Pascabanjir Aceh, Pemulihan Jaringan Indosat Capai 92 Persen

ACEH, SEPUCUKJAMBI.ID – Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat/IOH) terus mempercepat pemulihan layanan jaringan telekomunikasi di Provinsi Aceh pascabanjir yang terjadi beberapa waktu lalu.

Hingga saat ini, tingkat pemulihan jaringan Indosat di wilayah tersebut telah mencapai 92 persen.

Pemulihan ini merupakan bagian dari komitmen Indosat untuk terus hadir mendampingi masyarakat sejak masa tanggap darurat hingga fase pemulihan

Konektivitas dinilai sebagai elemen penting dalam mendukung koordinasi, akses informasi, serta aktivitas masyarakat sehari-hari, khususnya di wilayah terdampak bencana.

EVP–Head of Circle Sumatra Indosat Ooredoo Hutchison, Agus Sulistio, menyampaikan bahwa konektivitas memiliki peran krusial dalam situasi darurat.

“Dalam kondisi bencana, jaringan komunikasi sangat penting. Indosat bergerak cepat bersama para pemangku kepentingan untuk memastikan layanan kembali berfungsi dan dapat dimanfaatkan masyarakat. Saat ini, sebagian besar wilayah terdampak di Aceh, termasuk Aceh Tamiang, telah kembali terlayani dan kami akan terus mempercepat pemulihan hingga seluruh jaringan pulih sepenuhnya,” ujar Agus Sulistio.

Dalam proses pemulihan, Indosat melakukan berbagai langkah teknis secara menyeluruh.

Upaya tersebut meliputi penggantian perangkat jaringan yang terdampak banjir, perbaikan jalur transmisi serat optik yang terputus, serta pemasangan sumber daya cadangan seperti genset dan baterai.

Untuk menjaga konektivitas di wilayah yang belum terhubung dengan serat optik, Indosat juga menyediakan alternatif transmisi melalui satelit link.

Selain penguatan infrastruktur, Indosat menambah jumlah personel teknis di seluruh lokasi terdampak, baik dari internal perusahaan maupun mitra dalam ekosistem Indosat.

Koordinasi intensif juga dilakukan dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), BNPB, serta pemerintah daerah guna memperoleh prioritas pasokan bahan bakar dan membuka akses ke wilayah yang sempat terisolasi akibat kerusakan infrastruktur.

Sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas layanan, Indosat menempatkan tim siaga di sejumlah lokasi strategis seperti bandara, terminal, stasiun, rumah sakit, dan area pengungsian.

Indosat juga mengoperasikan Posko Pemantauan (Command Center) secara terpusat di Jakarta, Medan, dan Aceh untuk memastikan dukungan maksimal bagi tim di lapangan.

Indosat SIGAP Dukung Pemulihan Masyarakat

Sejalan dengan pemulihan jaringan, Indosat melalui program tanggung jawab sosial perusahaan Indosat SIGAP turut menyalurkan bantuan kemanusiaan.

Indosat mendirikan Posko Dapur Umum di sejumlah wilayah terdampak, terutama di Aceh, seperti Kampung Durian (Aceh Tamiang), Geulanggang Rayeuk (Bireuen), serta Panti Asuhan Darul Aitam (Meureudu, Pidie Jaya).

Posko serupa juga beroperasi di Langkat (Sumatra Utara), Kota Padang, dan Kabupaten Agam (Sumatra Barat).

Menyesuaikan kebutuhan lapangan, jumlah posko dioptimalkan dari rencana awal sepuluh menjadi sembilan titik, dengan prioritas utama di wilayah Aceh.

Kapasitas bantuan ditingkatkan hingga ribuan porsi makanan per hari, serta dilengkapi pembangunan sumur bor di Aceh Tamiang guna mendukung ketersediaan air bersih dan pemulihan jangka panjang.

