Wawako Diza Dorong Guru Kuasai AI, Bukan Sekadar Ikut Tren Teknologi

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Pemerintah Kota Jambi mulai mendorong penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) masuk lebih jauh ke ruang kelas.

Bukan sekadar mengenalkan teknologi, Pemkot Jambi bahkan akan memantau langsung penerapannya di sekolah untuk memastikan pelatihan yang diberikan benar-benar menghasilkan perubahan.

Hal itu menjadi salah satu pesan utama Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, S.E., M.A., saat membuka Pelatihan dan Ujian Program Gemini Academy 2026 di Aula Graha Siginjai, Kantor Wali Kota Jambi, Kamis 20 Agustus 2026.

Program tersebut diikuti sekitar 250 guru dan tenaga kependidikan dari berbagai jenjang, mulai PAUD, SD, SMP hingga tenaga kependidikan lainnya di Kota Jambi.

Pelatihan ini merupakan kolaborasi Pemkot Jambi bersama REFO, Google Educator Group (GEG) Indonesia serta Balai Guru Penggerak (BGP)/Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Kemendikdasmen.

Yang menarik, program tersebut tidak berhenti pada pelatihan. Setelah mengikuti materi, peserta akan menjalani simulasi dan ujian.

Lima peserta dengan hasil terbaik akan mendapat perhatian khusus dari Pemkot Jambi.

Diza bahkan mengatakan akan melakukan kunjungan secara acak ke sekolah untuk melihat apakah kemampuan AI yang diperoleh selama pelatihan benar-benar diterapkan.

“Saya akan melakukan kunjungan secara langsung dan secara random untuk melihat apakah Bapak dan Ibu yang terpilih dalam lima besar tersebut benar-benar mempraktikkan pemanfaatan AI dalam proses pembelajaran kepada anak didiknya maupun untuk kebutuhan sekolah,” ujar Diza.

Bagi Pemkot Jambi, tantangan utama bukan lagi sekadar membuat guru mengetahui apa itu AI.

Persoalannya adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan secara tepat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Diza menilai kemampuan tersebut sangat dipengaruhi oleh cara guru memberikan instruksi kepada AI atau prompt.

Ia meminta peserta tidak menggunakan perintah yang terlalu umum karena dapat menghasilkan keluaran yang seragam, generik dan kurang memiliki karakter.

“Pelatihan hari ini tentu harus disesuaikan dengan kebutuhan Bapak dan Ibu. Karena itu, saya berharap pelatihan ini tidak hanya mengajarkan bagaimana menggunakan AI, tetapi juga bagaimana membuat prompt atau perintah yang baik, tepat, dan spesifik,” katanya.

Menurut Diza, gejala penggunaan AI secara seragam sudah terlihat pada berbagai produk visual.

Ketika banyak orang menggunakan pola perintah yang sama, hasil yang muncul cenderung memiliki tampilan serupa.

Kondisi itu, menurutnya, tidak boleh terbawa ke dunia pendidikan.

Guru justru dituntut mampu mengeksplorasi AI dengan memberikan konteks, memperjelas kebutuhan dan memperinci instruksi sehingga teknologi tersebut menghasilkan materi yang sesuai dengan karakter pembelajaran dan kebutuhan peserta didik.

Diza mengatakan penggunaan AI memiliki cakupan yang jauh lebih luas dibanding sekadar membuat gambar, baliho atau materi promosi.

Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu proses pembelajaran, menyusun program kerja, membuat permainan edukatif hingga menangani berbagai pekerjaan teknis dan administrasi.

“AI sebenarnya memberikan peluang yang sangat besar. AI dapat membantu Bapak dan Ibu melakukan hampir segala hal, termasuk bagi yang merasa tidak memiliki kemampuan desain grafis,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan pemanfaatan tersebut harus tetap diarahkan pada kebutuhan nyata sekolah.

Karena itu, Diza meminta peserta tidak memandang Gemini Academy sebagai kegiatan pelatihan biasa.

“Ini bukan liburan dari mengajar. Ini adalah kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan mendapatkan ilmu baru,” tegasnya.

Program Gemini Academy 2026 juga memberikan insentif bagi peserta yang mampu menunjukkan hasil terbaik.

Lima peserta dengan nilai sertifikasi tertinggi akan mendapatkan sertifikat sekaligus perhatian khusus dari Pemkot Jambi.

