Jalan Lintas Palembang Sempat Lumpuh, Brimob Polda Jambi Lakukan Evakuasi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Satuan Brimob Polda Jambi bergerak cepat melakukan evakuasi pohon tumbang yang sempat menghambat arus lalu lintas akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Jambi pada Kamis, 7 Mei 2026.

Evakuasi dilakukan di Jalan Lintas Palembang setelah sebuah pohon besar tumbang dan menutup badan jalan sehingga menyebabkan arus kendaraan terganggu.

Puluhan personel dari Batalyon A Pelopor diterjunkan ke lokasi dengan membawa peralatan pemotongan untuk membersihkan batang dan ranting pohon yang menghalangi akses jalan.

Proses evakuasi dipimpin langsung oleh Danki I Yon A Pelopor AKP Parlindungan Pohan bersama personel Brimob lainnya.

Berkat gerak cepat petugas, akses lalu lintas di jalur tersebut akhirnya kembali normal dan dapat dilalui kendaraan dari dua arah.

Dansat Brimob Polda Jambi Kombes Pol Faishal Aris melalui Danyon A Pelopor AKBP Lego Sitinjak mengatakan pihaknya langsung turun ke lokasi usai menerima laporan adanya pohon tumbang yang menutup jalan.

“Kami langsung bergerak cepat melakukan evakuasi dan pengaturan lalu lintas agar kendaraan dapat kembali melintas dengan aman,” ujar AKBP Lego Sitinjak.

Tidak hanya di Jalan Lintas Palembang, peristiwa serupa juga terjadi di Jalan Lingkar Selatan, Kecamatan Jambi Selatan, tepatnya di wilayah Pal Merah RT 07, Kota Jambi.

Karena terjadi di dua lokasi berbeda dalam waktu bersamaan, personel Brimob dibagi menjadi beberapa tim untuk mempercepat proses penanganan dan mencegah kemacetan panjang.

“Personel dibagi untuk melakukan pemotongan pohon dan pengaturan lalu lintas agar aktivitas masyarakat tidak terganggu,” lanjutnya.

AKBP Lego Sitinjak menegaskan bahwa langkah cepat tersebut merupakan bentuk komitmen Brimob Polda Jambi untuk selalu hadir membantu masyarakat dalam situasi darurat maupun kondisi yang mengganggu aktivitas publik.

Menurutnya, kehadiran aparat di tengah masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan dan kenyamanan lingkungan.(*)




Akses Tebo–Tanjab Barat Putus Total, Banjir Rendam 3 Titik Jalan Nasional

MUARATEBO, SEPUCUKJAMBI.ID – Banjir kembali melanda Desa Lubuk Mandarsah, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, dan menyebabkan terganggunya akses jalan nasional penghubung Kabupaten Tebo dengan Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat).

Selain itu, sebanyak 141 rumah warga dilaporkan ikut terendam.

Wakil Bupati Tebo, Nazar Efendi, saat meninjau lokasi sekaligus menyerahkan bantuan kepada korban, menyampaikan bahwa ruas Jalan Nasional Simpang Niam–Lubuk Kambing saat ini terendam banjir di tiga titik utama.

“Tiga titik yang terdampak berada di Dusun Tanjung Pauh, Dusun Lubuk Punggur, dan Dusun Sungai Landai atau Simpang PT Wira Karya Sakti (WKS),” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).

Dari ketiga titik tersebut, kondisi terparah terjadi di Dusun Sungai Landai. Ketinggian air dilaporkan mencapai 1 hingga 2 meter sehingga kendaraan sama sekali tidak dapat melintas.

“Akses di Sungai Landai benar-benar tidak bisa dilalui kendaraan. Bahkan di Lubuk Punggur, jalur utama juga terputus total,” jelasnya.

Jalur tersebut merupakan penghubung penting yang menghubungkan Desa Lubuk Mandarsah menuju Desa Kunangan dan Kelurahan Sungai Bengkal.

Akibatnya, mobilitas masyarakat terganggu cukup parah.

Nazar Efendi menambahkan bahwa berdasarkan informasi warga, debit air sempat kembali naik sehingga pihaknya akan melakukan pengecekan langsung ke lapangan.

Selain merendam infrastruktur jalan, banjir juga berdampak pada permukiman warga. Data sementara mencatat 141 rumah terendam air, meski hingga saat ini tidak ada korban jiwa.

“Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada korban jiwa,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Lubuk Mandarsah, Zulpan, menjelaskan bahwa banjir ini merupakan limpahan air dari kawasan hulu Bukit Tiga Puluh.

Ia menyoroti kondisi daerah aliran sungai (DAS) yang dinilai semakin melemah akibat berkurangnya vegetasi di kawasan hulu.

“Kayu penyangga di hulu sudah banyak berkurang. Akibatnya, air tidak tertahan dan langsung turun ke wilayah bawah,” katanya.

Zulpan mengusulkan solusi jangka pendek berupa peninggian badan jalan di Dusun Sungai Landai dan Lubuk Punggur agar akses transportasi tidak mudah terputus saat banjir.

Selain itu, pemerintah desa bersama tokoh masyarakat dan pihak kecamatan juga mulai merumuskan langkah jangka panjang berupa normalisasi sungai dan program penghijauan di kawasan hulu.

“Kalau DAS diperbaiki dan dilakukan penghijauan, dampaknya akan sangat membantu mencegah banjir berulang,” tambahnya.

Ia juga mengimbau masyarakat yang melintasi jalur Lubuk Mandarsah–Lubuk Kambing agar lebih berhati-hati, terutama saat curah hujan tinggi.

Untuk kendaraan pribadi, warga disarankan menggunakan jalur alternatif melalui Bukit Rinting–Dusun Pelayang Tebat jika kondisi air kembali meningkat.

Sementara kendaraan berat diminta menunda perjalanan hingga kondisi jalan kembali normal.(*)




El Nino 2026, Petani Terancam Gagal Panen? Ini Langkah Antisipasi BWSS VI

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Menghadapi potensi kemarau panjang pada 2026 akibat fenomena El Nino, Balai Wilayah Sungai Sumatera VI mulai memperkuat langkah antisipasi, terutama terkait potensi penurunan debit air di sejumlah wilayah irigasi.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi berdampak langsung terhadap sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air.

Kasi Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air BWSS Sumatera VI, Yudhi Praktikno, menyampaikan bahwa penurunan debit air menjadi tantangan utama yang harus segera diantisipasi dalam menghadapi musim kemarau tahun ini.

“Dalam kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau, terutama El Nino, kita harus benar-benar siap bagaimana cara mengantisipasinya,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (14/4/2026).

Ia menjelaskan bahwa salah satu langkah penting adalah penyesuaian pola tata tanam serta pengelolaan irigasi agar distribusi air tetap berjalan optimal meski dalam kondisi minim curah hujan.

Sebagai langkah awal, BWSS Sumatera VI melakukan penelusuran lapangan atau walkthrough pada jaringan irigasi untuk mengidentifikasi kondisi aktual di lapangan.

Selain itu, penguatan data hidrologi juga menjadi fokus utama, terutama dalam memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.

“Kita akan melihat sejauh mana data hidrologi yang kita butuhkan, terutama daerah kekeringan yang menjadi prioritas,” jelasnya.

Yudhi juga mengingatkan bahwa dampak kekeringan dapat berpengaruh signifikan terhadap hasil pertanian.

Produksi yang biasanya optimal bisa menurun drastis hingga 50 persen bahkan 30 persen akibat keterbatasan air.

Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi kunci dalam menghadapi ancaman tersebut, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, hingga pemerintah kabupaten.

Sementara itu, kondisi debit air di Sungai Batanghari saat ini masih terpantau normal.

Berdasarkan data teknis, debit normal berada di angka sekitar 2.503 meter kubik per detik.

Dalam kondisi kering dapat turun hingga 1.000 meter kubik per detik, sedangkan saat banjir bisa meningkat di atas 3.000 meter kubik per detik.

Meski demikian, BWSS Sumatera VI tetap menekankan pentingnya pengelolaan air secara maksimal agar kebutuhan irigasi tetap terpenuhi.

“Kondisi apa pun, air harus dikelola sebaik mungkin melalui pengaturan dan pengendalian agar tetap sesuai kebutuhan,” tutupnya.(*)




BMKG Prediksi La Nina Melemah hingga Maret 2026, Cuaca Menuju Normal

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan fenomena La Nina yang selama ini memicu peningkatan curah hujan di Indonesia akan melemah secara bertahap hingga Maret 2026.

Setelah periode tersebut, kondisi iklim nasional diperkirakan berangsur masuk ke fase netral atau normal.

