Jakarta (CGK) tidak mendarat di Bandara Sultan Thaha, melainkan dialihkan ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang (PLM).

“Citilink QG 960 dari Jakarta (CGK) diverted ke Palembang (PLM),” ujar Ikhsan.

Sebelumnya, kondisi kabut asap mulai mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha sejak pagi.

Jarak pandang sempat berada di level rendah dan berfluktuasi cukup cepat. Pada pukul 06.00 WIB, jarak pandang tercatat 750 meter.

Kondisi kemudian membaik menjadi 900 meter pada pukul 06.30 WIB dan mencapai 1.100 meter pada pukul 07.00 WIB.

Namun, jarak pandang kembali turun menjadi 800 meter pada pukul 07.30 WIB dan mencapai titik terendah 600 meter pada pukul 08.00 WIB.

Setelah itu, jarak pandang kembali berubah-ubah.

Pada pukul 08.30 WIB tercatat 1.000 meter, kemudian 900 meter pada pukul 09.00 WIB dan 800 meter pada pukul 09.30 WIB.

Memasuki siang hari, kondisi berangsur membaik dengan jarak pandang mencapai 1.900 meter pada pukul 11.00 WIB, sebelum kembali turun menjadi 1.800 meter pada pukul 12.00 WIB dan 1.600 meter pada pukul 13.00 WIB.

Sebelumnya, sedikitnya delapan penerbangan tercatat terdampak kondisi kabut asap, terdiri dari empat penerbangan kedatangan dan empat penerbangan keberangkatan.

Penerbangan kedatangan yang terdampak antara lain Susi Air SI 7219 dari Dabo Singkep (SIQ), Citilink QG 960 dari Jakarta (CGK), Batik Air ID 6804 dari Jakarta (CGK), serta Garuda Indonesia GA 126 dari Jakarta (CGK).

Sementara penerbangan keberangkatan yang terdampak yakni Susi Air SI 7223 tujuan Kerinci (KRC), Citilink QG 961 tujuan Jakarta (CGK), Batik Air ID 6805 tujuan Jakarta (CGK), dan Garuda Indonesia GA 127 tujuan Jakarta (CGK).

Di tengah kondisi tersebut, dua penerbangan tetap berangkat pada pagi hari, yakni Batik Air ID 6807 tujuan Jakarta yang berangkat pukul 06.01 WIB dan Batik Air ID 6879 tujuan Kualanamu-Medan yang berangkat pukul 08.00 WIB.

Kedua penerbangan tersebut menggunakan pesawat ex-RON (Remain Over Night) atau pesawat yang bermalam di Bandara Sultan Thaha.

Pihak Bandara Sultan Thaha terus berkoordinasi dengan maskapai dan instansi terkait untuk memantau perkembangan kondisi jarak pandang serta dampaknya terhadap operasional penerbangan.

Penumpang juga diminta memantau status penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum menuju bandara, mengingat kondisi jarak pandang dapat berubah sewaktu-waktu.

Untuk informasi kebandarudaraan, pengguna jasa dapat menghubungi Contact Center Injourney Airports di nomor 172.

Kondisi kabut asap ini menjadi perhatian karena perubahan jarak pandang dapat memengaruhi proses kedatangan maupun keberangkatan pesawat di Bandara Sultan Thaha Jambi.

Pemerintah dan seluruh pihak terkait diharapkan terus melakukan penanganan terhadap kebakaran hutan dan lahan yang menjadi salah satu faktor memburuknya kondisi udara di wilayah Jambi.(*)




Update Bandara Sultan Thaha Jambi: Jarak Pandang Sempat 1.000 Meter, Kini 2.800 Meter

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Kabut asap mulai memengaruhi jarak pandang di Bandara Sultan Thaha Jambi pada pagi hari. Jarak pandang bahkan sempat turun hingga 1.000 meter pada pukul 07.00 WIB.

Meski mengalami penurunan cukup signifikan, kondisi tersebut belum mengganggu aktivitas penerbangan.

Hingga menjelang siang, tidak ada penerbangan yang tertunda secara khusus akibat kabut asap.

Data pengamatan Bandara Sultan Thaha menunjukkan jarak pandang pada pukul 06.00 WIB masih berada di angka 1.800 meter. Satu jam kemudian, angka tersebut turun menjadi 1.000 meter.

Kondisi berangsur membaik setelah pukul 07.00 WIB. Pada pukul 08.00 WIB, jarak pandang naik menjadi 1.700 meter dan mencapai 3.200 meter pada pukul 09.00 WIB.

Namun, kondisi kembali berubah. Pada pukul 10.00 WIB jarak pandang tercatat 2.400 meter sebelum meningkat lagi menjadi 2.800 meter pada pukul 10.30 WIB.

