Karhutla Tebo Belum Sepenuhnya Reda, Status Siaga Diperpanjang hingga Akhir Oktober

MUARATEBO, SEPUCUKJAMBI.ID — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Tebo belum sepenuhnya berakhir.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tebo masih memantau kemunculan titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah.

Hingga pekan lalu, titik panas terdeteksi di Tebo Tengah, Sumay, dan Muara Tabir berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

BPBD Tebo tidak hanya memantau data tersebut dari jarak jauh.

Petugas juga telah turun langsung untuk melakukan ground check sekaligus menangani titik yang ditemukan agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tebo, Joko Ardiawan, mengatakan petugas akan kembali bergerak apabila hasil pemantauan terbaru menunjukkan masih adanya hotspot.

“Hotspot terpantau di beberapa kecamatan, di antaranya Tebo Tengah, Sumay dan Muara Tabir. Kami sudah melakukan pengecekan di lapangan dan telah dilakukan penanganan di titik hotspot tersebut sekaligus ground check,” kata Joko, belum lama ini.

Menurutnya, penanganan tidak berhenti pada pemadaman. Petugas juga melakukan pendinginan untuk mengantisipasi munculnya kembali api di lokasi yang sama.

“Kalau hari ini seandainya masih ditemukan titik hotspot, dilakukan pemadaman dan sekaligus pendinginan,” ujarnya.

Hujan Diprakirakan Turun, Kewaspadaan Tetap Dijaga

Di tengah masih munculnya hotspot, kondisi cuaca di Kabupaten Tebo diperkirakan mulai mendukung upaya pengendalian karhutla.

Joko mengatakan informasi BMKG Jambi menunjukkan potensi hujan di Kabupaten Tebo selama tiga hari, mulai hari ini, besok hingga lusa.

“Untuk keadaan sekarang dan beberapa hari ke depan, berdasarkan informasi BMKG Jambi, prakiraannya akan ada hujan di Kabupaten Tebo untuk tiga hari ke depan, mulai dari hari ini, besok dan lusa,” katanya.

Meski peluang hujan meningkat, BPBD Tebo tidak menurunkan kewaspadaan.

Masyarakat tetap diminta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, khususnya pembukaan lahan dengan cara membakar.

BPBD juga mengingatkan masyarakat agar membuang sampah pada tempat yang telah disediakan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memunculkan api di area rawan.

“Namun begitu kita tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengimbau jangan sampai melakukan pembukaan dengan cara membakar. Buanglah sampah pada tempatnya agar terhindar dari potensi kebakaran,” tegas Joko.

BPBD Pantau Perubahan Cuaca

Joko menegaskan bahwa informasi hujan tersebut masih berupa prakiraan.

Karena itu, BPBD terus berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau perkembangan cuaca di Kabupaten Tebo.

“Kita tetap mengamati itu dan tetap berkoordinasi dengan BMKG terhadap potensi cuaca di Kabupaten Tebo, hari ini maupun ke depan,” ujarnya.

Sebelumnya, BMKG juga melakukan operasi modifikasi cuaca sebagai salah satu langkah untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi.

Status Siaga Karhutla Tebo Diperpanjang hingga Akhir Oktober

Ancaman hotspot juga menjadi salah satu pertimbangan dalam keberlanjutan status siaga darurat karhutla di Kabupaten Tebo.

BPBD Tebo memastikan status siaga darurat karhutla kembali diperpanjang untuk tahap ketiga, mulai awal Oktober hingga akhir Oktober 2026.

Perpanjangan tersebut dilakukan setelah BPBD Tebo berkoordinasi dengan BMKG dan BPBD Provinsi Jambi.

“Untuk perpanjangan kedua, terkait status siaga karhutla di Kabupaten Tebo sampai hari ini, dari hasil koordinasi kita dengan BMKG dan BPBD Provinsi Jambi, kami perpanjang untuk tahap yang ketiga dari awal bulan Oktober sampai akhir Oktober 2026,” jelas Joko.

Dengan perpanjangan tersebut, pemantauan hotspot dan kesiapsiagaan terhadap potensi karhutla tetap berjalan selama Oktober.

BPBD Tebo juga membuka kemungkinan melakukan evaluasi apabila kondisi karhutla menunjukkan perkembangan yang stabil sebelum masa status siaga berakhir.

“Apabila nanti ada situasi yang stabil di pertengahan masa status siaga darurat karhutla, akan kami koordinasikan dan minta petunjuk kembali dengan BMKG untuk penetapan status selanjutnya,” tutup Joko.(*)




Peringatan Dini Cuaca Jambi Terbaru: Kerinci hingga Tebo Berpotensi Diguyur Hujan Lebat

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jambi kembali mengeluarkan peringatan dini cuaca pada Sabtu, 3 Oktober 2026.

Sejumlah wilayah di Provinsi Jambi berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang.

Peringatan tersebut diperbarui pada pukul 09.32 WIB.

BMKG memperkirakan kondisi cuaca tersebut berpotensi terjadi mulai sekitar pukul 09.42 WIB dan masih berlangsung hingga pukul 12.00 WIB.