Prediksi ini disampaikan BMKG di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap cuaca ekstrem yang masih kerap terjadi di berbagai wilayah, seperti hujan lebat berkepanjangan, banjir, hingga potensi tanah longsor.

BMKG menjelaskan bahwa sejumlah indikator iklim global menunjukkan tren pelemahan La Nina.

Meski dampaknya masih dirasakan pada awal 2026, intensitasnya dinilai tidak sekuat fase sebelumnya yang memicu anomali cuaca signifikan.

“La Nina saat ini berada dalam fase melemah dan diperkirakan berakhir sekitar Maret 2026. Setelah itu, kondisi iklim Indonesia akan bergerak menuju fase normal,” demikian keterangan BMKG.

Meski tren menunjukkan perbaikan, BMKG mengingatkan bahwa cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi selama masa peralihan.

Beberapa daerah tetap berisiko mengalami hujan dengan intensitas tinggi, terutama wilayah rawan bencana hidrometeorologi.

Karena itu, masyarakat diminta untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, namun tidak perlu panik.

BMKG memastikan pemantauan dinamika atmosfer dan laut terus dilakukan secara intensif untuk memberikan peringatan dini yang akurat.

Ke depan, pola curah hujan diprediksi akan lebih terkendali dibandingkan puncak La Nina sebelumnya.

Kondisi ini diharapkan dapat membantu mengurangi gangguan aktivitas masyarakat serta meminimalkan dampak bencana.

BMKG juga mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait untuk menyesuaikan langkah mitigasi bencana sesuai kondisi cuaca yang masih fluktuatif.

Koordinasi lintas sektor dinilai krusial agar risiko dapat ditekan semaksimal mungkin.

Di sisi lain, sektor pertanian dan ketahanan pangan diproyeksikan mulai mendapat angin segar.

Dengan berkurangnya anomali iklim, petani diharapkan bisa menyusun pola tanam yang lebih stabil dan terencana.

Sebagai penutup, BMKG mengimbau masyarakat untuk rutin memantau informasi cuaca dari kanal resmi dan tidak mudah percaya pada kabar yang belum terverifikasi.

“Informasi cuaca terbaru terus kami sampaikan melalui kanal resmi BMKG agar dapat menjadi acuan masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari,” tutup BMKG.(*)




Musim Hujan Tak Serentak, BMKG Beberkan Jadwal Transisi ke Kemarau 2026

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan perkembangan terbaru terkait pola musim hujan dan kemarau di Indonesia periode 2025/2026.

BMKG menegaskan bahwa puncak musim hujan tidak terjadi secara bersamaan di seluruh wilayah, sejalan dengan karakter iklim tropis Indonesia yang dipengaruhi angin monsun serta dinamika global.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa puncak musim hujan tahun ini berlangsung bertahap dalam beberapa fase waktu.

“Puncak musim hujan 2025/2026 umumnya terjadi pada periode November–Desember 2025 hingga Januari–Februari 2026,” ujar Guswanto.

BMKG mencatat, meskipun sebagian wilayah masih mengalami curah hujan tinggi hingga awal 2026, tanda-tanda peralihan musim sudah mulai terlihat di sejumlah daerah.

Wilayah Indonesia bagian timur seperti Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah bahkan dilaporkan mengalami hari tanpa hujan yang cukup panjang sejak akhir 2025.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa transisi dari musim hujan menuju kemarau telah berlangsung secara lokal, meski belum merata di seluruh Indonesia.

BMKG memprediksi awal musim kemarau 2026 juga tidak terjadi serentak.

Peralihan musim diperkirakan mulai terasa pada akhir Februari hingga Maret 2026, sementara kemarau yang lebih stabil diprediksi baru meluas pada April hingga Mei 2026, tergantung karakter wilayah masing-masing.

Beberapa daerah seperti pesisir timur Sumatra, sebagian Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku diperkirakan menjadi wilayah yang lebih awal memasuki musim kemarau dibanding wilayah lainnya.

Secara klimatologis, perubahan ini dipengaruhi oleh mulai dominannya angin monsun timur dan tenggara dari Australia yang membawa massa udara kering.

BMKG juga menyebutkan bahwa kondisi ENSO (El Niño–La Niña) saat ini berada pada fase netral, sehingga tidak memicu anomali cuaca ekstrem secara signifikan, meskipun variasi hujan masih berpotensi terjadi.