Ke depan, Indosat berkomitmen menuntaskan pemulihan jaringan secara menyeluruh melalui penguatan infrastruktur, penambahan sumber daya pendukung, serta koordinasi berkelanjutan dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.

Indosat memastikan layanan komunikasi tetap tangguh dan responsif agar masyarakat dapat terus terhubung, termasuk dalam situasi darurat.(*)




Disorot Media Asing, Bendera Putih di Aceh Cerminkan Krisis Pascabencana

ACEH, SEPUCUKJAMBI.ID – Warga di sejumlah wilayah di Provinsi Aceh mengibarkan bendera putih sebagai simbol keputusasaan sekaligus permohonan bantuan di tengah kondisi pascabencana banjir dan tanah longsor yang dinilai belum sepenuhnya tertangani.

Bendera putih terlihat terpasang di depan rumah warga, di pinggir jalan, hingga di area persawahan.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf membenarkan adanya fenomena pengibaran bendera putih tersebut.

Namun, ia menegaskan bahwa makna di balik aksi warga itu beragam dan tidak dapat disimpulkan secara tunggal.

“Saya tidak tahu apa-apa, sebenarnya keliru, (bendera putih) bukan ke PBB, kepada LSM yang ada di Aceh,” ujar Muzakir Manaf saat memberikan klarifikasi kepada awak media.

Menurut Muzakir, sebagian warga mengibarkan bendera putih sebagai bentuk permintaan bantuan akibat keterbatasan logistik dan tekanan ekonomi yang dialami pascabencana.

Meski demikian, ia menegaskan pemerintah daerah tetap berupaya memastikan penanganan bencana dan distribusi bantuan terus berjalan.

Banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah kabupaten di Aceh mengakibatkan kerusakan infrastruktur, terputusnya akses jalan, serta terganggunya distribusi bahan pangan.

Kondisi tersebut membuat sebagian warga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Fenomena bendera putih di Aceh juga menjadi sorotan media internasional.

Channel News Asia (CNA) melaporkan bahwa, warga mengibarkan bendera putih sebagai tanda kekurangan makanan dan bantuan yang belum menjangkau seluruh wilayah terdampak.

Sejumlah warga terdampak bencana mengaku bantuan belum diterima secara merata.

“Kami mengibarkan bendera putih agar orang tahu kami masih membutuhkan bantuan. Kami hanya ingin makan dan bertahan hidup,” sebut seorang warga Aceh, yang dikutip media asing.

Di Banda Aceh, kelompok masyarakat sipil turut mengibarkan bendera putih di kawasan Masjid Raya Baiturrahman.

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk desakan kepada pemerintah agar menetapkan status bencana nasional, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi.

Pemberitaan terkait pengibaran bendera putih di Aceh semakin meluas setelah mendapat perhatian media asing.

Aksi simbolik ini dinilai mencerminkan situasi darurat kemanusiaan yang membutuhkan respons cepat dan konkret dari pemerintah.

Sementara itu, hasil penelusuran cek fakta Tempo memastikan bahwa pengibaran bendera putih oleh warga Aceh benar terjadi dan tidak terkait dengan informasi palsu.

Simbol tersebut digunakan warga sebagai upaya menarik perhatian agar bantuan segera disalurkan secara merata.

Pemerintah pusat dan daerah menyatakan terus memantau perkembangan di lapangan serta berupaya mempercepat penyaluran bantuan bagi warga terdampak, sembari menjaga situasi keamanan dan ketertiban tetap kondusif.(*)




Gubernur Aceh Bantah Isu Minta Bantuan PBB, Fokus Penanganan Bencana Lokal

BANDAACEH, SEPUCUKJAMBI.ID Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, membantah keras kabar yang menyebut Pemerintah Provinsi Aceh meminta bantuan langsung kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait bencana banjir dan longsor di beberapa wilayah.

Ia menegaskan informasi tersebut keliru dan tidak sesuai fakta.

Isu ini muncul setelah beredar kabar mengenai surat yang disebut dikirim Pemerintah Aceh ke PBB.