Berdasarkan informasi Prakirawan BMKG Jambi, potensi cuaca signifikan saat ini terpantau di sejumlah wilayah Kabupaten Kerinci, Merangin, Bungo, dan Tebo.

Wilayah yang Berpotensi Diguyur Hujan Lebat

Di Kabupaten Kerinci, wilayah yang masuk dalam peringatan dini meliputi:

  • Gunung Raya

  • Danau Kerinci

  • Keliling Danau

  • Bukitkerman

Sementara di Kabupaten Merangin, potensi hujan terdapat di Kecamatan Tabir.

Kemudian di Kabupaten Bungo, wilayah yang berpotensi terdampak meliputi:

  • Tanah Tumbuh

  • Rantau Pandan

  • Pasar Muaro Bungo

  • Pelepat

  • Limbur Lubuk Mengkuang

  • Muko-muko Bathin Vii

  • Pelepat Ilir

  • Batin Ii Babeko

  • Bathin Iii

  • Bungo Dani

  • Rimbo Tengah

  • Bathin Iii Ulu

  • Bathin Ii Pelayang

Sedangkan di Kabupaten Tebo, potensi hujan sedang hingga lebat mencakup Tebo Tengah, Rimbo Bujang, Vii Koto, Rimbo Ulu, Rimbo Ilir, dan Serai Serumpun.

Potensi Meluas ke Wilayah Lain

BMKG juga memperingatkan potensi perluasan wilayah terdampak.

Di Kabupaten Kerinci, hujan berpotensi meluas ke Sitinjau Laut, Batang Merangin, dan Air Hangat Timur.

Di Kabupaten Merangin, perluasan potensi cuaca terjadi ke Kecamatan Tabir Ilir.

Sementara di Kabupaten Bungo, wilayah yang berpotensi ikut terdampak meliputi Jujuhan, Tanah Sepenggal, Jujuhan Ilir, dan Tanah Sepenggal Lintas.

Untuk Kabupaten Tebo, potensi meluas ke Tebo Ulu, Sumay, dan Vii Koto Ilir.

BMKG menyebut kondisi tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga sekitar pukul 12.00 WIB.

Warga Diminta Waspada

Potensi hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang dapat memengaruhi aktivitas masyarakat, terutama di wilayah yang masuk dalam peringatan dini.

Masyarakat yang berada di wilayah terdampak diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca selama periode peringatan berlangsung.

Informasi cuaca dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer. Karena itu, masyarakat disarankan terus memantau pembaruan resmi BMKG, terutama bagi warga yang melakukan perjalanan atau beraktivitas di luar ruangan.

Peringatan dini ini dikeluarkan oleh Prakirawan BMKG Jambi melalui layanan nowcasting BMKG.

Update cuaca akan terus mengikuti informasi resmi terbaru dari BMKG.(*)




Update Cuaca Jambi: Merangin hingga Tebo Berpotensi Diguyur Hujan Lebat

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Warga di sejumlah wilayah Provinsi Jambi diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem pada Jumat 2 Oktober 2026.

Hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang berpotensi terjadi mulai pukul 11.08 WIB.

Berdasarkan pembaruan peringatan dini cuaca Jambi pukul 10.58 WIB, potensi hujan lebat terutama mencakup sejumlah wilayah di Kabupaten Merangin, Tanjung Jabung Barat, Bungo dan Tebo.

Di Kabupaten Merangin, wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat disertai petir dan angin kencang meliputi Sungai Manau, Tabir, Tabir Ulu, Nalo Tantan, Tabir Ilir, Renah Pembarap, Pangkalan Jambu, Tabir Lintas dan Tabir Barat.

Sementara di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, potensi cuaca tersebut terdapat di Kecamatan Batang Asam.

Ancaman serupa juga berpotensi terjadi di Kabupaten Bungo, meliputi Pelepat, Pelepat Ilir, Batin II Babeko dan Rimbo Tengah.

Di Kabupaten Tebo, wilayah yang masuk dalam peringatan dini antara lain Tebo Tengah, Tebo Ulu, Sumay, Rimbo Ilir, Tengah Ilir dan Serai Serumpun.

Potensi Meluas

Peringatan dini tersebut juga menyebut potensi perluasan hujan ke sejumlah wilayah lain.

Di Kabupaten Merangin, cuacaumbuh, Rantau Pandan, Pasar Muaro Bungo, Tanah Sepenggal, Limbur Lubuk Mengkuang, Muko-muko Bathin VII, Bathin III, B buruk berpotensi meluas ke Batang Masumai dan Margo Tabir.

Di Kabupaten Bungo, wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Tanah Tumbuh, Rantau Pandan, Pasar Muaro Bungo, Tanah Sepenggal, Limbur Lubuk Mengkuang, Muko-muko Bathin VII, Bathin III, Bungo Dani, Bathin III Ulu serta Tanah Sepenggal Lintas.

Sementara di Kabupaten Tebo, potensi perluasan mencakup Rimbo Bujang, Rimbo Ulu dan VII Koto Ilir.

Kondisi cuaca tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga sekitar pukul 13.08 WIB.

Masyarakat yang berada di wilayah terdampak perlu mengantisipasi perubahan cuaca secara cepat, terutama potensi petir, angin kencang, jarak pandang yang menurun serta genangan di lokasi yang memiliki sistem drainase kurang baik.