Diza mengatakan penerapan AI oleh lima peserta tersebut akan dilihat secara langsung.

Jika pemanfaatannya terbukti memberikan dampak positif bagi guru maupun peserta didik, Pemkot Jambi membuka peluang memberikan apresiasi lanjutan.

Dengan skema tersebut, pemerintah kota ingin menggeser ukuran keberhasilan program dari sekadar berapa banyak guru yang mengikuti pelatihan menjadi seberapa jauh pengetahuan tersebut benar-benar digunakan di sekolah.

Diza menegaskan dirinya serius mendorong program tersebut karena sejak awal ikut meminta agar kegiatan dilaksanakan melalui kolaborasi dengan pihak terkait.

“Saya sendiri juga serius dengan kegiatan ini. Saya yang meminta kegiatan ini dilaksanakan kepada Pak Stafsus dan Pak Wapres, sehingga saya juga merasa memiliki tanggung jawab terhadap keberhasilan program ini,” katanya.

Diza menyebut sebelumnya telah ada 15 fasilitator yang memperoleh manfaat dari pelatihan serupa.

Pengetahuan tersebut diharapkan diteruskan kepada lebih banyak guru sehingga efek program tidak berhenti pada peserta yang hadir di ruang pelatihan.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari Staf Khusus Wakil Presiden RI Bidang Pendidikan, Riset, Inovasi dan Hilirisasi, Achmad Aditya, melalui tayangan video.

Ia mengapresiasi kesempatan yang diberikan kepada guru dan tenaga kependidikan untuk mengenal sekaligus memanfaatkan AI dalam dunia pendidikan, khususnya di wilayah Sumatera Selatan dan Jambi.

Menurutnya, pelatihan AI harus diarahkan pada kemampuan praktis, bukan berhenti pada pemahaman mengenai teknologi kecerdasan buatan.

Selain pengembangan kompetensi guru, rangkaian Program Gemini Academy 2026 juga ditutup dengan pemberian apresiasi berupa lima unit Robotik Kit.

Apresiasi tersebut diberikan kepada sekolah yang perwakilannya memperoleh nilai tertinggi dalam ujian sertifikasi.

Lima sekolah penerima apresiasi tersebut adalah:

  1. SMP Negeri 012 Jambi
  2. SDN 25/IV Kota Jambi
  3. SD Negeri 109/IV Jambi
  4. SD Negeri 44 Kota Jambi
  5. SDN 74/IV Kota Jambi

Pemkot Jambi berharap pelatihan tersebut menjadi titik awal pemanfaatan AI yang lebih luas di lingkungan pendidikan.

Target akhirnya bukan sekadar membuat guru mampu menggunakan aplikasi berbasis AI, tetapi mendorong teknologi tersebut menjadi alat untuk memperbaiki pembelajaran, meningkatkan produktivitas tenaga kependidikan dan memberi pengalaman belajar yang lebih adaptif bagi siswa.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan Gemini Academy di Kota Jambi nantinya bukan hanya terlihat dari sertifikat yang diperoleh peserta, melainkan dari apa yang berubah ketika para guru kembali ke sekolah dan mulai menerapkan pengetahuan tersebut di ruang kelas.(*)




Indosat Gandeng NVIDIA, Nokia dan Ooredoo Bangun AI Factory 1 GW di Asia-Pasifik

JAKARTA — Persaingan membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) memasuki babak baru. Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat/IOH) bersama Ooredoo Group, NVIDIA, dan Nokia meluncurkan Zankore by Indosat, platform yang disiapkan untuk membangun infrastruktur AI berskala besar dengan Indonesia sebagai titik awal pengembangan.

Tidak tanggung-tanggung, Zankore menargetkan kapasitas AI Factory hingga 1 gigawatt (GW). Jika terealisasi, kapasitas tersebut akan menempatkan proyek ini sebagai salah satu platform infrastruktur AI terbesar di kawasan Asia-Pasifik.

Tahap awalnya ditargetkan mencapai sekitar 200 megawatt (MW) kapasitas AI pada semester I 2027, menggunakan sistem NVIDIA GB300 NVL72.

Langkah tersebut menunjukkan perubahan arah bisnis infrastruktur digital: kebutuhan AI tidak lagi hanya membutuhkan jaringan internet dan pusat data, tetapi juga membutuhkan kapasitas komputasi dalam skala sangat besar.