Kabar tersebut memicu polemik publik terkait kewenangan pemerintah daerah dalam menjalin komunikasi internasional.

Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem, menegaskan dirinya tidak mengetahui adanya permintaan bantuan ke PBB. Ia menyebut terjadi kesalahan tafsir terhadap surat yang dimaksud.

“Saya tidak tahu apa-apa, sebenarnya keliru, (surat) bukan ke PBB, tapi kepada LSM yang ada di Aceh,” ujar Mualem.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, menjelaskan surat yang dikirim memang ada, namun ditujukan kepada lembaga atau mitra kemanusiaan lokal, bukan PBB.

Koordinasi ini dilakukan untuk memperkuat penanganan dan pemulihan bencana, bukan untuk mengalihkan tanggung jawab pemerintah.

Menurut Muhammad MTA, langkah ini wajar mengingat Aceh memiliki pengalaman panjang bekerja sama dengan lembaga kemanusiaan sejak masa pemulihan pascatsunami 2004.

Pemerintah Aceh menegaskan tidak ada pelanggaran kewenangan karena tidak mengajukan permintaan resmi kepada organisasi internasional.

Pemerintah Aceh berharap klarifikasi ini meluruskan informasi yang berkembang di masyarakat.

Fokus utama tetap pada percepatan penanganan bencana dan pemulihan kondisi masyarakat terdampak secara optimal melalui koordinasi yang sesuai ketentuan hukum.(*)




Program Peduli Bencana JNE: Bantuan Logistik untuk Aceh, Sumut, Sumbar

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat baru-baru ini terdampak bencana banjir dan tanah longsor.

Menunjukkan kepedulian sosial, JNE mengambil peran aktif dengan memfasilitasi pengiriman bantuan logistik.

Untuk itu, JNE menyediakan layanan gratis ongkos kirim khusus bagi pengiriman bantuan, yang berlangsung sejak 1 hingga 10 Desember 2025.

Berkat partisipasi seluruh Teman JNE di seluruh Indonesia, total bantuan yang berhasil dikumpulkan dan didistribusikan mencapai lebih dari 500 ton.

Bantuan tersebut disalurkan bekerja sama dengan berbagai lembaga kemanusiaan mitra di lokasi terdampak.

Sebagai bagian dari gerakan “Bergerak Bersama Peduli Bencana”, JNE menggelar Pelepasan Distribusi Bantuan di Sales Counter Tomang 9, Jakarta Barat, pada Rabu, 10 Desember 2025.

Sebelumnya, JNE telah mendistribusikan lebih dari 280 ton bantuan dari masyarakat sejak 1 Desember 2025.

Acara ini dihadiri jajaran direksi dan manajemen JNE, bersama perwakilan lembaga kemanusiaan seperti Rumah Zakat, Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI), Yatim Mandiri, dan Daarut Tauhid Peduli.

Dalam kegiatan ini, armada logistik JNE diberangkatkan membawa bantuan tambahan dari Teman JNE, yang segera dikirim ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Bantuan akan disalurkan melalui lembaga kemanusiaan, termasuk Rumah Zakat, BSMI, DT Peduli Aceh, Yatim Mandiri Sumut, DT Peduli Sumut di Medan, dan DT Peduli Sumbar di Padang.

Bantuan yang dikirimkan difokuskan pada kebutuhan mendesak masyarakat terdampak, seperti bahan pokok, pakaian, selimut, perlengkapan kesehatan dasar, multivitamin, obat-obatan, hingga kebutuhan bayi dan lansia.

JNE juga menyumbangkan tenda, genset, dan perlengkapan higienis untuk mendukung pemulihan masyarakat.

Presiden Direktur JNE, M. Feriadi Soeprapto, menegaskan bahwa gerakan “Bergerak Bersama Peduli Bencana” mencerminkan nilai perusahaan sejak awal berdiri, yakni berbagi, memberi, dan menyantuni dengan semangat Connecting Happiness.