Informasi ini merupakan peringatan dini cuaca sehingga wilayah dan durasi kejadian dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi atmosfer.(*)




BMKG Ungkap Prediksi Musim Hujan Jambi, Tanjab Barat-Tanjab Timur Diperkirakan Mulai 3 Oktober

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya potensi fenomena El Niño yang masih berlangsung hingga awal 2027.

Di tengah kondisi tersebut, BMKG memprediksi sejumlah wilayah Jambi mulai memasuki musim hujan pada awal Oktober 2026.

Untuk Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, awal musim hujan diperkirakan terjadi sekitar 3 Oktober 2026.

Informasi tersebut disampaikan BMKG dalam kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Provinsi Jambi Tahun 2026 yang digelar di Kantor Bupati Tanjung Jabung Barat, Kamis 24 September 2026.

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG Pusat, Dr. Marjuki, M.Si., yang mengikuti kegiatan secara daring, menyampaikan materi melalui Koordinator Bidang Iklim Terapan, Siswanto.

BMKG mendorong pemerintah daerah, petani, pekebun dan pemangku kepentingan menggunakan informasi iklim sebagai dasar dalam menentukan langkah di lapangan.

“Informasi iklim perlu dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan pertanian dan perkebunan, pemantauan risiko, serta pencegahan karhutla. Sekolah Lapang Iklim diharapkan menghasilkan langkah nyata di lapangan, bukan hanya sebatas pembelajaran,” sebut Marjuki secara daring.

Potensi El Niño hingga awal 2027 menjadi salah satu informasi penting yang perlu diperhatikan sektor pertanian dan perkebunan.

Fenomena tersebut dapat memengaruhi kondisi cuaca dan ketersediaan air sehingga masyarakat yang aktivitasnya bergantung pada kondisi iklim perlu menyesuaikan strategi pengelolaan lahan.

Namun, BMKG juga mencatat adanya perkembangan menuju musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia pada periode Oktober-November.

Untuk wilayah Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, awal musim hujan diprediksi sekitar 3 Oktober.

Perubahan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena transisi dari musim kemarau menuju musim hujan dapat memengaruhi pola kegiatan pertanian, perkebunan dan pengelolaan lahan.

Kepala Stasiun Klimatologi Jambi, Darmadi, S.T., mengatakan Sekolah Lapang Iklim dirancang untuk meningkatkan literasi iklim masyarakat, khususnya pekebun dan petani.

Melalui kegiatan tersebut, peserta diberikan pemahaman teknis mengenai cara memanfaatkan informasi cuaca dan iklim BMKG dalam pengelolaan lahan.

“Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu menggunakan informasi iklim dalam menentukan langkah pengelolaan lahan, terutama pada musim kemarau, termasuk mencegah pembukaan dan pengelolaan lahan dengan cara membakar,” jelas Darmadi.

Pemanfaatan informasi BMKG diharapkan membantu petani menentukan waktu dan strategi pengelolaan lahan secara lebih tepat, termasuk dalam menghadapi perubahan kondisi cuaca.

Pentingnya informasi iklim tersebut terlihat dari kondisi sektor pertanian di Tanjung Jabung Barat.

Wakil Bupati Tanjung Jabung Barat, Dr. H. Katamso SA., S.E., M.E., mengatakan dari sekitar 7.600 hektare lahan sawah di daerah tersebut, kurang lebih 92 hektare telah terdampak kekeringan.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produksi padi serta pencapaian target pangan daerah dan nasional.

Katamso meminta informasi BMKG tidak hanya menjadi bahan pengetahuan, tetapi benar-benar digunakan dalam menentukan waktu pelaksanaan kegiatan pertanian maupun perbaikan saluran.

“Informasi dari BMKG harus menjadi dasar dalam mengambil langkah, termasuk menentukan waktu pelaksanaan kegiatan pertanian dan perbaikan saluran,” ujar Katamso.

BMKG juga menekankan pentingnya informasi iklim untuk mengantisipasi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pemanfaatan data dan informasi cuaca dapat membantu pemerintah serta masyarakat melakukan pemantauan risiko sekaligus menentukan langkah pencegahan, terutama pada periode kering.

SLI Jambi 2026 karena itu tidak hanya melibatkan sektor pertanian dan perkebunan. Kegiatan tersebut juga melibatkan BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, TNI/Polri, Basarnas, Manggala Agni serta sektor swasta.

Kolaborasi lintas sektor tersebut diarahkan untuk memperkuat pemanfaatan informasi iklim dalam menghadapi risiko bencana hidrometeorologi dan menjaga produktivitas pertanian.

SLI Provinsi Jambi 2026 mengusung tema “Tanggap Iklim untuk Perkebunan Ramah Lingkungan dan Tangguh Menghadapi Musim Kemarau”.

Kegiatan diikuti 50 peserta yang terdiri dari petani, pekebun dan penyuluh lapangan.

BMKG berharap pengetahuan yang diperoleh dalam SLI tidak berhenti pada ruang pelatihan, tetapi diterapkan dalam aktivitas pertanian dan perkebunan.