Indonesia diposisikan sebagai pintu masuk AI Asia-Pasifik

Zankore dirancang untuk menjawab meningkatnya kebutuhan komputasi AI yang aman, terukur, dan berkapasitas tinggi di Asia-Pasifik.

Platform tersebut tidak hanya menyasar pasar Indonesia. Infrastruktur yang dibangun diarahkan untuk melayani penyedia cloud, perusahaan, pemerintah hingga pengembang teknologi AI di kawasan.

Pemerintah melihat pengembangan infrastruktur tersebut sebagai peluang untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai ekonomi digital regional.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan Indonesia memiliki modal sumber daya dan talenta yang dapat dikombinasikan dengan teknologi serta investasi global.

“Indonesia memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun melayani kawasan yang lebih luas,” kata Meutya.

Menurutnya, kemitraan strategis seperti Zankore dapat mempercepat pembangunan infrastruktur AI yang berdaulat sekaligus memperkuat daya saing digital Indonesia.

Target 200 MW pada 2027

Zankore menggunakan NVIDIA DSX sebagai acuan arsitektur, platform, sekaligus ekosistem untuk merancang dan mengoperasikan AI Factory.

Berbeda dengan pusat data konvensional yang fokus pada komputasi dan penyimpanan, NVIDIA DSX dirancang untuk mengintegrasikan komputasi akselerasi, jaringan, listrik, pendinginan, serta operasional dalam satu sistem.

Tujuannya sederhana: setiap megawatt listrik yang tersedia dapat digunakan semaksimal mungkin untuk menghasilkan kapasitas komputasi AI.

Pada tahap awal, Zankore menargetkan sekitar 200 MW kapasitas AI pada paruh pertama 2027 dengan dukungan NVIDIA GB300 NVL72.

Platform ini juga akan menggunakan NVIDIA DSX MaxLPS, teknologi yang dirancang untuk mengatur penggunaan daya secara dinamis di seluruh infrastruktur GPU.

Dalam kondisi daya listrik yang sama, teknologi tersebut diklaim dapat meningkatkan kapasitas komputasi hingga 40 persen, sehingga kapasitas yang tersedia dapat dimanfaatkan lebih optimal.

Empat pemain besar dengan peran berbeda

Proyek Zankore mempertemukan empat pemain dengan kekuatan yang berbeda.

Ooredoo Group bertindak sebagai sponsor utama sekaligus penyedia modal jangka panjang. Perusahaan juga membawa skala regional untuk memperluas platform tersebut di luar Indonesia.

Sementara Indosat membawa infrastruktur digital, posisi pasar di Indonesia, serta kemampuan eksekusi lokal.

NVIDIA menjadi tulang punggung komputasi melalui GPU generasi terbaru, accelerated computing, perangkat lunak AI, dan ekosistem pengembangan AI.

Adapun Nokia berperan pada sisi jaringan. Perusahaan menyediakan teknologi jaringan berbasis AI untuk mendukung konektivitas yang aman dan berkinerja tinggi.

Kolaborasi ini juga memperluas arah transformasi Indosat yang sebelumnya telah mengembangkan konsep AI Grid serta bekerja sama dengan Nokia dan NVIDIA untuk membangun jaringan yang siap mendukung AI-RAN di Indonesia.

Indosat ingin AI tak berhenti di tahap eksperimen

CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha mengatakan kebutuhan AI kini bergerak dari tahap eksperimen menuju penggunaan nyata di berbagai industri.

Karena itu, menurut dia, infrastruktur AI harus dibangun sebagai ekosistem yang menggabungkan model, komputasi dan jaringan.

“Zankore by Indosat menghadirkan fondasi tepercaya untuk mempercepat adopsi AI dalam skala besar,” ujar Vikram.

Indosat sebelumnya juga telah mengembangkan ekosistem AI melalui Sahabat-AI, AI Grid dan pengembangan AI-RAN. Nokia dan Indosat bahkan telah mengumumkan kerja sama untuk modernisasi jaringan 5G nasional yang menjadi fondasi bagi layanan berbasis AI.

Infrastruktur AI menjadi arena persaingan baru

Peluncuran Zankore memperlihatkan bahwa persaingan AI tidak hanya berlangsung pada pengembangan model seperti chatbot atau aplikasi generatif.

Di belakangnya terdapat kebutuhan yang jauh lebih besar: GPU, pusat data, listrik, pendinginan, jaringan, dan kemampuan mengelola komputasi dalam skala raksasa.

