Ronald Koeman Tersenyum, Belanda Hancurkan Swedia 5-1 dan Kuasai Grup F

SEPUCUKJAMBI.ID – Belanda menunjukkan sinyal serius sebagai salah satu penantang kuat di Piala Dunia 2026.

Tim Oranje tampil luar biasa saat membungkam Swedia dengan skor telak 5-1 pada laga kedua Grup F yang berlangsung di Houston Stadium, Minggu 21 Juni 2026 dini hari WIB.

Kemenangan besar ini bukan hanya soal tambahan tiga poin. Belanda memperlihatkan kombinasi efektivitas, kecepatan, dan kedalaman skuad yang membuat Swedia kesulitan keluar dari tekanan sepanjang pertandingan.

Brian Brobbey menjadi pembuka petaka bagi Swedia. Striker muda Belanda itu mencetak dua gol cepat pada menit ke-5 dan ke-17 yang langsung mengubah arah pertandingan sejak awal.

Unggul dua gol membuat Belanda semakin nyaman menguasai permainan.

Lini tengah yang dikomandoi Frenkie de Jong dan Tijjani Reijnders mampu mengendalikan tempo, sementara Denzel Dumfries berkali-kali menciptakan ancaman dari sisi kanan.

Swedia sebenarnya sempat memberikan perlawanan. Viktor Gyokeres dan Alexander Isak beberapa kali menguji ketangguhan Bart Verbruggen.

Bahkan, tim Skandinavia itu nyaris memperkecil ketertinggalan sebelum turun minum, namun sejumlah peluang gagal dikonversi menjadi gol.

Memasuki babak kedua, keputusan pelatih Ronald Koeman melakukan pergantian pemain menjadi titik balik yang semakin menyulitkan Swedia.

Crysencio Summerville yang masuk dari bangku cadangan langsung memberi dampak instan.

Baru dua menit babak kedua berjalan, pergerakannya membuka ruang bagi Dumfries untuk mengirim umpan matang yang diselesaikan Cody Gakpo menjadi gol ketiga Belanda.

Tekanan Oranje semakin tak terbendung. Pada menit ke-54, Summerville kembali menjadi aktor penting lewat assist yang membuat Gakpo mencetak gol keduanya sekaligus memperbesar keunggulan menjadi 4-0.

Swedia akhirnya mendapatkan gol hiburan pada menit ke-59. Anthony Elanga yang masuk sebagai pemain pengganti sukses memanfaatkan umpan terobosan Alexander Isak untuk memperkecil ketertinggalan menjadi 4-1.

Namun momentum itu tidak bertahan lama. Belanda tetap mendominasi jalannya laga dan nyaris tidak memberikan ruang bagi Swedia untuk bangkit.

Pesta gol Oranje akhirnya ditutup Summerville pada menit ke-89. Setelah merebut bola di area pertahanan lawan, pemain sayap tersebut melakukan penetrasi cepat sebelum melepaskan tembakan keras yang tak mampu dihentikan kiper Swedia.

Skor 5-1 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.

Hasil ini mengantarkan Belanda ke puncak klasemen sementara Grup F dengan koleksi empat poin dari dua pertandingan.

Sementara itu, Swedia harus puas berada di posisi kedua dan menghadapi tekanan lebih besar dalam perebutan tiket ke fase gugur.

Selain kemenangan besar, laga ini juga memperlihatkan ketajaman lini depan Belanda yang mulai menemukan bentuk terbaiknya.

Brobbey, Gakpo, hingga Summerville tampil efektif dan menjadi modal berharga bagi Oranje untuk menghadapi pertandingan berikutnya di Piala Dunia 2026.

Susunan pemain

BELANDA : Bart Verbruggen; Micky van de Ven, Jan Paul van Hecke, Virgil van Dijk, Denzel Dumfries; Tijjani Reijnders, Frenkie de Jong, Ryan Gravenberch; Cody Gakpo, Brian Brobbey, Donyell Malen.

SWEDIA : Kristoffer Nordfeldt; Victor Lindelof, Isak Hien, Gustaf Lagerbielke; Jesper Karlstrom, Gabriel Gudmundsson, Alexander Bernhardsson, Yasin Ayari, Benjamin Nygren; Alexander Isak, Viktor Gyokeres.(*)




Pesta Gol di Monterrey! Swedia Permalukan Tunisia 5-1

SEPUCUKJAMBI.ID – Timnas Swedia mengawali langkahnya di Piala Dunia 2026 dengan cara yang meyakinkan.