BMKG mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan selama masa peralihan musim.

Fenomena cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai angin kencang dan petir masih berpotensi muncul, terutama pada periode pancaroba.

“Informasi iklim ini penting untuk menjadi dasar perencanaan, terutama bagi sektor pertanian, transportasi, dan pengelolaan sumber daya air,” tegas Guswanto.

BMKG berharap dengan pemahaman pola musim yang lebih baik, masyarakat dan pemangku kepentingan dapat lebih siap menghadapi dinamika cuaca sepanjang tahun 2026, baik untuk mitigasi risiko bencana maupun pengaturan aktivitas harian.(*)




Banjir Rendam Sejumlah Wilayah IKN, Otorita Pastikan KIPP Aman

IKN, SEPUCUKJAMBI.ID – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, dalam beberapa hari terakhir memicu terjadinya banjir di sejumlah titik.

Genangan air dilaporkan muncul di berbagai wilayah IKN secara umum dan berdampak pada aktivitas masyarakat, terutama di area sekitar pembangunan.

Otorita IKN menegaskan bahwa banjir tersebut tidak terjadi di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).

Genangan air lebih banyak ditemukan di wilayah penyangga dan kawasan non-inti yang secara geografis lebih rentan terhadap limpasan air hujan serta pengaruh pasang air laut.

Menurut Otorita IKN, hujan deras yang turun dalam durasi cukup panjang menyebabkan peningkatan debit air sungai secara signifikan.

Kondisi ini diperparah dengan pasang laut yang menghambat aliran air ke hilir, sehingga memicu luapan air ke kawasan permukiman dan lingkungan sekitar.

Sejumlah rumah warga dilaporkan terdampak dengan ketinggian genangan yang bervariasi.

Akses jalan lingkungan di beberapa lokasi sempat terganggu, sehingga aktivitas harian masyarakat menjadi tidak optimal.

Meski demikian, hingga saat ini tidak dilaporkan adanya korban jiwa akibat peristiwa tersebut.

Aparat setempat bersama unsur terkait terus melakukan pemantauan kondisi lapangan serta memberikan bantuan kepada warga yang terdampak.

Langkah antisipasi juga disiapkan untuk menghadapi potensi banjir susulan jika curah hujan tinggi kembali terjadi.

Selain permukiman, hujan lebat juga berdampak pada infrastruktur pendukung di sekitar kawasan IKN.

Beberapa akses jalan menuju area ibu kota baru dilaporkan mengalami gangguan akibat genangan air dan kondisi tanah yang jenuh.

Pemerintah menyatakan tengah melakukan evaluasi teknis untuk memastikan keamanan infrastruktur dan kelancaran mobilitas.

Otorita IKN menilai kejadian banjir ini menjadi salah satu tantangan dalam pembangunan ibu kota baru yang berada di wilayah dengan karakteristik alam yang kompleks.

Oleh karena itu, berbagai upaya mitigasi terus diperkuat, mulai dari normalisasi sungai, peningkatan sistem drainase, hingga pembangunan kolam retensi dan embung penahan air.

Pemerintah menegaskan pembangunan IKN tetap mengusung prinsip berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Konsep kota spons atau sponge city menjadi pendekatan utama dalam pengelolaan air, dengan tujuan mengurangi risiko banjir dan meningkatkan ketahanan kawasan IKN di masa mendatang.(*)




50 Rumah Terendam, Warga Dusun Tukum Dua Bungo Terpaksa Mengungsi

MUARABUNGO, SEPUCUKJAMBI.ID – Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Jujuhan sejak Sabtu malam (27/12/2025) menyebabkan anak Sungai Tukum meluap, mengakibatkan banjir di Dusun Tukum Dua, Desa Sirih Sekapur, Kabupaten Bungo.

Luapan air mulai terjadi sekitar pukul 20.00 WIB dengan ketinggian mencapai sekitar 2 meter.

Genangan merendam permukiman warga sejak Minggu dini hari (28/12/2025) pukul 00.04 WIB dan berlangsung hingga pagi bahkan siang hari.

Akibatnya, sebanyak 50 rumah warga (KK) terdampak, sementara satu unit mushola juga ikut terendam dengan ketinggian air sekitar satu meter.

Banyak warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, termasuk rumah sanak keluarga yang tidak terdampak.

Kepala Dusun Tukum Dua, Antoni Nuzerman, membenarkan kejadian tersebut.

