Kapan Awal Puasa Ramadan 1447 H? Ini Prediksi Pemerintah, NU, dan Muhammadiyah

JAKARTA, SEPUCUKJAMBI.ID – Perkiraan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah mulai menjadi perhatian publik seiring semakin dekatnya bulan suci.

Pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah memiliki metode masing-masing dalam menentukan awal bulan Hijriah, meski seluruhnya tetap merujuk pada kaidah astronomi dan syariat Islam.

Pemerintah Tunggu Sidang Isbat

Penetapan resmi awal Ramadan oleh pemerintah akan diputuskan melalui sidang isbat yang digelar menjelang akhir bulan Syakban. Sidang ini menggabungkan dua metode utama:

  • Hisab (perhitungan astronomi)

  • Rukyat (pengamatan hilal secara langsung)

Prinsipnya adalah memastikan terlihatnya hilal (bulan sabit pertama) setelah matahari terbenam pada tanggal 29 bulan berjalan. Jika hilal tidak terlihat, maka dilakukan istikmal atau penyempurnaan bulan menjadi 30 hari.

Sekretaris Lembaga Falakiyah NU Jakarta, Ikhwanudin, menegaskan bahwa gerhana bukan penentu awal bulan Hijriah.

“Dasar penetapan awal bulan hijriah adalah terlihatnya hilal setelah matahari terbenam pada tanggal 29 Hijriah. Jika hilal tidak terukyat, maka dilakukan istikmal, bukan berdasarkan rukyatul kusuf. Gerhana hanya merupakan indikator,” ujarnya, sebagaimana dikutip NU Online.

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H

Sementara itu, Muhammadiyah telah lebih dahulu mengumumkan awal Ramadan berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal. Dalam maklumat resminya, disebutkan bahwa posisi bulan telah memenuhi kriteria.

Menurut perhitungan tersebut, 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Metode wujudul hilal yang digunakan Muhammadiyah menetapkan awal bulan jika hilal sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam, tanpa menunggu visibilitas (terlihat atau tidaknya secara kasat mata).

Potensi Perbedaan Awal Puasa

Dengan perbedaan metode yang digunakan, potensi perbedaan tanggal awal puasa tetap terbuka.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, sering terjadi kesamaan penetapan antara pemerintah dan organisasi Islam besar di Indonesia.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menunggu hasil sidang isbat sebagai keputusan resmi negara.

Meski demikian, umat Islam di Indonesia umumnya tetap saling menghormati perbedaan yang muncul, karena masing-masing metode memiliki dasar ilmiah dan fikih yang kuat.

Yang terpenting, momentum Ramadan tetap menjadi ruang untuk memperkuat ibadah, solidaritas sosial, dan menjaga kedamaian antarumat.(*)