Karena itu, pembangunan AI Factory menjadi salah satu arena strategis dalam ekonomi digital.

CEO Nokia Justin Hotard menilai negara dan perusahaan semakin membutuhkan kemampuan AI yang berdaulat, aman, terukur, dan dapat dipercaya. Menurutnya, kebutuhan tersebut membutuhkan orkestrasi antara komputasi, konektivitas, dan kontrol.

Sementara itu, NVIDIA menilai AI Factory akan menjadi infrastruktur penting bagi negara maupun industri karena perkembangan AI terus bergerak menuju penggunaan berskala besar.

Zankore siapkan ekspansi regional

Untuk mengawal ekspansi tersebut, Zankore telah membentuk jajaran pimpinan dengan pengalaman di sektor telekomunikasi, teknologi, infrastruktur digital dan investasi.

Vikram Sinha ditunjuk sebagai Director sekaligus Chairman of the Board. Jajaran direktur lainnya terdiri dari Aziz Aluthman Fakhroo, Thomas Chevanne, Vishal Gupta, dan Arijit Ranjan Sarker. Ulf Ewaldsson dipercaya sebagai Chief Executive Officer (CEO).

Zankore diarahkan untuk melayani kebutuhan hyperscaler, perusahaan, pemerintah, hingga inovator AI di Asia Tenggara.

Dengan target 1 GW, tantangan berikutnya bukan sekadar membangun pusat komputasi. Zankore harus membuktikan bahwa kapasitas tersebut dapat diwujudkan secara bertahap, efisien, aman, dan memiliki pasar yang cukup untuk menopang investasi berskala besar.

Jika target tersebut tercapai, Indonesia berpeluang tidak hanya menjadi konsumen teknologi AI, tetapi juga menjadi salah satu basis infrastruktur yang menopang pertumbuhan AI di kawasan Asia-Pasifik.(*)




Pelanggan XL, AXIS, dan Smartfren Bisa Nikmati Google Gemini Gratis 6 Bulan, Begini Caranya

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (XLSMART) berkolaborasi dengan Google menghadirkan akses Paket Plus Google Gemini gratis selama enam bulan bagi pelanggan XL, AXIS, dan Smartfren.

Program ini berlaku mulai 2 Juli 2026 melalui pembelian paket internet tertentu sebagai upaya memperluas akses masyarakat terhadap teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari komitmen XLSMART menghadirkan pengalaman digital yang lebih cerdas, inklusif, dan relevan.

Melalui layanan ini, pelanggan dapat memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung aktivitas belajar, bekerja, membuat konten, mencari informasi, hingga meningkatkan produktivitas sehari-hari.

Chief Marketing Officer XLSMART, Alfons Bosch Sansa, mengatakan pihaknya ingin menghadirkan manfaat AI yang lebih mudah diakses oleh seluruh pelanggan.

XLSMART ingin menghadirkan manfaat AI secara lebih luas dan mudah diakses oleh pelanggan.

“Melalui kolaborasi dengan Google Gemini, pelanggan XL, AXIS, dan SMARTFREN dapat memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari belajar, bekerja, mencari inspirasi, membuat konten, hingga meningkatkan produktivitas,” ujar Alfons.

Menurutnya, mekanisme program disesuaikan dengan karakteristik masing-masing pelanggan di tiga brand tersebut.

Inisiatif ini juga didukung penguatan jaringan dan perluasan cakupan 5G Blanket XLSMART di berbagai wilayah Indonesia.

“Setiap brand memiliki karakteristik pelanggan yang berbeda, sehingga mekanisme penawaran ini kami sesuaikan agar lebih relevan bagi masing-masing segmen,” kata dia.

“Inisiatif ini juga didukung oleh penguatan network leadership dan perluasan 5G Blanket XLSMART sehingga pelanggan dapat menikmati pengalaman digital yang semakin stabil, responsif, dan optimal,” tambahnya.

Cara Mendapatkan Google Gemini Gratis

Pelanggan XL bisa memperoleh akses Paket Plus Google Gemini dengan membeli paket internet yang memiliki masa aktif minimal tujuh hari.

Sementara pelanggan AXIS dapat menikmati program tersebut melalui pembelian paket internet di aplikasi AXISNET mulai dari Rp25.000.

