1.930 Atlet Ramaikan Kejuaraan Pencak Silat Piala Dandempom II/2 Jambi 2026

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Kejuaraan Pencak Silat Piala Dandempom II/2 Jambi Tahun 2026 resmi digelar pada Kamis (30/04/2026) dan langsung menyedot perhatian besar.

Sebanyak 1.930 atlet dari berbagai daerah di Jambi dan sekitarnya ambil bagian dalam ajang bergengsi, di GOR Kotabaru ini.

Komandan Detasemen Polisi Militer II/2 Jambi, Letkol CPM Deka Prio Sandira, menyampaikan bahwa pelaksanaan hari pertama berjalan lancar dan penuh semangat.

“Alhamdulillah, hari pertama berjalan dengan baik. Kami berharap kejuaraan ini mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi sekaligus menjadi wadah pembinaan generasi muda,” ujarnya.

Kejuaraan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana untuk menjaring bibit-bibit atlet pencak silat yang potensial.

Kejuaraan ini juga digelar dalam rangkat HUT POMAD k-80 tahun 2026.

Antusiasme tinggi dari peserta menunjukkan bahwa olahraga bela diri tradisional ini masih sangat diminati, khususnya di kalangan generasi muda.

Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat eksistensi Pencak Silat sebagai identitas budaya bangsa yang terus berkembang di tengah modernisasi.

Sementara itu, Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Kota Jambi, Mulyadi, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kejuaraan tersebut.

Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat penting dalam membentuk karakter generasi muda sekaligus menjadi ruang positif untuk menyalurkan bakat.

“Ini bukan hanya soal prestasi, tetapi juga bagian dari upaya membangun karakter, kedisiplinan, serta melestarikan budaya bangsa,” ungkapnya.

Kejuaraan Pencak Silat Piala Dandempom II/2 Jambi 2026 diharapkan menjadi momentum penting dalam pembinaan atlet sekaligus mempererat semangat sportivitas di kalangan peserta.

Lebih dari sekadar pertandingan, ajang ini menjadi simbol komitmen bersama dalam mencetak generasi muda yang tangguh, berprestasi, dan berkarakter.(*)




Inspiratif! Nenek 83 Tahun Raih Juara 1 Pasanggiri Angklung Satu Hati

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Sosok inspiratif datang dari ajang Pasanggiri Angklung Satu Hati (PASH) yang diikuti ribuan peserta dari seluruh Indonesia.

Seorang nenek berusia 83 tahun, Merrywati Peruba, berhasil mencuri perhatian setelah keluar sebagai juara pertama dalam kompetisi tersebut.

Ajang yang diselenggarakan oleh PT Astra Honda Motor (AHM) ini diikuti lebih dari 1.700 peserta dari 21 kabupaten dan kota.

Kompetisi ini menjadi wadah bagi pecinta angklung untuk menampilkan kreativitas musik tradisional dalam balutan modern.

Meski usianya telah menginjak lebih dari delapan dekade, Merrywati tetap aktif bermain angklung bersama grup Gita Pundarika NSI, yang telah ia tekuni sejak 1979.

Dalam kompetisi tersebut, ia tampil bersama 39 anggota tim yang mayoritas juga berusia di atas 50 tahun.

Penampilan mereka membawakan lagu Donau Wellen sukses memukau dewan juri. Harmonisasi permainan angklung yang solid membuat tim asal DKI Jakarta ini dinobatkan sebagai juara pertama kategori umum.

Merrywati mengungkapkan bahwa bermain angklung bukan sekadar hobi, tetapi juga memberikan manfaat positif bagi kesehatan mental dan kebahagiaan.

“Bermain angklung membantu memperkuat daya ingat, memberi rasa nyaman, dan kebahagiaan. Selain itu, kita juga belajar kerja sama untuk menghasilkan harmoni yang indah,” ujarnya.

Tak hanya kategori umum, panitia juga menetapkan pemenang dari kategori Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain itu, dua tim favorit juga dipilih berdasarkan popularitas di media sosial.

Selama kompetisi, para peserta menampilkan beragam genre musik, mulai dari lagu daerah, lagu anak-anak, hingga soundtrack film.

