Quartararo Kecelakaan di Mandalika, Soroti Area Gravel Tikungan 9: Minta Dievaluasi

MANDALIKA, SEPUCUKJAMBI.ID – Kecelakaan Fabio Quartararo pada sesi latihan MotoGP Mandalika 2026, Jumat 9 Oktober 2026, kembali menyoroti aspek keselamatan lintasan di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Pembalap Monster Energy Yamaha itu meminta pengelola mengevaluasi area gravel di Tikungan 9 setelah permukaan tersebut memperparah dampak kecelakaannya.

Quartararo kehilangan kendali atas motornya sebelum meluncur di aspal dan menghantam area gravel. Benturan itu membuat tubuhnya terlempar ke udara.

Meski tidak mengalami cedera serius, pembalap asal Prancis tersebut merasakan nyeri pada sisi kiri tubuh dan gangguan otot di sekitar ibu jari.

Insiden ini menjadi perhatian karena Quartararo menilai persoalan utama justru muncul ketika tubuhnya memasuki area gravel, bukan saat ia terjatuh di aspal.

“Saya sedikit merasakan sakit di sisi kiri tubuh. Kecelakaannya berlangsung cepat, tetapi sebenarnya bukan insiden yang terlalu besar. Bagian terburuknya justru ketika memasuki area gravel,” ujar Quartararo, seperti dikutip dari Motorsport.

Ia mengatakan tidak mengalami patah tulang dan masih mampu kembali mengendarai motor. Namun, ia memperkirakan rasa nyeri bisa muncul pada keesokan harinya.

Quartararo soroti ketinggian gravel

Quartararo menyoroti perbedaan ketinggian permukaan aspal dan gravel di Tikungan 9.

Menurutnya, permukaan gravel yang lebih tinggi daripada aspal berpotensi membuat tubuh pembalap terlempar ketika mereka keluar lintasan.

“Saya pikir kita perlu membuat permukaan gravel setidaknya sejajar dengan aspal. Menurut saya, permukaan gravel saat ini sedikit lebih tinggi. Jadi, ketika kita masuk ke sana, tubuh bisa terlempar ke udara. Saya rasa ketinggiannya terlalu tinggi,” katanya.

Ia meminta pengelola sirkuit mengevaluasi kondisi tersebut agar area gravel tidak menambah risiko ketika pembalap kehilangan kendali pada kecepatan tinggi.

Quartararo juga mengingatkan bahwa kecelakaan tanpa cedera serius tidak berarti kondisi lintasan bebas dari persoalan keselamatan.

“Hari ini saya beruntung karena kecelakaannya tidak terlalu spektakuler. Namun, ketika menghantam gravel, dampaknya bisa buruk. Jadi, mereka harus melakukan sesuatu di area ini,” tegasnya.

Pernyataan itu menempatkan kondisi area gravel sebagai salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian dalam evaluasi keselamatan sirkuit.

Meski demikian, penilaian teknis mengenai penyebab dan tingkat risiko kecelakaan tetap membutuhkan pemeriksaan terhadap karakteristik lintasan serta kondisi fasilitas keselamatan.

Bukan hanya Quartararo, Bastianini juga terjatuh

Pada sesi latihan yang sama, pembalap Tech3 KTM, Enea Bastianini, juga mengalami kecelakaan. Berdasarkan informasi yang tersedia, ia tidak mengalami cedera dalam insiden tersebut.

Dua kecelakaan dalam sesi yang sama menambah perhatian terhadap kondisi lintasan Mandalika, meski informasi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa karakteristik gravel menjadi penyebab utama kedua insiden.

Sebelumnya, area gravel Mandalika juga mendapat sorotan setelah kecelakaan Marc Marquez pada MotoGP Indonesia 2025.

Rangkaian insiden tersebut kembali memunculkan pembahasan mengenai karakteristik area keselamatan di luar lintasan.

Dalam balap motor, area gravel berfungsi membantu memperlambat pembalap dan motor yang keluar dari lintasan.

Namun, efektivitasnya bergantung pada sejumlah faktor, termasuk desain area, kondisi permukaan, kecepatan saat insiden, serta karakteristik kecelakaan.

Karena itu, evaluasi teknis perlu membedakan antara kritik pembalap terhadap kondisi lintasan dan kesimpulan resmi mengenai penyebab kecelakaan.

Lolos Q2, tetapi keselamatan tetap jadi perhatian

Di tengah insiden tersebut, Quartararo tetap mengamankan tempat di kualifikasi kedua atau Q2.