Program ini bukan kali pertama, sebelumnya JNE juga menggelar gratis ongkir bantuan saat bencana Gempa Lombok (2018), Erupsi Gunung Merapi Semeru (2021), dan Gempa Cianjur (2022).

Feriadi menambahkan bahwa JNE berkomitmen untuk terus hadir dalam setiap inisiatif kemanusiaan, baik pada situasi darurat maupun program berkelanjutan.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mendoakan keselamatan bagi warga terdampak bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar.(*)




Bantuan Rp7 Miliar dari Jabar Dikirim ke Aceh, Dedi Mulyadi Ikut Cari Kerabatnya

BANDUNG, SEPUCUKJAMBI.ID – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bertolak ke Sumatera pada awal Desember 2025 untuk menyerahkan bantuan kemanusiaan sekaligus mencari anggota keluarganya yang hilang kontak akibat bencana banjir dan longsor di Aceh.

Kunjungan ini menarik perhatian publik karena memadukan tugas resmi sebagai kepala daerah dengan kepentingan pribadi yang sangat emosional.

Dedi membawa bantuan senilai sekitar Rp7 miliar yang dihimpun dari berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kadin, Apindo, Baznas, hingga Bank BJB.

Bantuan tersebut dikirim menggunakan dua pesawat Susi Air agar dapat menjangkau lokasi yang sulit dilalui jalur darat.

Sejumlah kebutuhan pokok juga dibeli langsung dari pedagang di Sumatera Barat untuk mempercepat distribusi menuju wilayah-wilayah terdampak.

Dalam pernyataannya, Dedi menegaskan bahwa keluarganya di Aceh masih belum dapat dihubungi setelah bencana terjadi.

“Saudara saya sampai sekarang hilang kontak di Aceh,” ujar Dedi di Gedung Sate, Bandung.

“Saya nanti juga akan mencoba mencari apakah saudara saya bisa ditemukan,” tambahnya.

Setibanya di Sumatra Barat, Dedi disambut hangat warga. Ia meninjau sejumlah toko dan sentra logistik lokal untuk memastikan bantuan yang dibeli sesuai kebutuhan lapangan.

Dedi juga mengajak masyarakat Jawa Barat terus menunjukkan solidaritas bagi korban bencana di Sumatera serta mengingatkan para pemangku kebijakan agar lebih bijak dalam mengambil keputusan yang dapat berdampak pada kerentanan bencana.

Sementara itu, kondisi di Aceh dan beberapa wilayah Sumatra lainnya masih memprihatinkan.

Rusaknya jaringan komunikasi serta akses wilayah membuat proses pencarian korban, termasuk keluarga Dedi, berjalan lambat.

Pemerintah daerah setempat masih melakukan pendataan dan pencarian, namun banyak warga yang dilaporkan hilang kontak belum dapat dipastikan keberadaannya.

Hingga berita ini ditulis, rombongan Gubernur Jawa Barat masih melakukan distribusi bantuan.

Sementara upaya pencarian anggota keluarga Dedi terus dilakukan mengikuti perkembangan situasi di lapangan.(*)




Indosat Pastikan Pelanggan IM3-Tri Tetap Terhubung dengan Paket Khusus Bencana

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) menyalurkan paket khusus bencana bagi ratusan ribu pelanggan IM3 dan Tri yang terdampak banjir dan longsor di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Paket ini mulai berlaku secara bertahap pada 4 Desember 2025 pukul 00.00 WIB untuk memastikan konektivitas tetap terjaga selama masa tanggap darurat.

Paket khusus bencana mencakup:

  • 5GB kuota data

  • 600 menit panggilan ke semua operator

  • 600 menit panggilan ke sesama IM3 dan Tri

  • 1.000 SMS ke seluruh operator

Semua fasilitas dapat digunakan selama 7 hari masa aktif, termasuk perpanjangan masa berlaku kartu hingga 30 hari.

