Anies dan Kubu Demokrat Bertemu, Sinyal Perbaikan Hubungan Politik?

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Mantan Gubernur Anies Baswedan melakukan pertemuan dengan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono serta Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban, mencerminkan hubungan yang tetap terjaga dengan baik di tengah dinamika politik nasional.

Juru bicara Anies, Usamah Abdul Aziz, menjelaskan bahwa hubungan antara Anies dengan SBY maupun AHY tetap harmonis, meskipun sempat muncul perbedaan pandangan di masa lalu.

Ia menegaskan bahwa dinamika yang terjadi merupakan hal yang wajar dalam dunia politik dan tidak mengganggu hubungan personal antar tokoh.

Menurutnya, komunikasi yang terjalin tetap berjalan dengan baik.

Pertemuan tersebut disebut berlangsung dalam suasana santai, layaknya kunjungan biasa tanpa agenda formal yang kaku.

Dalam kesempatan itu, turut hadir sejumlah tokoh lainnya seperti Yenny Wahid dan Sufmi Dasco Ahmad, yang menambah suasana keakraban dalam pertemuan tersebut.

Meski sempat terjadi kesalahpahaman, pertemuan ini menjadi sinyal bahwa hubungan antar tokoh tetap terjaga melalui komunikasi langsung dan silaturahmi.

Hal ini dinilai penting dalam menjaga stabilitas hubungan di tengah perbedaan pandangan politik.

Secara lebih luas, pertemuan ini mencerminkan bahwa dialog terbuka antar elite politik tetap menjadi bagian penting dalam menjaga komunikasi dan memperkuat hubungan personal, meskipun berada dalam posisi atau pandangan politik yang berbeda.

Momen ini sekaligus menegaskan bahwa dalam dunia politik, silaturahmi dan komunikasi tetap menjadi kunci utama untuk menjaga hubungan yang sehat dan konstruktif.(*)




Jelang Reuni 212 di Monas, Panitia Tegaskan Nuansa Kebangsaan dan Persaudaraan

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Reuni Akbar 212 akan kembali digelar di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, pada Selasa, 2 Desember 2025.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang dimulai dini hari, acara tahun ini dijadwalkan berlangsung setelah salat Magrib.

Panitia mengusung tema “Revolusi Akhlak untuk Selamatkan NKRI dari Penjahat dan Memerdekakan Palestina dari Penjajah”, dengan tujuan memperkuat ukhuwah Islamiyah, Wathaniyah, dan Insaniyah.

Ketua Steering Committee (SC) Reuni 212, Ustaz Ahmad Shobri Lubis, menegaskan bahwa acara ini menjadi ajang memperkuat persaudaraan umat sekaligus menegaskan solidaritas terhadap Palestina.

Rangkaian kegiatan meliputi ibadah berjamaah, zikir, doa bersama, serta tausiyah dari sejumlah ulama.

Menurut Ustaz Ahmad, reuni ini terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Kami ingin semua masyarakat merasakan nuansa kebersamaan dan nilai kebangsaan,” ujarnya.

Panitia telah mengundang sejumlah tokoh nasional, seperti Presiden Prabowo Subianto, mantan Gubernur DKI Anies Baswedan, serta beberapa menteri.

Pemerintah Provinsi DKI melalui Pramono Anung menyatakan dukungan terhadap penyelenggaraan acara dan memastikan koordinasi keamanan berjalan baik.

Wakil Gubernur Rano Karno turut menyatakan kesiapannya menghadiri acara tersebut.

Peserta diimbau membawa perlengkapan ibadah, seperti sajadah, serta jas hujan atau payung mengingat potensi hujan di kawasan Monas.

 “Spirit 212 tidak hanya tentang persaudaraan, tetapi juga dukungan terhadap perjuangan keadilan internasional, termasuk untuk Palestina,” kata Ustaz Ahmad.

Meski daftar undangan telah dirilis, panitia belum memastikan siapa saja tokoh yang dipastikan hadir.

Format acara yang dimulai sore hari dan lebih menonjolkan kegiatan ibadah bersama menimbulkan sejumlah pertanyaan terkait pengaturan keamanan, arus peserta, dan kesiapan logistik.

Di tengah dinamika politik dan isu keagamaan, Reuni Akbar 212 memunculkan ragam respons publik.

Ada yang melihatnya sebagai momentum kebersamaan dan refleksi nilai kebangsaan, sementara sebagian lain menyoroti potensi politik identitas serta dampak sosial dari keramaian besar.

Sejak pertama kali digelar pada 2016, Reuni 212 dikenal sebagai ajang yang menekankan nilai solidaritas umat.

Panitia menegaskan bahwa acara tahun ini tetap mengedepankan nuansa religius dan kebangsaan, sekaligus menjadi ruang refleksi bagi masyarakat.

Aparat keamanan telah menyiapkan pengamanan ketat untuk memastikan kegiatan berlangsung aman, tertib, dan kondusif.(*)




Oxford Dikecam Usai Tak Cantumkan Peneliti Indonesia dalam Publikasi Rafflesia Hasseltii

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID  – Universitas Oxford menjadi sorotan publik Indonesia setelah tidak mencantumkan nama tiga peneliti lokal dalam publikasi ilmiah terkait penemuan spesies langka Rafflesia hasseltii.

Keputusan tersebut memicu kritik terkait etika kolaborasi riset internasional dan pentingnya penghargaan yang setara bagi ilmuwan dari negara berkembang.

Kontroversi muncul setelah publik mengetahui bahwa nama Joko Witono, Septi Andriki, dan Iswandi tiga peneliti Indonesia yang terlibat dalam riset lapangan, pengumpulan data, hingga pendampingan teknis tidak masuk dalam daftar penulis publikasi tersebut.

Padahal, kontribusi mereka dinilai krusial bagi keberhasilan eksplorasi biodiversitas di lapangan.

Kritik publik semakin meluas setelah mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyampaikan protes terbuka melalui media sosial.

Ia mengingatkan bahwa peneliti Indonesia tidak boleh diperlakukan sebagai pihak sampingan dalam kolaborasi ilmiah.

Dalam unggahannya, Anies menulis:

“Dear @UniofOxford, our Indonesian researchers Joko Witono, Septi Andriki, and Iswandi  are not NPCs. Name them too.”

Ia kemudian memberikan terjemahan:

“Para peneliti Indonesia bukan tokoh figuran. Cantumkan nama mereka juga.”

Istilah NPC (non-player character), yang merujuk pada karakter pendukung dalam gim, dianggap sebagai kritik keras terhadap praktik pengabaian kontribusi ilmuwan lokal oleh institusi besar dunia.

Peneliti biodiversitas dan pegiat konservasi di Indonesia menilai kasus ini sebagai contoh ketidakadilan struktural dalam kerja sama riset internasional.

Mereka menegaskan bahwa, riset flora dan fauna di Indonesia sangat bergantung pada keahlian ilmuwan lokal mulai dari akses wilayah, pengetahuan ekologis, hingga pemahaman konteks sosial setempat.

Warganet pun ramai menyuarakan kekecewaan dan menilai bahwa tidak dicantumkannya nama peneliti Indonesia merupakan praktik yang merugikan, serta melemahkan semangat kolaborasi ilmiah yang adil.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Universitas Oxford belum mengeluarkan tanggapan resmi.

Meski demikian, tekanan publik terus meningkat.

Komunitas akademik Indonesia berharap polemik ini dapat menjadi momentum untuk menata ulang standar kolaborasi riset internasional terutama dalam memastikan pengakuan yang setara dan transparan bagi semua peneliti, tanpa memandang asal negara.(*)