Bawa Arakan Sahur ke Dunia Robotika, Pemuda Tanjab Barat Lolos Final Riset Nasional BRIN

KUALATUNGKAL, SEPUCUKJAMBI.ID – Tradisi lokal Arakan Sahur mendapat sentuhan teknologi dari tangan pemuda asal Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Melalui sebuah proyek riset berbasis robotika, tradisi khas daerah tersebut kini dibawa ke panggung kompetisi riset tingkat nasional.

Adalah M. Arif Rahman Hakim, mahasiswa jenjang magister asal Kecamatan Kuala Betara, yang berhasil melaju ke babak final Kompetisi Riset Tugas Akhir Mahasiswa dalam ajang B-CREATIVE Indonesia Research and Innovation Fair (IRIFair) 2026.

Kabar tersebut disampaikan Arif saat melakukan audiensi dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Hermansyah, di ruang kerja Sekda, Rabu 16 September 2026.

Audiensi tersebut turut didampingi Kepala Bapperida Tanjung Jabung Barat.

Pertemuan itu menjadi momentum bagi Arif untuk melaporkan langsung capaian risetnya sekaligus memperoleh dukungan pemerintah daerah menjelang babak final.

Kompetisi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 21-24 September 2026 di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, BRIN, Tangerang Selatan.

Yang membuat riset Arif menarik adalah upayanya menghubungkan teknologi modern dengan budaya lokal.

Ia mengembangkan penelitian berjudul “Proyek STEM: Modul Pembelajaran Gerak Lurus Berbasis Robotika dengan Miniatur Arakan Sahur.”

Riset tersebut menggabungkan pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dengan miniatur Arakan Sahur, sebuah tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Tanjung Jabung Barat.

Dengan pendekatan tersebut, Arakan Sahur tidak hanya ditempatkan sebagai produk budaya yang dipertahankan, tetapi juga dijadikan konteks pembelajaran untuk mengenalkan konsep gerak lurus melalui teknologi robotika.

Inovasi itu sekaligus menunjukkan bagaimana kearifan lokal dapat digunakan sebagai sumber inspirasi dalam pengembangan pembelajaran berbasis teknologi.

Bagi Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, capaian tersebut menjadi prestasi yang membawa dua hal sekaligus: kompetensi akademik dan identitas daerah.

Sekda Tanjung Jabung Barat, Hermansyah mengatakan pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap inovasi yang dikembangkan Arif.

“Pemerintah daerah sangat bangga dan mendukung penuh inovasi yang diciptakan oleh saudara M. Arif Rahman Hakim. Ini adalah bukti nyata bahwa pemuda Tanjung Jabung Barat mampu bersaing di tingkat nasional dengan membawa identitas dan kearifan lokal kita, yaitu Arakan Sahur, ke dalam ranah teknologi robotika modern.”

Dukungan Pemkab Tanjung Jabung Barat tidak hanya diarahkan pada pencapaian di kompetisi.

Pemerintah daerah berharap riset tersebut juga dapat menjadi contoh bahwa budaya lokal memiliki ruang untuk dikembangkan melalui inovasi.

Arakan Sahur yang selama ini dikenal sebagai tradisi masyarakat Tanjung Jabung Barat kini memperoleh pendekatan berbeda melalui penelitian pendidikan dan robotika.

Persinggungan antara budaya dan teknologi tersebut membuka kemungkinan bahwa, tradisi lokal tidak hanya dipertahankan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga dapat menjadi bahan pembelajaran dan inovasi bagi generasi muda.

Hermansyah berharap capaian Arif dapat mendorong lebih banyak pemuda Tanjung Jabung Barat untuk berani mengembangkan gagasan yang mengangkat potensi daerah.

Menurutnya, prestasi di tingkat nasional dapat menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus berkarya dan menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Bagi Arif, babak final IRIFair 2026 menjadi kesempatan untuk menguji gagasan tersebut di hadapan para penguji di tingkat nasional.

Keikutsertaannya juga membawa misi lain memperkenalkan Arakan Sahur sebagai kekayaan budaya Tanjung Jabung Barat melalui medium yang berbeda, yakni teknologi pendidikan dan robotika.

Jika berhasil dikembangkan lebih jauh, pendekatan semacam ini dapat mempertemukan dua kepentingan sekaligus menjaga relevansi budaya lokal dan mendorong kemampuan generasi muda dalam teknologi.

Kini, perhatian tertuju pada babak final IRIFair 2026 di Tangerang Selatan.

Di sana, inovasi yang berangkat dari tradisi lokal Tanjung Jabung Barat akan berhadapan dengan karya-karya riset lainnya dari tingkat nasional.(*)




Skor Daya Saing Jambi Naik di IDSD 2025, Al Haris: Produktivitas Terus Meningkat

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Gubernur Jambi, Al Haris, menghadiri Rilis Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 yang digelar oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Jakarta, Selasa (24/02/2026).

Kegiatan nasional tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat penting, di antaranya Kepala BRIN Prof. Arif Satria, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, serta Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya.

Berdasarkan rilis resmi IDSD 2025, Provinsi Jambi mencatat kenaikan skor dari 3,38 menjadi 3,46. Peningkatan ini menjadi indikator adanya perbaikan performa di berbagai sektor strategis daerah.