Paket ini bisa langsung digunakan tanpa registrasi tambahan.

Agus Sulistio, EVP Head of Circle Sumatra Indosat Ooredoo Hutchison, menegaskan bahwa inisiatif ini sejalan dengan komitmen Indosat untuk menghadirkan layanan andal, terutama saat masyarakat menghadapi kondisi darurat.

“Komunikasi menjadi salah satu kebutuhan utama saat keadaan darurat. Indosat memastikan pelanggan tetap bisa terhubung dengan keluarga, layanan darurat, dan memperoleh informasi penting,” ujar Agus.

Hingga 3 Desember 2025, layanan di sebagian besar wilayah terdampak telah berfungsi secara bertahap, termasuk 50% wilayah Aceh, 92% Sumatera Utara, dan lebih dari 97% Sumatera Barat.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai paket khusus bencana, pelanggan dapat mengunjungi:

Tri: bima-3.co/acc

Indosat Ooredoo Hutchison terus memantau kondisi jaringan dan menyesuaikan dukungan layanan agar masyarakat terdampak bencana tetap mendapatkan akses komunikasi yang lancar.(*)




Jaringan Indosat Pulih Cepat, Bantuan Kemanusiaan Tersalurkan ke Korban Banjir Sumatera

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) bergerak cepat memulihkan jaringan telekomunikasi serta menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Sejak awal bencana, perusahaan berupaya meminimalisir gangguan layanan agar masyarakat tetap terhubung dengan keluarga dan memperoleh informasi penting selama masa darurat.

Desmond Cheung, Director and Chief Technology Officer Indosat, menjelaskan bahwa tantangan pemulihan jaringan cukup kompleks karena pemadaman listrik, akses jalan terputus, serta kerusakan jalur fiber akibat banjir dan longsor.

“Prioritas kami adalah mempercepat pemulihan dengan tetap mengedepankan keselamatan tim. Kami mengoperasikan genset permanen maupun portabel dan menyediakan satellite link untuk memulihkan transmisi ketika jalur fiber terputus,” ujar Desmond.

Indosat berkoordinasi dengan Komunikasi Digital (Komdigi), pemerintah pusat dan daerah, PLN, BPBD, TNI, penyedia infrastruktur, serta masyarakat setempat.

Sinergi ini memungkinkan tim Indosat membuka akses, mempercepat mobilitas peralatan, dan memulihkan layanan dengan cepat.

Hingga 3 Desember 2025, progres pemulihan jaringan menunjukkan hasil signifikan: 50% wilayah Aceh, 92% Sumatera Utara, dan lebih dari 97% Sumatera Barat telah kembali normal.

Selain upaya teknis, Indosat menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa makanan siap santap, air minum, alas tidur, selimut, perlengkapan kebersihan, dan kartu perdana IM3 dan Tri

Distribusi dilakukan melalui posko resmi di Padang Pariaman dan Langkat, bekerja sama dengan pemerintah daerah, relawan, dan komunitas lokal, dengan prioritas kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu dengan bayi.

Indosat akan terus memantau kondisi jaringan dan kebutuhan masyarakat di lapangan, memastikan dukungan selalu tersedia sesuai situasi.

“Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, Indosat berkomitmen hadir dengan semangat kemanusiaan dan gotong royong untuk mempercepat pemulihan pascabencana,” tambah Desmond.(*)




Dua Ton Obat dari Malaysia Tiba di Aceh, Perkuat Penanganan Darurat Banjir

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID – Aceh mulai menerima bantuan internasional setelah banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah pada akhir November 2025.

Malaysia mengirimkan obat-obatan dan peralatan medis untuk membantu korban dan mempercepat penanganan darurat di lapangan.

Sebanyak dua ton obat-obatan dan alat medis tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, menggunakan pesawat kargo dari Kuala Lumpur.

Paket ini berisi sekitar dua juta pieces obat dan perlengkapan medis dasar yang akan dibagikan ke pengungsi serta fasilitas kesehatan terdampak banjir.