Capaian itu menunjukkan ia masih mampu melanjutkan aktivitas di lintasan setelah kecelakaan, meski ia mengeluhkan rasa sakit pada sejumlah bagian tubuh.

Namun, kelanjutan sesi latihan dan keberhasilan menembus Q2 tidak menghapus pertanyaan yang ia ajukan mengenai keselamatan area gravel.

Hingga informasi dalam laporan ini, belum terdapat keterangan mengenai keputusan resmi pengelola Sirkuit Mandalika terkait usulan perubahan ketinggian gravel di Tikungan 9.

Evaluasi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah area tersebut membutuhkan penyesuaian teknis.

Hasil pemeriksaan juga penting untuk menjelaskan bagaimana karakteristik permukaan gravel memengaruhi dampak kecelakaan.

Sorotan Quartararo kini mengarah pada satu persoalan penting: bagaimana memastikan area keselamatan di luar lintasan benar-benar membantu mengurangi risiko ketika pembalap terjatuh, tanpa menimbulkan bahaya tambahan.(*)




Ramadhipa Kunci Empat Poin di Moto3 Junior Prancis, Modal Penting Jelang Seri Valencia

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Pebalap muda Indonesia, Muhammad Kiandra Ramadhipa, menunjukkan mental juang tinggi saat menghadapi putaran Moto3 Junior World Championship 2026 di Sirkuit Nevers Magny-Cours, Prancis.

Sempat tercecer hingga posisi ke-18 akibat kesalahan saat start, pebalap binaan PT Astra Honda Motor (AHM) itu berhasil bangkit dan finis di urutan ke-12 untuk membawa pulang tambahan empat poin.

Hasil tersebut menjaga posisi Ramadhipa tetap berada di jajaran lima besar klasemen sementara kejuaraan dunia.

Pebalap berusia 16 tahun asal Sleman, Yogyakarta, itu kini mengoleksi 64 poin dari rangkaian balapan musim 2026.

Turun bersama Honda Asia-Dream Racing Team, Ramadhipa memulai balapan 15 lap dari posisi ke-12.

Namun, awal balapan tidak berjalan sesuai harapan setelah motornya mengalami wheelie saat start sehingga membuatnya kehilangan banyak posisi.

Situasi tersebut membuat Ramadhipa harus memulai perjuangan dari posisi 18. Meski tertinggal dari grup depan, pebalap jebolan Astra Honda Racing School 2022 itu tidak kehilangan momentum.

Dalam tiga lap berikutnya, Ramadhipa tampil agresif dengan melewati tujuh pebalap sekaligus dan kembali masuk persaingan papan tengah.

Ia kemudian berada di posisi ke-11 dan memimpin pertarungan di grup kedua.

Namun, jarak dengan rombongan terdepan sudah terlalu lebar. Selisih waktu yang mencapai lebih dari tiga detik membuat peluang mengejar posisi 10 besar semakin sulit.

Bahkan menjelang akhir balapan, gap tersebut terus melebar hingga lebih dari 15 detik.

Memasuki lap terakhir, Ramadhipa masih mampu mempertahankan posisi terdepan di grupnya. Akan tetapi, satu posisi harus rela dilepas sebelum garis finis sehingga ia mengakhiri balapan di peringkat ke-12.

“Kesalahan saat start membuat motor mengalami wheelie dan saya turun ke posisi ke-18. Rombongan depan sudah terlalu jauh, jadi saya fokus bertarung di grup kedua untuk mengamankan poin,” ujar Ramadhipa.

Menurutnya, hasil di Prancis menjadi bahan evaluasi penting sebelum menghadapi seri berikutnya.

“Ini memang bukan akhir pekan terbaik, tetapi banyak pelajaran yang kami dapat. Saya akan menggunakan jeda musim panas untuk berlatih lebih keras agar bisa tampil lebih kuat di Valencia,” katanya.

Tetap Kompetitif di Papan Atas

General Manager Marketing Planning and Analysis AHM, Andy Wijaya, mengapresiasi perjuangan Ramadhipa yang mampu bangkit setelah mengalami kendala di awal balapan.

Menurutnya, kemampuan untuk tetap fokus dan mengejar poin menunjukkan karakter kompetitif seorang pebalap yang siap bersaing di level dunia.

“Kami melihat semangat yang kuat dari Ramadhipa untuk bangkit dan melesat lebih kencang di setiap kesempatan. Kami optimistis ia akan tampil lebih baik pada seri selanjutnya,” ujar Andy.