Dengan prediksi awal musim hujan yang mulai muncul sementara El Niño masih berpotensi hingga awal 2027, informasi iklim menjadi salah satu instrumen yang dapat digunakan pemerintah daerah dan masyarakat untuk menyesuaikan pengelolaan lahan dengan perkembangan kondisi cuaca dan iklim.(*)




Wabup Tanjab Barat Ungkap 92 Hektare Sawah Terdampak Kekeringan

KUALATUNGKAL, SEPUCUKJAMBI.ID –  Perubahan iklim mulai menjadi tantangan nyata bagi sektor pertanian di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Dari sekitar 7.600 hektare lahan sawah yang ada, sekitar 92 hektare dilaporkan terdampak kekeringan yang berpotensi memengaruhi produksi padi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat di tengah potensi perubahan pola cuaca yang semakin sulit diprediksi.

Wakil Bupati Tanjung Jabung Barat, Dr. H. Katamso SA., S.E., M.E., meminta petani dan pelaku perkebunan tidak lagi hanya mengandalkan kebiasaan atau pola musim tahun-tahun sebelumnya dalam menentukan waktu tanam maupun pengelolaan lahan.

Menurutnya, informasi cuaca dan iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu dijadikan salah satu dasar pengambilan keputusan di sektor pertanian.

Hal itu disampaikan Katamso saat membuka Sekolah Lapang Iklim (SLI) Provinsi Jambi 2026 di Ruang Pola Utama Kantor Bupati Tanjung Jabung Barat, Kamis 24 September 2026.

SLI tahun ini mengusung tema “Tanggap Iklim untuk Perkebunan Ramah Lingkungan dan Tangguh Menghadapi Musim Kemarau” dan diikuti 50 peserta yang terdiri dari pekebun, petani serta penyuluh lapangan.

Katamso mengatakan sektor pertanian dan perkebunan memiliki posisi penting dalam perekonomian Tanjung Jabung Barat.

Pada 2025, pertumbuhan ekonomi daerah tersebut tercatat 5,28 persen dan disebut menjadi yang tertinggi di Provinsi Jambi. Kontribusi Tanjung Jabung Barat terhadap PDRB Provinsi Jambi mencapai 17,88 persen.

Dari struktur perekonomian daerah, sektor pertanian memberikan kontribusi sekitar 34 persen, dengan subsektor perkebunan menjadi salah satu penopang utamanya.

“Karena itu, sektor pertanian dan perkebunan harus terus kita kembangkan agar semakin produktif dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Katamso.

Namun, potensi ekonomi tersebut berhadapan dengan risiko perubahan iklim.

Dari sekitar 7.600 hektare sawah, sekitar 92 hektare telah terdampak kekeringan.

Jika tidak diantisipasi, kondisi itu dapat berpengaruh terhadap produksi padi sekaligus pencapaian target pangan daerah dan nasional.

“Informasi dari BMKG harus menjadi dasar dalam mengambil langkah, termasuk menentukan waktu pelaksanaan kegiatan pertanian dan perbaikan saluran,” katanya.

Informasi mengenai perubahan musim menjadi semakin penting karena BMKG memprediksi fenomena El Niño masih berpotensi berlangsung hingga awal 2027.

Di sisi lain, sejumlah wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan pada Oktober hingga November.

Untuk wilayah Jambi, khususnya Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, awal musim hujan diprediksi sekitar 3 Oktober 2026.

Informasi tersebut disampaikan Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG Pusat, Dr. Marjuki, M.Si., melalui Koordinator Bidang Iklim Terapan, Siswanto, dalam kegiatan SLI.

Perubahan kondisi cuaca tersebut dinilai perlu diantisipasi pemerintah daerah dan masyarakat, terutama petani serta pekebun yang aktivitasnya sangat bergantung pada kondisi iklim.

“Informasi iklim perlu dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan pertanian dan perkebunan, pemantauan risiko, serta pencegahan karhutla. Sekolah Lapang Iklim diharapkan menghasilkan langkah nyata di lapangan, bukan hanya sebatas pembelajaran,” disampaikan Siswanto.

Pemanfaatan informasi iklim juga diarahkan untuk memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Katamso mengatakan kondisi hotspot saat ini cenderung menurun dan diharapkan dapat terus terkendali seiring memasuki periode musim hujan.

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Jambi, Darmadi, mengatakan SLI dirancang untuk meningkatkan literasi iklim dan kemampuan teknis pekebun dalam memanfaatkan informasi cuaca serta iklim BMKG.

Peserta didorong menggunakan informasi tersebut untuk menentukan langkah pengelolaan lahan secara lebih produktif, berkelanjutan dan ramah lingkungan.

“Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu menggunakan informasi iklim dalam menentukan langkah pengelolaan lahan, terutama pada musim kemarau, termasuk mencegah pembukaan dan pengelolaan lahan dengan cara membakar,” jelas Darmadi.

Program tersebut sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor. Sejumlah instansi yang terlibat antara lain Dinas Perkebunan dan Peternakan, BPBD, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, TNI/Polri, Basarnas, Manggala Agni hingga sektor swasta.

Bagi Pemkab Tanjung Jabung Barat, SLI diharapkan tidak berhenti sebagai forum pembelajaran.