Ia menyebut luapan banjir terjadi akibat intensitas hujan yang tinggi sehingga debit anak Sungai Tukum meningkat drastis.

“Betul, sebanyak 50 kepala keluarga terdampak luapan banjir anak Sungai Tukum,” ujar Antoni.

Untuk mengantisipasi kerugian lebih lanjut, pemerintah desa bersama warga mengevakuasi barang-barang berharga ke dataran tinggi.

Kepala kampung dan ketua RT diminta melaporkan setiap kerusakan atau kerugian akibat banjir.

“Seluruh kejadian ini telah kami laporkan ke pihak kecamatan sebagai langkah awal koordinasi penanganan lebih lanjut,” tambah Antoni.

Hingga saat ini, warga tetap waspada terhadap kemungkinan banjir susulan karena kondisi cuaca belum sepenuhnya membaik.

Pemerintah desa bersama aparat terkait terus melakukan pemantauan di lokasi terdampak.(*)




Fenomena Langka, Salju Selimuti Arab Saudi Jelang Akhir 2025

RIYADH, SEPUCUKJAMBI.ID – Fenomena cuaca ekstrem melanda Arab Saudi menjelang akhir tahun 2025. Negara yang selama ini identik dengan gurun pasir dan suhu panas tersebut mendadak diselimuti salju tebal, terutama di wilayah utara.

Peristiwa langka ini terjadi sejak pertengahan Desember dan langsung menarik perhatian dunia.

Salju dilaporkan turun di sejumlah kawasan dataran tinggi, seperti Jabal Al-Lawz di Tabuk serta kawasan pegunungan Trojena, destinasi wisata yang berada di wilayah utara Arab Saudi.

Pemandangan putih menutupi permukaan tanah, bebatuan granit, hingga puncak gunung, menciptakan lanskap musim dingin yang jarang terlihat di kawasan Timur Tengah.

Otoritas Meteorologi Arab Saudi, National Centre for Meteorology (NCM), menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh masuknya massa udara dingin dari kawasan Mediterania yang bertemu dengan sistem tekanan rendah sarat kelembapan.

Kombinasi tersebut menyebabkan penurunan suhu ekstrem, bahkan di beberapa wilayah tercatat berada di bawah nol derajat Celsius.

Selain Tabuk, salju juga dilaporkan turun di wilayah Hail, Al-Ghat, Qassim, hingga beberapa area di bagian utara Riyadh, meskipun dengan intensitas yang berbeda-beda.

Faktor ketinggian wilayah menjadi penentu utama ketebalan salju yang terbentuk.

Fenomena ini langsung viral di media sosial. Warga lokal maupun wisatawan tampak antusias mengabadikan momen langka tersebut dalam bentuk foto dan video.

Banyak yang menyebut peristiwa ini sebagai salah satu musim dingin paling unik yang pernah dialami Arab Saudi.

Pemerintah setempat pun bergerak cepat. NCM mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem, termasuk potensi jalan licin, kabut tebal, serta risiko banjir di sejumlah wilayah akibat kombinasi hujan deras dan suhu rendah.

Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat melakukan perjalanan darat.

Para ahli meteorologi menilai, meski tergolong jarang, turunnya salju di Arab Saudi bukanlah hal yang mustahil.

Kondisi ini dapat terjadi ketika dinamika atmosfer global memungkinkan interaksi udara dingin dan kelembapan dalam skala besar.

Fenomena tersebut juga menjadi refleksi perubahan dan ketidakstabilan pola iklim global.

Bagi warga Arab Saudi, hujan salju ini bukan sekadar peristiwa cuaca, melainkan pengalaman alam yang luar biasa.

Gurun yang biasanya gersang kini berubah menjadi hamparan putih, menghadirkan pemandangan kontras yang jarang disaksikan sepanjang sejarah cuaca di kawasan tersebut.(*)




Langit Merah Pekat di Pandeglang Hebohkan Warga, BMKG Beri Penjelasan Ilmiah

BANTEN, SEPUCUKJAMBI.ID – Fenomena langit berwarna merah pekat yang muncul di sejumlah wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten, menjelang waktu senja menghebohkan warga.

Warna langit yang terlihat tak biasa dan menyerupai merah darah itu sontak menjadi perbincangan hangat di media sosial, terutama karena terjadi di kawasan pesisir.