Sedangkan pelanggan Smartfren dapat mengaksesnya melalui aplikasi mySF dengan pembelian paket internet minimal masa aktif tujuh hari.

Setelah membeli paket yang memenuhi syarat, pelanggan cukup mengaktifkan bonus Google Gemini melalui aplikasi myXL, AXISNET, atau mySF menggunakan akun Google aktif.

Akses Google Gemini dapat digunakan selama enam bulan sesuai ketentuan program.

Fitur Google Gemini

Melalui Paket Plus Google Gemini, pelanggan dapat menikmati berbagai fitur premium, di antaranya:

  • Akses ke model AI terbaru Google untuk analisis data, pembuatan gambar, video, musik, hingga membantu coding.
  • Integrasi dengan Gmail, Google Docs, dan Google Drive untuk merangkum dokumen, menyusun email, maupun membuat presentasi.
  • Fitur AI generatif untuk membuat gambar, caption, hingga naskah konten secara instan.
  • Penyimpanan Google One hingga 400 GB untuk menyimpan foto, video, dan dokumen.

Program ini tidak mewajibkan pelanggan menggunakan jaringan 5G. Selama kartu aktif, memenuhi syarat pembelian paket internet, dan melakukan aktivasi melalui aplikasi resmi, pelanggan tetap dapat menikmati seluruh manfaat Google Gemini.

Selain menghadirkan layanan AI, XLSMART juga terus memperkuat kualitas jaringan melalui pengembangan network leadership dan perluasan cakupan 5G Blanket di berbagai daerah.

Penguatan infrastruktur tersebut diharapkan mampu mendukung berbagai aktivitas digital seperti AI, streaming, gaming, video conference, hingga penyimpanan berbasis cloud.

Melalui kolaborasi dengan Google, XLSMART menegaskan perannya tidak hanya sebagai penyedia layanan telekomunikasi, tetapi juga sebagai penyedia ekosistem digital yang mendukung produktivitas masyarakat Indonesia.(*)




Transformasi Digital Makin Cepat, Nokia dan Indosat Kembangkan 5G Berbasis AI

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Transformasi digital Indonesia memasuki babak baru. Nokia dan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) resmi memperkuat kemitraan strategis untuk memodernisasi jaringan seluler nasional melalui pengembangan jaringan 5G berbasis kecerdasan buatan (AI).

Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas jaringan, tetapi juga menjadi langkah besar dalam membangun infrastruktur digital masa depan yang mengintegrasikan konektivitas dan kecerdasan buatan dalam satu ekosistem.

Dalam proyek tersebut, Nokia akan menjadi mitra teknologi utama yang mendukung implementasi 5G Radio Access Network (RAN) generasi terbaru di Indonesia, termasuk pemanfaatan spektrum frekuensi rendah dan frekuensi menengah untuk memperluas cakupan layanan.

Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas jaringan, memperkuat kualitas layanan digital, serta memberikan pengalaman internet yang lebih cepat, stabil, dan responsif bagi jutaan pelanggan Indosat di seluruh Indonesia.

Tak hanya itu, jaringan baru tersebut juga dirancang untuk mendukung berbagai layanan masa depan, mulai dari hiburan digital, gaming, layanan publik berbasis teknologi, hingga kebutuhan sektor industri dan korporasi yang semakin bergantung pada konektivitas berkecepatan tinggi.

AI dan 5G Disatukan dalam Satu Ekosistem

Salah satu aspek paling menarik dari kerja sama ini adalah pengembangan teknologi AI-RAN, sebuah konsep yang menggabungkan kecerdasan buatan langsung ke dalam infrastruktur jaringan telekomunikasi.

Dalam proyek ini, Nokia menggandeng NVIDIA untuk mengembangkan platform AI-RAN yang memungkinkan jaringan tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi infrastruktur komputasi AI yang mampu menjalankan berbagai layanan cerdas secara real-time.

Ketiga perusahaan telah mencatat tonggak awal melalui keberhasilan panggilan AI-RAN pertama yang diperkenalkan pada Mobile World Congress 2026.

Tahap berikutnya adalah pelaksanaan uji coba lapangan di Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada akhir tahun 2026.

Melalui pengembangan tersebut, Nokia juga menyiapkan algoritma AI terbaru yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi penggunaan spektrum frekuensi dan optimalisasi performa jaringan.

