KONI Jambi Dorong Konsolidasi IPSI, Fokus Menuju PON 2028

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Jambi terus memperkuat pembinaan cabang olahraga (cabor) binaan sebagai persiapan menghadapi kalender kompetisi nasional.

Salah satu langkah strategis tersebut terlihat dalam pelaksanaan Musyawarah Provinsi (Musprov) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jambi yang digelar di Hotel Ratu, Minggu 14 Juni 2026.

Forum tersebut dihadiri langsung Ketua Umum KONI Provinsi Jambi, AKBP Mat Sanusi, bersama Ketua IPSI Jambi Hasan Basri Harahap, perwakilan Pemerintah Provinsi Jambi, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), serta pengurus perguruan silat se-Provinsi Jambi.

Apresiasi Prestasi Atlet Silat Jambi

Dalam sambutannya, Mat Sanusi memberikan apresiasi kepada IPSI Jambi atas kontribusi atlet pencak silat yang berhasil menyumbangkan medali pada ajang PON Bela Diri di Kudus beberapa waktu lalu.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan atlet di Jambi mulai menunjukkan hasil positif dan perlu terus ditingkatkan secara konsisten.

Musprov Bukan Sekadar Seremonial

Mat Sanusi menegaskan bahwa Musprov tidak boleh hanya dimaknai sebagai agenda rutin organisasi atau pergantian kepengurusan semata.

Lebih dari itu, forum ini harus menjadi ruang strategis untuk melahirkan kepemimpinan baru yang memiliki visi kuat dalam mengembangkan prestasi pencak silat Jambi.

“Musprov ini harus menjadi momentum penting untuk memilih pemimpin yang mampu membawa IPSI Jambi lebih berprestasi ke depan,” ujarnya.

Fokus Soliditas dan Pembangunan Gedung IPSI

Dalam arahannya, Mat Sanusi juga menekankan pentingnya soliditas internal organisasi.

Ia menyebut kekompakan menjadi faktor kunci dalam menghadapi berbagai program kerja ke depan, termasuk rencana pembangunan Gedung IPSI Provinsi Jambi dengan anggaran sekitar Rp6,3 miliar.

“Tantangan ke depan semakin berat. Pembangunan Gedung IPSI membutuhkan kekompakan dan kerja sama seluruh pengurus dan perguruan,” tegasnya.

Target Prestasi Menuju PON 2028

Selain pembangunan infrastruktur, KONI Jambi juga menyoroti agenda kompetisi mendatang.

Pada 2027, Jambi akan menghadapi Babak Kualifikasi (BK) PON serta Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

KONI Jambi berharap setiap cabang olahraga, khususnya pencak silat, dapat melakukan inovasi dalam pola latihan untuk meningkatkan daya saing atlet.

Target jangka panjangnya, IPSI Jambi diharapkan mampu meloloskan lebih banyak atlet ke ajang PON NTB–NTT 2028.

IPSI Tekankan Pelestarian Budaya

Sementara itu, Ketua IPSI Jambi Hasan Basri Harahap menegaskan bahwa pencak silat bukan hanya sekadar cabang olahraga prestasi, tetapi juga warisan budaya yang harus dijaga.

“Pencak silat adalah bagian dari identitas budaya bangsa yang harus kita lestarikan, sekaligus menjadi sarana melahirkan atlet berprestasi,” ujarnya.

Ia berharap Musprov ini mampu menghasilkan kebijakan strategis yang sejalan dengan peningkatan kualitas atlet di Provinsi Jambi.

Pengukuhan Pengurus dan Penghargaan

Selain agenda pemilihan pengurus baru, Musprov IPSI Jambi di Hotel Ratu juga dirangkai dengan prosesi pengukuhan anggota baru IPSI.

Di akhir kegiatan, IPSI Jambi turut memberikan piagam penghargaan kepada Ketua KONI Jambi, perwakilan Pemerintah Provinsi Jambi, serta Dispora Jambi sebagai bentuk apresiasi atas dukungan terhadap perkembangan pencak silat di daerah tersebut.(*)




Gedung Sate, Penjaga Sejarah yang Tetap Hidup di Tengah Kota Bandung

BANDUNG, SEPUCUKJAMBI.ID – Bagi Kota Bandung, Gedung Sate bukan sekadar bangunan peninggalan masa lalu.

Gedung yang berdiri anggun di Jalan Diponegoro ini telah menjelma menjadi ikon kota, tempat berkumpul warga, latar favorit berfoto, sekaligus saksi perjalanan panjang sejarah Bandung selama lebih dari satu abad.

Pembangunan Gedung Sate dimulai pada tahun 1920, di masa pemerintahan Hindia Belanda.

Awalnya, bangunan ini dirancang untuk menjadi kantor pusat Departemen Pekerjaan Umum.

Nama “Gedung Sate” sendiri lahir dari ciri khas unik di bagian atapnya, berupa enam ornamen bulat menyerupai tusuk sate yang hingga kini menjadi daya tarik utama.

Dari sisi arsitektur, Gedung Sate menampilkan perpaduan harmonis antara gaya Eropa dan unsur lokal Nusantara.

Struktur bangunannya tampak kokoh dan simetris, namun tetap dirancang agar selaras dengan iklim tropis.

Detail ornamen khas Indonesia membuat gedung ini tidak terasa kaku, melainkan berkarakter dan berwibawa.

Namun, Gedung Sate bukan hanya tentang keindahan visual. Di balik dindingnya, tersimpan kisah perjuangan bangsa.

Pada masa revolusi kemerdekaan, kawasan Gedung Sate pernah menjadi lokasi pertempuran sengit antara pejuang Indonesia dan tentara Belanda.

Peristiwa tersebut menjadikan Gedung Sate sebagai simbol keteguhan dan perlawanan rakyat.

Saat ini, Gedung Sate berfungsi sebagai kantor Gubernur Jawa Barat.

Meski menjadi pusat pemerintahan, kawasan ini tetap terbuka dan akrab bagi masyarakat.

Halaman depannya yang luas sering dimanfaatkan warga untuk berjalan santai, berolahraga, atau menikmati udara sore di tengah kota.

Di dalam kompleks Gedung Sate, terdapat Museum Gedung Sate yang menyuguhkan sejarah bangunan dan perkembangan Provinsi Jawa Barat.

Museum ini dikemas dengan konsep modern dan teknologi interaktif, sehingga pengunjung dapat memahami sejarah dengan cara yang lebih menarik dan mudah dicerna.

Tak hanya itu, Gedung Sate juga kerap menjadi lokasi berbagai acara budaya, peringatan sejarah, hingga kegiatan publik.

Pada malam hari, pencahayaan artistik yang menghiasi bangunan membuat Gedung Sate tampak semakin dramatis dan menjadi daya tarik visual tersendiri bagi wisatawan maupun warga lokal.

Lebih dari sekadar bangunan bersejarah, Gedung Sate telah menjadi ruang bersama.

Ia merekam perjalanan Bandung dari masa kolonial hingga era modern, sekaligus menjadi titik temu antara sejarah, identitas, dan kehidupan kota yang terus berkembang.(*)