Katamso meminta peserta membawa pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan tersebut ke tingkat petani dan masyarakat di wilayah masing-masing.

“Informasi tersebut harus digunakan secara tepat guna, tepat sasaran, dan tepat waktu,” ujarnya.

Pemanfaatan data iklim dinilai penting karena pola musim semakin sulit diprediksi.

Dengan informasi yang lebih akurat, petani dapat menyesuaikan waktu tanam, pengelolaan lahan maupun langkah antisipasi terhadap risiko kekeringan dan cuaca ekstrem.

Pemerintah daerah berharap pendekatan tersebut dapat memperkuat ketahanan sektor pertanian dan perkebunan Tanjung Jabung Barat sekaligus menjaga sektor tersebut tetap menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah.(*)




BMKG: Sarolangun Jadi Penyumbang Hotspot Terbanyak di Jambi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi masih perlu diwaspadai.

Meski jumlah titik panas secara keseluruhan menurun, konsentrasi hotspot masih tinggi di sejumlah wilayah, dengan Kabupaten Sarolangun mencatat angka tertinggi.

BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Thaha Jambi mendeteksi 348 titik panas di Provinsi Jambi sepanjang 24 Agustus 2026, berdasarkan pemantauan pukul 00.00 hingga 23.00 WIB.

Dari jumlah tersebut, 154 hotspot berada di Kabupaten Sarolangun.

Prakirawan BMKG Jambi Luckita Theresia mengatakan jumlah hotspot Jambi pada 24 Agustus mengalami penurunan dibandingkan sehari sebelumnya.

Pada 23 Agustus, satelit mendeteksi sebanyak 432 titik panas. Sehari kemudian jumlahnya turun menjadi 348 titik.

“Ada pengurangan signifikan sekitar 100 titik panas,” kata Luckita, Selasa.

Namun, penurunan secara agregat tersebut belum berarti ancaman karhutla mereda sepenuhnya.

Justru tingginya konsentrasi hotspot di Sarolangun membuat wilayah tersebut menjadi perhatian dalam pemantauan potensi kebakaran.

Dari 348 hotspot yang terdeteksi di seluruh Jambi, sebanyak 154 titik berada di Sarolangun.

Jumlah tersebut membuat Sarolangun menjadi daerah dengan sebaran titik panas paling tinggi pada periode pemantauan tersebut.

Tingkat kepercayaan hotspot yang terdeteksi berada pada kategori sedang hingga tinggi, sehingga keberadaannya perlu menjadi perhatian dalam upaya deteksi dini karhutla.

BMKG meminta masyarakat di Sarolangun tidak mengabaikan kondisi tersebut.

Pemantauan terhadap titik panas perlu diperkuat, terutama untuk memastikan apakah hotspot berkembang menjadi titik api yang berpotensi memicu kebakaran lebih luas.

Sebaran hotspot juga masih ditemukan di sejumlah wilayah lainnya.

BMKG mencatat Batanghari, Tebo dan Tanjung Jabung Barat sebagai beberapa daerah yang juga perlu mendapat perhatian.

Sementara di Tanjung Jabung Timur, masih terdeteksi tujuh titik panas.

Jumlah tersebut memang jauh lebih rendah dibandingkan Sarolangun, tetapi BMKG tetap meminta kewaspadaan dipertahankan.

Sebab, perubahan kondisi cuaca, arah angin dan tingkat kekeringan lahan dapat memengaruhi perkembangan titik panas di lapangan.

Selain persoalan hotspot, masyarakat Jambi juga masih dihadapkan pada potensi asap.

Luckita menyebut kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Jambi masih cerah hingga cerah berawan.

Namun, potensi asap masih terdapat hampir di seluruh wilayah provinsi.

Kondisi tersebut perlu diperhatikan karena sebaran asap tidak selalu berasal dari titik kebakaran yang berada tepat di wilayah masyarakat yang terdampak.

Arah angin juga menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan asap.

BMKG mencatat angin masih bergerak dari sektor tenggara hingga selatan. Karena itu, perkembangan sebaran asap perlu terus dipantau.

Penurunan dari 432 menjadi 348 hotspot memang menjadi perkembangan positif secara jumlah.

Namun, keberadaan 154 hotspot di satu kabupaten menunjukkan bahwa risiko kebakaran masih terkonsentrasi di wilayah tertentu.

Karena itu, masyarakat diminta tidak menjadikan penurunan angka hotspot sebagai alasan untuk mengurangi kewaspadaan.

BMKG mengimbau warga terus mengikuti informasi cuaca dan kualitas udara, sekaligus menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Pemantauan dini menjadi penting agar titik panas yang terdeteksi dapat segera diverifikasi di lapangan sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

Dengan kondisi cuaca yang masih relatif cerah, potensi asap di berbagai wilayah serta hotspot yang masih terkonsentrasi di sejumlah kabupaten, ancaman karhutla di Jambi belum sepenuhnya dapat dianggap selesai.(*)




199 Hotspot Terdeteksi di Jambi, Sarolangun hingga Muaro Jambi Masuk Pantauan

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Sebanyak 199 titik panas (hotspot) terdeteksi di berbagai wilayah Provinsi Jambi dalam pemantauan BMKG pada Minggu 23 Agustus 2026.