Hal ini menunjukkan bahwa angklung mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai tradisionalnya.

General Manager Corporate Communication AHM, Ahmad Muhibbuddin, menyatakan bahwa ajang ini membuktikan angklung dapat dikolaborasikan dengan berbagai jenis musik.

“Teknik permainan, kreativitas aransemen, hingga estetika penampilan menjadi aspek penting dalam penilaian,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi semangat peserta dalam melestarikan angklung sebagai warisan budaya dunia yang telah diakui oleh UNESCO.

Menurutnya, perpaduan seni tradisional dengan perkembangan digital dan media sosial dapat menjadi jembatan komunikasi lintas generasi.

Selain kompetisi, peserta juga mendapatkan pembekalan melalui program Astra Honda Berbagi Ilmu (AHBI).

Dalam sesi ini, peserta dibekali pengetahuan tentang teknik bermain angklung, olah vokal, hingga strategi membuat konten kreatif di media sosial.

Salah satu peserta, Elsa, guru dari SDN Sunter Agung 13 Pagi Jakarta, mengaku bangga dapat mengikuti ajang tersebut.

“Kami mendapat banyak ilmu dan bisa berjejaring dengan peserta dari daerah lain. Melestarikan budaya menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi tenaga pendidik,” katanya.

Sebagai alat musik berbahan bambu yang ramah lingkungan, angklung tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga mencerminkan nilai keberlanjutan.

Melalui ajang ini, diharapkan angklung tetap hidup, berkembang, dan semakin dicintai generasi muda.(*)




Makna Ketupat Saat Lebaran, Ternyata Punya Filosofi Mendalam

SEPUCUKJAMBI.ID – Ketupat menjadi salah satu hidangan yang tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri di Indonesia.

Hampir di setiap rumah, makanan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman janur ini selalu hadir sebagai pelengkap sajian khas Lebaran.

Namun di balik tampilannya yang sederhana, ketupat menyimpan sejarah panjang sekaligus makna filosofis yang mendalam.

Secara historis, ketupat sudah dikenal masyarakat Nusantara sejak lama, bahkan sebelum masuknya Islam.

Namun, tradisi ketupat sebagai bagian dari perayaan Lebaran mulai berkembang pesat saat penyebaran Islam di Pulau Jawa sekitar abad ke-15.

Tokoh yang kerap dikaitkan dengan tradisi ini adalah Sunan Kalijaga. Ia menggunakan pendekatan budaya, termasuk ketupat, sebagai media dakwah agar ajaran Islam lebih mudah diterima masyarakat.

Dari sinilah ketupat kemudian menjadi simbol yang melekat dengan perayaan Idulfitri, bahkan melahirkan tradisi “Lebaran Ketupat” yang dirayakan beberapa hari setelah hari raya utama.

Dalam budaya Jawa, ketupat memiliki makna mendalam. Kata “ketupat” sering diartikan sebagai “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan.

Makna ini sejalan dengan tradisi saling memaafkan yang menjadi inti dari Idulfitri.

Selain itu, terdapat simbol-simbol lain yang terkandung dalam ketupat:

  • Anyaman janur melambangkan kompleksitas kehidupan manusia

  • Isi berwarna putih menggambarkan hati yang kembali suci

  • Proses memasak mencerminkan perjalanan hidup menuju kedewasaan

Ketupat juga erat kaitannya dengan nilai kebersamaan. Saat Lebaran, hidangan ini biasanya disajikan bersama menu khas seperti opor ayam dan sambal goreng.

Tradisi berbagi ketupat dengan keluarga, tetangga, hingga kerabat menjadi simbol kuatnya hubungan sosial di masyarakat.

Hingga kini, ketupat tetap bertahan sebagai bagian penting dari budaya Lebaran di Indonesia.

Kehadirannya bukan hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai pengingat nilai-nilai seperti kebersamaan, keikhlasan, dan rasa syukur setelah menjalani ibadah Ramadan.

Pada akhirnya, ketupat bukan sekadar sajian khas, melainkan simbol budaya dan spiritual yang memperkaya makna perayaan Idulfitri.()*