Menurut Gubernur Al Haris, IDSD merupakan instrumen penting dalam mengukur pergerakan ekonomi, produktivitas, serta daya saing produk daerah di tingkat nasional.

“Indeks Daya Saing Daerah ini penting untuk mengukur bagaimana produk daerah bergerak dan menilai produktivitas masing-masing wilayah,” ujarnya.

Dalam laporan IDSD 2025, beberapa sektor di Jambi menunjukkan capaian yang cukup kuat, terutama:

  • Kesehatan

  • Pendidikan

  • Tenaga kerja

  • Ekonomi dan pasar

Kinerja positif di sektor-sektor tersebut dinilai menjadi fondasi utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Al Haris berharap tren kenaikan skor ini terus berlanjut sehingga Jambi semakin kompetitif di tingkat nasional.

Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat inovasi, meningkatkan kualitas SDM, dan memperluas pasar produk lokal.

Peningkatan skor IDSD juga menjadi sinyal positif bagi investor dan pelaku usaha bahwa iklim daya saing Jambi terus membaik.(*)




Setelah Dikritik, Oxford Revisi Unggahan dan Cantumkan Peneliti Indonesia

SEPUCUKJAMBI.ID – Setelah menuai kritik luas dari masyarakat Indonesia dan komunitas ilmiah, University of Oxford akhirnya merevisi unggahan resminya terkait laporan mekarnya bunga Rafflesia hasseltii, salah satu spesies Rafflesia langka yang ditemukan di hutan hujan Sumatera.

Revisi dilakukan pada 28 November 2025, atau empat hari setelah unggahan awal yang dianggap mengabaikan peran peneliti dan pemandu lapangan asal Indonesia.

Unggahan Oxford pada 24 November 2025 hanya menyebut nama Chris Thorogood sebagai representasi tim ekspedisi yang mendokumentasikan mekarnya Rafflesia hasseltii.

Namun, tokoh yang berperan penting dalam ekspedisi tersebut, seperti Septian Andriki (Deki) dan pemandu lokal Iswandi, tidak dicantumkan sama sekali.

Penghilangan tersebut memicu protes keras dari berbagai pihak, termasuk masyarakat, akademisi, serta tokoh publik seperti Anies Baswedan yang menegaskan pentingnya pengakuan terhadap ilmuwan Indonesia.

“Peneliti lokal yang berperan besar harus diakui. Tanpa mereka, penemuan ini tidak mungkin terjadi,” ujarnya.

Kritik ini segera menjadi sorotan nasional karena dianggap mencerminkan persoalan lama dalam riset internasional yang kerap mengabaikan kontribusi lokal terutama ketika penelitian dilakukan di negara dengan tingkat biodiversitas tinggi seperti Indonesia.

Merespons kritik tersebut, University of Oxford memperbarui unggahan mereka pada 28 November 2025.

Dalam versi terbaru, Oxford mencantumkan secara lengkap nama-nama peneliti dan pemandu lokal yang berperan dalam ekspedisi, termasuk:

  • Septian Andriki (Deki) – Pemandu lokal dan peneliti lapangan

  • Iswandi – Pemandu lapangan

  • Joko Ridho Witono (BRIN) – Peneliti utama biodiversitas Indonesia

  • Akademisi dari Universitas Bengkulu yang turut mengonfirmasi temuan lapangan

“Penemuan ini adalah hasil kerja keras seluruh tim, termasuk rekan-rekan Indonesia yang berada di lapangan,” sebut Chris Thorogood dalam pernyataannya.

Rafflesia hasseltii yang mekar tersebut ditemukan pada 18 November 2025 di kawasan hutan hujan Hiring Batang Sumi, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.

Bunga parasit raksasa ini dikenal sangat sulit ditemukan dalam kondisi mekar, membuat temuan kali ini menjadi peristiwa ilmiah yang menarik perhatian global.

“Melihat bunga ini mekar adalah pengalaman yang tidak bisa digambarkan. Bertahun-tahun pencarian akhirnya terbayar,” kata Septian Andriki, pemandu lokal.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan bahwa publikasi ilmiah internasional yang sedang disiapkan terkait temuan ini akan mencantumkan peneliti Indonesia sebagai penulis utama, sekaligus menggarisbawahi kredibilitas dan kontribusi ilmiah mereka.

Langkah ini juga dinilai sebagai bentuk koreksi penting untuk menghindari dominasi narasi dari satu institusi.

Kontroversi yang sempat muncul ini mengingatkan bahwa kerja sama ilmiah global harus dijalankan secara transparan dan adil.

Pengakuan terhadap peran peneliti lokal sangat penting, terutama pada riset lapangan yang melibatkan risiko tinggi, pengetahuan ekologi lokal, serta tahun-tahun upaya penelitian.

Revisi yang dilakukan Oxford dipandang sebagai langkah positif yang memperbaiki hubungan kolaboratif sekaligus mengakui bahwa penemuan biodiversitas Indonesia adalah hasil kerja kolektif, bukan semata kontribusi pihak luar.

Peristiwa ini juga menyoroti kekayaan hayati Indonesia dan besarnya potensi riset yang masih dapat ditemukan di hutan tropis Nusantara.(*)