Data Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Thaha Jambi tersebut merupakan hasil pemantauan pada periode pukul 00.00 hingga 16.00 WIB.

Ratusan hotspot itu tersebar di sejumlah kabupaten, dengan beberapa wilayah menunjukkan sebaran titik panas di banyak kecamatan.

Kemunculan ratusan titik panas tersebut menjadi perhatian di tengah kondisi kabut asap yang juga menyelimuti sejumlah kawasan Kota Jambi pada Minggu.

Berdasarkan rincian data BMKG, hotspot terpantau di sejumlah wilayah Jambi.

Di Kabupaten Sarolangun, titik panas antara lain terdeteksi di wilayah Pauh, Air Hitam dan Sarolangun.

Sementara di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, hotspot tersebar di antaranya pada wilayah Batang Asam, Betara, Bram Itam dan Senyerang.

Sebaran juga ditemukan di Kabupaten Batanghari, meliputi Bajubang, Maro Sebo Ulu, Mersam, Muara Bulian hingga Muara Tembesi.

Di Kabupaten Tebo, titik panas terpantau antara lain di Sumay, Muaro Tabir, VII Koto dan VII Koto Ilir.

Sedangkan Kabupaten Muaro Jambi juga masuk dalam wilayah yang terpantau memiliki hotspot, antara lain di Sekernan, Jambi Luar Kota dan Kumpeh Ulu.

Selain wilayah tersebut, BMKG juga mencatat titik panas di Kabupaten Bungo, Tanjung Jabung Timur, Kerinci dan Merangin.

Data hotspot perlu dipahami sebagai indikator adanya anomali panas yang terdeteksi satelit, bukan secara otomatis berarti seluruh titik merupakan lokasi kebakaran hutan dan lahan.

Tingkat kepercayaan hasil deteksi juga berbeda-beda.

Dalam laporan BMKG, tingkat kepercayaan hotspot terbagi dalam kategori rendah 0–29 persen, sedang 30–79 persen dan tinggi 80–100 persen.

Deteksi dilakukan menggunakan sejumlah satelit pengamatan, termasuk SNPP dan NOAA20.

Karena itu, titik panas yang terdeteksi tetap membutuhkan pengecekan lebih lanjut di lapangan untuk memastikan apakah benar terdapat kebakaran.

Meski tidak seluruh hotspot dapat langsung dikategorikan sebagai Karhutla, kemunculan 199 titik panas dalam satu periode pemantauan menjadi sinyal yang perlu diwaspadai.

Terlebih, sejumlah wilayah yang terdeteksi hotspot berada di kabupaten dengan hamparan lahan dan kawasan yang memiliki potensi terdampak kebakaran saat kondisi mendukung.

Beberapa catatan dalam laporan pemantauan juga menunjukkan adanya aktivitas yang berada di sekitar wilayah operasional khusus, termasuk area sumur minyak.

Kondisi tersebut membutuhkan pemantauan dan verifikasi lebih lanjut agar titik panas yang terdeteksi tidak berkembang menjadi kebakaran yang meluas.

Masyarakat di wilayah yang terdapat hotspot diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan.

Pemantauan terhadap perkembangan titik panas juga penting dilakukan secara berkelanjutan, khususnya ketika kondisi cuaca dan lingkungan mendukung munculnya api.

Dengan ratusan hotspot yang terdeteksi di berbagai wilayah, penanganan Karhutla di Jambi membutuhkan koordinasi lintas sektor.

Mulai dari pemantauan titik panas, pengecekan lapangan hingga tindakan cepat apabila ditemukan kebakaran.(*)




Waspada! Hujan Lebat Disertai Petir Berpotensi Terjadi di Kota Jambi hingga Sore ini

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Hujan sedang hingga lebat yang disertai potensi kilat, petir, dan angin kencang masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Jambi pada Minggu 16 Agustus 2026 sore.

Berdasarkan Peringatan Dini Cuaca Jambi yang diperbarui pukul 15.31 WIB, kondisi cuaca tersebut berpotensi terjadi mulai sekitar 15.41 WIB dan diperkirakan masih berlangsung hingga 18.00 WIB.

Wilayah yang lebih dahulu berpotensi terdampak tersebar di sejumlah kabupaten.

Di Kabupaten Kerinci, wilayah yang masuk dalam peringatan meliputi Gunung Raya, Batang Merangin, Keliling Danau, dan Bukitkerman.

Sementara di Kabupaten Merangin, potensi cuaca ekstrem mencakup Jangkat, Muara Siau, Lembah Masurai, dan Jangkat Timur.

Peringatan juga mencakup Pemayung di Kabupaten Batanghari.

Untuk Kabupaten Muaro Jambi, wilayah yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang meliputi Sekernan, Kumpeh, Maro Sebo, Kumpeh Ulu, Sungai Gelam, dan Taman Rajo.

Di wilayah pesisir timur Jambi, kondisi serupa berpotensi terjadi di Seberang Kota, Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Sementara di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, wilayah yang masuk dalam peringatan awal yakni Muara Sabak Timur, Dendang, Muara Sabak Barat, Mendahara Ulu, dan Geragai.

