Setelah Dikritik, Oxford Revisi Unggahan dan Cantumkan Peneliti Indonesia

SEPUCUKJAMBI.ID – Setelah menuai kritik luas dari masyarakat Indonesia dan komunitas ilmiah, University of Oxford akhirnya merevisi unggahan resminya terkait laporan mekarnya bunga Rafflesia hasseltii, salah satu spesies Rafflesia langka yang ditemukan di hutan hujan Sumatera.

Revisi dilakukan pada 28 November 2025, atau empat hari setelah unggahan awal yang dianggap mengabaikan peran peneliti dan pemandu lapangan asal Indonesia.

Unggahan Oxford pada 24 November 2025 hanya menyebut nama Chris Thorogood sebagai representasi tim ekspedisi yang mendokumentasikan mekarnya Rafflesia hasseltii.

Namun, tokoh yang berperan penting dalam ekspedisi tersebut, seperti Septian Andriki (Deki) dan pemandu lokal Iswandi, tidak dicantumkan sama sekali.

Penghilangan tersebut memicu protes keras dari berbagai pihak, termasuk masyarakat, akademisi, serta tokoh publik seperti Anies Baswedan yang menegaskan pentingnya pengakuan terhadap ilmuwan Indonesia.

“Peneliti lokal yang berperan besar harus diakui. Tanpa mereka, penemuan ini tidak mungkin terjadi,” ujarnya.

Kritik ini segera menjadi sorotan nasional karena dianggap mencerminkan persoalan lama dalam riset internasional yang kerap mengabaikan kontribusi lokal terutama ketika penelitian dilakukan di negara dengan tingkat biodiversitas tinggi seperti Indonesia.

Merespons kritik tersebut, University of Oxford memperbarui unggahan mereka pada 28 November 2025.

Dalam versi terbaru, Oxford mencantumkan secara lengkap nama-nama peneliti dan pemandu lokal yang berperan dalam ekspedisi, termasuk:

  • Septian Andriki (Deki) – Pemandu lokal dan peneliti lapangan

  • Iswandi – Pemandu lapangan

  • Joko Ridho Witono (BRIN) – Peneliti utama biodiversitas Indonesia

  • Akademisi dari Universitas Bengkulu yang turut mengonfirmasi temuan lapangan

“Penemuan ini adalah hasil kerja keras seluruh tim, termasuk rekan-rekan Indonesia yang berada di lapangan,” sebut Chris Thorogood dalam pernyataannya.

Rafflesia hasseltii yang mekar tersebut ditemukan pada 18 November 2025 di kawasan hutan hujan Hiring Batang Sumi, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.

Bunga parasit raksasa ini dikenal sangat sulit ditemukan dalam kondisi mekar, membuat temuan kali ini menjadi peristiwa ilmiah yang menarik perhatian global.

“Melihat bunga ini mekar adalah pengalaman yang tidak bisa digambarkan. Bertahun-tahun pencarian akhirnya terbayar,” kata Septian Andriki, pemandu lokal.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan bahwa publikasi ilmiah internasional yang sedang disiapkan terkait temuan ini akan mencantumkan peneliti Indonesia sebagai penulis utama, sekaligus menggarisbawahi kredibilitas dan kontribusi ilmiah mereka.

Langkah ini juga dinilai sebagai bentuk koreksi penting untuk menghindari dominasi narasi dari satu institusi.

Kontroversi yang sempat muncul ini mengingatkan bahwa kerja sama ilmiah global harus dijalankan secara transparan dan adil.

Pengakuan terhadap peran peneliti lokal sangat penting, terutama pada riset lapangan yang melibatkan risiko tinggi, pengetahuan ekologi lokal, serta tahun-tahun upaya penelitian.

Revisi yang dilakukan Oxford dipandang sebagai langkah positif yang memperbaiki hubungan kolaboratif sekaligus mengakui bahwa penemuan biodiversitas Indonesia adalah hasil kerja kolektif, bukan semata kontribusi pihak luar.

Peristiwa ini juga menyoroti kekayaan hayati Indonesia dan besarnya potensi riset yang masih dapat ditemukan di hutan tropis Nusantara.(*)




Oxford Dikecam Usai Tak Cantumkan Peneliti Indonesia dalam Publikasi Rafflesia Hasseltii

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID  – Universitas Oxford menjadi sorotan publik Indonesia setelah tidak mencantumkan nama tiga peneliti lokal dalam publikasi ilmiah terkait penemuan spesies langka Rafflesia hasseltii.

Keputusan tersebut memicu kritik terkait etika kolaborasi riset internasional dan pentingnya penghargaan yang setara bagi ilmuwan dari negara berkembang.

Kontroversi muncul setelah publik mengetahui bahwa nama Joko Witono, Septi Andriki, dan Iswandi tiga peneliti Indonesia yang terlibat dalam riset lapangan, pengumpulan data, hingga pendampingan teknis tidak masuk dalam daftar penulis publikasi tersebut.

Padahal, kontribusi mereka dinilai krusial bagi keberhasilan eksplorasi biodiversitas di lapangan.

Kritik publik semakin meluas setelah mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyampaikan protes terbuka melalui media sosial.

Ia mengingatkan bahwa peneliti Indonesia tidak boleh diperlakukan sebagai pihak sampingan dalam kolaborasi ilmiah.

Dalam unggahannya, Anies menulis:

“Dear @UniofOxford, our Indonesian researchers Joko Witono, Septi Andriki, and Iswandi  are not NPCs. Name them too.”

Ia kemudian memberikan terjemahan:

“Para peneliti Indonesia bukan tokoh figuran. Cantumkan nama mereka juga.”

Istilah NPC (non-player character), yang merujuk pada karakter pendukung dalam gim, dianggap sebagai kritik keras terhadap praktik pengabaian kontribusi ilmuwan lokal oleh institusi besar dunia.

Peneliti biodiversitas dan pegiat konservasi di Indonesia menilai kasus ini sebagai contoh ketidakadilan struktural dalam kerja sama riset internasional.

Mereka menegaskan bahwa, riset flora dan fauna di Indonesia sangat bergantung pada keahlian ilmuwan lokal mulai dari akses wilayah, pengetahuan ekologis, hingga pemahaman konteks sosial setempat.

Warganet pun ramai menyuarakan kekecewaan dan menilai bahwa tidak dicantumkannya nama peneliti Indonesia merupakan praktik yang merugikan, serta melemahkan semangat kolaborasi ilmiah yang adil.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Universitas Oxford belum mengeluarkan tanggapan resmi.

Meski demikian, tekanan publik terus meningkat.

Komunitas akademik Indonesia berharap polemik ini dapat menjadi momentum untuk menata ulang standar kolaborasi riset internasional terutama dalam memastikan pengakuan yang setara dan transparan bagi semua peneliti, tanpa memandang asal negara.(*)