Penerbangan Belum Terdampak Kabut Asap

Branch Communication Bandara Sultan Thaha Jambi, Ikhsan Pulungan, memastikan kabut asap sejauh ini belum menyebabkan gangguan terhadap operasional penerbangan.

Menurut Ikhsan, keterlambatan yang terjadi bukan karena kondisi jarak pandang akibat kabut asap.

“Sejauh ini pesawat yang tertunda karena alasan operasional maskapai atau pesawat. Untuk yang terdampak oleh kabut asap tidak ada,” kata Ikhsan.

Ia menjelaskan, kondisi jarak pandang masih memungkinkan aktivitas penerbangan berlangsung. Pada pengamatan terakhir, jarak pandang mencapai 2.800 meter.

“Karena jarak pandang masih ideal, di atas 1.800 meter,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, aktivitas keberangkatan dan kedatangan pesawat di Bandara Sultan Thaha Jambi masih berjalan normal dan belum mengalami gangguan khusus akibat kabut asap.

Jarak Pandang Terus Dipantau

Perubahan jarak pandang sepanjang pagi membuat kondisi di sekitar bandara tetap menjadi perhatian.

Penurunan dari 1.800 meter menjadi 1.000 meter dalam satu jam menunjukkan kondisi atmosfer dapat berubah cukup cepat.

Pihak Bandara Sultan Thaha terus memantau perkembangan jarak pandang untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan kondisi yang dapat memengaruhi keselamatan dan kelancaran penerbangan.

Hingga pengamatan pukul 10.30 WIB, jarak pandang berada di level 2.800 meter.

Artinya, meski kabut asap sempat menekan jarak pandang hingga 1.000 meter pada pagi hari, belum ada penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi yang terdampak secara khusus akibat kondisi tersebut.(*)




Peringatan Dini Cuaca Jambi Terbaru: Kerinci hingga Tebo Berpotensi Diguyur Hujan Lebat

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jambi kembali mengeluarkan peringatan dini cuaca pada Sabtu, 3 Oktober 2026.

Sejumlah wilayah di Provinsi Jambi berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang.

Peringatan tersebut diperbarui pada pukul 09.32 WIB.

BMKG memperkirakan kondisi cuaca tersebut berpotensi terjadi mulai sekitar pukul 09.42 WIB dan masih berlangsung hingga pukul 12.00 WIB.

Berdasarkan informasi Prakirawan BMKG Jambi, potensi cuaca signifikan saat ini terpantau di sejumlah wilayah Kabupaten Kerinci, Merangin, Bungo, dan Tebo.

Wilayah yang Berpotensi Diguyur Hujan Lebat

Di Kabupaten Kerinci, wilayah yang masuk dalam peringatan dini meliputi:

  • Gunung Raya

  • Danau Kerinci

  • Keliling Danau

  • Bukitkerman

Sementara di Kabupaten Merangin, potensi hujan terdapat di Kecamatan Tabir.

Kemudian di Kabupaten Bungo, wilayah yang berpotensi terdampak meliputi:

  • Tanah Tumbuh

  • Rantau Pandan

  • Pasar Muaro Bungo

  • Pelepat

  • Limbur Lubuk Mengkuang

  • Muko-muko Bathin Vii

  • Pelepat Ilir

  • Batin Ii Babeko

  • Bathin Iii

  • Bungo Dani

  • Rimbo Tengah

  • Bathin Iii Ulu

  • Bathin Ii Pelayang

Sedangkan di Kabupaten Tebo, potensi hujan sedang hingga lebat mencakup Tebo Tengah, Rimbo Bujang, Vii Koto, Rimbo Ulu, Rimbo Ilir, dan Serai Serumpun.

Potensi Meluas ke Wilayah Lain

BMKG juga memperingatkan potensi perluasan wilayah terdampak.

Di Kabupaten Kerinci, hujan berpotensi meluas ke Sitinjau Laut, Batang Merangin, dan Air Hangat Timur.

Di Kabupaten Merangin, perluasan potensi cuaca terjadi ke Kecamatan Tabir Ilir.

Sementara di Kabupaten Bungo, wilayah yang berpotensi ikut terdampak meliputi Jujuhan, Tanah Sepenggal, Jujuhan Ilir, dan Tanah Sepenggal Lintas.

Untuk Kabupaten Tebo, potensi meluas ke Tebo Ulu, Sumay, dan Vii Koto Ilir.

BMKG menyebut kondisi tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga sekitar pukul 12.00 WIB.

Warga Diminta Waspada

Potensi hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang dapat memengaruhi aktivitas masyarakat, terutama di wilayah yang masuk dalam peringatan dini.