Blågult tampil tajam dan efektif untuk menghancurkan Tunisia dengan skor telak 5-1 pada laga pembuka Grup F di Estadio Monterrey, Guadalupe, Meksiko, Senin 15 Juni 2026 pagi WIB.

Kemenangan besar ini langsung mengantarkan Swedia ke puncak klasemen sementara Grup F.

Sebaliknya, Tunisia harus menerima kenyataan pahit setelah sejumlah kesalahan sendiri menjadi awal dari kekalahan telak mereka.

Meski skor akhir terlihat mencolok, pertandingan sejatinya berlangsung cukup terbuka. Kedua tim sama-sama bermain menyerang dan menciptakan peluang.

Namun perbedaan terbesar terletak pada efektivitas penyelesaian akhir serta kemampuan memanfaatkan kesalahan lawan.

Swedia membuka keunggulan cepat pada menit ketujuh melalui Yasin Ayari. Gol berawal dari blunder kiper Tunisia, Abdelmouhib Chamakh, yang gagal mengantisipasi bola panjang dari Victor Lindelof.

Bola liar langsung disambar Ayari dengan tembakan keras dari luar kotak penalti yang meluncur ke sudut atas gawang.

Gol tersebut membuat Swedia semakin percaya diri mengendalikan permainan. Namun Tunisia tidak tinggal diam.

Pada menit ke-13, Anis Ben Slimane hampir menyamakan kedudukan setelah menerima umpan matang Elias Saad.

Akan tetapi, kiper Kristoffer Nordfeldt melakukan penyelamatan penting yang menjaga keunggulan timnya.

Tekanan Swedia kembali membuahkan hasil menjelang setengah jam pertandingan. Alexander Isak menunjukkan kualitasnya sebagai ujung tombak utama dengan mencetak gol kedua pada menit ke-30.

Penyerang Liverpool itu menuntaskan kombinasi cepat bersama Viktor Gyokeres melalui sepakan mendatar yang gagal dibendung Chamakh.

Saat laga tampak mulai dikuasai Swedia, Tunisia berhasil memperkecil ketertinggalan menjelang turun minum.

Umpan silang akurat Hannibal Mejbri disambut sundulan Omar Rekik yang memperdaya Nordfeldt pada menit ke-43.

Gol tersebut membuat Tunisia kembali memiliki harapan setelah babak pertama ditutup dengan skor 2-1 untuk keunggulan Swedia.

Namun harapan itu tak bertahan lama.

Memasuki babak kedua, Tunisia sebenarnya sempat mengancam lebih dulu melalui Hannibal Mejbri. Sayangnya peluang tersebut gagal dimaksimalkan menjadi gol penyama kedudukan.

Momen krusial kemudian terjadi pada menit ke-59.

Kesalahan fatal Ellyes Skhiri saat membangun serangan berhasil dimanfaatkan Alexander Isak.

Bola direbut dan langsung dialirkan kepada Viktor Gyokeres yang tanpa ampun melepaskan tembakan keras untuk membawa Swedia unggul 3-1.

Gol itu menjadi titik balik yang memukul mental Tunisia.

Swedia semakin nyaman memainkan pertandingan dan terus menekan pertahanan lawan.

Beberapa peluang tambahan tercipta, termasuk kesempatan emas Gyokeres yang nyaris memperbesar skor.

Gol keempat akhirnya lahir pada menit ke-84 melalui Mattias Svanberg. Pemain yang baru masuk sebagai pemain pengganti itu sempat melihat golnya dianulir karena dugaan offside.

Namun setelah tinjauan VAR, wasit mengesahkan gol tersebut dan membuat Swedia menjauh dengan skor 4-1.

Belum puas sampai di situ, Swedia menutup pertandingan dengan gol spektakuler pada masa injury time.

Yasin Ayari kembali menjadi sorotan setelah mencetak gol keduanya pada menit ke-90+6.

Gelandang Brighton itu melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti yang menghujam pojok gawang Tunisia tanpa mampu dijangkau Chamakh.

Gol tersebut sekaligus mengunci kemenangan telak 5-1 bagi Swedia.

Hasil ini menjadi sinyal kuat bahwa Swedia bukan sekadar pelengkap di Grup F.