Peristiwa tersebut terjadi usai hujan dengan intensitas cukup tinggi mengguyur wilayah Pandeglang.

Sejumlah warga mengabadikan momen langka itu dalam bentuk foto dan video yang kemudian viral di berbagai platform digital.

Tak sedikit warganet yang mengaitkannya dengan tanda-tanda bencana alam.

Menanggapi hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa fenomena langit merah tersebut bukan pertanda bencana.

Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah II, Hartanto, menjelaskan bahwa perubahan warna langit itu merupakan fenomena optik alamiah.

Menurutnya, warna merah muncul akibat proses pembiasan dan penyaringan cahaya matahari di atmosfer.

Warna dengan gelombang pendek seperti biru dan ungu lebih banyak tersaring, sementara warna bergelombang panjang seperti merah dan jingga menjadi lebih dominan terlihat.

Fenomena ini umumnya terjadi saat posisi matahari berada rendah di horizon, seperti menjelang matahari terbenam.

Pada kondisi tersebut, cahaya matahari menempuh jalur yang lebih panjang di atmosfer sehingga efek pembiasan semakin kuat.

BMKG juga menyebutkan bahwa kelembapan udara yang tinggi setelah hujan, keberadaan awan tebal, serta partikel aerosol di udara turut memperkuat intensitas warna merah di langit, membuatnya tampak lebih pekat dari biasanya.

Hartanto menegaskan, fenomena serupa bisa terjadi di wilayah lain apabila kondisi cuaca dan atmosfer mendukung.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau tidak panik dan tidak mengaitkan fenomena alam tersebut dengan isu-isu yang tidak memiliki dasar ilmiah.

BMKG mengingatkan masyarakat untuk selalu mengakses informasi cuaca dan penjelasan resmi melalui kanal komunikasi BMKG agar terhindar dari kesalahpahaman.

Dengan pemahaman yang tepat, fenomena langit merah dapat dipahami sebagai peristiwa alam yang wajar dan tidak membahayakan.(*)




TMA Tanggo Rajo Naik 50 Cm! BPBD Kota Jambi Imbau Warga Waspada Cuaca Ekstrem dan Kenaikan Debit Air

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jambi mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan di tengah cuaca ekstrem yang masih kerap terjadi.

Imbauan ini disampaikan langsung oleh Plt Kepala BPBD Kota Jambi, Doni Sumatriadi, menyusul kondisi cuaca dan dinamika tinggi muka air di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari.

Doni meminta masyarakat agar berhati-hati saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

Ia secara khusus mengingatkan warga untuk menghindari saluran drainase yang meluap, karena berpotensi membahayakan keselamatan.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Jika hujan lebat terjadi, hindari berada di sekitar drainase atau aliran air yang meluap,” kata dia.

“Orang tua juga diminta menjaga dan mengawasi anak-anak agar tidak mendekat ke aliran air,” ujar Doni.

Hasil Pengamatan Tinggi Muka Air

Berdasarkan hasil pengamatan pada Jumat, 19 Desember 2025, terhadap Tinggi Muka Air (TMA) di Pos Duga Air Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VI yang tersebar di Wilayah Sungai (WS) Batanghari, dari total 43 titik pantau, diperoleh kondisi sebagai berikut:

  1. Terdapat 3 lokasi pos duga air dengan kenaikan TMA kumulatif signifikan, yakni kenaikan lebih dari 1 meter.

  2. Sebagian besar titik pantau menunjukkan kondisi TMA mengalami penurunan.

  3. Secara fluktuatif, tercatat 15 lokasi mengalami kenaikan TMA, 0 lokasi tetap, dan 21 lokasi mengalami penurunan.

  4. Terdapat 1 lokasi dengan TMA mencapai batas Muka Air Banjir, yakni di Rimbo Bujang.

  5. Untuk Sungai Batanghari di Kota Jambi, pengamatan di Pos Tanggo Rajo menunjukkan TMA berada di ketinggian 12,20 meter, masih di bawah batas Siaga III (13,87 meter) dengan selisih 1,57 meter.

  6. Diketahui pula 1 lokasi belum menyampaikan data dan 7 lokasi memiliki data yang tidak lengkap.

BPBD Kota Jambi memastikan akan terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan instansi terkait guna mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi.

Masyarakat diharapkan tetap mengikuti perkembangan informasi resmi dan segera melapor jika menemukan kondisi yang berpotensi membahayakan.(*)