Fondasi AI Grid untuk Indonesia

Indosat menyebut pengembangan jaringan 5G dan AI-RAN ini menjadi bagian penting dalam pembangunan AI Grid nasional, yakni infrastruktur yang menghubungkan pusat data AI dengan jaringan telekomunikasi untuk memperluas pemanfaatan kecerdasan buatan di berbagai sektor.

Teknologi ini diharapkan mampu mempercepat transformasi digital pada bidang pendidikan, kesehatan, pertanian, layanan publik, hingga sektor ekonomi digital.

Pengembangan tersebut juga didukung keberadaan AI-RAN Innovation Center di Surabaya dan ekosistem NVIDIA AI Technology Center yang menjadi pusat kolaborasi pengembangan teknologi AI di Indonesia.

Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, mengatakan transformasi jaringan yang sedang dibangun bertujuan menghadirkan pengalaman digital yang lebih relevan dan berkualitas bagi pelanggan.

Menurutnya, integrasi AI ke dalam jaringan telekomunikasi akan membuka peluang lahirnya inovasi digital baru sekaligus memperkuat upaya pemerataan akses teknologi di Indonesia.

“Melalui kolaborasi dengan Nokia dan NVIDIA, kami membangun fondasi jaringan terintegrasi AI yang mampu meningkatkan kualitas konektivitas sekaligus menghadirkan pengalaman digital yang lebih baik bagi masyarakat,” kata Vikram.

Sementara itu, Presiden dan CEO Nokia, Justin Hotard, menilai masa depan industri telekomunikasi akan ditentukan oleh kemampuan operator dalam menggabungkan konektivitas, kecerdasan buatan, dan efisiensi operasional dalam satu platform.

Menurutnya, investasi pada jaringan berbasis AI akan membuka peluang model bisnis baru sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi digital.

Di sisi lain, Senior Vice President Telecoms NVIDIA, Ronnie Vasishta, menyebut Indonesia berpotensi menjadi salah satu contoh implementasi AI-RAN terbesar di kawasan.

Ia mengatakan pengembangan tersebut akan menghadirkan jaringan yang tidak hanya menyediakan layanan komunikasi, tetapi juga mampu menjalankan aplikasi berbasis AI secara langsung di dalam infrastruktur telekomunikasi.

Target 80 Persen Jaringan Terjangkau 5G Menengah

Sebagai bagian dari modernisasi jaringan, Nokia akan menerapkan perangkat radio generasi terbaru Habrok dan Pandion, baseband Levante, Centralized RAN, serta sistem otomasi jaringan berbasis AI.

Dalam rencana pengembangannya, layanan 5G frekuensi rendah akan diterapkan secara luas di seluruh jaringan Indosat.

Sementara cakupan 5G frekuensi menengah ditargetkan menjangkau sekitar 80 persen jaringan dalam tiga setengah tahun mendatang.

Selain meningkatkan kualitas layanan, teknologi tersebut juga dirancang untuk menghemat konsumsi energi dan meningkatkan efisiensi operasional sehingga mendukung transformasi digital yang lebih berkelanjutan.

Kolaborasi Nokia, Indosat, dan NVIDIA menjadi salah satu proyek teknologi terbesar yang saat ini dikembangkan di Indonesia.

Proyek ini diyakini akan menjadi fondasi penting dalam mempercepat adopsi AI dan memperluas akses konektivitas digital bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.(*)




Profesionalisme Pers di Tengah Banjir Konten Digital

Oleh: Rizal Zebua

PERKEMBAGAN teknologi digital telah mengubah wajah jurnalistik secara drastis.

Jika dahulu produksi berita membutuhkan proses panjang, mulai dari peliputan, penulisan, penyuntingan hingga publikasi melalui media yang terverifikasi, kini hampir setiap orang dapat memproduksi dan menyebarkan informasi hanya melalui telepon genggam yang ada di genggaman tangan.

Fenomena ini membawa dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, demokratisasi informasi memberi ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk menyampaikan fakta dan peristiwa yang terjadi di sekitar mereka.

Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga memunculkan persoalan baru berupa membanjirnya informasi yang belum tentu akurat, tidak terverifikasi, bahkan berpotensi menyesatkan publik.

Dalam kondisi seperti ini, pertanyaan mengenai profesionalisme wartawan kembali mengemuka.