Pengiriman ini menjadi bantuan medis internasional pertama yang berhasil masuk ke Aceh sejak bencana terjadi.

Banjir di Aceh dipicu hujan ekstrem yang dalam beberapa hari mencapai lebih dari 400 milimeter di sejumlah wilayah.

Ribuan rumah terdampak, banyak jalan terputus, dan ribuan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Selain kebutuhan dasar seperti makanan dan air bersih, layanan kesehatan menjadi fokus utama karena risiko penyakit pascabanjir meningkat, termasuk infeksi kulit, diare, dan masalah pernapasan.

Distribusi bantuan difokuskan ke daerah terdampak paling parah dan lokasi pengungsian.

Pemerintah daerah dan posko bencana memastikan obat-obatan dan peralatan medis sampai ke warga yang membutuhkan, termasuk di wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau.

Bantuan ini diharapkan bisa meringankan beban tenaga medis lokal yang bekerja tanpa henti sejak awal bencana.

Selain Malaysia, beberapa organisasi internasional juga menyiapkan dukungan tambahan yang dijadwalkan tiba dalam beberapa hari ke depan.

Koordinasi antara pemerintah daerah dan pusat terus diperkuat agar semua bantuan dapat tersalurkan tepat waktu dan tepat sasaran.

Kehadiran bantuan dari Malaysia tidak hanya membantu secara nyata di lapangan, tetapi juga menjadi simbol solidaritas regional.

Di tengah kondisi cuaca yang masih tidak menentu, dukungan internasional ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan masyarakat Aceh dan membantu mereka melalui masa sulit pasca-banjir.(*)




Dijadwalkan Pekan Depan, Walikota Maulana Instruksikan Pengiriman Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Bencana Sumatera

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Wali Kota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, M.K.M., menyampaikan duka cita mendalam atas bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, terutama di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Pernyataan itu disampaikannya pada Sabtu (29/11) sebagai wujud kepedulian dan solidaritas Pemerintah Kota Jambi terhadap masyarakat yang tengah terdampak musibah.

“Kami turut berduka cita sedalam-dalamnya atas banjir yang terjadi di Aceh, Sumbar, dan Sumut. Semoga para korban diberikan ketabahan dan wilayah yang terdampak segera pulih,” ujar Maulana dalam keterangannya.

Sebagai bentuk respons cepat, Pemerintah Kota Jambi menyiapkan tim khusus bantuan bencana yang akan diberangkatkan ke Sumatera Barat, yang dijadwalkan berangkat pekan depan.

Tim tersebut akan melakukan pendataan kebutuhan mendesak sekaligus mengatur penyaluran bantuan darurat.

Bantuan mencakup pasokan air bersih dari PDAM, personel dan armada pemadam kebakaran, tenaga medis, dokter, serta logistik kesehatan yang diperlukan dalam pelayanan di lokasi bencana.

Tak hanya itu, Wali Kota Maulana juga menginstruksikan Baznas Kota Jambi untuk menyiapkan dukungan berupa bahan pangan, perlengkapan keluarga, serta kebutuhan logistik lainnya guna memperkuat misi kemanusiaan tersebut.

Sekretaris Daerah bersama sejumlah kepala OPD turut ditugaskan untuk mempersiapkan seluruh kebutuhan operasional tim selama satu minggu sebelum keberangkatan menuju wilayah terdampak.

“Semua dipersiapkan secara matang. Kita ingin bantuan ini tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi saudara-saudara kita di Sumatera Barat,” tegas Maulana.

Di sisi lain, Maulana juga mengingatkan warga Kota Jambi untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana, terutama memasuki musim hujan.

“Jangan sampai kita lalai. Jaga lingkungan, tingkatkan kesiapsiagaan, dan tetap waspada. Kita bersyukur Jambi dalam kondisi aman, dan ini harus terus kita jaga bersama,” tutupnya.(*)