Mahasiswa Kedokteran UNJA Juara 1 Nasional, Bawa Inovasi AI dan CRISPR untuk Lawan DBD

JAMBI, SEPUCUKJAMBI.ID — Dua mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Jambi (UNJA) membawa pulang Juara 1 Interfaculty of Medicine Scientific Competition (INTERMEDISCO) 2026 setelah mengusung gagasan teknologi untuk mendeteksi dan memitigasi penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD).
Adinda Aisyah Welliani dan Marwin Federico Aslen menjadi wakil UNJA dalam kompetisi ilmiah tingkat nasional yang digelar Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII).
Babak final kompetisi berlangsung secara luring pada 29–30 Agustus 2026 di Kampus FK UII, Yogyakarta.
Dalam kompetisi tersebut, keduanya membawa karya ilmiah bertajuk SHIELD, sebuah konsep yang menggabungkan bioteknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk menghadapi risiko penularan DBD, khususnya di wilayah rentan dan kawasan pascabencana.
Gabungkan CRISPR, Biosensor Grafena dan AI
SHIELD dirancang dengan mengintegrasikan sejumlah teknologi.
Konsep tersebut memanfaatkan CRISPR-Cas13 sebagai pendekatan deteksi molekuler dan biosensor berbahan grafena untuk membantu mendeteksi virus dengue secara cepat di lapangan.
Data yang diperoleh dari biosensor kemudian dirancang untuk diolah melalui platform analitik berbasis AI.
Dalam konsep yang diajukan, sistem tersebut tidak hanya digunakan untuk mengetahui keberadaan virus, tetapi juga mengolah data untuk memetakan risiko transmisi, memantau vektor, hingga mendukung sistem peringatan dini terhadap potensi wabah.
Dengan pendekatan tersebut, SHIELD diarahkan tidak berhenti pada pemeriksaan pasien secara individual.
Tim UNJA mengembangkan gagasan yang menghubungkan deteksi klinis dengan pemodelan epidemiologi sehingga informasi yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan pendukung pengambilan kebijakan kesehatan.
Lolos 10 Besar dari Sekitar 20 Tim
Perjalanan Adinda dan Marwin menuju podium juara dimulai setelah karya mereka melewati proses kurasi ilmiah.
Mereka bersaing dengan sekitar 20 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Setelah proses seleksi, karya SHIELD masuk dalam 10 tim finalis yang berhak mempresentasikan gagasannya di babak final.
Pada tahap tersebut, penguasaan literatur ilmiah, metodologi, hingga kemampuan mempertahankan gagasan melalui sesi tanya jawab menjadi bagian dari penilaian.
Adinda mengatakan persaingan pada babak final berlangsung ketat karena mempertemukan karya-karya yang telah lolos seleksi dari berbagai perguruan tinggi.
“Persaingannya sangat ketat karena mempertemukan sepuluh karya terbaik se-Indonesia. Tantangan terbesarnya ada pada penguasaan materi secara komprehensif, validitas bukti ilmiah terkini, serta kesiapan saat sesi tanya jawab kritis dengan dewan juri di babak final luring kemarin,” ujar Adinda.
Menurutnya, kemenangan tersebut menjadi hasil dari proses panjang sejak penyusunan naskah hingga persiapan presentasi.
UNJA Dorong Riset Mahasiswa
Koordinator Program Studi Kedokteran FKIK UNJA, dr. Huntari Harahap, M.Biomed., mengapresiasi capaian kedua mahasiswa tersebut.
Ia menilai prestasi tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa kedokteran UNJA untuk berkompetisi dalam ajang ilmiah tingkat nasional.
“Prestasi yang diraih oleh Adinda dan Marwin membuktikan bahwa mahasiswa kedokteran UNJA memiliki daya saing yang tinggi dan mampu bersanding dengan universitas-universitas terkemuka lainnya di Indonesia,” kata Huntari.
Menurut Huntari, program studi akan terus mendorong ekosistem riset mahasiswa agar kemampuan akademik yang diperoleh di ruang perkuliahan dapat dikembangkan menjadi gagasan yang kritis dan aplikatif.
Dosen: SHIELD Harus Jadi Awal Pengembangan Riset
Dosen pembimbing, I Made Dwi Mertha Adnyana, M.Ked.Trop., mengatakan gagasan SHIELD dibangun dari kajian terhadap literatur ilmiah dan persoalan kesehatan yang dinilai relevan dengan tantangan saat ini.
Ia menyebut kemenangan di INTERMEDISCO 2026 menjadi bukti kemampuan kedua mahasiswa dalam mengembangkan gagasan ilmiah, menyusun metodologi, sekaligus mempresentasikan hasil kajian di hadapan dewan juri.
“Keberhasilan meraih Juara 1 di ajang prestisius seperti INTERMEDISCO merupakan bukti kematangan berpikir ilmiah, metodologi yang terstruktur, serta kemampuan komunikasi riset yang solid,” ujarnya.
Ia berharap capaian tersebut tidak berhenti sebagai prestasi kompetisi, tetapi dapat menjadi pijakan untuk mengembangkan penelitian yang lebih aplikatif.
Adinda dan Marwin Ajak Mahasiswa Berani Meneliti
Bagi Adinda dan Marwin, kemenangan tersebut juga menjadi dorongan bagi mahasiswa lain untuk berani membawa gagasan ilmiah ke tingkat nasional.
Mereka berharap semakin banyak mahasiswa FKIK UNJA yang tidak hanya mengikuti kompetisi, tetapi juga mengembangkan ide melalui riset dan karya ilmiah.
“Semoga langkah ini bisa menjadi pemantik semangat bagi teman-teman mahasiswa lainnya untuk tidak ragu membawa ide-ide inovatif ke kompetisi nasional dan terus mengharumkan almamater Universitas Jambi,” pungkas Adinda.(*)