Potensi Meluas ke Kota Jambi

Peringatan dini tersebut juga menyebut potensi perluasan cuaca buruk ke sejumlah wilayah lainnya.

Di Kabupaten Kerinci, kondisi dapat meluas ke Danau Kerinci. Sementara Kabupaten Sarolangun yang berpotensi terdampak adalah Batang Asai.

Di Kabupaten Muaro Jambi, perluasan diprakirakan mencapai Jambi Luar Kota.

Adapun di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, potensi cuaca tersebut dapat meluas ke Tungkal Ulu, Tungkal Ilir, Pengabuan, Betara, Batang Asam, Muara Papalik, Bram Itam, dan Senyerang.

Untuk Kabupaten Tanjung Jabung Timur, wilayah yang berpotensi ikut terdampak meliputi Mendahara, Rantau Rasau, dan Berbak.

Sementara itu, Kota Jambi juga masuk dalam wilayah yang perlu mewaspadai potensi perluasan cuaca. Sejumlah kecamatan yang disebut meliputi Telanaipura, Jambi Timur, Pelayangan, Danau Teluk, dan Paal Merah.

Kondisi tersebut diperkirakan masih dapat berlangsung hingga pukul 18.00 WIB.

Warga Diminta Waspadai Petir dan Angin Kencang

Potensi hujan lebat yang disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat berdampak pada aktivitas masyarakat, terutama pengguna jalan dan warga yang beraktivitas di luar ruangan.

Masyarakat di wilayah yang masuk dalam peringatan dini perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca secara cepat.

Saat hujan lebat disertai petir dan angin kencang terjadi, warga sebaiknya menghindari area terbuka dan lokasi yang berisiko terkena pohon tumbang maupun gangguan akibat angin kencang.

Peringatan dini cuaca bersifat dinamis sehingga perkembangan kondisi di masing-masing wilayah tetap perlu dipantau, terutama hingga batas waktu yang disebutkan dalam pembaruan peringatan.(*)




Kota Jambi Belum Status Siaga Karhutla, BPBD Pantau ISPU hingga Ancaman Kekeringan

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Ancaman asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menjadi perhatian Pemerintah Kota Jambi.

Meski kualitas udara saat ini disebut telah membaik, pemerintah daerah belum menganggap situasi aman sepenuhnya karena arah angin dan perkembangan karhutla di wilayah sekitar dapat sewaktu-waktu mengubah kondisi udara di Kota Jambi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jambi telah menyampaikan nota dinas kepada Wali Kota Jambi terkait perkembangan karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah sekitar Kota Jambi, termasuk kemungkinan asap terbawa angin masuk ke wilayah perkotaan.

Kepala BPBD Kota Jambi, Doni Sumatriadi, mengatakan pemantauan dilakukan secara berkelanjutan dengan melihat sejumlah indikator, mulai dari perkembangan titik kebakaran, kondisi cuaca, arah angin, tingkat kekeringan hingga kualitas udara.

Menurut Doni, kualitas udara Kota Jambi sebelumnya sempat masuk kategori tidak sehat. Namun, berdasarkan pemantauan terakhir, kondisi tersebut kembali membaik.

“Memang beberapa waktu lalu ISPU di Kota Jambi sempat masuk kategori tidak sehat. Tetapi sekarang sudah kembali normal,” kata Doni.

Meski demikian, membaiknya kualitas udara belum menjadi alasan bagi Pemkot Jambi untuk menurunkan kewaspadaan.

Perubahan arah angin dapat membuat asap dari wilayah lain bergerak menuju Kota Jambi, sementara aktivitas karhutla di sejumlah daerah masih berlangsung.

Status Siaga Belum Ditetapkan

Di tengah ancaman tersebut, Pemkot Jambi belum menetapkan status siaga karhutla.

Doni menjelaskan, keputusan mengenai status kebencanaan tidak bisa hanya didasarkan pada munculnya asap atau satu indikator tertentu.

Pemerintah perlu melihat sejumlah parameter secara bersamaan agar kebijakan yang diambil sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Indikator tersebut meliputi tingkat kekeringan, indeks standar pencemar udara (ISPU), perkembangan karhutla hingga potensi kebakaran di kawasan permukiman.

“Untuk menetapkan status siaga, ada beberapa unsur yang harus kita lihat. Mulai dari kekeringan, ISPU, karhutla sampai kondisi permukiman,” jelasnya.

Artinya, meskipun ancaman asap mulai terasa dan karhutla terjadi di wilayah sekitar, kondisi Kota Jambi saat ini belum dinilai memenuhi seluruh indikator untuk menaikkan status menjadi siaga.

Sebagai langkah pencegahan, BPBD Kota Jambi telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 17 Tahun 2026.

Surat tersebut menjadi pengingat bagi perangkat daerah, pelaku usaha dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau.

Pemerintah mengingatkan potensi yang harus diantisipasi tidak hanya kebakaran, tetapi juga kekeringan serta gangguan kesehatan apabila kualitas udara kembali memburuk.