Tambahan empat poin dari Prancis membuat Ramadhipa kini berada di posisi kelima klasemen sementara.

Ia masih memiliki peluang bersaing di papan atas karena musim 2026 belum berakhir.

Sepanjang musim ini, performa Ramadhipa terbilang menjanjikan.

Ia telah mencatat tiga kemenangan, masing-masing satu kemenangan di Moto3 Junior World Championship dan dua kemenangan di Red Bull Rookies Cup.

Selain itu, ia juga berhasil meraih satu podium pada seri pembuka musim di Barcelona bersama motor Honda NSF250RW.

Meski saat ini terpaut 30 poin dari pemuncak klasemen, peluang Ramadhipa untuk mengejar posisi teratas masih terbuka.

Target Balik Lebih Kuat di Valencia

Kompetisi Moto3 Junior World Championship 2026 akan memasuki masa jeda musim panas selama hampir enam pekan.

Balapan berikutnya dijadwalkan berlangsung di Circuit Ricardo Tormo, Valencia, Spanyol, pada 4–6 September 2026.

Jeda tersebut akan dimanfaatkan Ramadhipa untuk meningkatkan persiapan fisik, teknik, dan strategi balapan agar mampu kembali bersaing merebut posisi terbaik.

Perjalanan Ramadhipa menjadi salah satu sorotan dalam perkembangan talenta balap muda Indonesia. Konsistensinya di kejuaraan internasional menunjukkan bahwa pebalap Tanah Air memiliki peluang besar bersaing di panggung dunia.(*)




Jelang MotoGP 2026, Mario Aji dan Veda Ega Pratama Terbang ke Spanyol

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Menjelang dimulainya musim balap Moto Grand Prix (GP) 2026, dua pebalap Indonesia lulusan Astra Honda Racing School (AHRS), Mario Suryo Aji dan Veda Ega Pratama, bersiap berangkat ke Barcelona, Spanyol.

Keduanya akan memulai proses adaptasi dan koordinasi dengan tim teknis, mekanik, serta kru internasional yang tergabung dalam Honda Team Asia.

Veda Ega Pratama, pebalap asal Gunung Kidul, Yogyakarta, menyambut antusias debutnya di ajang GP Moto3 2026.

Bagi Veda, musim ini bukan hanya tentang persaingan di lintasan, tetapi juga menjadi motivasi bagi generasi muda Indonesia, khususnya para pebalap binaan AHRS.

“Saya siap menghadapi musim balap GP Moto3 dengan dukungan Honda Team Asia. Saya berharap bisa bersaing kompetitif dan perjuangan saya bisa menginspirasi anak muda Indonesia untuk terus berjuang meraih mimpi,” ujar Veda.

Pada musim 2025, Veda tampil impresif dengan meraih runner up Red Bull MotoGP Rookies Cup (RBRC).

Prestasi tersebut mengantarkannya langsung ke jenjang GP Moto3, meski usianya belum genap 18 tahun. Di musim 2026, Veda akan berduet dengan pebalap asal Jepang, Zen Mitani, di Honda Team Asia.

Sementara itu, Mario Suryo Aji akan menjalani musim ketiganya bersama Honda Team Asia di kelas Moto2 dan memasuki tahun kelima berkiprah di ajang Grand Prix dunia.

Pebalap asal Magetan, Jawa Timur, ini terus menjaga kondisi fisik dan performa balapnya dengan latihan intensif bersama pebalap binaan PT Astra Honda Motor (AHM) selama masa jeda musim.

“Musim ini menjadi kesempatan penting bagi saya untuk meraih hasil terbaik. Saya mohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia,” kata Mario.

Mario telah dibina AHM sejak usia 12 tahun dan memulai karier internasionalnya sejak 2017, dari Thailand Talent Cup, Asia Talent Cup, ARRC, hingga FIM JuniorGP.

Pada musim lalu, salah satu hasil terbaiknya adalah finis posisi kesembilan di seri Amerika Serikat.

Mario dan Veda sama-sama memulai karier balap profesional melalui Astra Honda Racing School, yang berdiri sejak 2010 dan telah meluluskan lebih dari 150 pebalap muda Indonesia.

AHRS tidak hanya mengasah kemampuan balap, tetapi juga membekali siswa dengan manajemen balap dan kemampuan komunikasi.

Pada 2026, pendaftaran AHRS dibuka mulai 9 Januari hingga 5 Februari bagi pebalap berusia 11–14 tahun, dengan informasi pendaftaran tersedia melalui media sosial Astra Honda Racing Team.(*)