Masyarakat yang berada di wilayah terdampak diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca selama periode peringatan berlangsung.

Informasi cuaca dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer. Karena itu, masyarakat disarankan terus memantau pembaruan resmi BMKG, terutama bagi warga yang melakukan perjalanan atau beraktivitas di luar ruangan.

Peringatan dini ini dikeluarkan oleh Prakirawan BMKG Jambi melalui layanan nowcasting BMKG.

Update cuaca akan terus mengikuti informasi resmi terbaru dari BMKG.(*)




BMKG: Sarolangun Jadi Penyumbang Hotspot Terbanyak di Jambi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi masih perlu diwaspadai.

Meski jumlah titik panas secara keseluruhan menurun, konsentrasi hotspot masih tinggi di sejumlah wilayah, dengan Kabupaten Sarolangun mencatat angka tertinggi.

BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Thaha Jambi mendeteksi 348 titik panas di Provinsi Jambi sepanjang 24 Agustus 2026, berdasarkan pemantauan pukul 00.00 hingga 23.00 WIB.

Dari jumlah tersebut, 154 hotspot berada di Kabupaten Sarolangun.

Prakirawan BMKG Jambi Luckita Theresia mengatakan jumlah hotspot Jambi pada 24 Agustus mengalami penurunan dibandingkan sehari sebelumnya.

Pada 23 Agustus, satelit mendeteksi sebanyak 432 titik panas. Sehari kemudian jumlahnya turun menjadi 348 titik.

“Ada pengurangan signifikan sekitar 100 titik panas,” kata Luckita, Selasa.

Namun, penurunan secara agregat tersebut belum berarti ancaman karhutla mereda sepenuhnya.

Justru tingginya konsentrasi hotspot di Sarolangun membuat wilayah tersebut menjadi perhatian dalam pemantauan potensi kebakaran.

Dari 348 hotspot yang terdeteksi di seluruh Jambi, sebanyak 154 titik berada di Sarolangun.

Jumlah tersebut membuat Sarolangun menjadi daerah dengan sebaran titik panas paling tinggi pada periode pemantauan tersebut.

Tingkat kepercayaan hotspot yang terdeteksi berada pada kategori sedang hingga tinggi, sehingga keberadaannya perlu menjadi perhatian dalam upaya deteksi dini karhutla.

BMKG meminta masyarakat di Sarolangun tidak mengabaikan kondisi tersebut.

Pemantauan terhadap titik panas perlu diperkuat, terutama untuk memastikan apakah hotspot berkembang menjadi titik api yang berpotensi memicu kebakaran lebih luas.

Sebaran hotspot juga masih ditemukan di sejumlah wilayah lainnya.

BMKG mencatat Batanghari, Tebo dan Tanjung Jabung Barat sebagai beberapa daerah yang juga perlu mendapat perhatian.

Sementara di Tanjung Jabung Timur, masih terdeteksi tujuh titik panas.

Jumlah tersebut memang jauh lebih rendah dibandingkan Sarolangun, tetapi BMKG tetap meminta kewaspadaan dipertahankan.

Sebab, perubahan kondisi cuaca, arah angin dan tingkat kekeringan lahan dapat memengaruhi perkembangan titik panas di lapangan.

Selain persoalan hotspot, masyarakat Jambi juga masih dihadapkan pada potensi asap.

Luckita menyebut kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Jambi masih cerah hingga cerah berawan.

Namun, potensi asap masih terdapat hampir di seluruh wilayah provinsi.

Kondisi tersebut perlu diperhatikan karena sebaran asap tidak selalu berasal dari titik kebakaran yang berada tepat di wilayah masyarakat yang terdampak.

Arah angin juga menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan asap.

BMKG mencatat angin masih bergerak dari sektor tenggara hingga selatan. Karena itu, perkembangan sebaran asap perlu terus dipantau.

Penurunan dari 432 menjadi 348 hotspot memang menjadi perkembangan positif secara jumlah.

Namun, keberadaan 154 hotspot di satu kabupaten menunjukkan bahwa risiko kebakaran masih terkonsentrasi di wilayah tertentu.

Karena itu, masyarakat diminta tidak menjadikan penurunan angka hotspot sebagai alasan untuk mengurangi kewaspadaan.

BMKG mengimbau warga terus mengikuti informasi cuaca dan kualitas udara, sekaligus menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Pemantauan dini menjadi penting agar titik panas yang terdeteksi dapat segera diverifikasi di lapangan sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

Dengan kondisi cuaca yang masih relatif cerah, potensi asap di berbagai wilayah serta hotspot yang masih terkonsentrasi di sejumlah kabupaten, ancaman karhutla di Jambi belum sepenuhnya dapat dianggap selesai.(*)