3 Hektare Sawah di Dusun Aurgading Bungo Gagal Panen Akibat Banjir

MUARABUNGO, SEPUCUKJAMBI.ID – Dampak banjir akibat luapan Sungai Jujuhan yang melanda Kecamatan Jujuhan Ilir, Kabupaten Bungo, mulai dirasakan serius oleh para petani.

Musibah tersebut menyebabkan sebagian lahan pertanian warga rusak parah dan tidak bisa diselamatkan.

Dari total sekitar 15 hektare lahan cetak sawah yang sebelumnya terendam banjir, sebanyak 3 hektare di Dusun Aurgading dipastikan mengalami gagal panen.

Hingga kini, kondisi lahan masih dipenuhi lumpur, sementara tanaman padi yang ditanam petani telah membusuk dan tidak menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan.

Situasi ini membuat para petani harus menerima kenyataan pahit kehilangan hasil panen pada musim tanam tahun ini.

Upaya penyelamatan tanaman pun tidak lagi memungkinkan karena kerusakan sudah terlanjur parah.

Ketua Kelompok Tani Aurgading, H. Manan, membenarkan kondisi tersebut.

Ia menyebut banjir luapan Sungai Jujuhan telah memberikan dampak besar terhadap lahan persawahan milik warga.

“Pasca banjir luapan Sungai Jujuhan beberapa waktu lalu, dari sekitar 15 hektare lahan cetak sawah yang terendam, sebanyak 3 hektare dipastikan gagal panen. Saat ini lahan masih berlumpur dan batang padi sudah membusuk,” ujar H. Manan.

Menurutnya, gagal panen ini menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi petani.

Pasalnya, biaya yang dikeluarkan untuk mengelola lahan cetak sawah tidak sedikit, mulai dari tahap awal hingga perawatan tanaman.

“Rata-rata petani menghabiskan sekitar Rp5 juta per hektare. Itu mencakup biaya pengolahan lahan, pembelian bibit, pupuk, hingga perawatan tanaman sampai masa panen,” jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, total kerugian yang dialami petani ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.

Ironisnya, setelah mengalami gagal panen, para petani kini tidak lagi memiliki kemampuan finansial untuk membeli bibit baru atau menggarap ulang lahan sawah mereka.

Kondisi ekonomi petani pun semakin tertekan. Jika tidak ada bantuan, keberlanjutan usaha pertanian di Dusun Aurgading dikhawatirkan terhenti, sekaligus berdampak pada ketahanan pangan lokal.

Atas musibah ini, H. Manan mewakili para petani berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah, baik tingkat kabupaten maupun provinsi.

Bantuan yang diharapkan antara lain berupa bibit padi, sarana produksi pertanian, serta dukungan lain yang dapat meringankan beban petani.

“Kami sangat berharap ada bantuan dari pemerintah. Saat ini kami juga sedang berupaya mendukung program ketahanan pangan nasional yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto,” ungkapnya.

Para petani berharap banjir luapan Sungai Jujuhan ini menjadi perhatian serius semua pihak.

Mereka juga meminta adanya solusi jangka panjang, seperti normalisasi sungai atau pembangunan sistem pengendalian banjir, agar lahan pertanian tidak terus-menerus terancam saat musim hujan tiba.(*()




Longsor Parah Lumpuhkan Jalur Pelayang–Limbur di Bungo

MUARABUNGO, SEPUCUKJAMBI.ID – Curah hujan tinggi yang mengguyur Kabupaten Bungo dalam beberapa hari terakhir menyebabkan sejumlah sungai di wilayah ini meluap, termasuk Sungai Batang Bungo di Kecamatan Bathin III Ulu, Minggu (21/12/2025).

Luapan sungai ini tidak hanya meningkatkan risiko banjir, tetapi juga menyebabkan akses transportasi terganggu parah akibat longsor.

Kepala BPBD Kesbangpol Kabupaten Bungo, Zainadi, menyebutkan jalur dari Kecamatan Pelayang menuju Limbur Lubuk Mengkuang, maupun sebaliknya dari Limbur ke Bungo, tidak dapat dilalui sama sekali karena adanya 18 titik longsor.

Longsor tersebut menimbun badan jalan dan disertai pohon tumbang, membuat perjalanan antarwilayah lumpuh total.

“Curah hujan tinggi menyebabkan longsor di 18 titik sepanjang jalur Pelayang–Limbur dan Limbur–Bungo. Saat ini akses tidak bisa dilewati,” ujar Zainadi, Minggu siang.

BPBD Kabupaten Bungo telah menurunkan alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum untuk menyingkirkan material longsor.

Pembersihan juga dibantu alat berat milik PT Jamika Raya dan KUD Sekar Mengkuang. Zainadi memastikan alat berat dari Bungo segera tiba di lokasi untuk mempercepat proses pemulihan.

Selain longsor, warga di bantaran Sungai Batang Bungo, Batang Jujuhan, Batang Tebo, dan Batang Pelepat tetap diingatkan waspada terhadap potensi banjir.

Curah hujan tinggi diperkirakan akan terus berlangsung hingga Februari 2026, menurut rilis BMKG Jambi.

“Kami mengimbau masyarakat untuk selalu waspada, terutama di malam hari. Jangan lengah, karena banjir dan longsor bisa datang kapan saja,” pungkasnya.(*)