Dengan kombinasi permainan agresif, lini depan yang tajam, dan kemampuan memanfaatkan kesalahan lawan, pasukan Graham Potter menunjukkan potensi besar untuk bersaing memperebutkan tiket ke fase gugur.

Di sisi lain, Tunisia harus segera mengevaluasi sektor pertahanan dan distribusi bola dari lini belakang yang menjadi sumber utama lahirnya beberapa gol Swedia dalam laga ini.(*)




Liverpool Terpuruk! Kena Krisis Parah Setelah Dibantai Forest

SEPUCUKJAMBI.ID – Liverpool tengah menghadapi periode paling mengkhawatirkan dalam era kejayaan modern mereka. Kekalahan memalukan 0-3 dari Nottingham Forest di Anfield, Sabtu (22/11/2025).

Bukan sekadar hasil buruk, melainkan penegasan bahwa sang juara bertahan Premier League sedang berada di titik terendah musim ini.

Dalam 12 pertandingan pertama musim 2025/26, tim besutan Arne Slot sudah menelan enam kekalahan angka yang kontras dengan dominasi mereka pada musim lalu.

Menurut data Opta, Liverpool kini mengalami dua kekalahan beruntun dengan selisih tiga gol atau lebih dari Bournemouth dan Nottingham Forest.

Terakhir kali The Reds merasakan tren seburuk ini terjadi pada April 1965 kala dilatih Bill Shankly.

Penurunan performa Liverpool terasa sangat drastis. Musim lalu Slot dipuji karena bisa meraih gelar liga tanpa mendatangkan satu pun pemain baru.

Namun setelah klub menggelontorkan dana besar sekitar £450 juta di bursa transfer musim panas, ekspektasi meningkat tajam terutama setelah hadirnya dua pemain berharga lebih dari £100 juta, Florian Wirtz dan Alexander Isak.

Namun kenyataannya jauh dari harapan.

Wirtz dan Isak belum mencatatkan gol atau assist di Premier League.

Isak bahkan memegang rekor negatif sebagai pemain Liverpool pertama yang kalah dalam empat laga awalnya sebagai starter.

Kondisi fisiknya juga sempat dipertanyakan karena tak menjalani pramusim penuh setelah memaksakan kepindahan dari Newcastle.

Meski demikian, menyalahkan satu pemain tidak menyelesaikan masalah. Krisis Liverpool berakar pada banyak sektor.

Setelah musim lalu hanya kalah empat kali di liga, musim ini jumlah kekalahan tersebut sudah tersamai bahkan sebelum memasuki Desember.

Pertahanan yang biasanya menjadi kekuatan mereka kini melemah drastis 20 gol bersarang ke gawang The Reds hanya dalam 12 pertandingan, mendekati setengah kebobolan sepanjang musim lalu.

Absennya Trent Alexander-Arnold juga memberi dampak besar.

Meski kerap dikritik, kontribusi kreativitasnya selama bertahun-tahun sangat vital.

Penggantinya, Jeremie Frimpong, belum menampilkan performa stabil.

Bahkan, Arne Slot sempat menurunkan Dominik Szoboszlai sebagai bek kanan saat kalah dari Forest situasi yang menggambarkan betapa kacaunya struktur permainan Liverpool.

Di lini depan, Mohamed Salah juga belum mampu mengangkat performa tim.

Empat gol dari 11 pertandingan jelas menurun dibanding musim sebelumnya ketika ia meraih penghargaan PFA Players’ Player of the Year.

Minimnya kontribusi pemain baru membuat beban serangan bertumpu pada Salah seorang.

Saat ini Liverpool tercecer di posisi ke-11 klasemen, delapan poin tertinggal dari Arsenal di puncak, dan sudah memainkan satu laga lebih banyak.

Statistik menunjukkan mereka menjadi juara bertahan Premier League keempat yang menelan enam kekalahan dalam 12 pertandingan awal musim.

Menyusul jejak buruk Blackburn (1995/96), Chelsea (2015/16), dan Leicester City (2016/17), tiga tim yang semuanya gagal mempertahankan gelar.

Tekanan terhadap Arne Slot semakin besar.

Jika tidak segera menemukan solusi, Liverpool berpotensi mengukir musim yang lebih dikenang karena keterpurukan, bukan sebagai tim juara yang mempertahankan dominasi.(*)