Apakah seorang wartawan harus mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) untuk dapat disebut profesional? Ataukah profesionalisme cukup dibentuk melalui pengalaman dan proses kerja yang dijalani selama bertahun-tahun di lapangan?

Perdebatan ini sebenarnya bukan hal baru. Tidak sedikit wartawan senior yang lahir dan tumbuh sebelum adanya UKW.

Mereka mampu menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas, disegani, bahkan menjadi rujukan publik. Pengalaman panjang, integritas, dan kedekatan dengan kode etik menjadi modal utama mereka dalam menjalankan profesi.

Namun kondisi hari ini tentu berbeda dengan dua atau tiga dekade lalu. Arus informasi bergerak jauh lebih cepat.

Persaingan antarplatform semakin ketat. Belum lagi kehadiran media sosial yang sering kali mengaburkan batas antara informasi, opini, propaganda, dan hiburan.

Di tengah situasi tersebut, keberadaan UKW menjadi semakin relevan. Uji Kompetensi Wartawan bukan semata-mata soal mendapatkan sertifikat atau pengakuan administratif.

Lebih dari itu, UKW merupakan instrumen untuk memastikan bahwa seorang wartawan memahami standar dasar profesinya.

Melalui UKW, wartawan diuji pemahamannya mengenai hukum pers, kode etik jurnalistik, serta keterampilan teknis dalam melakukan peliputan dan menyusun karya jurnalistik.

Aspek-aspek ini menjadi penting karena kesalahan dalam pemberitaan tidak hanya berdampak pada reputasi media, tetapi juga dapat merugikan masyarakat luas.

Dewan Pers sendiri telah mengatur standar kompetensi wartawan sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas dan akuntabilitas profesi jurnalistik.

Ketentuan tersebut merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang menjadi landasan kebebasan pers di Indonesia.

Meski demikian, perlu dipahami bahwa UKW bukan satu-satunya ukuran profesionalisme. Sertifikat kompetensi tidak otomatis menjadikan seseorang wartawan yang baik.

Sebaliknya, tidak sedikit wartawan yang telah lulus UKW tetapi masih melakukan pelanggaran etik dalam praktik kerjanya.

Profesionalisme sejatinya lahir dari perpaduan antara kompetensi, integritas, dan tanggung jawab moral.

Seorang wartawan profesional bukan hanya mampu menulis berita dengan baik, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menguji informasi, menjaga keberimbangan, serta menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.

Tantangan yang lebih besar justru hadir ketika teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai digunakan secara luas dalam produksi konten. Saat ini, AI mampu membuat berita, artikel, bahkan analisis dalam hitungan detik.

Teknologi tersebut tentu dapat membantu kerja jurnalistik, terutama dalam mengolah data dan mempercepat proses produksi.

Namun AI tidak memiliki nurani, tidak memiliki pertimbangan etik, dan tidak memiliki tanggung jawab sosial sebagaimana manusia.

AI hanya bekerja berdasarkan data dan instruksi yang diberikan. Jika data yang digunakan keliru atau bias, maka hasil yang dihasilkan pun berpotensi menyesatkan.

Di sinilah peran wartawan profesional menjadi semakin penting. Kehadiran teknologi seharusnya tidak menggantikan fungsi jurnalistik, melainkan memperkuatnya.

Verifikasi fakta, konfirmasi kepada narasumber, pemahaman konteks, serta pertimbangan etik tetap menjadi tugas yang tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada mesin.

Karena itu, pertanyaan apakah wartawan perlu mengikuti UKW sebenarnya tidak perlu dipertentangkan secara berlebihan.

UKW penting sebagai standar kompetensi dan bentuk pengakuan profesi. Namun yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai yang diuji dalam UKW benar-benar diterapkan dalam praktik jurnalistik sehari-hari.

Di era ketika semua orang bisa membuat konten dan menyebut dirinya sebagai penyampai informasi, masyarakat membutuhkan pembeda yang jelas antara karya jurnalistik dan sekadar opini yang beredar di ruang digital. Pembeda itu adalah profesionalisme.

Dan profesionalisme tidak lahir hanya dari sertifikat, tetapi juga tidak bisa dilepaskan dari kompetensi.

Keduanya harus berjalan beriringan agar pers tetap menjadi pilar demokrasi yang dipercaya publik, bukan sekadar bagian dari kebisingan informasi yang memenuhi ruang digital setiap hari.(*)

Penulis adalah wartawan aktif di Provinsi Jambi.