Sekolah Belum Diliburkan

Potensi memburuknya kualitas udara juga memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan penghentian sementara kegiatan belajar mengajar di Kota Jambi.

Namun, BPBD menegaskan kebijakan tersebut belum dapat diputuskan hanya karena adanya karhutla atau peningkatan ISPU pada satu waktu tertentu.

Doni mengatakan pemerintah akan terlebih dahulu melihat perkembangan berbagai indikator secara menyeluruh.

Jika kondisi memang menunjukkan risiko terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat, kebijakan mengenai aktivitas sekolah akan dibahas bersama Forkopimda Kota Jambi.

“Kalau mengenai meliburkan sekolah, kita tidak bisa melihat satu indikator saja. Ada kekeringan, ISPU, karhutla dan kondisi permukiman yang harus diperhatikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, apabila diperlukan penghentian sementara kegiatan sekolah, keputusan tersebut akan dibahas bersama unsur Forkopimda berdasarkan kondisi aktual di lapangan.

“Kalau memang ada keputusan untuk meliburkan sekolah, tentu akan kita bicarakan bersama unsur Forkopimda. Kita melihat indikator dan perkembangan kondisi di lapangan,” katanya.

Pantau Arah Angin dan Ketersediaan Air

BPBD Kota Jambi juga memperkuat koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memperoleh informasi mengenai perkembangan cuaca, potensi hujan serta arah angin.

Faktor arah angin menjadi penting karena kualitas udara Kota Jambi dapat dipengaruhi asap yang berasal dari kebakaran di wilayah lain.

Selain ancaman asap, pemerintah juga mulai mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap ketersediaan air bersih.

BPBD berkoordinasi dengan Perumdam Tirta Mayang untuk memastikan kesiapan layanan apabila kemarau berkepanjangan menyebabkan penurunan debit sumber air.

Dengan sejumlah ancaman tersebut, pemerintah kini memilih memperkuat langkah pencegahan ketimbang menunggu kondisi memburuk.

Doni meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di tengah kondisi cuaca yang relatif kering.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

“Yang paling penting sekarang adalah kewaspadaan. Kondisi memang belum masuk status siaga, tetapi bukan berarti kita lengah. Kita terus pantau perkembangan di lapangan,” tegas Doni.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Kota Jambi saat ini berada dalam fase waspada terhadap dampak karhutla, tetapi belum menaikkan status kebencanaan.

Perubahan kualitas udara, arah angin, tingkat kekeringan dan perkembangan kebakaran di daerah sekitar akan menjadi faktor penting dalam menentukan langkah pemerintah selanjutnya.(*)




Musim Kemarau Mulai Terasa, BMKG Minta Warga Jambi Tetap Waspada Hujan dan Cuaca Ekstrem

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca di Provinsi Jambi pada periode 28 Juli hingga 3 Agustus 2026 didominasi kondisi cerah hingga berawan.

Meski demikian, hujan dengan intensitas ringan masih berpotensi terjadi, terutama pada sore, malam, hingga dini hari.

Dalam prospek cuaca mingguan yang dirilis BMKG, kondisi tersebut dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang masih aktif, meskipun fenomena El Nino dengan intensitas kuat masih mendominasi pola iklim di Indonesia.

Berdasarkan analisis BMKG, Indeks Niño 3.4 masih berada di angka +2,26, sementara Southern Oscillation Index (SOI) tercatat -28,2.

Kondisi tersebut menunjukkan fenomena El Nino masih berlangsung dengan intensitas kuat dan berpotensi semakin menguat dalam beberapa waktu ke depan.

Fenomena tersebut berpengaruh terhadap berkurangnya pembentukan awan hujan sehingga curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jambi, cenderung menurun.

Meski demikian, BMKG menjelaskan peluang hujan belum sepenuhnya hilang.

Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang mulai memasuki wilayah Indonesia, serta pengaruh Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin yang melintasi sebagian Sumatra, diperkirakan masih mendukung terbentuknya awan hujan di sejumlah daerah.

Dengan kondisi tersebut, cuaca kering memang diprediksi lebih dominan.

Namun, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih dapat terjadi secara lokal, terutama di wilayah yang dipengaruhi aktivitas gelombang atmosfer, sirkulasi siklonik, serta daerah konvergensi dan konfluensi.

BMKG mengimbau masyarakat yang berada di wilayah yang mulai memasuki musim kemarau untuk menjaga kondisi kesehatan saat beraktivitas di luar ruangan.

Penggunaan pelindung dari paparan sinar matahari, seperti topi, payung, atau tabir surya, dianjurkan guna mengurangi risiko paparan panas berlebih.

Selain itu, masyarakat juga diminta menjaga kecukupan cairan tubuh agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan, terutama bagi yang beraktivitas pada siang hari.

BMKG mengingatkan bahwa kondisi atmosfer masih bersifat dinamis sehingga masyarakat perlu mewaspadai perubahan cuaca yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Termasuk perjalanan darat, laut, maupun udara, serta kegiatan luar ruang seperti olahraga dan wisata.

Masyarakat diimbau untuk rutin memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan informasi cuaca ekstrem melalui kanal resmi BMKG agar dapat mengantisipasi potensi dampak cuaca yang mungkin terjadi.(*)